
Reina dengan perlahan berjalan menuju ketempat Afifa dan diperjalanan tidak sedikit penjaga yang berhasil dilumpuhkan oleh Reina.
Aziel yang sedang meretas dan melihat siapa saja yang telah menjadi pengikut setia dari pesohor negara ini yang berjuluk Mr. X ini.
"Abi bukankah panglima jendral negara kita adalah teman Abi bukan dan merupakan sahabat Abi juga kan" kata Aziel kepada Abi nya itu.
"Benar nak, emangnya ada apa" kata Hamid membenarkan
"Menurut Abi bagaimana dengan sahabat Abi itu" tanya Aziel lagi.
"Selama ini dia adalah salah satu pejabat paling jujur di negara kita.
Dia tidak akan pandang bulu dalam menangani sebuah kasus.
Memangnya ada apa nak" kata Abi menjabarkan seperti apa sahabatnya itu dan sekaligus bertanya kepada Aziel.
"Bisakah Abi menghubungi sahabat Abi itu dan mintalah kepada beliau untuk menangkap profesor Alfaro dan semua pengikutnya juga ada satu bukti tentang keterlibatan seorang pesohor negeri ini yang akan mencalonkan jadi pemimpin negara.
Mereka bekerja sama untuk membuat rakyat menderita dan sekarang mereka sedang bertemu.
Virus baru itu ternyata buatan profesor Alfaro juga dan ini bekerja sama dengan pesohor itu bi, mereka memasukkan formula virus itu kedalam saluran air yang mengairi seluruh negeri ini.
Ini adalah kesempatan buat kita untuk menangkap mereka bi, bukti-bukti sudah dikumpulkan oleh Reina, dan Afifa juga tim lainnya" kata Aziel menjelaskan maksudnya itu.
"Kamu memang benar, baiklah kalau begitu nak.
Aku akan menghubunginya sekarang" kata Hamid.
"Oh ya bi disaat penggerebekan jangan sampai membunyikan sirine karena ditakutkan target kita akan tahu dan akhirnya bisa lolos" kata Aziel lagi memperingatkan Abi nya.
Tak menunggu lama akhirnya Hamid Abdullah menghubungi sahabat lamanya itu.
Ditempat lain dirumah sakit dokter Syahrir dan dokter Nicholas sedang berjalan dengan cepat menuju laboratorium yang telah dihancurkan.
Ketika mereka sampai disana kejadian itu telah usai.
Banyak penjaga yang terkapar dan bergelimpangan.
"Sial, siapa yang sudah membuat kacau rumah sakit ini.
Apa yang harus kita katakan nanti kepada profesor Alfaro dan juga pemilik rumah sakit ini.
Syahrir mulai ketakutan jabatannya akan diturunkan dan lebih yang ditakutkannya adalah dia dipecat secara tidak hormat.
Bagaimana dia nanti akan menghidupi keluarganya.
Sedangkan Nicholas terlihat sedikit santai dan lega karena laboratorium itu telah dihancurkan oleh seseorang.
"Dokter Nicholas mari periksa cctv di ruang pemantauan" ajak Syahrir.
Mereka berjalan dengan sangat terburu-buru menuju ruang pemantauan.
"Brengsek, kita kecolongan lagi.
Kita tidak bisa melihat siapa pelakunya karena sepertinya ada yang meretas cctv rumah sakit ini dan mematikannya saat kejadian terjadi" kata Syahrir yang sangat marah dan dia mulai mengacak-acak rambutnya sendiri untuk melampiaskan kemarahannya dan rasa frustasinya.
Pikiran Syahrir sangat kacau.
Dia sudah tidak tahu apa yang akan dilakukannya lagi.
__ADS_1
"Kenapa kau diam saja heh" bentak Syahrir kepada Nicholas.
"Aku diam karena aku sedang berpikir, kalau kita dalam keadaan dikuasai emosi, kita tidak akan bisa berpikir" kata Nicholas kepada Syahrir.
"Kau benar Nick" kata Syahrir.
"Sebaiknya kita kembali dan melaporkan semua ini kepada profesor" kata Nicholas.
"Karena percuma saja kita disini karena semua sudah musnah.
Kamu lihat sendiri tempat penyimpanan virus itu sudah diledakkan dan kamu juga tahu kekacauan yang ada didalam laboratorium itu.
Untung pemadam kebakaran sudah datang untuk memadamkan bekas ledakan itu yang menimbulkan api berkobar dimana-mana.
Jangan sampai api itu merambat ketempat lainnya karena sudah pasti keadaan alam semakin kacau dan bagaimana kamu akan menghadapi pemiliknya nanti kalau sampai semua terbakar" kata Nicholas mengemukakan pendapatnya.
"Benar kamu Nick" kata Syahrir.
Mereka berdua pun kembali ke Markas utama profesor Alfaro.
