Dokter Afifa

Dokter Afifa
Serangan dimulai


__ADS_3

Anna dan Aziel tampak tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan musuhnya.


"Sudah jangan diketawain lagi" kata Aziel akhirnya menghentikan tawanya itu diikuti oleh Anna.


Aziel menghubungi Afifa melalui alat canggihnya itu


"Fa, dengarkan aku. Sebaiknya kamu segera menyerang ke markas pemantau mereka.


Mereka bertiga sedang disana.


Mereka belum menyadari serangan dari kalian.


Mereka hanya mengetahui serangan yang akan dilancarkan oleh Lionel dan juga Fernando.


Sebaiknya kalian tetap di rencana semula.


Dalam hitungan 10 menit kami akan me non aktifkan sistem mereka semua.


Dengan begitu kalian akan mudah bergerak.


Tetap waspada dan jangan lengah.


Kamu harus hati-hati dan jaga Reina" kata Aziel panjang lebar.


"Baiklah bang, aku dan yang lainnya akan berhati-hati" balas Afifa.


Setelah menghubungi Afifa, Aziel segera menghubungi Lionel dan menceritakan siasat dari Gerald, Danielo dan juga Torres.


Kini Lionel sudah bergabung dengan Fernando mereka berkolaborasi untuk menghadapi siasat dari Danielo dan rekan-rekannya.


Afifa menyusuri sebuah lautan dengan kapal selamnya yang sangat canggih setelah mereka sampai di landasan pesawat. Kapal selam itu sangat canggih sehingga tidak akan terdeteksi oleh pihak musuh sekalipun.


Afifa dan yang lainnya keluar dari kapal selam itu dan menyusuri pantai yang ditumbuhi banyak tanaman bakau.


Dia mengendap-endap dan berusaha mencapai markas pemantau musuh.


Kita bagi menjadi 2 kelompok


"Aku dan Afifa akan menyerang dari belakang dan kalian bertiga akan menyerang dari arah depan.


Jangan biarkan mereka lolos" Ardiansyah memberikan komandonya.


"Baiklah Syah kami akan menuju kedepan" kata Fano langsung beranjak pergi menuju kedepan markas itu dan diikuti oleh Reina dan juga Nicholas.


Afifa, Ardiansyah dan beberapa anak buahnya segera menyusup kedalam markas itu.


Sebelumnya Ardiansyah meminta kepada Aziel untuk mengirimkan helikopter untuk menyerang mereka dari atas dan yang memimpin penyerangan itu Mike kepercayaan Ardiansyah.


Tampak Ardiansyah bersama Afifa dan beberapa anak buahnya berhasil memasuki markas musuh dari belakang.

__ADS_1


Meski tidak sedikit rintangan yang mereka hadapi.


Serangan dan gempuran musuh mereka berdua hadapi hingga mereka bisa melumpuhkan mereka semua.


Disisi depan markas musuh tampak Nicholas, Reina dan juga Fano sedikit kewalahan menghadapi musuh mereka.


Serangan demi serangan dapat dihadang dan dilaluinya walaupun mereka harus bersusah payah dan harus menguras tenaga mereka.


"Sebaiknya kita bersembunyi sementara karena kalau kita teruskan kita yang akan dikalahkan mereka" kata Fano.


Tiba-tiba saat mereka akan bersembunyi ada panggilan dari Aziel.


"Rein, kalian jangan takut, aku sudah mengerahkan mini drone ku untuk membantu kalian.


Coba gunakan jam kalian dan kendalikan mereka dengan jam kalian" kata Aziel.


"Baik bang, tetapi kami kelelahan bang saat ini kalau kita tetap bertarung maka kita akan kehabisan tenaga" kata Reina.


"Sementara untuk memulihkan tenaga kalian tolong kalian manfaatkan drone itu untuk menyerang, karena drone penghancur sudah aku sebarkan ribuan disana" kata Aziel.


"Baiklah bang kami akan lakukan sesuai dengan apa yang Abang katakan" kata Reina.


Kini Reina memberi tahu Fano dan juga Nicholas untuk bersembunyi dan memanfaatkan drone penyerang untuk menyerang musuh menggantikan mereka.


Ditempat yang aman Reina bersama Fano dan juga Nicholas sedang bersembunyi sambil menggerakkan drone penyerang itu dengan maksimal.


"Apakah itu sudah teruji khasiatnya" tanya Reina yang tampak ragu dengan formula yang dihasilkan oleh Nicholas.


"Aku sudah mengujinya secara berkali-kali dan hasilnya sangat memuaskan, cobalah" Nicholas meyakinkan Reina.


Setelah Nicholas menyuntikkan formula itu kepada dirinya sendiri kini dia menyuntikkan kepada Reina, Fano dan beberapa anak buahnya yang ikut dalam tim mereka.


