
Afifa dan Ardiansyah menuju ketempat bundanya menanti.
Tidak berapa lama akhirnya Afifa dan Ardiansyah pun sampai dan langsung memasuki mobil.
Afifa duduk di samping bunda Habibah sedangkan Ardiansyah didepan bersama sopir pribadinya.
"Ya sudah pak kita berangkat ya ke restoran xxx" kata Ardiansyah memberi perintah.
"Baik tuan" kata sopir itu yang ternyata adalah Hanif si sopir taxi online.
"Kak Hanif kan" tanya Afifa saat melihat sopir itu dari balik kaca mobil.
Hanif hanya mengangguk tanda membenarkan ucapan Afifa.
"Kalian saling kenal" tanya Ardiansyah heran
"Iya tuan saat nona Afifa ini pergi ke pondok pesantren milik syekh Muhammad Arsyad, tetapi itu sudah beberapa tahun yang lalu tuan saat saya masih menjadi sopir taxi" kata Hanif
"Wah ternyata dunia selebar daun kelor ya" kata Ardiansyah yang tak menyangka itu.
"Oh ya Hanif, Afifa ini adalah calon istri saya dan sebentar lagi kami akan menikah" kata Ardiansyah melanjutkan ucapannya tadi.
"Kalau begitu selamat ya tuan dan non Afifa, saya ikut berbahagia" kata Hanif tulus.
"Terima kasih kak Hanif" kata Afifa.
Tak beberapa lama mereka sudah sampai disebuah restoran yang mewah.
Ardiansyah sudah memesan private room dan disana sudah ada Uma Hamida, dan Abi Hamid.
"Sekarang tutup mata dulu ya" kata Ardiansyah kepada Afifa.
"Kenapa pakai ditutup mata segala sih kak emangnya ada apa?" tanya Afifa.
"Udah percaya deh sama aku ya" kata Ardiansyah dan langsung menutup mata Afifa memakai dasi yang dipakainya itu.
Di ruangan itu sudah disulap jadi ruangan yang penuh dengan bunga dan balon-balon yang tertata rapi dan indah.
Ardiansyah menuntun Afifa menuju ruangan itu dan saat sudah masuk keruangan itu Ardiansyah sudah jongkok didepan Afifa sambil menyodorkan cincin berlian kepada Afifa dan penutup mata Afifa dibuka oleh Bunda Habibah.
Saat mata terbuka Afifa begitu terkejutnya disana sudah ada orang yang paling disayanginya yaitu Uma dan Abi nya dan juga tata ruang yang dibuat seindah ini.
"Afifa maaf sebelumnya aku tidak meminta ijin dirimu.
Aku hanya ingin menjagamu dan menjadikanmu bidadari surga ku.
__ADS_1
Afifa mau kah kamu menikah denganku" kata Ardiansyah yang masih membawa cincin dan berjongkok dihadapan Afifa.
Afifa sangat terharu dengan kejutan yang dibuat oleh Ardiansyah ini.
Afifa mengangguk sambil meneteskan air matanya.
"Aku mau kak" lirih Afifa sambil malu-malu.
"Maaf ya acaranya setelah aku meng khitbah dirimu fa" kata Ardiansyah.
Meskipun itu adalah hal yang terlambat tetapi Ardiansyah hanya ingin memberi kesan yang membahagiakan yang akan diingat seumur hidupnya.
"Afifa sudah bahagia kok kak dengan apa yang kakak berikan ke Afifa dan Afifa sangat bersyukur mendapatkan calon suami seperti kakak" kata Afifa.
Setelah menyematkan cincin Kejari manis Afifa mereka langsung bergabung dengan bunda, Abi dan Uma nya.
"Selamat ya nak" kata Abi, Uma dan bunda bergantian mengucapkan selamat kepada Afifa dan juga Ardiansyah.
"Ayo sekarang kita makan siang dulu kasian tuh makanannya" kata Uma sambil menunjuk kearah makanan yang sudah tertata diatas meja.
Mereka akhirnya makan siang bersama dengan tenang hanya terdengar suara denting piring yang saling bertabrakan dengan sendok dan garpu.
15 menit kemudian mereka sudah menyelesaikan makan siangnya.
"Maaf Abi, Uma, bunda dan juga afifa.
Ardiansyah pun akhirnya menceritakan alasannya kepada bunda nya dan kedua orang tua Afifa.
