
Pikiran Ardiansyah masih terpaku pada apa yang telah dilakukan oleh Afifa.
Ingin sekali Ardiansyah menanyakan semua yang ada didalam benaknya.
Tak lama Fano datang ditempat yang sudah ditunjukkan oleh Ardiansyah.
"Assalamu'alaikum Syah" kata Fano memberi salam saat sudah berada didekat Ardiansyah.
"Tolong antar kan bunda pulang dan yang lainnya suruh bantu mengangkat korban-korban itu" perintah Ardiansyah.
Ardiansyah dan Afifa segera mendekati bunda Habibah.
"Bunda Afifa minta maaf sebelumnya, Ada tugas yang mesti Afifa lakukan" kata Afifa sambil menunduk kan mukanya.
"Gak apa-apa kok nak, bunda mengerti mereka lebih membutuhkan kamu.
Dan kamu harus hati-hati ya" kata bunda tulus sambil membelai puncak kepala Afifa yang berhijab itu.
"Bunda Ardiansyah menemani Afifa dulu ya Bun, Bunda biar diantar sama Fano.
Biar Fano menjaga bunda untuk sementara.
Dan bunda ingat harus berhati-hati jangan keluar rumah kalau tidak ada kepentingan apapun karena keadaan sekarang semakin tidak menentu" kata Ardiansyah kepada bunda nya itu.
"Iya nak, bunda mengerti.
Kamu harus jaga baik-baik menantu kesayangan bunda ya.
Dia adalah anak bunda juga nak" kata bunda Habibah kepada anaknya itu.
"Baik Bun, insya Allah Ardiansyah akan selalu menjaga Afifa dan menemani nya dalam keadaan apapun" kata Ardiansyah menyanggupi permintaan bunda nya itu.
Akhirnya Bunda Habibah dan Fano segera mengantar bunda Habibah kembali pulang.
Sementara dikantor tuan Hamid Abdullah sedang kedatangan tamu penting yaitu Fernando.
"Tuan Fernando saya ingin anda melakukan pengawalan khusus buat putri saya, karena saya tidak ingin sesuatu terjadi pada putri saya" kata tuan Hamid Abdullah.
Sebelumnya tuan Hamid Abdullah sudah menceritakan kepada tuan Fernando siapa sebenarnya Afifa dan anak-anak yang lain.
Kedua putrinya semua adalah incaran dari Profesor Alfaro.
"Baik tuan, saya akan orang-orang terpilih yang akan menjaga putri-putri tuan" kata Fernando.
Setelah pertemuan dengan tuan Fernando selesai tuan Hamid mendapat laporan dari Lionel kalau sekarang nona Afifa nya itu sekarang menuju ke apartemen nya dan membawa beberapa orang yang sedang terpapar virus itu.
"Lionel bersihkan dan sterilkan apartemen Afifa jangan sampai ada yang bisa menembusnya" perintah tuan Hamid Abdullah.
"Baik tuan sebelum nona Afifa sampai semua gedung telah dibersihkan dan disterilkan dan saya pastikan tidak ada orang sama skali didalam gedung kecuali nona Reina dan orang-orang kita"
Kata Lionel memberikan laporan kepada tuan Hamid Abdullah.
"Ya sudah kalau begitu kamu kembali bekerja" kata Hamid Abdullah kepada orang kepercayaan itu.
Lionel pun akhirnya meninggalkan ruangan Hamid Abdullah, sedangkan tuan Hamid Abdullah melanjutkan tugas-tugasnya sendiri karena banyak berkas-berkas yang mesti dia lihat dan dia periksa baru kemudian memberikan tanda tangannya itu.
Afifa yang sudah sampai di apartemen nya itu segera membuka pintu apartemen itu dan langsung menuju ketempat orang-orang yang sudah dievakuasi di salah satu ruangan yang ada didalam apartemen.
Ternyata disana sudah ada Reina.
"Gimana Rein keadaan mereka semua" tanya Afifa yang kini sudah berada disamping Reina.
Sedang Ardiansyah hanya mengamati apa yang dilakukan oleh Afifa dan juga Reina.
"Sudah fa, mungkin tunggu sekitar sehari mereka akan segera pulih seperti semula" kata Reina.
__ADS_1
"Aku sudah memberikan formula yang kamu buat" kata Reina kepada Afifa.
"Formula....
Formula apa yang dimaksud Reina ini" batin Ardiansyah.
Ardiansyah yang masih mengamati percakapan Reina dan Afifa kembali pikirannya menerawang jauh kemana-mana.
Banyak pertanyaan-pertanyaan yang berputar-putar diotaknya.
Afifa dan Ardiansyah yang melihat reaksi formula itu begitu takjub.
Karena tubuh mereka yang awalnya melepuh beberapa saat langsung kembali seperti sedia kala.
"Ya sudah kalau begitu, kita harus buat formula lagi buat yang tidak terjangkit biar saat terpapar mereka akan kebal dari virus apapun" kata Afifa.
"Baik fa" kata Reina.
Setelah Afifa dan Reina memeriksa semua korban yang terpapar virus itu mereka segera menuju ke ruang Rahasia.
Dan Ardiansyah masih mengekori Afifa dan Reina itu kemanapun mereka pergi.
Setelah memencet tombol sidik jari mereka memasuki ruangan rahasia itu yang disana banyak terdapat alat-alat untuk melakukan penelitian.
"Fa aku rasa formula itu lebih baik ditambahkan penguat imun tubuh agar tidak mudah diserang virus apapun" kata Reina memberi saran.
"Benar apa yang kamu katakan Rein, ya sudah kalau begitu kita mulai sekarang saja" ajak Afifa.
