
Di suatu markas yang jauh dari keramaian dan perkampungan malam ini terjadi pertemuan penting.
"Abi, kapan datang" kata Afifa yang saat itu mau masuk kembali keruang penelitian terkejut ketika melihat Abi nya yang sudah berada disana bersama orang kepercayaannya bernama Lionel.
Afifah langsung mencium punggung tangan Abi nya itu.
"Baru saja nak" kata Abi menjawab.
"Kemana Reina dan Aziel" tanya Abi nya karena Abi tahu kalau Reina dan Aziel datang kesitu.
"Itu bi lagi diruang penelitian" kata Afifa.
"Ya sudah kita keruang rahasia saja dan ajak kedua saudara kamu itu" kata Abi Hamid.
"Baiklah Abi, Afifa panggil mereka dahulu" kata Afifa dan berlalu pergi memanggil Reina dan Aziel.
"Rein dan bang Aziel kita harus keruang rahasia karena Abi sedang menunggu kita disana karena ada hal penting yang akan Abi bicarakan" kata Afifa memberitahukan kepada Reina dan Aziel.
"Apa Abi ada disini fa" kata mereka berdua terkejut.
"Benar dan beliau sedang menunggu kita sekarang" kata Afifa.
Mereka bertiga pun pergi keruangan yang dimaksudkan oleh Afifa.
"Assalamu'alaikum Abi" kata Reina dan Aziel hampir bersamaan dan mereka bergantian mencium punggung tangan Abi Hamid.
"Wa'alaikumsalam nak, ayo kalian semua duduk" perintah Abi setelah membalas salam dari anak-anak nya.
Mereka bertiga pun akhirnya duduk disekitar Abi nya itu.
"Begini nak menurut pengintaian dari anak buah Lionel sepertinya profesor Alfaro sedang berada disini dan ada sebuah pabrik air mineral yang beroperasi dipinggir kota itu sepertinya dijadikan markas mereka dan kita masih belum bisa menembus masuk kedalam pabrik itu.
Dan rumah sakit kita adalah target mereka.
Maka dari itu kalian harus waspada.
Selain itu anak buah Lionel juga mendapat kabar bahwa agen rahasia internasional juga sedang menyelidiki tentang kasus profesor Alfaro ini.
Yang Abi khawatirkan kalau pabrik itu adalah tempat pendistribusian dari virus itu disebarkan.
__ADS_1
Tapi ini firasat Abi saja, untuk lebih memastikan Abi sudah menyuruh anak buah Lionel untuk menyamar dan menyusup sebagai karyawan disana sambil melihat pergerakan mereka.
Kita harus mencari siapa saja yang terlibat di dalamnya" kata Abi yang menjelaskan panjang lebar atas berita yang baru diperolehnya itu.
"Bagaimana biar aku sama Reina Abi yang menyusup kedalam pabrik itu, biar kami bisa menghentikan dan menggantinya dengan formula kami untuk didistribusikan dengan begitu setidaknya kita bisa membantu semua orang secara diam-diam dan tidak terlihat" usul Afifa.
"Tapi itu sungguh beresiko nona" kata Lionel yang kurang setuju dengan usul Afifa.
"Betul apa yang dikatakan Lionel fa, semua itu terlalu beresiko lebih baik kita perintahkan anak buah kita aja" kata Aziel
"Tenang kak aku dan Afifa pasti bisa menjaga diri kok.
Kami juga sekarang sudah mahir menggunakan senjata" kata Reina.
"Tapi Abi tidak setuju dengan rencana kalian, lebih baik cari rencana yang lebih baik dari ini" kata Abi tegas dan itu berhasil membuat mereka terdiam.
"Begini saja lebih baik kita tunggu informasi dari anak buah kita sebelum kita akan bertindak" kata Abi.
"Baiklah Abi" kata Afifa dan Reina bersamaan.
"Oh ya fa, bagaimana hasil test uji coba kamu" tanya Abi Hamid kepada Afifa.
"Baiklah kalau begitu, kita tunggu 3 hari lagi untuk menyusun rencana berikutnya sambil menunggu informasi penyidikan dari anak buah Lionel.
