
Afifa yang baru saja turun dari mobilnya segera berjalan dengan ringan dan langsung menuju ketempat Anna sedang dirawat.
Selama berjalan banyak orang-orang dan karyawan rumah sakit menyapanya dan Afifa pun membalas semua sapaan mereka dengan sangat santun.
Tak hayal banyak orang yang sangat mengagumi dan menyukai Afifa.
Sampai di ruangan Anna Afifa segera masuk dan disana sudah ada Abi dan Uma nya.
"Assalamu'alaikum" kata Afifa saat memasuki ruangan Anna
"Wa'alaikumsalam" jawab semua yang ada diruangan Anna dirawat.
"Fa, kamu sama siapa?" tanya Uma Hamida.
"Sendiri Uma" jawab Afifa sambil menghampiri Uma dan juga Abi nya untuk mencium punggung tangan mereka.
"Mana Aldrict cucu ku, apa kau meninggalkannya hanya dengan asisten rumah tangga mu saja" Uma mulai mencecarnya dengan berbagai pertanyaan.
"Tidak Uma, kebetulan tadi bunda datang jadi aku titipkan sebentar sama bunda" jawab Afifa santun.
"Oh ya, wah aku dah lama gak bertemu dengan bunda kamu itu" jawab Uma Hamida.
"Iya Uma" jawab Afifa.
"Bang bagaimana keadaan Anna sekarang" tanya Afifa.
"sudah agak baikan hanya sedikit trauma saja" jawab Aziel.
"Biar aku periksa Anna, Abang minggir lah sebentar" pinta Afifa.
Aziel menuruti Afifa dan sedikit menjauh dari tempat Anna.
Afifa berjalan menghampiri Anna dan mulai menyentuh lengan Anna.
Cukup lama Afifa memeriksa Anna dan kini tangannya diletakkan di kepala Anna agar dia bisa mendeteksi dan melihat apa yang sedang dialami oleh Anna.
Hanya dengan sentuhan Afifa bisa mendeteksi semuanya.
"Sepertinya Anna habis kena benturan dari benda tumpul dikepalanya dan itu yang membuat dia sedikit trauma.
Aku akan berusaha memperbaiki sel saraf nya dan menghilangkan sedikit memori disaat dia diculik dengan begitu dia pasti akan segera sembuh" kata Afifa.
Dengan segera Afifa meletakkan kedua telapak tangannya di kepala Anna.
Dengan kemampuannya dia berusaha menghilangkan sedikit memori di dalam otak Anna.
Setelah itu Afifa segera memberikan beberapa formula buatannya untuk diminum oleh Anna.
"Bang tolong ini berikan pada Anna nanti disitu sudah aku tulis jam berapa saja kakak harus memberikannya" kata Afifa sambil menyerahkan formula yang dia bawa tadi dari rumah.
"Baiklah fa, terima kasih banyak" tulus Aziel.
"Sama-sama bang, ini sudah menjadi tanggung jawabku" jawab Afifa.
Afifa berlalu dan duduk disebuah sofa bersama Uma dan Abi nya.
"Bagaimana cucuku apa semakin menggemaskan" tanya Abi Hamid.
"Ya begitulah Abi ada aja yang membuat aku selalu merindukannya" jawab Afifa.
__ADS_1
"Aku pun begitu merindukan cucu ku itu.
Apakah kamu akan pulang sekarang atau masih ada yang kamu kunjungi" tanya Uma Hamida.
"Aku sudah mau pulang Uma, takut nanti Aldrict rewel lagi kan kasihan bunda jadi kerepotan" jawab Afifa.
"Ya sudah kita pulang bersama saja, sekalian aku ingin menjenguk cucuku itu" kata Abi Hamid menimpali.
"Bang aku pulang dahulu ya, kasihan Aldrict dirumah" pamit Afifa.
"Kamu hati-hati ya fa, salam peluk dan cium untuk keponakan tersayang ku itu" kata Aziel
"Baik kak, Assalamu'alaikum" kata Afifa
"Abi dan Uma juga pamit dulu ya Aziel, besok Uma dan Abi akan kesini kembali" pamit Abi Hamid.
"Iya Abi hati-hati di jalan" jawab Aziel
"Assalamu'alaikum" kata Uma dan Abi bersamaan.
"Wa'alaikumsalam" jawab Aziel.
Afifa, Hamid dan Hamida kini berjalan beriringan menuju ke tempat parkir mobil.
Selama berjalan menuju parkir mobil Abi bertanya
"Fa, bagaimana keadaan Ardiansyah.
