
Dokter Nicholas sedang menuju ruang dokter Syahrir yang terletak dilantai 10 rumah sakit itu dan ternyata disana dokter Syahrir masih berbincang-bincang dengan dokter Ridwan dan tuan Aziel Ramadhan.
Diruang IGD pasien semakin berdatangan dengan keluhan dan gejala yang hampir sama.
"Dokter Adnan tolong dokter membantu suster Anna untuk mengambil beberapa cairan infus dan juga beberapa obat karena stok kita disini sangat lah menipis" kata Afifa sambil memberi kode ke suster Anna.
Dan suster Anna sudah mengetahui maksud dari isyarat
Afifa itu.
"Rein sekarang" kata Afifa memberi isyarat juga kepada Reina dan Reina pun langsung memberi kabar kepada Abang Aziel untuk memberitahukan rencananya dimulai sekarang.
Aziel yang mendapat pesan dari Reina segera menghubungi bawahannya.
"Maaf permisi saya telepon sebentar ya" kata Aziel dan langsung berlalu pergi
Semua yang disitu menganggukkan kepala dan mempersilahkan Aziel menelepon.
Aziel pun langsung menelepon orang suruhannya dan mulai menjalankan rencananya yang dibuat kemarin malam bersama saudari-saudarinya dan juga Abi nya.
Tak lama setelah Aziel telepon Afifa dan Reina kedatangan pasien suruhan Abang Aziel.
Pasien itu langsung ditangani sendiri oleh Afifa.
Afifa memasang sendiri alat bantu pernafasan kepada pasien itu.
Ditempat lain diruang dokter Syahrir, dokter Nicholas menyampaikan usulan yang dikemukakan oleh rekan dokter lainnya tadi.
Dan Aziel serta dokter Ridwan menyetujui atas usulan tadi dan akan membuatkan ruangan yang lebih luas untuk ruang isolasi.
Saat berbincang-bincang dengan dokter Nicholas, dokter Syahrir dan dokter Ridwan Aziel mendapat telepon dari seseorang.
.......
"Ya baiklah saya akan kesana sekarang" kata Aziel menjawab telepon dari orang dibalik sambungannya itu.
"Kita harus segera ke IGD karena paman saya yang merawat saya selama ini sedang sakit keras" kata Aziel kepada ke 3 dokter itu.
"Baiklah kalau begitu" kata ketiga dokter itu menjawab.
Mereka berempat dengan tergesa-gesa menuju keruang IGD.
Sesampainya Aziel langsung ber hambur mencari pasien yang menjadi pamannya itu.
Saat sudah menemukan Aziel langsung memberondong Afifa dengan berbagai pertanyaan.
"Dok apa yang telah terjadi pada paman saya tolong jelaskan, dan tolong sembuhkan paman saya. Apapun yang terjadi, kalau sampai terjadi sesuatu dengan paman saya, saya pastikan dokter akan dipecat dari rumah sakit ini" kata Aziel panik.
__ADS_1
"Wah boleh juga tuh akting bang Aziel, tau gitu aku suruh deh jadi artis" batin Reina yang kagum melihat akting Abang ya itu.
Tak beberapa lama suster Anna dan dokter Adnan sudah datang keruang IGD juga.
"Tuan tenang dulu, dan biarkan saya memeriksanya.
Saya akan mengerahkan seluruh kemampuan saya untuk menolong paman tuan" kata Afifa yang mencoba menenangkan Aziel.
Dokter Ridwan dan dokter Syahrir mengajak Aziel sedikit menjauh.
"Suster Anna tolong ambilkan injeksinya" kata Afifa
"Baik dok" kata suster Anna.
Suster Anna pun langsung mengambil injeksi dan diserahkan kepada dokter Afifa.
Afifa pun menyuntikkan nya dengan obat yang akan memberhentikan detak jantung sementara.
5 menit kemudian Afifa memeriksa kondisi pasien dan langsung dengan wajah pucat Afifa terkejut.
"Maaf tuan paman tuan tidak bisa diselamatkan" kata Afifa dengan suara bergetar dan wajah yang memucat karena ketakutan.
"Wah saudara saya satu ini ternyata sama seperti Abang Aziel deh sama-sama jago akting" batin Reina.
"Apa kau bilang, paman saya tidak tertolong lagi" kata Aziel.
"Tidak, itu tidak mungkin" teriak Aziel frustasi.
