Dokter Afifa

Dokter Afifa
Rencana penyelidikan pondok milik orangtua Afifa


__ADS_3

Ketika sampai di laboratorium profesor Alfaro mengumpat.


"Sialan, aku akan membalas mu Aziel" kata profesor Alfaro geram karena sudah dibentak dan dikatakan tidak becus.


"Lebih baik aku mengalah untuk mencapai tujuanku.


Aku akan memberikan sedikit penawar dari virus itu walau penawar itu sebenarnya hanya meredakan rasa sakit saja tetapi tidak bisa menyembuhkan.


Bila ada kesempatan aku akan menyuntikkan virus itu kepada pemilik rumah sakit ini" batin profesor Alfaro.


"Aku gak mau sampai rencana ku gagal lagi" kata profesor Alfaro masih sibuk dengan pemikirannya sendiri.


tok...tok...tok


"Dokter Rio boleh saya masuk" kata seseorang dari balik pintu itu sambil mengetuk-ngetuk pintu.


"Masuklah tidak dikunci" kata profesor Alfaro.


Orang itupun masuk ke laboratorium dan ternyata orang tersebut adalah dokter Nicholas


"Iya ada apa" kata profesor Alfaro.


"Apakah dokter Rio mencari saya, tadi saya ketempat dokter Syahrir katanya dokter Rio mencari saya" kata dokter Nicholas.


"Benar aku tadi mencari anda dokter Nicholas, saya ada tugas penting buat anda.


Sekarang bisa mengikuti saya sebentar" kata profesor Alfaro mengajak dokter Nicholas menjauh dari tempat itu menuju suatu ruangan.


Karena di laboratorium itu ada beberapa orang jadi mereka akhirnya memutuskan pergi dari situ.


"Aku punya tugas untukmu, aku ingin kamu mencari keberadaan dokter Reina dan aku juga mau kamu menyelidiki pesantren milik orangtua dokter Afifa" kata profesor Alfaro ketika sudah berada di suatu ruangan yang merupakan sebuah gudang yang jarang dimasuki oleh orang.


"Baik prof" kata Nicholas.


"Aku tidak mau kamu gagal lagi kali ini, kalau sampai kamu gagal lagi aku akan membunuh adikmu dan memberikannya kepada buaya-buaya yang kelaparan" ancam profesor Alfaro.


"Baik prof" kata Nicholas sedikit cemas dengan ancaman profesor Alfaro.


"Sebelum aku menyelesaikan tugasku, aku harus bisa menemukan keberadaan adikku" batin Nicholas.


Percakapan profesor Alfaro dan dokter Nicholas tanpa disadari telah didengar oleh seseorang dari balik tumpukan-tumpukan peralatan rumah sakit yang sudah tidak terpakai.


Tempat itu sangat tersembunyi jadi profesor Alfaro dan Nicholas tidak mengetahuinya.


"Aku tidak boleh kalah dari Nicholas, sebelum Nicholas mendapatkan informasi aku pastikan, aku akan mendapatkan informasi itu terlebih dahulu" batin orang yang mendengarkan percakapan dari profesor Alfaro dan dokter Nicholas.


Orang tersebut tidak lain adalah dokter Anwar.


Dokter Anwar sangat tidak menyukai dokter Nicholas karena menurut dia kalau dokter Nicholas itu hendak merebut apa yang akan menjadi miliknya.


Dokter Anwar merasa kalau dokter Nicholas selalu dianak emaskan oleh profesor Alfaro.


Padahal kenyataannya tidak seperti itu.


Setelah percakapan antara profesor Alfaro dengan dokter Nicholas selesai mereka berdua meninggalkan ruangan itu dan kembali beraktifitas seperti sebelumnya.


Sepeninggal profesor Alfaro dan dokter Nicholas akhirnya dokter Anwar keluar dari tempat persembunyiannya.

__ADS_1


Dokter Anwar segera keluar menuju mobilnya dan mengendarai mobilnya itu dengan kecepatan sedang menuju pondok pesantren milik orangtua Afifa.


Dokter mengamati setiap aktifitas dari pondok itu dari kejauhan.


Dari tempat dokter Anwar mengamati setiap aktifitas pondok itu ada seorang pedagang bakso yang lewat didekatnya mengamati.


Dokter Anwar pun turun dan membeli semangkok bakso sambil bertanya sedikit informasi.


"Apa bapak sering mangkal disini" tanya Anwar santai.


"Benar tuan, tiap hari saya berjualan disini" kata pedagang bakso itu.


"Apa bapak tahu pemilik pondok itu dan anaknya" kata Anwar.


"Saya tahu tuan, syekh Muhammad Arsyad itu orang yang sangat baik, dan lembut.


Beliau memperlakukan anak dan istrinya dengan baik" kata pedagang itu


"Oh ya tuan ada apa ya tuan bertanya begitu kepada saya" tanya pedagang itu sedikit curiga.


"Tidak pak, hanya saja saya itu mencintai putri syekh Muhammad Arsyad itu.


