
Malam ini Aziel dan Abi sudah bersiap menuju markas three Angel.
Dengan waktu 15 menit mereka sudah sampai dimarkas Three Angel.
Ternyata disana sudah ada Anna dan juga Lionel.
"Apa dokter Ridwan sudah datang" tanya Hamid Abdullah.
"Belum tuan sepertinya sebentar lagi beliau sampai" kata Lionel.
"Ya sudah kalau begitu kita tunggu saja" kata Hamid dan segera duduk.
Sementara menunggu beberapa menit tiba-tiba Afifa dan Reina datang ke apartemennya.
Dia membuka pintu apartemen nya dan mengucap salam
"Assalamu'alaikum" kata Afifa dan Reina hampir bersamaan.
Dia terkejut karena diapartemen sudah ada Abi nya, bang Aziel, Lionel dan juga Anna.
"Abi sama Abang tumben kesini" tanya Afifa.
Semua yang diruang itu juga sama terkejutnya dengan Afifa dan Reina.
"Lho ngapain kamu kesini dan terus kamu sama siapa?.
Apa sudah selesai penelitian kamu" tanya Abi balik.
"Sudah bi, cuma aku ingin menyelinap ke pabrik itu, karena itu kunci dari semua petaka ini sepertinya" kata Afifa.
"Sebelum semua bisa hancur, makanya aku dan Reina melakukan gerak cepat" kata Afifa.
"Kan Abi sudah melarang kamu nak, apa kalian tidak ingat apa yang Abi katakan kemarin itu" kata Abi.
"Maaf Abi, karena kami tidak tega melihat penderitaan semua orang Abi.
Jiwaku seakan ikut menangis melihat semua ini" kata Afifa dengan sendu dan tak terasa air mata sudah berlubang dipelupuk matanya.
Dengan kedua matanya sendiri Afifa melihat banyak orang yang tergeletak dengan luka seperti orang melepuh dan mereka semua merintih kesakitan.
Hati Afifa yang melihat itu semua begitu hancur, dia merasa ikut merasakan apa yang dirasakan mereka.
Banyak relawan yang kewalahan dengan kejadian ini.
Dan hampir seluruh penduduk kota terkena semua wabah itu.
"Abi tahu nak, tetapi kamu harus ingat kalau kamu tidak fokus sama penelitian mu maka akan banyak orang yang tidak terselamatkan" kata Abi nya mencoba memberi pengertian anaknya.
"Afifa tahu Abi, tetapi semua orang juga membutuhkan tenaga Afifa, banyak relawan dan tim medis yang kewalahan menangani semua ini" kata Afifa yang masih sesenggukan karena menangis.
"Sudah kamu harus tenang nak.
Kalau kamu menangis gini gimana mau membantu orang yang terkena wabah" kata Abi Hamid.
"Bener fa, kamu harus tenang ya" bujuk Abang Aziel.
Afifa pun menghentikan tangisnya.
POV Afifa.
__ADS_1
Sejak aku menerima telepon dari Anna yang mengatakan bahwa pasien semakin meningkat dan tim medis mulai kuwalahan membuat aku berpikir.
Aku tidak bisa konsentrasi sedangkan tenaga ku dibutuhkan saat ini.
Hati kecilku menangis mendengar banyak orang tak berdosa harus menanggung wabah ini hanya karena keserakahan satu orang.
Akhirnya aku memutuskan kembali setelah sebelumnya mendiskusikan dengan Reina.
Penelitian ku sudah berhasil meski ada sedikit kelemahan.
Sore itu aku dan Reina kembali ke kota dan langsung menuju markas Three Angel.
Dalam perjalanan aku melihat banyak orang-orang yang merintih kesakitan dan semua badannya melepuh.
Semua tim medis dan para relawan berlarian kesana kemari menolong orang-orang yang kena dampak virus itu.
Aku tak kuasa membendung air mataku tatkala dengan mataku sendiri aku melihat semua hal yang mengerikan itu.
POV end.
Beberapa menit kemudian dokter Ridwan dan orang suruhan Lionel sudah hadir di apartemen ku yang merupakan markas kami Three Angel.
"Sebaiknya kita mulai saja, karena semua sudah hadir.
Dokter Ridwan menyerahkan foto dokter Rio yang diambilnya secara diam-diam.
Sedangkan orang suruhan Lionel menyerahkan sample air mineral yang diduga menjadi pusat penyebaran virus itu.
"Fa tolong kamu teliti ini nak" kata Abi memerintahkan anaknya.
"Ini apa Abi" tanya Afifa
"Ini adalah sample dari air mineral yang diduga sebagai alat untuk menyebarkan virus itu" kata Abi lagi menjelaskan.
"Dan kamu Anna dan Aziel tolong kamu lihat foto ini dan cocokkan datanya antara dokter Rio dan profesor Alfaro" kata Abi.
Aziel memang selama ini juga piawai dalam hal technologi digital.
Tetapi dia selalu menutupi kepiawaiannya dengan hal lain.
Hanya Abi Hamid lah yang mengetahui itu sedangkan kedua adiknya tidak mengetahui kepadatan abangnya itu dalam hal technologi digital.