"Mulai sekarang kamu angkat kaki dari rumah sakit saya, karena kamu tidak becus merawat paman saya" kata Aziel penuh amarah.
Afifa dengan tubuh bergetar dan ketakutan pun langsung pergi meninggalkan ruangan itu dan berkemas untuk meninggalkan rumah sakit itu.
Sedangkan Aziel dengan tegas menyuruh dokter Ridwan untuk mengurus pemecatan Afifa dan mengurus jenazah paman rekayasanya itu.
Karena hanya dokter Ridwan yang mengetahui rencana itu.
Dokter Ridwan pun langsung membawa jenazah itu dan diberikan kepada anak buah Lionel yang sudah ditugasi membawa jenazah palsu itu ke apartemen Afifa.
Afifa yang telah pergi meninggalkan rumah sakit itu langsung menuju apartemen nya.
Afifa tidak menyadari kalau dirinya sedang diikuti oleh dokter Nicholas semenjak dia keluar dari ruang IGD.
Dalam perjalanan menuju ke apartemen nya dia baru menyadari kalau mobil yang dikendarainya sedang diikuti oleh mobil dokter Nicholas.
Afifa memutar kearah lain dan menelepon anak buah Lionel agar membereskan Nicholas yang sedang mengikuti pas ditikungan Afifa dengan cepat berbelok dan digantikan dengan mobil yang serupa dengan mobil Afifa baik no mobil dan model mobilnya benar-benar sama sehingga tidak ada yang bisa membedakan.
Dokter Nicholas terkecoh dan mengikuti mobil pengganti Afifa itu.
__ADS_1
Sedangkan Afifa sudah melajukan mobilnya menuju ke apartemen nya dan memeriksa pasien yang menyamar menjadi paman Aziel tadi.
Dengan cekatan Afifa memberikan injeksi agar mengembalikan detak jantung orang itu.
Akhirnya orang tersebut kembali seperti semula dan Afifa menyuruh anak buah Mario untuk membawa penyamar tadi kemarkas Abi nya yang berada di pulau terpencil.
Tidak ada satupun yang dapat menembus pulau itu kecuali orang-orang kepercayaan Abi nya.
Setelah Mario membawa pergi orang tersebut Afifa kemudian menelepon Abi nya.
"Assalamu'alaikum Abi" kata Afifa memberi salam dari balik sambungan telepon nya itu.
"Wa'alaikumsalam nak, bagaimana misi sudah berjalan" kata Abi.
"Sudah Abi dan sekarang Afifa akan fokus dimarkas besar kita ditengah hutan" kata Afifa
"Baiklah tunggu sebentar nak, Lionel 10 menit lagi akan menjemput mu" kata Abi Hamid.
"Baik Abi, dan ada satu yang ingin Afifa sampaikan kepada Abi" kata Afifa kemudian
"Apa itu nak" tanya Abi nya.
"Tolong rahasiakan ini semua dari kak Ardiansyah ya Abi, Afifa hanya ingin fokus dalam menjalankan misi ini dan Afifa juga gak ingin melibatkan kak Ardiansyah" kata Afifa memohon kepada Abi nya.
"Baiklah nak kalau itu menjadi keinginan mu.
Abi siap mendukung setiap langkahmu.
Kamu hati-hati ya disana nanti malam Abi akan berkunjung kesana" kata Abi Hamid memahami Afifa.
"Ya sudah Abi, Afifa matikan teleponnya ya. Assalamu'alaikum" kata Afifa memberi salam dan langsung memutuskan sambungan teleponnya.
"Wa'alaikumsalam nak" tetapi telepon itu sudah diputus oleh Afifa.
Abi hanya menggeleng melihat kelakuan anak nya kalau dalam keadaan panik dan serius ini selalu seperti itu memutuskan telepon sepihak.
Tak lama ada seseorang yang mengetuk pintu apartemen Afifa.
Afifa langsung melihat siapa yang datang dari balik layar monitornya itu.
Ternyata orang yang datang adalah Lionel dan beberapa anak buahnya.
Afifa pun langsung membukakan pintu.
"Silahkan nona apakah anda sudah siap untuk berangkat" tanya Lionel.
Afifa hanya mengangguk saja dan masuk sebentar kedalam untuk mengambil tas nya.
__ADS_1
Perjalanan yang sedikit memakan waktu karena jaraknya yang sedikit jauh dari pusat kota tempat Afifa.