
Setelah menelepon Ardiansyah, Fano langsung menelepon anak buahnya.
"Kamu nanti tolong ikuti saya ke club malam XXX.
Tolong tunggu aba-aba dari saya, nanti baru kamu sekap dokter Anwar dan bawa ke Markas.
Jangan sampai ada yang mengenali kalian, paham" perintah Fano kepada anak buahnya melalui sambungan telepon.
"Baik bos" kata anak buah Fano dan langsung sambungan telepon diputuskan oleh Fano.
Fano masih mengikuti laju mobil Anwar dan tak lama kemudian mereka sudah sampai didepan club malam itu.
Mereka berdua sama-sama keluar dari dalam mobilnya dan melaju menuju pintu masuk club itu.
Sesampai didalam Fano dan Anwar mencari tempat duduk didepan bartender.
"Bro minum seperti biasa ya" kata Anwar kepada bartender yang dia kenal.
Karena seringnya Anwar kesana sampai semua bartender hapal dengan minuman yang biasa diminum oleh Anwar.
Fano yang berada disamping Anwar sedikit bingung minuman apa yang akan dipesan karena dia juga tidak terbiasa meminum minuman beralkohol.
"Anda mau memesan apa tuan" kata salah satu bartender itu memecahkan kebingungan Fano.
"Apa ada minuman tanpa alkohol" tanya Fano.
"Ada tuan" kata salah satu bartender itu.
"Baiklah aku mau itu saja" kata Fano.
Tak beberapa lama tiba-tiba pemilik club malam itu datang.
Dan ketika melihat Fano dia terkejut.
"Bukankah itu Fano, ada apa dia kesini tumben-tumben.
Setahu aku dia itu tidak pernah masuk yang namanya club malam, apalagi minum minuman beralkohol" batin Andrean dan langsung berinisiatif menghampiri sahabatnya sekaligus teman satu tim basketnya dahulu sewaktu SMA.
"Bro kamu disini" sapa Andrean ketika sudah berada didekat Fano.
"Eh kamu Ndre" kata Fano.
"Tumben kamu disini..." belum sempat Andrean meneruskan perkataannya langsung dibekap dan dibawa menjauh dari sana.
Dan tindakan Fano itu juga dilihat oleh Anwar.
"Mereka saling kenal, dan kenapa fanfan sampai membekap orang itu dan diajak pergi dari sini" kata Anwar lirih sambil meminum minuman yang dia pesan tadi.
"Ah sudahlah nanti biar aku tanya saja" kata Anwar yang lagi sedang malas untuk berpikir hal yang gak penting menurut dia.
Sedang ditempat yang agak jauh dari Anwar dan agak tersembunyi Fano mulai menjelaskan kepada Andrean.
"Begini bro, orang yang disebelahku tadi adalah orang yang menjadi salah satu target ku.
Karena dia telah melukai istri dari bos ku gitu" kata Fano memberi penjelasan kepada Andrean.
"Oh ya, dia itu salah satu langganan club ku ini.
Bukankah dia itu seorang dokter kan, terus kenapa sampai melukai istri dari bos kamu" tanya Andrean yang sedikit curiga kepada Fano.
"Ya semacam mall praktek gitu sih, dan bos aku itu menyuruh untuk menyelidikinya karena bos ku itu gak punya bukti kuat buat memenjarakannya begitu bro" kata Fano berbohong.
"Oh gitu, ya sudah kalau begitu silahkan.
Tapi apa kamu yakin bisa melakukan sendiri" tanya Andrean.
__ADS_1
"Ya aku masih mencobanya saja bro, apa kamu memiliki sesuatu yang bisa membuatnya untuk bercerita tentang apa yang ingin aku tanyakan" tanya Fano.
"Aku punya bro, biar nanti anak buahku memasukkannya kedalam minuman orang itu" kata Andrean.
"Benarkah, wah terima kasih kalau begitu.
Kamu sudah sangat membantu aku" kata Fano.
"Sama-sama bro" kata Andrean.
"Oh ya bro kalau ditanya nanti kamu bilang aja kenal aku di negara S.
Dan bilang juga kita dulu pernah satu sekolahan" kata Fano memberi pesan kepada Andrean agar tidak membocorkan identitasnya itu.
"Beres kalau itu, kamu jangan khawatir" kata Andrean.
"Ya sudah kalau begitu kita kembali kesana saja" kata Fano mengajak Andrean.
"Ayo" kata Andrean menyetujui ajakan dari Fano.
Fano kembali duduk disamping Anwar yang sedang minum sambil mendengarkan musik yang memekakkan telinga itu.
Sedangkan Andrean dia masuk dan berada dibalik meja bartender itu.
Andrean pun memberi kode ke karyawannya itu untuk menaruh sesuatu didalam gelas Anwar tanpa sepengetahuan Anwar.
Tak beberapa lama Anwar suda terlihat sangat mabuk parah.
Fano segera menghubungi anak buahnya yang sudah sejak dari tadi bersiaga didepan club malam itu.
Dua orang anak buah Fano datang dan segera membawa Anwar yang sudah mabuk berat itu.
"Bawa ke apartemen ku saja dahulu dan pastikan dia tidak pergi kemana-mana. Setelah itu bawa ke markas, tetapi tunggu kode dariku membawanya kemarkas" kata Fano memberi perintah.