Di markas utama profesor Alfaro, Reina sudah bersama Afifa sekarang.
Mereka melangkah ke pusat laboratorium dahulu untuk menghentikan ahli-ahli penelitian yang dipekerjakan oleh profesor Alfaro.
Mereka masih mengendap-endap dan meloncat dari satu tempat ketempat lain.
Dan satu-satu penghalang yang selalu menjaga tempat itu berhasil dilumpuhkan oleh Reina, Ardiansyah dan juga Afifa.
"Fa apa tanganmu masih terasa sakit" tanya Reina disela-sela mereka mengendap-endap.
"Sedikit fa, tapi tidak apa-apa.
"Kau memang benar fa, makanya kita menyebut tim kita sebagai Three Angel.
Semoga misi kita kali ini berjalan seperti yang kita harapkan" kata Reina membenarkan statement dari Afifa dan sekaligus berharap.
"Hei kalian berdua jangan ngobrol melulu, tetap waspadai woy" kata Aziel kepada kedua adiknya itu.
Bagaimana Aziel bisa tahu karena setiap perkataan yang diucapkan oleh semua tim yang sedang menjalankan misi ini didengarkan juga oleh Aziel dan semua yang ada dimarkas Three Angel.
"Apaan sih bang, gak tau apa semua sudah aku habisi nih" kata Reina yang tak terima dengan perkataan Abang nya itu.
"Ya... ya... ya... terserah deh" kata Aziel akhirnya karena dia tidak mau berdebat dengan Reina.
Bisa panjang ceritanya kalau Aziel sampai meladeni Reina dalam perdebatan.
"Rein hati-hati sepertinya dari arah berlawanan ada beberapa penjaga" kata Fano memperingatkan Reina saat itu.
"Siap fan, aku tahu apa yang harus aku lakukan" kata Reina kepada Fano.
"Fa, Syah kalian bersiap ya" kata Reina memberi perintah.
Mereka sudah bersembunyi dibalik tembok besar.
"Dalam hitungan ketiga orang akan masuk dan bersiaplah menyerang.
Hitungan mundur dimulai.
Tiga, dua , satu...." kata Fano memberikan arahan.
__ADS_1
Dalam seketika Reina, Afifa dan Ardiansyah menyerang penjaga itu.
Ternyata penjaga itu sedikit kuat dan berjumlah 10 orang.
"Fa awas belakang kamu" kata Reina berteriak.
Dengan sigap Afifa segera membalikkan badannya dan mulai menyerang.
"Rein menunduk" teriak Afifa dan dengan sigap Afifa menembakkan senjata rakitannya dengan Afifa.
Dengan sekali tarikan injeksi itu menancap pas ditubuh penjaga itu.
Dalam hitungan detik penjaga itu langsung pingsan.
"Sayang awas" teriak Ardiansyah yang mencoba mendorong Afifa yang mau tertembak.
Dan untung sekali tembakan itu meleset.
Profesor Alfaro yang mendengar suara tembakan segera keluar dari ruangan itu dan menuju kearah pusat suara tembakan itu.
Dia segera menyalakan sirine tanda bahaya.
"Sial, kita ketahuan" kata Reina marah.
Semua tim segera masuk dan membantu Reina, Ardiansyah dan juga Afifa.
Lionel dan anak buahnya pun masuk dan mulai melumpuhkan satu persatu lawannya hanya dengan satu tembakan yang tepat sasaran dan dengan gerakan lincahnya dia bisa meringkusnya.
"Semua, kalian ulur waktu sampai bala bantuan datang dari panglima jendral.
Abi sudah menghubunginya dan sekarang beliau beserta bawahannya sedan menuju kesana" kata Aziel yang melihat keadaan genting disana.
"Abi, Aziel harus segera kesana.
Aziel takut terjadi sesuatu sama Reina dan Afifa" kata Aziel yang sedikit panik dan sangat khawatir itu.
"Tidak nak" kata Abi tegas.
"Kamu percaya mereka akan baik-baik saja" kata Abi penuh keyakinan namun sebenarnya dia juga merasakan khawatir seperti yang dirasakan oleh Aziel.
Tapi Hamid Abdullah berusaha menghadapi semua ini dengan tenang.
"Sekarang kamu fokus dan tetaplah disini.
Disini kamu bisa membantu mereka.
Kalau kau kesana keadaan akan semakin kacau" kata Hamid.
"Benar bang Aziel apa yang dikatakan oleh Abi.
Kamu harus tenang.
Kalau kamu gegabah dan terbawa emosi yang ada kamu tidak akan bisa konsentrasi dan berpikir.
Ini akan membuat semakin kacau" nasehat Anna lembut kepada calon suaminya itu.
Mendengar nasehat Anna, Aziel kembali lebih tenang.
Dia melanjutkan meretas jaringan informasi lagi.
__ADS_1