Dokter Afifa

Dokter Afifa
Ibadah bersama


__ADS_3

Semua keluarga Hamid Abdullah larut dalam kebahagiaan dan tanpa terasa waktu sudah sangat larut.


Mereka menuju kamar masing-masing yang sudah disediakan dan di depan penjagaan masih sangat ketat.


Ardiansyah yang mendorong kursi roda Afifa pun membawa Afifa kembali ke kamarnya.


Sesampainya dikamar ya Afifa pun berniat untuk berdiri tetapi dicegah oleh Ardiansyah.


"Kamu mau ngapain sayang, biar aku menggendongmu" kata Ardiansyah kepada Afifa.


"Gak usah digendong kak, aku hanya mau ke kamar mandi sebentar" kata Afifa.


"Biar aku yang mengantarmu" kata Ardiansyah dan langsung membopong Afifa dan menurunkannya didepan pintu kamar mandi.


Afifa sedikit terkejut dengan perlakuannya Ardiansyah yang manis itu dan dia membelalakkan matanya tak percaya.


"Sudah kamu bersihkan diri dulu setelah itu kamu segera tidur ya" kata Ardiansyah didepan pintu sebelum Afifa menghilang dari balik pintu kamar mandi.


Sesudah memastikan pintu kamar mandi ditutup Ardiansyah pun segera duduk disofa yang ada di kamar Afifa.


15 menit kemudian Afifa sudah selesai membersihkan dirinya dan dia segera keluar dari kamar mandi.


"Sudah" tanya Ardiansyah.


"Sudah kak" kata Afifa.


Ardiansyah kembali membopong tubuh Afifa untuk dudukannya di atas tempat tidur dan membantu Afifa menggantikan bajunya dengan baju tidur.


Sempat ada rasa tak enak dalam diri Afifa dia merasa malu dan risih harus dibantu oleh seorang lelaki dalam mengganti baju tetapi mau bagaimana lagi, Afifa tidak bisa mengganti bajunya sendiri karena tangannya yang diperban itu tidak boleh bergerak.


"Gak apa-apa, gak usah malu. lagian kita kan sudah menjadi suami istri yang sah Dimata Allah dan negara" kata Ardiansyah.


Sebenarnya Ardiansyah sudah menahan gejolak dalam dirinya tetapi dia dengan kuat menahannya ketika melihat tubuh Afifa.


Selesai membantu Afifa menggantikan baju nya Ardiansyah menyuruh istrinya itu untuk berbaring dan terus menyelimutinya.


Setelah itu Ardiansyah pun berjalan menuju kamar mandi hendak bersihkan diri karena dia sudah merasa lengket sekali.


Ardiansyah keluar dari kamar mandi dan sudah memakai baju tidurnya tetapi sebelumnya Ardiansyah melakukan sholat sunah dahulu.


"Kakak mau apa" kata Afifa.


"Oh ini mau sholat sunah dahulu. apa kamu mau ikut juga" tanya Ardiansyah.


"Iya kak, tetapi tolong tunggu Afifa dahulu ya.


Afifa akan mengambil air wudhu dahulu" kata Afifa.


"Baiklah, aku akan membantumu" kata Ardiansyah.


Ardiansyah pun membantu Afifa menuju kamar mandi tetapi dengan tidak bersentuhan secara langsung karena dia takut wudhu nya batal.


Beberapa menit kemudian Afifa sudah berwudhu dan kembali ke tempat tidurnya.


Karena lengan kanannya masih terpasang infus terpaksa Afifa harus sholat diatas tempat tidurnya.

__ADS_1


Ardiansyah juga membantu Afifa mengenakan mukenanya dengan cara yang sama tidak bersentuhan secara langsung.


Setelah selesai mereka pun sholat sunah berjamaah.


Inilah kali pertamanya Afifa dan Ardiansyah melakukan sholat setelah menikah.


Tak lama kemudian mereka berdua pun sudah selesai sholatnya dan kembali Ardiansyah membantu Afifa menyimpan mukenanya dan kembali menyelimuti Afifa yang sudah tertidur disisi tempat tidurnya itu.


Dan Ardiansyah menyusul sang istri dengan berbaring disebelah Afifa.


"Selamat tidur sayang" ucap Ardiansyah sambil mengecup kening Afifa.


"Selamat malam mas" balas Afifa lembut.


Mereka pun akhirnya terbawa ke alam mimpinya.


Keesokan pagi, Afifa sudah terbiasa terbangun 30 menit sebelum subuh.


Perlahan-lahan dia mencoba untuk turun dari ranjangnya agar tidak mengganggu Ardiansyah yang terlihat tertidur sangat pulas itu.


Tetapi belum sempat Afifa turun sempurna dari ranjangnya tiba-tiba Ardiansyah terbangun.


"Mau kemana sayang" kata Ardiansyah sambil mengucek-ngucek matanya memulihkan kesadarannya.


"Mau ke kamar mandi kak" kata Afifa.


"Kenapa tidak membangunkan aku sih sayang" kata Ardiansyah.


"Aku lihat kakak tertidur sangat pulas, jadi aku gak tega membangunkan kakak" kata Afifa.


