
Ardiansyah sudah sampai rumah setelah dari markasnya langsung menuju kamarnya.
Kebetulan saat itu bundanya sudah tertidur.
Ardiansyah sesampai didalam kamarnya segera menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selesai mandi dia langsung merebahkan dirinya diatas tempat tidur yang sangat empuk dan berukuran king size.
Pikirannya menerawang sambil menatap langit-langit kamarnya.
"Fa kenapa susah sekali menemukanmu, sebenarnya kamu berada dimasa sih.
Aku hampir gila selalu memikirkanmu setiap saat" monolog Ardiansyah yang masih sudah memejamkan matanya.
"Besok aku harus kerumah Abi dan memberitahukan pernikahan ku dengan Afifa" batin Ardiansyah.
Tak lama kemudian akhirnya Ardiansyah pun sudah terbuai dalam mimpinya.
Keesokan hari dikediaman Hamid Abdullah begitu ramai karena anak-anaknya semua berada dirumah.
Afifa yang sejak selesai ibadahnya langsung turun menuju halaman belakang.
Disana sudah ada Abi dan juga kak Aziel yang sedang berolah raga.
"Abi, Abang temani Afifa joging yuk di taman area kompleks" ajak Afifa.
"Boleh, dah lama kita tidak joging bersama" kata Aziel
"Ya sudah kalau begitu tunggu apa lagi" kata ajak Abi nya.
Mereka bertiga segera keluar dari rumah menuju taman di area kompleks.
Mereka joging sambil ngobrol dan bersenda gurau.
Terlihat seperti keluarga yang sangat harmonis dan kompak.
"Abi begitu segar ya udaranya. Afifa rindu saat-saat seperti ini deh" kata Afifa kepada Abi nya.
"Iya nak, cuacanya begitu cerah sekali" balas Abi nya menimpali ucapan Afifa.
"Abi , fa kita duduk di kursi itu yuk sambil makan bubur ayam.
Lama banget gak makan bubur ayam di taman ini jadi inget saat-saat kita masih sekolah ya fa" kata Abang Aziel.
"Ide yang bagus tuh bang. Bubur ayam disini rasanya top banget deh" kata Afifa.
"Ya sudah kalau begitu ayo kita kesana" kata Abi nya.
Mereka bertiga berjalan beriringan menuju kursi taman yang dekat dengan penjual bubur ayam.
"Bang bubur 3 ya yang spesial" kata bang Aziel.
"Eh den Aziel tumben ketaman, dah lama ya gak makan bubur disini" kata Abang penjual bubur ayam itu yang terlihat sangat akrab sekali dengan keluarga tuan Hamid.
"Iya nih bang lagi sibuk semua jadi jarang bisa main-main ditaman" kata Abang Aziel santai.
"Ya sudah Abang buatkan dulu ya den bubur nya" kata Abang tukang bubur.
Aziel kembali bergabung bersama Abi dan Afifa yang sudah duduk tenang di kursi dekat situ sambil melihat kekanan dan keliru menikmati pemandangan diarea taman dan menikmati udara yang sejuk.
"Oh ya bang Aziel, jangan lupa bungkusin Uma dan Reina dong. Pasti mereka juga rindu makan bubur ayamnya" kata Afifa.
"Siap adikku sayang" kata Abang Aziel sambil mengelus puncak kepala Afifa.
Tak lama kemudian bubur yang dipesan sudah tiba.
"Ini buburnya tuan" kata Abang tukang bubur ayam itu.
"Terima kasih" kata Abi, Aziel dan Afifa bergantian.
"Oh ya bang bungkus ya 3" kata Abang Aziel kepada tukang bubur itu.
"Siap den" kata tukang bubur itu.
Mereka bertiga begitu menikmati bubur ayam itu.
"Lho bang kenapa beli 3" tanya Afifa.
"Abang nanti masih mau makan lagi fa. kalau makan disini habis 2 mangkok Abang malu" kata Abang Aziel pelan.
__ADS_1
Abi dan Afifa langsung tertawa mendengar penuturan Aziel.
"Ih Abi sama Afifa kenapa mesti tertawa gak lucu tahu" kata Abang Aziel merajuk.