Dan saya hanya ingin mencari sedikit keterangan apakah putri beliau sudah menikah atau belum karena saya takut apabila saya nanti kesana dan berniat melamar putri nya ternyata putrinya sudah menikah" bohong Anwar.


"Oh begitu tuan, setahu saya putri beliau itu seorang dokter namanya nona Afifa. Setiap kali ada nona Afifa pasti nona Afifa akan memborong semua dagangan saya dan dibagikan keseluruh orang dipondok itu.


Nona Afifa itu sudah cantik, lembut dan baik hati tuan.


Saya rasa tuan pasti akan diterima jika melamar nona Afifa.


Tuan tampan dan kelihatan dari keluarga terpandang pasti beliau akan merestui tuan" pedagang itu tanpa curiga mulai menceritakan tentang keluarga syekh Muhammad Arsyad dan juga Afifa.


"Benar tuan. Tetapi akhir-akhir ini saya jarang melihat nona Afifa keluar dari pondokan tuan.


Apa mungkin beliau sakit ya" kata pedagang itu karena memang sudah lama tidak melihat keberadaan Afifa.


"Oh ya pak, masak sih" kata Anwar.


"Benar tuan" kata pedagang itu pun meyakinkan kalau ucapannya itu benar.


Tak terasa bakso yang dimakan oleh Anwar pun telah habis.


"Ini pak uangnya, dan ambil saja kembaliannya" kata Anwar sambil menyerahkan 3 lembar uang ratusan.


"Benarkah tuan" kata pedagang bakso itu bahagia.


"Anggap saja itu upah dari bapak telah memberi saya sedikit informasi" kata Anwar.


"Kalau begitu terima kasih banyak ya tuan" kata pedagang itu dan melanjutkan perjalanan menuju kedepan pondok pesantren milik syekh Muhammad Arsyad.


Saat pedagang bakso itu sampai didepan pintu masuk pondok pesantren milik syekh Muhammad Arsyad tiba-tiba ada mobil yang melintas didepannya dan memasuki pondok pesantren itu.


Tak lama orang dari dalam mobil itu pun keluar yang ternyata adalah Afifa dengan suaminya Ardiansyah.


"Pak tunggu dulu" panggil Afifa kepada tukang bakso itu.


"Eh non Afifa, iya non.

__ADS_1


Mau borong bakso saya lagi non" tanya tukang bakso itu.


"Bapak tahu aja, ya sudah bapak siapkan dahulu 4 mangkok yang super spesial ya pak dan nanti penghuni pondok akan segera kesini tolong layani mereka, nanti saya akan membayarnya" ucap Afifa dan saat itu Ardiansyah pun segera menghampiri Afifa.


"Ada apa sayang" tanya Ardiansyah.


"Ini hubby, aku pengen beli bakso aja.


Dan aku berniat memborongnya untuk semua orang yang ada di pondokan ini" kata Afifa menjelaskan.


"Eh non ini siapa non Afifa ya" tanya pedagang bakso itu ingin tahu.


"Oh ini kenalkan pak suami saya" kata Afifa memperkenalkan Ardiansyah.


"Suami non" kata pedagang bakso itu terkejut.


"Iya pak, kami baru aja menikah" kata Afifa.


"Oh ya non tangan non Afifa itu kenapa kok sampai diperban gitu" tanya pedangan bakso.


"Oh ini hanya kecelakaan kecil saja pak" kata Afifa.


"Oh ya non tadi ada orang bertanya-tanya tentang non Afifa" kata penjual bakso itu.


"Oh ya pak, siapa pak" tanya Afifa.


"Itu non orang yang berada didalam mobil diseberang sana" kata penjual bakso itu.


"Yang mana ya pak" kata Afif karena diseberang ada beberapa mobil sedang berparkir dari kejauhan.


"Itu non mobil yang warna merah itu" tunjuk pedagang itu.


Afifa menengok dan dia sedikit berfikir.


"Bukankah itu mobil milik Anwar ya" mau apalagi dia.


Ardiansyah yang mendengar percakapan Afifa dengan pedagang bakso itu juga ikut menoleh ke arah mobil yang dimaksud.


"Apa kamu mengenali siapa yang mempunyai mobil itu sayang" bisik Ardiansyah.


Belum sempat Afifa ngomong pedagang bakso itu menyerahkan 4 porsi bakso spesial kepada Afifa.


"Ini non bakso nya" kata pedagang bakso itu dan langsung diambil oleh Ardiansyah dan dibawa masuk.


Afifa pun segera mengikuti suaminya dari belakang.


Afifa mengetuk pintu rumah Abi Arsyad sedang Ardiansyah duduk disalah satu kursi yang ada di teras rumah.


Tak beberapa lama pintu terbuka dan tampak Uma Aisyah.


"Ayo masuk nak" kata Uma Aisyah.


Mereka pun masuk kedalam rumah.


Jangan lupa kasih vote nya ya pembaca setia ku.


Kasih dukungan, komen, like dan favoritkan.

__ADS_1


Mau kasih hadiah juga boleh kok


😁😁😁😁😁😁


__ADS_2