
Afifa bersama tim yang lagi berkumpul dibalik semak-semak mulai menyusun rencana.
Sekitar ada 15 orang termasuk Afifa, Reina, Fano, Ardiansyah dan Lionel.
"Tim kita bagi 3
Tim 1 aku dan Afifa akan menyusup bersama 3 orang lainnya dari arah depan.
Tim 2 Fano dan Reina bersama 3 orang lainnya menyusup dari arah belakang
Tim 3 Lionel dengan 4 orang lainnya yang mempunyai keahlian sebagai sniper akan berpencar dari jarak jauh dan tembak semua yang bisa membuat rencana gagal.
Kamu lemahkan kekuatan musuh agar kami bisa masuk dengan leluasa" kata Ardiansyah memberikan perintah.
"Dan ini yang harus kita ingat kalian tidak boleh melewati tempat tempat yang sudah ada tanda ini karena itu semua adalah ranjau" kata Ardiansyah lagi sambil menunjukkan peta denah markas itu ke masing-masing orang.
"Dalam waktu 1 jam kita kembali berkumpul disini jika dalam waktu yang ditentukan kita belum kembali berarti ada sesuatu yang terjadi jadi kalian bisa membantunya dan panggil bala bantuan" perintah Ardiansyah kepada setiap orang.
"Sebelum kita mulai sebaiknya kita berdoa terlebih dahulu" pinta Ardiansyah.
Merekapun berdoa dengan sangat khusuk.
Setelah itu merekapun bersiap pada posisi masing-masing yang telah diatur sebelumnya.
Mereka semua mengecek sambungan komunikasi yang terpasang di telinga masing-masing.
"Kita hitung mundur dari sekarang 10 menit dari sekarang kita harus bergerak" kata Ardiansyah.
"Syah, tim A sudah mulai bergerak dan sekarang laboratorium sedang dihancurkan.
Aku akan mengalihkan perhatian mereka dan kalian segera masuk" kata Aziel melalui alat komunikasinya itu.
"Siap bang" kata Ardiansyah.
Didalam markas utama profesor Alfaro yang sedang ada pertemuan penting itu tidak menyadari kedatangan Ardiansyah dan beberapa orang yang akan menyerangnya.
Profesor Alfaro sedang bernegosiasi dengan pesohor negara ini tiba-tiba ponselnya berdering dan anak buah nya mengatakan kalau dirumah sakit sedang ada kekacauan dan yang lebih parahnya lagi tempat di melakukan penelitian untuk membuat virus telah dihancurkan oleh seseorang.
"Apa, bagaimana bisa itu terjadi hah!!!!
Kemana dokter Anwar dan yang lainnya.
Apakah mereka tidak memperketat penjagaan" kata profesor Alfaro membentak.
"Kami tidak tahu prof, sudah 2 hari ini dokter Anwar tidak menampakkan dirinya dirumah sakit" kata orang yang meneleponnya itu.
"Sudah-sudah biar dokter Syahrir dan Nicholas yang kesana" kata profesor Alfaro.
"Maaf sebentar saya harus bicara dengan dokter Nicholas dan dokter Syahrir" kata profesor itu kepada salah Mr. X yang merupakan pesohor di negara ini.
"Silahkan prof" kata Mr. X
"Laboratorium rumah sakit tempat kita membuat penelitian sedang dihancurkan seseorang.
__ADS_1
Coba kamu kesana dengan membawa beberapa anak buah dari Brian" perintah profesor Alfaro.
"Baik prof" kata Nicholas dan Syahrir.
Mereka pun berangkat menuju rumah sakit.
Syahrir mengendarai mobilnya dengan sangat cepat dan tidak sengaja melewati tempat Ardiansyah dan Afifa yang sembunyi dibalik semak.
"Awas kalian harus bersembunyi karena ada mobil yang akan melintas melewati tempat kita bersembunyi" kata Ardiansyah lirih memberi kode kepada tim nya.
"By bukankah itu dokter Syahrir dan dokter Nicholas kan" kata Afifa ketika melihat siapa yang ada didalam mobil yang melintas itu dari balik semak.
"Benar sayang, mau kemana mereka.
Apakah mau kerumah sakit ya" tanya Ardiansyah.
"Bisa jadi" kata Afifa.
"Target penjaga yang di menara sebelah sudah dibereskan" kata Lionel memberitahu.
"Target penjaga di menara sebelah kiri juga sudah dibereskan" kata anak buah Lionel.
"Baiklah sekarang kami akan masuk" kata Ardiansyah memberitahu.
Lionel memantau dari kejauhan dan melihat ada beberapa orang yang sedang mengintai dari balik jendela yang berada dilantai atas dan dalam hitungan detik orang itu sudah ditembak oleh Lionel dan tepat sasaran dan mengakibatkan orang itu tewas seketika.