Apa dia baik-baik saja" tanya Hamid.
"Baik-baik saja kok Abi, hanya saja sedikit terluka goresan aja dan sekarang sudah sembuh seperti semula" jawab Afifa.
"Kak Ardiansyah sedang ke kantor Abi coz ada banyak kerjaan yang mesti harus diselesaikan.
Kan sudah terlalu lama juga kan kak Ardiansyah meninggalkan perusahaannya" jelas Afifa.
"Kau benar sekali nak, Abi bangga sama suami kamu.
Dia begitu bertanggung jawab dan begitu cekatan.
Selain itu rasa sayangnya terhadap keluarga yang membuat Abi semakin kagum" kata Hamid mengagumi menantunya itu.
"Abi bisa aja, kak Ardiansyah juga sama dengan suami-suami diluar sana" jawab Afifa.
"Maksud kamu fa, apakah Ardiansyah pernah menyakiti kamu" tanya Uma yang salah tanggap dengan percakapan Abi dan Afifa.
"Tidak seperti itu Uma, kak Ardiansyah memang seperti apa yang diucapkan oleh Abi, tetapi kan tidak hanya kak Ardiansyah yang memiliki sifat seperti itu.
Masih banyak suami-suami di luar sana yang sifatnya seperti kak Ardiansyah" Afifa memberi penjelasan Uma nya agar tidak salah paham.
"Owhh begitu ya" jawab Uma mengerti.
Kini mereka sudah sampai di tempat mobil diparkir.
"Fa kamu ikut bersama kami atau bagaimana" tanya Abi Hamid.
"Aku bawa mobil sendiri tadi Abi. biar aku pakai mobilku sendiri saja.
Abi sama Uma jalan aja dulu.
__ADS_1
Kita nanti bertemu dirumah saja" kata Afifa.
Mereka memasuki mobil masing-masing dan dengan segera meluncurkan mobilnya membelah jalanan yang tampak sedikit padat saat itu.
30 menit kemudian mereka sudah sampai di rumah Afifa.
Mereka segera turun dari mobil masing-masing dan menuju pintu masuk.
Afifa mengetuk pintu sambil mengucapkan salam.
Tak lama kemudian asisten rumah tangga nya sudah membukakan pintu untuknya dan juga kedua orangtua nya.
"Oh ya Bi, kemana bunda" tanya Afifa kepada salah satu asisten rumah tangga nya yang baru saja membukakan pintu itu.
"Bunda nyonya sedang berada di taman belakang menggendong Aldrict nyonya" jawabnya.
"Oh ya sudah kalau begitu.
terima kasih ya" jawab Afifa dan segera menuju taman belakang diikuti oleh Uma dan Abi nya.
Sepertinya bunda saat itu sedang berjalan-jalan ringan mengelilingi taman sambil menggendong Aldrict.
"Assalamu'alaikum bunda" sapa Afifa
"Assalamu'alaikum Habibah" sapa Hamid dan Hamida.
"Wa'alaikumsalam.
Lho kok kalian bisa bersama-sama" tanya Habibah.
"Iya kebetulan kami tadi juga menjenguk Anna dirumah sakit" jawab Uma Hamida.
"Bagaimana keadaan Anna sekarang.
Aku belum menjenguknya.
Mungkin nanti sore aku akan kesana" kata Habibah.
"Sudah baikan kok, mungkin butuh sedikit waktu saja untuk pemulihannya" jawab Hamid.
"Syukurlah kalau begitu, kasihan sekali dia disaat hari kebahagiaannya malah dia tertimpa musibah" kata Habibah berkabut kesedihan.
"Mungkin ini sudah jalan nya jadi kita tidak bisa menghindarinya" kata Hamid mengingatkan.
"Memang sih, semoga Allah mengampuni orang-orang yang sudah berbuat jahat kepada Anna" doa Habibah.
"Aamiin" jawab Afifa, Hamida dan Hamid bersamaan.
"Biar saya menggendong Aldrict, karena aku sudah sangat merindukan cucu kita ini" pinta Hamida.
Bunda Habibah menyerahkan Aldrict kepada Hamida.
Aldrict terlihat begitu senang digendong oleh jida nya.
Diciumi pipi gembul Aldrict yang sangat harum khas bayi itu oleh Hamida.
Tidak bosan-bosannya Hamida menciumi pipi Aldrict.
Sambil duduk di gazebo mereka menjaga Aldrict sambil berbincang-bincang yang ringan-ringan seputar kehidupan.
__ADS_1