
Keesokan hari seperti biasa Afifa sudah terbangun pagi-pagi sekali dan langsung berdiri menuju ke kamar mandi tetapi belum sampai berdiri Anna datang menghampirinya.
"Mau kemana Afifa" tanya Anna.
"Aku hanya ingin ke kamar mandi sebentar untuk buang air kecil dan sekalian berwudhu.
"Baiklah biar aku bantu kamu sampai didepan kamar mandi" kata Anna dan mulai membantu memapah Afifa menuju kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi Anna membantu Afifa kembali menuju ke tempat tidurnya.
Anna juga membantu Afifa memakaikan mukenanya.
Afifa melakukan sholatnya diatas tempat tidur karena tangannya masih terpasang infus.
Sedangkan Anna juga mengikuti sholat disebelah Afifa.
Karena setelah membantu Afifa, Anna tadi langsung mengambil air wudhu sebentar dan bergabung dengan Afifa untuk sholat bersama.
Setelah selesai sholat Afifa meneruskan membaca Alqur'an sedangkan Anna menuju ke dapur untuk mempersiapkan sarapan buat Afifa.
Di sana sudah ada Uma dan beberapa ART.
"Lho siapa kamu, kenapa dari atas.
Apakah kamu teman Afifa ataupun Reina" tanya Uma yang terkejut melihat ada seseorang wanita asing yang berada dirumahnya.
"Maaf nyonya perkenalkan saya suster Anna, saya asisten dokter Afifa" kata Anna lembut.
"Oh... kenapa Afifa gak pernah bercerita kepada saya" kata Uma sedikit berpikir.
"Kalau itu saya kurang tahu nyonya" kata Anna.
Disaat itu Uma akan bertanya dengan Anna lagi tiba-tiba Abi datang mendekati Uma.
"Dia asisten Afifa dirumah sakit dan merupakan sahabat terdekat kedua putri kita Afifa dan Reina. Sekarang dia sedang membantu merawat Afifa dan Reina karena mereka sedikit terluka karena ada insiden kecil" kata Abi Hamid.
"Masyaallah kenapa Abi tidak memberitahu Uma kalau kedua putri kita sedang mendapat musibah" kata Uma yang terkejut dan sendu setelah mendapat penjelasan dari Abi.
"Maaf kan aku sayang, karena aku tidak ingin membuat kamu khawatir dan aku melihat kemarin malam kamu benar-benar sudah tertidur pulas" kata Abi
"Tetapi bagaimanapun juga Abi harus segera memberitahukan semua itu padaku" kata Uma Hamida sedikit kesal karena suaminya itu tidak memberitahukannya.
Uma langsung beranjak dari dapur menuju ke kamar Afifa dan juga Reina bergantian.
Sedangkan Anna mempersiapkan sarapan untuk Afifa.
Hamid Abdullah mengikuti langkah istrinya itu dari belakang.
Saat membuka pintu kamar Afifa, Uma sangat terkejut melihat sudut bibir Afifa yang terluka dan melihat lengan Afifa yang dibalut berban juga tangan kanan yang dipasang jarum infus.
"Apa yang terjadi sama kamu nak" tanya Uma sendu saat mendekat kearah Afifa dan beliau juga mengusap puncak kepala Afifa yang berhijab itu.
"Afifa tidak apa-apa Uma, ini hanya luka kecil saja" kata Afifa yang berusaha menghilangkan kekhawatiran Uma nya itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa bagaimana, lihat keadaan kamu seperti ini" kata Uma yang masih dengan Isak tangisnya itu.
"Uma, Afifa mohon Uma jangan menangis.
Sebentar lagi Afifa juga sembuh kok cuma butuh beberapa hari untuk istirahat juga" kata Afifa lembut.
Tak lama kemudian Anna sudah datang dengan membawa sarapan Afifa.
"Biar Uma bantu suapi kamu ya nak" kata Uma saat sarapan itu sudah ditaruh diatas nakas oleh Anna.
"Biarkan Anna yang merawat dan menyuapi Afifa sekarang lebih baik kita ke kamar Reina" kata Abi Hamid.
"Suster Anna tolong jaga anak saya ya" kata Uma Hamida.
"Baik nyonya" kata Anna.
"Anna jaga Afifa dan pastikan dia memakan sarapannya dan meminum obatnya" kata Hamid Abdullah.
"Baik Abi" kata Anna.
Uma yang mendengar Anna memanggil suaminya dengan sebutan Abi sedikit terkejut tetapi dia sudah ditarik keluar oleh Abi menuju ke kamar Reina.
