Dokter Afifa

Dokter Afifa
Kehamilan Afifa


__ADS_3

Ardiansyah mengambil nampan itu dan melihat amplop yang bertuliskan untuk dirinya.


Ardiansyah meletakkan nampan itu di atas meja dan mulai membuka amplop itu.


Ardiansyah begitu terkejut dengan apa yang dilihatnya.


"Sayang, apa maksudnya ini" seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Kamu lihat aja sendiri hubby" sambil tersenyum didepan suaminya itu.


"Benarkah ini sayang" sekali lagi Ardiansyah merasa tak percaya dengan apa yang dilihatnya.


"Benar hubby, aku sekarang sedang mengandung tapi untuk lebih memastikannya kita harus ke dokter obgyn ya nanti by" kata Afifa lembut.


Ardiansyah begitu bahagianya dan diciuminya istrinya itu bertubi-tubi.


"Alhamdulillah, masyaallah.


Terima kasih ya Allah" kata Ardiansyah berucap syukur.


"Terima kasih ya sayang, aku sangat bahagia sekali.


Terima kasih telah memberi aku hadiah yang tak ternilai ini" ucap Ardiansyah memeluk tubuh istrinya dan masih menghujani istrinya dengan banyak ciuman.


"Sama-sama sayang, aku juga bahagia, ini adalah hadiah yang sangat indah yang Allah berikan kepada kita" kata Afifa membalas pelukan sang suami.


"Nanti aku akan mengantarkan mu ke dokter ya untuk memastikannya" kata Ardiansyah.


Afifa hanya mengangguk saja.


"Oh ya hubby, sebaiknya kita tidak memberitahukannya kepada semua keluarga dahulu ya.


Nanti kalau kita sudah memastikan baru kita akan memberitahu semua keluarga.


Mumpung keluarga semua sedang berkumpul" pinta Afifa kepada suaminya.


"Baiklah sayang" Ardiansyah menyetujui permintaan sang istri.


Kini mereka berbincang ringan sambil bermesraan disofa yang ada di balkon sambil menghirup udara pagi yang sangat menyegarkan.


Lama sekali mereka mengobrol di atas balkon itu dan tiba-tiba ada seorang pelayan yang mengetuk pintu kamar Afifa dan Ardiansyah.


"Sebentar sayang biar aku saja yang membukanya" kata Ardiansyah dan beranjak ke pintu dan membukakan pintu untuk orang yang mengetuk pintunya.


"Iya bibi ada apa ya" tanya Ardiansyah.


"Nona dan tuan muda ditunggu semua keluarga diruang makan.


Hanya tuan dan nona yang belum berada disana" kata pelayan itu.


"Baiklah sebentar lagi kami akan turun" kata Ardiansyah dan menutup kembali pintu kamarnya setelah pelayan itu pergi dari hadapannya.


Ardiansyah berjalan dan menghampiri Afifa.


"Sayang kita ditunggu untuk sarapan, semua sudah menunggu kita" kata Ardiansyah.


Kini Afifa dan Ardiansyah turun dan menuju meja makan dan duduk ditempat seperti biasanya.


"Tumben kalian telat datang di meja makan" tanya Reina yang dari tadi sudah tidak sabar menunggu Afifa dan Ardiansyah.


"Maafkan kami" kata Ardiansyah.


"Sudah-sudah sebaiknya kita mulai sarapannya" kata Hamid Abdullah

__ADS_1


Kini semua mengambil makanan nya Afifa Uma tampak melayani suami mereka masing-masing sebelum mereka mengambil makanannya sendiri.


Kini mereka makan dengan tenang dan tidak ada suara apapun kecuali dentingan piring dan sendok.


Seusai mereka makan mereka masih tetap duduk mengitari meja makan.


"Sebaiknya hari ini kalian tetap dirumah dan beristirahat, kalau kalian sudah siap untuk kembali bekerja kalian boleh bekerja" kata Hamid Abdullah.


"Baik Abi, aku hari ini ingin seharian bermalas-malasan dirumah setelah beberapa hari belakangan kita sibuk melakukan pekerjaan yang sangat melelahkan" kata Reina.


"Aku mungkin akan kekantor sebentar Abi, untuk melihat perkembangan kantorku sebentar selama aku tinggal.


Aku tidak akan lama dan akan kembali kesini" kata Aziel.


"Afifa sama kak Ardiansyah ada sedikit urusan Abi, kami hanya sebentar dan mungkin akan segera kembali" kata Afifa.


"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati ya nanti" kata Hamid Abdullah.


"Iya Abi" jawab Afifa dan Ardiansyah.


"Ya sudah kalau gitu kita keruang tengah aja yuk, sambil mengobrol ringan" ajak Uma Hamida.


"Tetapi Afifa dan kak Ardiansyah harus segera pergi Uma, maafkan kami tidak bisa ikut bergabung dengan kalian" Afifa tertunduk merasa sedikit bersalah karena tidak bisa bergabung dengan yang lain.


"Tidak apa-apa anakku" Jawa Uma Hamida.