10 menit kemudian formula itu benar-benar bereaksi dan menjadikan mereka kembali ber energi dan stamina mereka kembali.


"Ternyata formula yang kau buat ada hasilnya juga, terima kasih Nicholas" tulus Reina.


"Sama-sama Rein, kita kan sekarang saudara jadi harus saling melindungi dan menjaga" kata Nicholas.


Didalam Markas Gerald, Torres dan Danielo yang sebelumnya tidak menyadari adanya serangan masih kelihatan mengobrol dan menyusun rencana demi rencana hingga hampir setengah dari markas mereka sudah dikuasai oleh Afifa dan yang lainnya.


"Sial kita rupanya kedatangan tamu gak diundang.


Tetapi bagaimana bisa mereka mengetahui tempat ini dan bagaimana bisa mereka menembus pertahanan kita yang dikelilingi oleh alat yang canggih dan sistem pertahanan yang kuat" kata Gerald yang tampak berpikir dan heran dengan adanya serangan dari pihak Afifa dan yang lainnya.


"Sebaiknya kita menuju ruang pemantau sekarang juga sebelum terlambat" ajak Danielo.


Mereka bertiga kini mulai berjalan ke ruang pemantauan yang begitu luas dan besar.


Ruangan itu tidak mudah dimasuki oleh siapa saja karena hanya bisa dibuka dengan sidik jari dan sensor mata milik Danielo dan juga Gerald.

__ADS_1


Kini mereka sudah masuk kedalam ruangan pemantauan yang terdapat banyak monitor yang besar-besar.


"Sialan ternyata dokter Reina menyerang kita, dan lihatlah bukankah itu Nicholas keponakanmu yang sempat menghilang beberapa waktu dahulu semenjak serangan di negara dokter Reina" kata Danielo.


"Iya benar, ternyata dia kini bergabung dengan dokter Reina.


Awas saja kalau bertemu denganku aku pastikan aku akan membunuhnya seperti aku membunuh orangtuanya yang telah mencampuri urusanku dan menghentikan tujuanku" geram Gerald.


"Sebaiknya kita hadapi mereka, dan pastikan mereka tertangkap semua dan jangan biarkan ada satu orang pun yang berhasil lolos" Danielo juga ikut geram dengan serangan Reina dan yang lainnya.


Sementara dari arah belakang Afifa dan Ardiansyah sudah berhasil menguasai setengah dari markas itu.


Untung keberadaan Afifa dan Ardiansyah tidak diketahui oleh Gerald dan teman-temannya itu.


Saat Gerald dan kedua temannya keluar dari ruangan pemantauan hendak menyerang Reina, Fano dan Nicholas mereka diserang dahulu oleh anak buah Afifa dan Ardiansyah.


Pertarungan tidak terelakkan lagi.


Gerald tampak menyerang Afifa dengan bertubi-tubi namun gerakan lincah Afifa dapat mematahkan setiap serangan yang dilakukan oleh Gerald.


"Sial, ilmu dia sepertinya tidak bisa dianggap remeh.


Siapa sebenarnya wanita ini.


Dia begitu kuat dan gerakannya begitu cepat sampai-sampai serangan yang aku lancarkan dari tadi dapat dipatahkan olehnya.


Aku belum pernah melihat kekuatan orang seperti dia" batin Gerald.


Kini Gerald dan kedua temannya tampak kewalahan menghadapi serangan demi serangan dari Afifa dan Ardiansyah.


Gerald, Danielo dan Torres tampak membentuk lingkaran mereka saling menempelkan punggungnya satu sama lainnya.


"Sepertinya kekuatan nya begitu kuat, apa kamu mengenal kedua orang itu.


Terutama kekuatan wanita itu, tidak bisa dianggap remeh" kata Danielo yang masih siaga dan menghindari serangan yang dikerahkan oleh Ardiansyah dan juga Afifa.


"Benar yang kamu katakan, sepertinya wanita itu adalah salah satu orang yang memiliki kekuatan langka didunia ini seperti halnya profesor Kitaro dan profesor Liu.


Kita harus bisa menakhluk kan wanita ini untuk menjadi sekutu kita" kata Gerald yang tampak tertarik menjadikan Afifa sekutunya.


"Bagaimana bisa kita menangkapnya hidup-hidup yang ada kita ini yang mereka jadikan perkedel" jawab Torres yang kini mulai ragu akan kekuatan kelompoknya.


"Aku akan mengerahkan pikiranku untuk menggerakkan robot manusiaku yang kemampuan bela dirinya sangat baik" kata Gerald.


Tetapi Gerald tidak mengetahui bahwa sistem yang ada di otak nya sudah dihentikan oleh Aziel.


"Bagaimana bisa sistem otomatis tidak berjalan, gawat ini.


Aku harus menggunakan sistem manual" batin Gerald yang tadi gagal menjalankan robot miliknya itu.

__ADS_1


__ADS_2