Karena Ardiansyah ingin selalu menjaga Afifa dan untuk menghindari dari dosa kalau dia sedang menatap dan berdekatan dengan Afifa.
"Itulah yang mendasari kenapa Ardiansyah menginginkan pernikahannya dipercepat" kata Ardiansyah kepada orangtuanya itu.
"Abi setuju saja dengan rencana kamu, tetapi keadaan sekarang sangat sulit nak untuk melaksanakan pesta dan kamu tahu sendiri beberapa hari ini virus yang sedang menimpa masyarakat belakangan ini" kata Abi.
"Ardiansyah hanya ingin pernikahan yang sederhana Abi yang hanya dihadiri keluarga inti saja, dan untuk pesta bisa kita lakukan nanti setelah musibah yang menimpa masyarakat semua usai sekalian mengumumkan kalau Afifa adalah istri sah saya" kata Ardiansyah.
"Baik lah kalau begitu, Abi setuju dan untuk sementara sebelum diadakannya pesta dan pengumuman atas pernikahan kalian sebaiknya semua ini dirahasiakan dulu" kata Abi Hamid.
"Baik Abi" kata Ardiansyah begitu bahagianya.
"Kalau begitu mulai besok saya akan mendaftarkan pernikahan kita ke KUA dan sekalian membawa berkas-berkas nya" kata Ardiansyah
"Kalau begitu kapan rencana akan dilaksanakannya nak" tanya Uma lembut.
"Satu Minggu dari sekarang Uma" kata Ardiansyah.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu" kata Abi.
Setelah perbincangan usai mereka kembali pulang sedangkan Afifa kembali kerumah sakit dengan diantarkan oleh Ardiansyah tetapi setelah mengantarkan bunda nya terlebih dahulu.
Saat diperjalanan menuju rumah sakit Afifa memulai pembicaraan kepada Ardiansyah.
"Kak apakah ini tidak terlalu cepat" kata Afifa
"Tidak fa, aku hanya ingin kita terhindar dari dosa aja fa.
Sekarang mau nunggu apalagi kita sudah saling mengenal dan aku mencintaimu tulus karena Allah" kata Ardiansyah
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan kakak, Afifa setuju saja" kata Afifa
"Terima kasih ya fa" kata Ardiansyah sambil tersenyum.
Afifa hanya menanggapinya dengan membalas senyuman Ardiansyah.
Sesampai dirumah sakit Afifa langsung turun dan menuju keruangan nya sedangkan Ardiansyah kembali ke kantornya.
"Dokter Afifa gawat, pasien yang terjangkit virus mematikan itu semakin bertambah" kata suster Anna.
"Dokter diminta untuk segera ke ruang isolasi dan ruang IGD" lanjut Anna.
"Baiklah kalau begitu, ayo kita kesana" ajak Afifa.
Mereka berdua pergi beriringan menuju IGD dan ruang isolasi.
Di sana sudah ada dokter Reina, dokter Nicholas dan juga dokter Adnan.
"Maaf saya sedikit terlambat" kata Afif saat bergabung dengan dokter lainnya.
Nicholas yang melihatnya hanya tersenyum kecut.
"Ya sudah sekarang apa yang harus kita lakukan" kata Reina
"Kita pergunakan aja obat yang ada yang bisa menghambat wabah ini sampai kita bisa mendapat kan obat yang sesuai" kata Afifa.
Mereka pun dengan cekatan memeriksa pasien dan mencatat setiap gejala dan apa yang dirasakan oleh pasien itu dengan cermat dan teliti.
"Aku rasa kita membutuhkan tempat yang lebih luas lagi karena wabah ini setiap harinya semakin meningkat" kata dokter Adnan.
"Betul apa yang dikatakan oleh dokter Adnan, kalau begitu kita usulkan saja kepada kepala rumah sakit yaitu dokter Syahrir" kata Reina membenarkan apa yang diucapkan oleh dokter Adnan.
"Ya sudah kalian semua disini memeriksa pasien, biarkan aku saja yang keruangan dokter Syahrir" kata Nicholas yang sejak dari tadi hanya menyimak saja.
__ADS_1
"Ya sudah kalau begitu" kata dokter Adnan, sedangkan Afifa dan Reina hanya mengangguk saja demikian juga suster Anna.
Nicholas pun akhirnya pergi menemui dokter Syahrir untuk mengatakan usulan mereka semua.