"Sayang kenapa asisten Anna memanggil kami dengan sebutan Abi, ada hubungan apa kaku dengan dia" tanya Uma sedikit curiga dan cemburu.
"Dia adalah seorang yatim piatu dan tidak memiliki sanak keluarga seorangpun sayang, dan dia lah satu-satunya yang mengenal dekat Afifa juga Reina jadi aku memutuskan mengangkat dia menjadi anakku dan menyuruhnya memanggil Abi" kata Abi menjelaskan.
"Benarkah itu sayang" kata Uma yang sedikit ragu akan penjelasan suaminya itu.
"Benar sayang, kalau tidak percaya kamu bisa mengatakannya kepada Afifa dan juga Reina" kata Abi.
Uma dan Abi mengetuk pintu kamar Reina.
"Masuk,tidak dikunci kok" kata Reina mempersilahkan masuk orang yang mengetuk pintu itu.
"Uma, Abi" kata Reina.
Uma dan Abi mendekati Reina yang saat itu sedang duduk bersandar ditempat tidurnya itu.
"Kamu kenapa nak" kata Uma mendekat dan mencium Reina.
"Reina baik-baik saja Uma" kata Reina yang melihat Uma begitu sangat mengkhawatirkan nya itu.
"Kenapa muka kamu memar-memar begini sih nak, apa yang telah terjadi pada kalian berdua kemarin" tanya Uma sendu dan membelai Reina.
"Hanya insiden kecil Uma, biasa ada beberapa penjahat kecil yang sedang menghadang kita ya jadinya kita lawan lah bunda" kata Reina santai.
"Kamu tuh ya sama Afifa selalu saja suka berantem" kata Uma kesal.
"Kami tidak berantem Uma, cuma kami membela diri saja" jawab Reina.
"Ih kau ini selalu saja bikin Uma khawatir dan jantungan tahu gak" kata Uma gemas dengan jawaban Reina.
"Sudah-sudah....
__ADS_1
Kamu sudah sarapan nak" kata Abi menghentikan perdebatan istrinya dengan Reina.
"Belum Abi, sebentar lagi Reina akan kebawah" kata Reina.
"Gak usah nak, biar bibi yang mengambilkan sarapan mu" kata Uma.
"Kalau begitu Uma pergi dulu ya ke dapur karena tadi masak belum selesai" kata Uma sambil mencium kening Reina
"Iya Uma" kata Reina.
Uma pun keluar dan kembali ke kamar Afifa yang saat itu sudah selesai sarapan dan meminum obat.
Sedangkan Abi turun lantai bawah.
"Apa sarapan kamu sudah dihabiskan nak" tanya Uma.
"Sudah Uma" kata Afifa.
"Ya sudah sekarang kamu istirahat jangan banyak bergerak.
Kalau butuh apa-apa mintalah kepada Anna" kata Uma yang mendekat itu dan mencium kening Afifa.
"Iya Uma" kata Afifa.
"Ya sudah Uma kebawah dulu ya.
Anna tolong jaga Afifa baik-baik ya dan kamu jangan panggil nyonya panggil aja sama seperti Afifa dan Reina.
Abi sudah menceritakan semua tentang kamu kepada Uma" kata Uma.
"Iiiyyyaaaaa nyonya... eh Uummaa" kata Anna.
"Nah gitu panggil Uma ya" kata Uma sambil membelai punggung Anna dan beranjak pergi menuju ke dapur.
Ternyata masakan sudah selesai semua dan sudah dihidangkan diatas meja makan.
Di sana sudah ada Abi dan Aziel.
"Lho kalian tumben sudah disini saja sebelum dipanggil" tanya Uma.
"Sudah dong Uma, masak harus menunggu dipanggil sih" kata Aziel menggoda Uma.
"Kamu Ziel tumben menginap disini biasanya kalau Uma gak maksa menginap kamu gak menginap" kata Uma.
"Ih Uma gitu amat sih, entar cantiknya hilang lho.
Kan Aziel rindu banget sama Uma" kata Aziel
"Pasti ada maunya itu kelihatan kalau kayak begini" kata Uma membalas perkataan Aziel.
"Tau aja Uma Ki sayang ini" kata Aziel.
"Sudah-sudah lebih baik kita makan sekarang tidak usah banyak bicara" kata Hamid menghentikan pembicaraan Aziel dengan istrinya itu.
__ADS_1
Hamida mengambilkan suaminya itu makanan dan menyerahkan piring yang sudah ada makanannya ke suaminya setelah itu dia mengambil makanannya sendiri sama seperti Aziel mengambil makanannya sendiri.
Mereka makan dalam diam dan tidak ada satupun yang berbicara.