"Ya sudah Afifa dan kak Ardiansyah pamit kekamar dahulu untuk bersiap-siap" kata Afifa berpamitan.


Kini Afifa dan Ardiansyah beranjak pergi meninggalkan mereka dan menuju kamarnya.


Setelah mengganti bajunya dengan pakaian yang rapi Afifa dan Ardiansyah keluar dan menuju ke mobilnya.


Ketika sampai diruang keluarga Afifa dan Ardiansyah berpamitan kepada semuanya dan tak lupa mereka berdua mencium punggung tangan para orangtua.


Ardiansyah tampak membukakan pintu mobil istrinya dan setelah dirasa istrinya duduk dengan nyaman Ardiansyah kini menuju kursi kemudi.


Tak beberapa lama mereka melajukan mobilnya menuju rumah sakit milik keluarganya dan langsung menuju ke ruangan dokter obgyn.


Untung saat ini pasien tidak begitu ramai saat Afifa datang.


Afifa mendapat no antrian 5.


Dia menunggu diruang tunggu bersama Ardiansyah.


Ardiansyah tak henti-hentinya memegang tangan Afifa dan mengusap tangannya lembut.


Dia sedikit tegang dan tak sabar ingin segera mendengar ucapan dari dokter.


Untuk meredakan ketegangannya dia terus mengusap lembut tangan dan jemari sang istri.


"Kamu tegang sekali ya hubby" tanya Afifa.


"Iya nih sayang, aku tak sabar mendengar langsung dari dokter" kata Ardiansyah.


"Kamu yang tenang ya hubby" kata Afifa mengurangi ketegangan sang suami.


Tiba-tiba nama Afifa dipanggil dan kini mereka berdua masuk keruangan dokter obgyn yang bernama dokter Lisa.


Dokter Lisa begitu terkejut dengan kedatangan dokter Afifa.


"Dokter Afifa, lama kita tidak bertemu ya.


Aku sangat merindukan dirimu.

__ADS_1


Aku tak menyangka pemilik rumah sakit itu telah memecat dirimu" sedih dokter Lisa.


"Sudahlah, mungkin sebentar lagi aku akan kembali bekerja disini kok" Afifa mencoba menghilangkan kesedihan temannya itu.


"Benarkah, aku sangat senang mendengarnya.


Oh ya, ada apa dokter Afifa keruangan saya.


Apa ada yang bisa saya bantu" kata Lisa yang baru sadar itu.


"Aku mau memeriksakan diriku.


Aku sudah melakukan test tadi pagi dan hasilnya strip dua dan sekarang aku hanya ingin memastikan saja"


"Oh ya, baiklah kalau begitu sebaiknya dokter Afifa segera berbaring diatas tempat tidur itu ya" kata dokter Lisa.


Afifa menuruti perintah Lisa dan kini Afifa sudah berbaring diatas tempat tidur yang tersedia.


Lisa dibantu oleh seorang perawat mulai mengoleskan gel bening kedalam perut dokter Afifa dan segera Lisa menempelkan alat itu ke atas perut Afifa.


"Sepertinya benar, dokter Afifa memang sedang mengandung" kata Lisa memperlihatkan kantung yang sudah membentuk embrio itu.


"Sepertinya ini sudah memasuki 8 Minggu deh dokter Afifa" kata Lisa.


"Oh ya, benarkah dokter" tanya Ardiansyah yang sejak tadi hanya mendengarkan saja.


"Benar tuan, dokter Afifa sekarang mengandung dan usia kandungannya sudah 2 bulan" jelas dokter Lisa.


Afifa turun dari brankar itu setelah perawat membersihkan gel yang menempel diperutnya.


Afifa kini duduk disebelah sang suami.


"Apakah beliau suami dokter Afifa" tanya Lisa.


"Benar dok, saya suaminya"


"Selamat ya tuan, istri anda sedang mengandung anak kalian"


"Terima kasih dok"


"Oh ya fa, selamat ya.


Usia tri semester pertama ini sangat rentan lho sebaiknya kamu berhati-hati dan jangan terlalu banyak pekerjaan yang melelahkan" kata Lisa.


"Iya dok saya tahu, terima kasih sudah memeriksa ku" tulus Afifa.


"Sama-sama dokter Afifa" kata Lisa.


"Ya sudah kalau begitu saya permisi dahulu dok" kata Afifa dan Ardiansyah.


"Tunggu dulu dokter Afifa, ini resep vitamin untuk kamu.


apabila mual sebelum makan kamu meminum obat ini dahulu" kata Lisa sambil menyerahkan selembar kertas yang berisi resep obat untuk Afifa.


Setelah mengambil resep obat dan foto dari hasil USG tadi Afifa dan Ardiansyah beranjak keluar.


Kini mereka menuju ke apotik.


Untung karyawan apotik tahu itu dokter Afifa jadi mereka mengutamakan melayani dokter Afifa.


Ardiansyah mengambil obat tadi saat nama Afifa dipanggil.


Setelah menerima obat itu Afifa dan Ardiansyah pun pulang.

__ADS_1


__ADS_2