"Baik tuan" kata kedua orang anak buahnya.
Sepeninggal Anwar dan kedua anak buahnya Fano pun berterima kasih kepada Andrean.
"Bro terima kasih banyak ya, kamu sudah menolong aku" kata Fano.
Ketika akan berdiri Fano teringat sesuatu.
"Oh ya bro berapa semua tagihannya" tanya Fano.
"Udah tenang aja bro gratis buat kalian" kata Andrean.
"Eh tidak bisa bro, ini usaha kamu jadi aku gak mau gratis ya" kata Fano penuh penekanan.
"Ya sudah kamu beri berapapun aja deh gpp" kata Andrean.
Fano pun mengeluarkan 20 lembar uang ratusan.
"Nih bro" kata Fano menyerahkan uang itu.
" Eh bro ini kebanyakan" kata Andrean.
"Gak apa-apa buat kamu saja, anggap saja sebagai rasa terima kasih ku karena kami sudah membantuku.
Dan jangan menolak" kata Fano penuh penekanan di kata-kata terakhirnya.
Akhirnya Andrean pun menerima uang dari Fano itu.
"Ya sudah bro, aku balik dahulu ya" kata Fano berpamitan.
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati dijalan" kata Andrean mengingatkan.
__ADS_1
"Oke" kata Fano dan langsung beranjak pergi dari tempat itu.
Fano segera melajukan mobilnya menuju apartemen.
Di sana Fano segera mengintrogasi Anwar.
"Hai sobat, apa kau baik-baik saja" kata Fano ketika melihat Anwar yang sedang berturutan diatas sofa apartemen nya itu.
"Eh kamu" tanya Anwar yang sedikit terkejut akan kehadiran Fano.
"Iya, apa kamu baik-baik saja sobat" tanya Fano.
Anwar sudah mulai tidak fokus dan disaat itulah Fano mulai bertanya-tanya tentang letak markas profesor Alfaro, dan juga tempat ranjau-ranjau yang mengitari markas profesor Alfaro.
Selain itu Fano sedikit terkejut ketika mendapat pengakuan dari Anwar kalau dokter Rio itu adalah profesor Alfaro.
Banyak yang diceritakan oleh Anwar tentang profesor Alfaro, dari siapa saja pengikutnya sampai hal yang penting juga diceritakan olehnya.
"Untung semua aku rekam percakapan ku dengan dokter bodoh ini" batin Fano.
Memang sebelumnya Fano menyuruh anak buahnya meletakkan sebuah kamera tersembunyi dibeberapa sudut ruangan itu dan mengaktifkan alat rekam suaranya juga.
Fano segera memberi kode kepada anak buahnya untuk membawa Anwar ke markas dan meletakkan disalah satu ruangan bawah tanah yang gelap dan tertutup.
Anwar pun akhirnya dibawa pergi oleh anak buah Fano menuju tempat yang diperintahkan tuannya itu dan tidak lupa juga mengikatnya.
Tetapi sebelumnya Anwar sudah diberi obat tidur didalam minumannya yang tadi diberikan Fano sewaktu diapartemen.
Sepeninggal Anwar dan anak buah Fano dengan segera Fano menghubungi Ardiansyah.
"Assalamu'alaikum Syah" kata Fano saat telepon itu tersambung.
"Wa'alaikumsalam fan, apa ada hal yang kamu dapat" kata Ardiansyah langsung pada pokoknya setelah menjawab salam dari Fano.
"Kamu benar Syah, sekarang aku tunggu kamu di apartemenku yang di XXX " kata Fano.
Apartemen Fano itu hanya digunakan saat mengadakan interogasi saja.
Tidak ada yang pernah meninggali apartemen itu sebenarnya.
Ditempat lain Ardiansyah yang sudah melihat istrinya tertidur dia pelan-pelan melepaskan pelukan sang istri dari tubuhnya karena tadi dia sedang tidur sambil berpelukan dengan sang istri.
Setelah dirasa sang istri tidak terganggu tidurnya Ardiansyah mengganti bajunya dan segera keluar dari kamar Afifa yang berada dirumah Uma Aisyah.
Ketika keluar dari kamar Ardiansyah berpapasan dengan Abi Arsyad.
"Mau kemana kamu nak Ardiansyah" tanya Abi Arsyad.
"Eh Abi, kok belum tidur.
Ardiansyah ada urusan penting Abi, ini semua mengenai orang yang sudah menembak Afifa.
Makanya Ardiansyah harus sesegera kesana" kata Ardiansyah jujur menjelaskan niatnya untuk keluar rumah dimalam hari itu.
"Ya sudah, kalau begitu kamu hati-hati ya nak.
Ingat kalau ada apa-apa kamu secepatnya menghubungi Abi Hamid" kata Abi Arsyad.
"Baik Abi, saya titip Afifa dahulu ya Abi.
Jangan katakan saya sedang bertemu dengan orang yang sudah mencelakainya" kata Ardiansyah dan sedikit berpesan kepada Abi Arsyad.
"Assalamu'alaikum Abi" kata Ardiansyah berpamitan dan juga mencium punggung tangan Abi Arsyad.
"Iya nak, hati-hati. Dan ingat pesan Abi" kata Abi Arsyad.
__ADS_1
"Baik Abi" kata Ardiansyah dan langsung menuju mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan yang sedikit diatas rata-rata.