"Ya udah buruan dimakan nanti dingin lho" kata Abi menyudahi tertawanya itu.
Mereka menikmati makan bubur ayam yang sangat enak itu dengan penuh kenikmatan.
Setelah habis dimakan buburnya, Aziel segera beranjak dan membayar bubur itu.
"Nih bang uangnya" kata Aziel berlalu pergi.
"Den kembaliannya" kata tukang bubur itu sedikit berteriak.
"Buat Abang aja" kata Aziel dari kejauhan.
"Yuk fa, Abi kita pulang aja. Dah mulai panas nih" kata Abang Aziel mengajak Abi dan Afifa pulang.
"Ya sudah ayo kita pulang" kata Abi Hamid.
Mereka berjalan bersama sambil mengobrol santai.
Ketika sampai digerbang mereka melihat ada sebuah mobil yang terparkir dihalaman rumahnya.
"Ada tamu kayaknya Abi" kata Afifa.
"Benar kamu nak" kata Abi nya.
"Tetapi aku sepertinya mengenal mobil itu" kata Afifa yang masih berjalan mendekat kearah pintu masuk kedalam rumah nya.
"Ya sudah yuk sapa tahu ada tamu penting" ajak Abi nya.
Ardiansyah yang baru akan masuk kedalam rumah melihat kedatangan Afifa, Abi dan Aziel pun langsung berjalan menghampiri mereka.
"Assalamu'alaikum Abi, Afifa dan Abang Aziel" kata Ardiansyah.
"Wa'alaikumsalam" kata mereka hampir bersamaan menyahuti salam Ardiansyah.
Afifa menundukkan pandangannya, dia sedikit malu dan bahagia karena bisa berjumpa lagi dengan lelaki yang dicintainya.
"Ya sudah ayo kita masuk" kata Abi mengajak semuanya masuk.
Mereka mengikuti langkah Abi dari belakang.
Setelah sampai diruang keluarga mereka duduk di sofa yang tersedia disana.
Ardiansyah menatap Afifa dalam ingin sekali dia melepas kerinduannya dengan wanita yang dicintainya itu.
"Tumben nak Ardiansyah, ada hal penting nih yang mau disampaikan" kata Abi.
"Iya Abi ini mengenai pernikahan kami berdua Abi" kata Ardiansyah langsung pada pokoknya.
"Oh ya, berarti nih jadi 2 hari lagi kan" kata Abi Hamid.
"Benar Abi" kata Ardiansyah.
"Ya sudah kita persiapkan waktu singkat ini dan akan dihadiri keluarga inti saja dan orang-orang terdekat kita aja seperti rencana semula" kata Abi nya.
"Benar Abi" kata Ardiansyah.
Afifa yang mendengar itu sangat bahagia. Dia tak menyangka ucapan Ardiansyah seminggu yang lalu benar-benar dibuktikan.
Afifa merasakan bahagia, haru dan tak percaya dengan apa yang dilakukan oleh Ardiansyah.
Sebentar lagi dia akan menjadi istri Ardiansyah lelaki yang sangat dicintainya.
"Abi bolehkah saya mengajak Afifa untuk mencari cincin dan segala sesuatu nya" kata Ardiansyah meminta ijin.
"Baiklah nak, silahkan" kata Abi mengijinkan.
"Ya sudah Abi tinggal dahulu ya" kata Abi langsung masuk kedalam dan menuju kamarnya.
Aziel pun juga mengikuti Abi dari belakang dan menuju kamarnya sendiri.
Abi dan Aziel sengaja pergi karena ingin memberi mereka ruang untuk berbicara berdua.
"Fa, maaf kan aku karena tidak ada disamping kamu disaat-saat kamu ada masalah.
Aku begitu mengkhawatirkan kamu" kata Ardiansyah memecahkan keheningan diantara mereka berdua karena sempat ada kecanggungan diantara mereka.
__ADS_1
"Tidak apa-apa kak. Aku hanya butuh waktu sendiri saat itu" kata Afifa.
"Maafkan Afifa ya kak sudah buat kakak khawatir selama ini" kata Afifa sedikit menyesal.