Dengan cekatan mereka mencampur berbagai cairan-cairan dan akhirnya dalam waktu 2 jam mereka sudah mendapatkan formula yang benar-benar sangat dahsyat keampuhannya dalam membunuh berbagai macam virus ataupun racun sekalipun.
Mereka mengistirahatkan diri sejenak didalam sofa yang ada disana.
"Fa ada yang ingin kamu jelaskan kepadaku" tanya Ardiansyah.
Akhirnya Afifa menceritakan semua kejadian dari awal bertemu dengan Aqila dan sampai sekarang ini.
Dan dia juga menceritakan kepergiannya selama beberapa hari itu salah untuk membuat formula khusus untuk membasmi semua virus yang sedang mewabah itu.
"Kenapa kamu tidak menceritakan semua kepadaku fa, setidaknya aku akan selalu ada untuk kamu.
Aku yang berhari-hari seperti orang gila mencemaskan mu dan selalu memikirkanmu" kata Ardiansyah yang sedikit kecewa kepada Afifa.
"Maafkan aku kak, karena ini sudah menjadi amanah Aqila dan ini untuk keselamatan kakak juga dan bunda.
Afifa gak ingin kakak dan bunda kenapa-kenapa.
Aku mohon kakak mengerti dengan semua ini" kata Afifa.
Ardiansyah yang melihat Afifa seperti itu akhirnya bisa mengerti dan dia merasa sedikit menyesal karena sudah berkata seperti itu kepada Afifa.
"Maafin aku juga fa, tidak seharusnya aku seperti itu" kata Ardiansyah menyesal atas sikapnya itu.
"Gak apa-apa kok kak, Afifa mengerti.
Afifa pasti juga akan berbuat seperti kakak jika Afifa berada diposisi kakak" kata Afifa memakhlumi apa yang diperbuat Afifa.
"Ehemmm" kata Reina berdehem.
"Aku merasa seperti kambing congek nih.
Dicuekin kalian berdua.
Ya nasib obat nyamuk ya beginilah" kata Reina lagi mencoba menggoda dua insan yang sedang jatuh cinta itu.
"Apaan sih Rein, mulai deh kamu" kata Afifa sambil mengerucutkan bibirnya itu.
__ADS_1
Ardiansyah yang melihat Afifa seperti itu menjadi gemas.
Ingin rasanya Ardiansyah mencium bibir nya itu.
Untung Ardiansyah masih sadar kalau Afifa masih belum menjadi muhrim nya.
"Rein, kita suntikkan formula kita ini ketujuh kita biar kita kebal terhadap berbagai macam virus, bakteri dan racun" ajak Afifa.
"Benar fa, apa yang kamu katakan" kata Reina.
Afifa dan Reina segera menyuntikkan formula terbaru yang berhasil dia temukan itu.
Setelah mereka berdua menyuntikkan formula itu kepada diri mereka masing-masing baru Afifa meminta persetujuan kepada Ardiansyah.
"Kak sebaiknya kakak dan bunda diberi juga formula ini agar bunda dan kakak aman" kata Afifa.
"Boleh, kalau begitu cepat lakukan" kata Ardiansyah meminta Afifa segera memberikan injeksi formula itu.
Afifa mendekat dan segera menyuntikkan formula itu kedalam tubuh Ardiansyah.
"Oh ya Rein, sebenarnya aku sedikit curiga dengan dokter Anwar kekasih mu itu.
Beberapa waktu terakhir ini aku sudah menyelidiki dia.
Lebih baik kamu mencari orang lain selain dia.
Karena dia tidak pantas mendapat kan saudaraku yang cantik dan cerdas ini" kata Afifa yang menceritakan sedikit kebenaran kepada Afifa.
"Iya fa, aku mengerti kok.
Kamu begitu mengkhawatirkan aku.
Aku sudah sedikit mencurigainya beberapa waktu yang dahulu tetapi aku masih belum menemukan bukti yang kuat" kata Reina menimpali perkataan Afifa.
"Lagian aku juga biasa aja sebenarnya kepada dokter Anwar" kata Reina jujur kepada Afifa.
"Kamu tidak mencintainya tetapi kenapa kamu berpacaran dengannya Rein.
Ingat Rein agama kita melarang kita berpacaran lho" kata Afifa.
"Iya... iya Bu ustadzah, aku mengerti.
Maafkan aku" kata Reina yang sungguh sangat menyesal itu.
"Ya sudah tidak apa-apa Rein, yang penting kamu sudah menyesali semua apa yang sudah kamu lakukan" kata Afifa.
"Yuk ah keluar dari sini.
Jangan lupa bawa beberapa formula untuk diberikan kepada semua anggota keluarga kita" ajak Reina dan sekaligus mengingatkan itu.
"Ya sudah ayo Rein dan kak Ardiansyah" kata Afifa.
Mereka bertiga keluar dari ruangan rahasia itu.
"Oh ya Rein, untuk sentara kamu berjaga disini dengan Anna sampai mereka benar-benar pulih seperti sedia kala" pinta Afifa.
"Siap sicerewetku ini" kata Reina.
"Ya sudah aku pulang dulu ya Rein" kata Afifa berpamit kepada Reina.
"Yuk kak mumpung masih jam 2 nih kita ketempat bunda" ajak Afifa kepada Ardiansyah.
"Ya sudah ayo" kata Ardiansyah mengiyakan ajakan Afifa.
Afifa dan Ardiansyah pun keluar dari apartemen itu dan langsung menuju ke mobil milik Ardiansyah.
__ADS_1