
Hamid sedang menasehati anaknya tiba-tiba Ardiansyah datang menghampiri beliau dan Afifa.
"Abi, maaf kan Afifa semua gara-gara aku tadi" kata Ardiansyah tertunduk menyesal karena sudah menjahili sang istri yang berakibat dia berkejar-kejaran dan menabrak sang Abi.
"Gak apa-apa kok nak, Abi mengerti dan Abi juga pernah muda seperti kalian" kata Abi yang sangat pengertian itu.
"Nak Ardiansyah, aku titip putriku ya. Bimbinglah dia menuju janah Nya dan sayangi putriku setulus hatimu.
Jangan pernah kamu sakiti dia karena sama saja kamu menyakiti diriku" pesan Hamid kepada menantunya itu.
"Insya Allah Abi aku akan menyayangi dan menjaganya dengan sepenuh jiwaku.
Akan kulakukan apa saja agar membuatnya selalu tersenyum dan bahagia" janji Ardiansyah kepada Abi Hamid.
"Terima kasih nak" kata Abi Hamid.
"Ya sudah Abi mau menemui Abi Arsyad dulu ya" kata Hamid kepada anak dan menantunya itu.
Hamid sudah menjauh dari Afifa dan juga Ardiansyah, kini mereka berdua berjalan bergandengan menghampiri Reina dan juga Fano.
"Ehemmm" Ardiansyah mulai berdehem agak keras dan itu berhasil membuyarkan Mereka berdua yang sedang berbicara.
"Apaan sih Syah, bikin kaget aja" kesal Fano yang merasa terganggu oleh Ardiansyah.
"Iya nih, ngagetin aja. dan Afifa juga nih senyum-senyum sendiri emang nya ada yang lucu" kata Reina yang juga sedikit kesal itu.
"Cie kompak nih" ledek Afifa.
"Ih kalian nih gak jelas deh" Reina semakin kesal.
Ardiansyah memberi kode kepada Fano 'Apakah dia sudah menyatakan niatnya itu'
Fano hanya membalas kode Ardiansyah dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Sudah sana lamar aja buruan entar keburu dibawa orang tuh dokter Reina nya" kata Afifa yang tadi melihat interaksi suaminya dengan Fano.
"Kalian nih ya benar-benar gak jelas deh, main lamar-lamar aja" kata Reina sedikit jutek.
"Tetapi kalau aku memang berniat melamar mu apa kamu mau Rein" tanya Fano tiba-tiba.
"Udah deh fan gak usah bercanda kamu. Gak usah nurutin apa kata Afifa sama suami nya itu" kata Reina yang sedikit merasa tak nyaman itu.
Aziel dan Anna yang melihat Afifa, Reina, Ardiansyah dan Fano pun mulai mendekat.
"Ada apa nih kelihatannya seru amat" kata Aziel.
"Nih bang adik tersayang Abang ini mau dilamar tuh sama kak Fano" kata Afifa sambil memberi kode abangnya itu kearah Reina.
"Ih kalian ini makin ngaco aja ya" Reina yang sudah sangat jengah itu hendak mau pergi dari sana namun tiba-tiba tangannya ditahan oleh Fano.
__ADS_1
Saat itu Fano langsung berjongkok menghadap Reina
"Rein, aku benar-benar tidak sedang bercanda dan aku juga tidak mengikuti apa kata mereka.
Aku disini mengikuti apa kata hatiku" kata Fano men jeda.
"Sudahlah Reina, move on dong dari dokter brengsek itu" ejek Aziel.
"Abaanggg, Awas ya.
Lagian siapa juga yang belum bisa move on dari si brengsek itu" kata Reina yang masih kesal itu.
Melihat putra-putrinya dan menantunya sedang ngobrol seru para orangtua pun menghampiri mereka.
"Lagi ngobrolin apa nih seru amat, dan ini Fano kenapa juga jongkok dihadapan Reina sambil pegang tangan Reina segala" tanya Uma Hamida.
"Ini Uma, kak Fano mau melamar Reina" kata Afifa menjelaskan.
"Oh ya, benarkah nak. Uma sangat bahagia sekali akhirnya kamu mendapatkan orang sebaik nak Fano" kata Uma Hamida yang sudah kegirangan mendengar kabar itu.
"Bohong Uma, itu akal-akalan nya Afifa aja" kata Reina.
"Sudah-sudah kita dengarkan saja nak Fano dulu" kata Hamid menghentikan pembicaraan istrinya itu dengan Reina putrinya.