"Tidak apa-apa fa, yang penting sekarang kamu sudah disini dalam keadaan baik-baik saja. Aku sudah merasa bahagia" kata Ardiansyah.
Saat mereka mengobrol tiba-tiba Uma datang dari arah dapur.
"Lho nak Ardiansyah, sudah lama datangnya" kata Uma menyapa Ardiansyah.
"Baru saja Uma" kata Ardiansyah.
"Ya sudah kalau begitu kita sarapan bersama aja" kata Uma Hamida.
"Iya Uma" kata Ardiansyah.
"Kalau begitu Afifa bersih-bersih dulu ya kak, udah lengket sekali nih. Bau asem" kata Afifa sambil mengendus-endus ketubuhnya.
"Ya dah sana mandi yang bersih dan jangan lupa berhias yang cantik ya nak" kata Uma yang ingin menggodanya.
"Ih Uma nih" Afifa membalas ucapan Uma sambil malu-malu.
Afifa pun kemudian berdiri menuju kamarnya.
Sedangkan Ardiansyah mengikuti Uma Hamida menuju meja makan.
Ternyata disana sudah ada Reina, Abang Aziel dan Abi yang sudah dengan pakaian rapi nya.
"Ayo nak Ardiansyah duduk sini" kata Abi menyuruh Ardiansyah untuk duduk.
Makanan sudah terhidang dimeja makan dengan rapi.
Mereka pun mengobrol sedikit sambil menunggu Afifa selesai mandi dan berpakaian.
Tak lama kemudian Afifa sudah datang dengan pakaian yang rapi dan sopan.
Afifa langsung duduk di kursi yang biasa dia tempati berada didekat Uma dan Ardiansyah.
"Abi mau makan apa nih" tanya Uma yang hendak mengambilkan makan Abi.
"Aku mau minum kopi ini aja sayang, tadi sama Afifa dan Aziel sudah makan bubur ayam di tempat biasa" kata Abi kepada istrinya itu.
Aziel sudah mengambil semangkok bubur ayam lagi.
Sedang Afifa mulai mengambilkan makanan untuk Ardiansyah.
"Kakak mau makan apa nih" tanya Afifa.
"Nasi goreng saja sama telur ceplok itu" kata Ardiansyah.
Ardiansyah merasa sangat bahagia karena Afifa mengambil kan makanannya.
"Aku benar-benar tidak salah memilihmu fa, kamu begitu perhatian dan begitu sempurna di mataku" kata Ardiansyah dalam hari dan sedikit tersenyum simpul.
"Ini kak makanannya" Afifa menyerahkan makanan yang diambilnya tadi kepada Ardiansyah.
"Ih kalian sweet banget sih fa" ledek Reina.
"Apaan sih kamu Rein, kalau kamu mau boleh kok.
Ajak tuh dokter Anwar kesini sekalian kenalin ke Abi, Uma dan Abang Aziel" kata Afifa sedikit kesal kepada Reina karena meledeknya.
"Ih gitu aja dah sewot neng, tik cantiknya ilang lho" kata Reina lagi dan masih menggoda Afifa.
"Sudah-sudah kalian sekarang makan dan jangan berdebat diatas meja makan tidak baik nak" kata Uma melerai.
"Oh ya Rein kapan dokter Anwar kamu ajak kesini. Masak gak dikenalin sama Uma dan Abi nih" kata Abi.
"Ingat nak berpacaran itu tidak baik lho dan itu sama aja mendekati zina.
Mending kamu langsung menikah aja nak" nasehat Uma.
"Iya nak, benar apa yang dikatakan oleh Uma mu. Sebaiknya kamu segera menikah kalau tidak sudahi hubungan kalian" kata Abi tegas.
"Baik Uma, Abi" kata Reina tertunduk.
"Awas ya kamu fa, sudah buka rahasiaku" kata Reina dalam hati yang sangat kesal kepada Afifa karena sudah memberitahu kan hubungannya dengan dokter Anwar.
"Ya sudah kita sekarang nikmati makanan kita ya" kata Abi menyudahi percakapan dimeja makan itu.
__ADS_1
Mereka semua pun menikmati makanan masing-masing dengan suasana hening dan hanya ada suara denting sendok dan garpu.