Sontak semua orang tertegun mendengar bahwa Aziel Ramadhan yang terkenal dingin dan biasa aja ternyata adalah hacker yang terkenal di dunia Maya.
Anna dan Aziel mulai meretas dan mencocokkan semua data dan foto milik dokter Rio dan profesor Alfaro.
"Coba deh Abi lihat ini, aku rasa memang dokter Rio adalah profesor Alfaro, tetapi kita tidak boleh gegabah karena kita belum mendapatkan bukti-bukti tentang ini.
Memang wajah mereka sedikit berbeda tetapi penyamarannya masih bisa Aziel ketahui Abi.
Banyak kejanggalan disini" kata Aziel menjelaskan sambil menunjukkan apa yang didapatnya dari meretas data dokter Rio dan profesor Alfaro.
Semua orang pun melihat MacBook yang ditunjukkan oleh Aziel.
"Coba kalian lihat dari bentuk mata dan bibir serta rahangnya cukup jelas bukan" kata Aziel.
"Ya benar apa yang dikatakan oleh Abang Aziel" kata Afifa.
"Coba deh Abang retas cctv di rumah sakit" kata Reina lagi.
__ADS_1
Hanya dengan hitungan menit Aziel sudah mendapatkan rekaman cctv itu.
Anna yang melihat kepiawaian Aziel semakin mengagumi nya.
"Oh my God ternyata tuan Aziel begitu pintar" batin Anna.
"Sepertinya ada beberapa bagian yang sudah dihapus oleh seseorang" kata Aziel.
"Kalau yang bagian itu saya yang menyuruh Anna menghapusnya bang, karena saat itu adalah dimana aku bertemu dengan Aqila" kata Afifa.
Abang Aziel dan Abi mengangguk mengerti karena mereka yang mengetahui tentang Aqila.
"Kalau yang bagian ini fa, apa kamu mengetahuinya" kata Abang Aziel.
"Kalau itu Afifa tidak mengetahuinya, kalau kamu Anna" jawab Afifa sekaligus memberi pertanyaan kepada Anna.
"Anna juga tidak tahu.
Tapi tunggu bukankah itu rekaman cctv yang berada didepan ruang dokter Syahrir bukan" kata Anna kemudian.
"Iya benar apa yang kamu katakan Anna" kata Reina membenarkan.
"Kalau begitu coba deh kamu retas jaringan informasi dipabrik air mineral itu" kata Abi.
Aziel dengan cekatannya mengutak-atik tombol di MacBook miliknya.
Hanya dengan waktu kurang dari 1 jam Aziel sudah berhasil mendapat kan data cctv dan data-data penting lainnya yang ada di pabrik air mineral itu.
"Sepertinya tempat yang dijadikan untuk pengadaan virus itu ada disebelah sini sedikit jauh dari pabriknya" kata Aziel.
"Coba kalian lihat ini" kata Aziel lagi dan menunjukkan hasil temuannya itu.
"Benar apa yang Abang katakan" kata Afifa.
"Coba kalian lihat ini juga ternyata sebagian tim medis dan karyawan dirumah sakit kita merupakan komplotan dari mereka" kata Afifa menunjukkan sisi lain dari MacBook milik Anna.
Karena Anna juga bekerjasama dengan Aziel meretasnya.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan" tanya dokter Ridwan yang sedikit menyesal karena sudah menyerahkan kepemimpinan ditangan dokter Syahrir yang dikiranya seorang dokter yang baik dan jujur tetapi ternyata dugaannya salah.
"Kita harus segera menghancurkan laboratorium pembuat virus itu, kalau kita ingin menyelematkan umat manusia" kata Abi Hamid.
"Tetapi Abi laboratorium ini tidak hanya terdapat di negara kita tetapi ini sudah menjadi komplotan internasional.
Ada pihak yang berada dibelakang mereka juga yang juga mempunyai rencana yang menguntungkan kelompok mereka sendiri" kata Aziel.
"Benar tuan, karena sesuai dengan info yang kita terima selama ini kalau ini sudah merembah keseluruh negara" kata Lionel membenarkan ucapan Aziel dan membeberkan sedikit informasi yang didapat selama ini.
"Ini merupakan jaringan internasional, jadi kita tidak bisa sendiri menjalankan misi kita.
Karena ini sangat beresiko" kata Abi Hamid.
"Sementara Afifa harus tetap tersembunyi karena Afifa adalah kunci dari semua penyelesaian kasus ini.
Semua ini demi keselamatan Afifa" kata Aziel.
"Kalau begitu Reina kamu akan menemani Afifa dan aku akan menyewa satu tin agen rahasia internasional yang akan menjaga keselamatan Afifa dan Reina" kata Abi lagi.
"Sebaiknya formula yang berhasil di kembangkan oleh Afifa dan Reina harus segera kita distribusikan.
__ADS_1
Kamu dan anak buah kamu segera mendistribusikannya dan membawanya secara tersembunyi ke semua rumah sakit dan jangan sampai ada yang bisa mengetahui itu semua.
Tutup semua akses yang mengarah ke keberadaan Afifa dan Reina termasuk pusat penelitian mereka" kata Abi tegas memerintahkan Lionel dan anak buahnya.