Fano yang mendapat lampu hijau dari Hamid semakin tidak sabar ingin mengutarakan isi hatinya.
"Rein, sejak beberapa waktu aku mengenalmu. Aku merasakan ada sesuatu yang hangat dan aneh dalam hatiku.
Hatiku selalu berdebar tak menentu dan saat melihat kau bersama lelaki rasa sesak dihatiku.
Rein mau kah kamu menjadi pendamping hidupku dalam suka dan duka.
Maukah kamu menjadi ibu dari anak-anakku kelak" kata Fano yang begitu merasuk dalam hati setiap orang yang mendengarnya.
Reina yang sejak malam penyergapan markas profesor Alfaro itu juga merasakan sedikit kehangatan bila berada disamping Fano, jantungnya berdebar-debar keras.
Namun saat itu Reina menepisnya karena Reina masih belum yakin akan perasaannya.
Ditambah hari ini dengan segala ucapan Fano membuat jantung Reina semakin berdebar kencang.
Perasaan hangat menjalar di seluruh tubuhnya sejak tangannya digenggam oleh Fano seperti saat ini.
Semua yang ada disekitar Fano dan Reina mulai berteriak-teriak.
"Terima... terima... terima..." kata mereka semua.
Reina jadi salah tingkah dibuatnya. Dia masih takut dan mungkin ini terlalu tergesa-gesa.
"Pasrahkan semua pada Allah nak, Dan niatkan semua karena Allah. Insya Allah kamu akan mendapatkan jualannya dan jawaban atas pertanyaan nak Fano" kata Hamid bijak.
__ADS_1
Reina memejamkan matanya dan mulai berdoa memohon petunjuk.
Dengan penuh keyakinan Reina pun menjawab permintaan dari Fano.
"Bismillahirrahmanirrahim, dengan nama Allah aku akan menjawab semua permintaan Fano" Reina menjeda cukup lama pernyataan Fano itu.
"Ehemmm" Reina berdehem untuk menetralkan ketegangannya dan kegugupannya itu.
"Iya aku mau" kata Reina akhirnya.
Semua keluarga yang berada disana bersorak gembira dengan jawaban dari Reina.
"Selamat ya nak" kata para orang tua bergantian mengucapkan selamat kepada Reina dan Fano.
"Tak terasa sebentar lagi putri satu ku lagi akan dibawa seorang pemuda dan putraku akan membawakan kita menantu" senyum bahagia terlukis di wajah Hamid Abdullah.
Dia sangat bahagia melihat raut wajah putra-putrinya itu yang berbinar bahagia.
Hamid mendekati sang istri dan mengusap punggungnya lembut karena Hamid melihat sang istri yang sedang terharu dengan kejadian itu.
"Sudah sayang, putra-putri kita sudah dewasa" kata Hamid.
"Benar sayang, tetapi aku masih merasa mereka masih sangat kecil-kecil.
Mereka yang selalu membuat keributan kecil yang bisa menghangatkan suasana keluarga kita, mereka yang kadang selalu merengek manja" kata Hamida menerawang mengingat masa kecil mereka bertiga.
"Iya sayang, aku pun juga merasakan hal yang sama seperti dirimu" kata Hamid yang ikutan terharu seperti istrinya.
"Sebaiknya kita masuk kedalam saja yuk" ajak Hamid kepada semua anggota keluarganya.
Mereka memenuhi ruang keluarga rumah Afifa dan Ardiansyah.
Saat mereka sudah duduk semua Hamid mulai angkat bicara.
"Fan sebaiknya kamu bawa keluargamu datang kerumah nak, lebih cepat lebih baik" pinta Hamid tegas.
Fano pun tertunduk sedih
"Maaf tuan Hamid, nak Fano ini sudah tidak memiliki keluarga lagi. Dan dia sudah aku anggap sebagai putra keduaku selama ini" kata bunda Habibah.
"Oh maafkan Kami nak Fano, Ki tidak mengetahuinya" sesal Hamid.
"Tidak apa-apa tuan" kata Fano.
Bunda yang merasa bertanggungjawab dengan Fano pun akhirnya dengan keikhlasan hati mewakili keluarga melamar kan Reina untuk Fano.
"Saya mewakili almarhum orangtua nak Fano meminta ijin untuk meminang Reina putri dari tuan Hamid" kata bunda Habibah.
"Baiklah kalau begitu. Saya disini juga mewakili almarhum orangtua Reina menerima lamaran kalian" kata Hamid.
__ADS_1
Lamaran itu begitu sederhana tidak membawa apapun karena semua terjadi begitu saja dan sangat cepat.