"Ya sudah sini aku bantu" kata Ardiansyah dengan lembut dan bersiap membantu Afifa.


Selesai membersihkan diri dan sekaligus mengambil air wudhu Afifa keluar dari kamar mandi.


Ketika Ardiansyah akan menyentuhnya Afifa melarang.


"Maaf kak aku sudah punya wudhu" kata Afifa dan Ardiansyah pun mengerti.


Tanpa menyentuh secara langsung Ardiansyah membantu memapah Afifa menuju tempat tidurnya dan membantu memakaikan Afifa mukena setelah itu dia beranjak menuju kamar mandi untuk bersihkan badan dan mengambil air wudhu juga.


Mereka berdua kembali sholat berjamaah bersama.


Setelah sholat Afifa seperti biasa meneruskan dengan sedikit membaca Alquran.


Hingga tak terasa mereka beribadah hingga jam 6 pagi baru selesai.


Ketika Afifa hendak melipat mukena nya tangan Ardiansyah mengambil alihnya.


"Biar aku saja. tangan kamu masih sakit, aku tidak mau kamu kenapa-kenapa" kata Ardiansyah.


Setelah mukena sudah dilipat dan ditaruh ditempat nya tiba-tiba kamar Afifa ada yang mengetuk.


"Masuk" kata Afifa dan Ardiansyah hampir bersamaan.


Orang itu pun masuk dan ternyata adalah Anna.

__ADS_1


"Pagi fa, aku hanya ingin memeriksa luka kamu saja dan infus nya" kata Anna.


"Silahkan suster Anna" kata Ardiansyah yang masih setia berdiri didekat sang istri itu.


"Sepertinya lukanya sudah membaik, hanya perlu 2 hari lagi untuk pemulihan luka nya.


Sebaiknya infusnya biar aku lepas saja dan kebetulan infusnya juga sudah habis" kata Anna menjelaskan keadaan Afifa.


Anna dengan telaten melepas jarum infus yang sejak 2 hari yang lalu menancap di tangan kanan Afifa.


"Sudah, sekarang kamu bisa sedikit bergerak bebas. Untuk tangan kiri kamu yang terkena tembakan lebih baik kamu jangan terlalu digerakkan.


Insya Allah nanti sekitar jam 8an dokter Ridwan akan datang dan memeriksa secara detail" kata Anna.


"Tetapi sepertinya aku sudah sehat dan gak kenapa-kenapa kok Anna" kata Afifa menimpali perkataan Anna.


"Ya aku tahu, lebih baik sekarang kamu tetap ikuti perintah dokter Ridwan untuk tidak terlalu menggerakkan tangan kiri kamu" kata Anna penuh penekanan.


"Baik suster Anna, calon kakak ipar ku" kata Afifa sedikit jahil.


"hmmm mulai deh" kata Anna.


"Oh ya Anna, bisa minta tolong gak, ambilkan formula yang telah aku buat sama Reina.


Tolong injeksi semua keluarga dengan formula itu agar bisa terhindar dari virus yang sekarang mewabah" kata Afifa.


"Baik fa, nanti aku akan ke apartemen mengambilnya.


Ya sudah kalau begitu aku keluar dahulu ya" kata Anna.


"Baik lah, terima kasih banyak ya" kata Afifa dan diikuti oleh Ardiansyah.


"Sayang kamu harus ikuti perintah dokter dan aku harap kamu jangan banyak menggerakkan tangan kiri kamu" kata Ardiansyah saat Anna sudah keluar dari kamar mereka.


"Iya kak" kata Afifa.


"Kayaknya panggilan kak itu sepertinya kurang enak deh didengar sayang" kata Ardiansyah sedikit meralat panggilan untuknya.


"Terus aku harus panggil apa dong" tanya Afifa.


"Terserah pokoknya jangan kakak malah kesannya seperti aku ini Abang kamu lho, sayang" kata Ardiansyah.


"Apa ya" kata Afifa yang masih berpikir dan bingung memanggil apa kepada sang suami itu.


"Hubby bagaimana" tanya Afifa.


"Boleh, sepertinya sangat menarik" kata Ardiansyah menyetujui panggilan kesayangan untuk dirinya itu.


"Ya sudah aku turun kebawah dulu ya hubby dan kamu cepat sana mandi dan siap-siap kerja" kata Afifa.


"Siap, sayang. Aku mungkin sebentar lagi pulang kerumah bunda sebentar sayang mau ambil barang-barang aku dan bunda.


Untuk sementara kami akan tinggal dirumah Abi sampai Abi mengijinkan kita tinggal sendiri sayang" kata Ardiansyah.


"Iya kak, mungkin Abi selalu mengkhawatirkan aku dan seluruh keluarganya jadi Abi selalu seperti itu" kata Afifa.

__ADS_1


"Ya sudah aku kebawah dulu ya, nanti hubby menyusul ke bawah ya" kata Afifa dan beranjak turun dari tempat tidurnya itu.


Sebelum Afifa pergi Ardiansyah menyempatkan diri untuk mencium kening istri tercintanya itu.


__ADS_2