Sekarang lebih baik kamu istirahat dulu nak karena ini sudah terlalu malam" kata Abi Hamid kepada anak-anak nya itu.
"Baiklah Abi kalau begitu saya permisi dulu" kata Afifa dan keluar dan diikuti oleh Reina yang sambil berkata
"Reina juga permisi dulu" katanya.
Abi hanya menanggapinya dengan anggukan.
"Aziel kamu disini sebentar" kata Abi yang meminta Aziel untuk tetap disana saat tahu Aziel akan pergi meninggalkan ruangan itu.
"Baik Abi" kata Aziel.
"Begini Aziel, karena target mereka adalah rumah sakit kita jadi sebaiknya kita ikuti permainan mereka dahulu sambil mencari celah untuk menghancurkan mereka.
Untuk itu Abi ingin berjumpa dengan kamu dan juga dokter Ridwan dirumah Abi besok" kata Abi memberi perintah kepada Aziel.
__ADS_1
"Baiklah Abi, besok Aziel akan kembali kerumah sakit bersama Reina" kata Aziel.
"Lebih baik Reina tetap disini bersama Afifa karena Abi sangat mengkhawatirkan keselamatan Reina" kata Abi Hamid.
"Tetapi Abi apa itu nanti tidak akan mengundang kecurigaan mereka, karena mereka tahu kepergian Reina bersamaku dan satu hal Abi sebelum kita sampai kesini kami berdua sempat diikuti oleh dokter Nicholas.
Untung mereka kehilangan jejak kami karena kami bisa mengelabuhi nya bersama anak buah Aziel Abi" Aziel menjelaskan kejadian sebelum mereka sampai disana.
"Tidak apa-apa nak, lebih baik Reina disini dan kamu harus bisa menjelaskan kalau Reina sudah kamu singkirkan dengan begitu kamu bisa masuk dengan rencana mereka" kata Abi.
"Ya sudah kalau itu sudah menjadi keputusan Abi, Aziel akan mengikuti apa yang Abi perintahkan" kata Aziel yang kurang setuju dengan kemauan Abi nya itu tetapi dia tidak bisa berbuat apa-apa karena apa yang dikatakan Abi nya benar bahwa keselamatan Reina sangat penting dari apapun.
"Lionel kamu perketat keamanan disini dan satu hal kirim tenaga tekhnologi kita yang terbaik untuk merusak semua jaringan yang mengarah ke markas kita" kata Abi kepada orang kepercayaan nya itu.
"Baik tuan" kata Lionel.
"Ya sudah kalau begitu kalian semua bisa kembali ketempat kalian masing-masing" kata Abi akhirnya menyudahi perbincangannya itu.
"Abi harus segera pulang sekarang karena ada banyak pekerjaan penting yang harus Abi lakukan" kata Abi Hamid.
"Kamu ikut Abi pulang sekarang aja Aziel" ajak Abi Hamid tegas
"Baiklah Abi" kata Aziel menuruti permintaan Abi nya.
Hari semakin larut Afifa dan Reina sudah terbuai dalam mimpinya sedang Aziel dan Abi Hamid kembali kekediaman nya dikota.
Perjalanan yang melelahkan mereka tempuh.
Karena capeknya Aziel tertidur didalam mobil.
Abi yang melihat anaknya itu tersenyum sambil mengusap puncak kepala Aziel.
Abi menangis terharu karena melihat Aziel yang sekarang sudah tumbuh menjadi lelaki tampan dan sangat berwibawa.
"Kamu bisa beristirahat dengan tenang adikku karena anak kamu sekarang sudah menjadi lelaki yang hebat" guman Abi Hamid mengenang kepergian orang tua Reina dan Aziel.
"Kamu pasti akan bangga melihat anak-anak kamu yang hebat-hebat ini" kata Abi Hamid lagi yang masih bermonolog sendiri dengan air mata yang masih tergenang dimatanya.
Abi mengusap air matanya dan kembali memandang kearah luar kaca mobil.
__ADS_1