Ardiansyah dan Afifa juga 3 anak buahnya mulai mengendap-endap memasuki markas utama milik profesor Alfaro.
Ardiansyah memberikan arahan kepada ketiga anak buahnya itu dengan petunjuk ketiga jarinya.
"Kalian hati-hati disini banyak ranjau" kata Ardiansyah.
"Ranjau sudah di non aktifkan kalian bisa segera masuk sebelum mereka menyadari bawah aku sudah meretas jaringan informasi mereka dan cctv juga sudah aku hentikan sementara.
Waktu kalian hanya 10 menit untuk melintas daerah tersebut sebelum aku mengaktifkan kembali" kata Aziel melalui alat komunikasi nya itu.
"Baik bang" kata Afifa dan Ardiansyah bersamaan.
Sambil mengendap-endap mereka hampir sampai di tempat pos 1 yang dijaga oleh 2 orang penjaga.
Ardiansyah mulai mengalihkan penjaga itu dan dalam hitungan menit Afifa dengan sekali gerakan bisa melumpuhkan satu penjaga dan Ardiansyah juga melumpuhkan penjaga satunya lagi.
Ardiansyah kembali memberi instruksi kepada ketiga anak buahnya untuk berjalan dahulu dan segera mencari posisi aman.
Afifa dengan lincahnya mengendap-endap dari satu dinding ke dinding lainnya.
"Sayang kamu jangan terlalu jauh dariku" kata Ardiansyah.
"Baiklah by, tapi kita sedikit berpencar sepertinya by, ini ada dua arah dan gak mungkin kita berjalan bersama" kata Afifa.
"Iya, tapi kamu harus hati-hati.
Jangan sampai mereka mengetahui keberadaan kita" kata Ardiansyah.
__ADS_1
"Aku mendekat di pos dua dari sebelah kiri by dan kamu sebelah kanan" kata Afifa gantian memberikan instruksi kepada suaminya itu.
"Baik sayang, kamu hati-hati" kata Ardiansyah.
"Penjaga pos 2 sudah kami lenyap kan" kata Lionel yang saat itu bersamaan menembak penjaga di pos 2 dengan sekali bidik.
"Ayo kita masuk sayang" kata Ardiansyah.
Mereka masuk dengan cepat dan segera bersembunyi lagi dibalik gundukan yang ada didekat sana.
Sepertinya gundukan itu adalah bantalan pasir-pasir.
Ditempat lain Reina yang sedikit canggung dengan Fano pun mulai beraksi.
Fano memberikan instruksi untuk sedikit berpencar dan mencari tempat aman.
Reina mengendap-endap sambil berjalan jongkok.
Fano yang melihat aksi Reina begitu kagum.
"Reina begitu cekatan dan gerakannya sangat cepat.
Ternyata dia cantik juga ya" batin Fano yang mulai terpesona akan karismatik Reina.
Dengan cepat Fano menyadarkan dirinya agar tidak larut dalam imajinasinya karena sekarang sedang dalam keadaan siaga.
"Aku akan membereskan penjaga yang ada di pos sebelah kiri dan kami yang disebelah kanan.
Dengan sekali kode harus segera bisa melumpuhkan nya" kata Fano kepada Reina.
"Siap" kata Reina
"Satu... dua... tiga" kata Fano.
Reina dan Fano dalam sekali gerakan bisa membuat lawannya terjatuh bersamaan dan penjaga yang jatuh itu mereka seret dan sembunyikan dibalik semak-semak.
Fano memberikan acungan jempol ke arah Reina tanda mengucapkan kerja bagus.
Fano mulai berjalan dan melihat situasi dan setelah dirasa keadaan aman, Fano memberi kan kode kepada Reina dan ketiga anak buahnya untuk segera maju dengan arahan ketiga jarinya.
Reina dan ketiga anak buah Fano segera maju dan berpencar mencari tempat yang aman dibalik gundukan bantalan pasir yang terpasang terpencar disana.
"Awas hati-hati sepertinya ada 2 penjaga yang akan melintas kesini" kata Fano memberitahu kepada tim nya agar berhati-hati dan waspada.
Reina saat melihat itu dengan satu tarikan dia berhasil melepaskan senjatanya kearah 2 penjaga itu hingga membuat mereka pingsan tak berdaya.
"Senjata apa itu" kata Fano yang penasaran.
"Senjata rakitan ku dengan Afifa.
Itu akan membuat mereka pingsan dalam waktu yang sangat lama ya kurang lebih sampai 5 jam an lah" kata Reina santai.
"Wow keren sekali" kata Fano kagum dengan senjata yang digunakan oleh Reina.
__ADS_1
"Sekarang kalian majulah dan tetap jaga jarak dan cari tempat yang tidak terlihat.
Reina, Fano dan ketiga anak buahnya kembali mengendap-endap mendekati markas itu dari arah belakang.