DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 105: Benua Ealorath dan Kerajaan Swordland


__ADS_3

"Jadi seperti inilah benua Ealorath..." gumam River melihat pemandangan sebuah dataran kering di bawahnya.


Saat ini dia tengah berada di benua Ealorath atau benua para Dwarf.


Sangat berbeda dengan benua lainnya yang sebagian besar daratannya terdiri dari pepohonan dan padang rumput, keseluruhan benua Ealorath justru hanyalah gurun pasir yang kering.


Tidak ada pepohonan hijau sejauh mata memandang kecuali beberapa pohon kering berwarna hitam tanpa daun hijau di rantingnya. Itu adalah jenis tanaman yang hanya tumbuh di tempat gersang.


Beberapa aliran sungai berlumpur yang sudah mulai kering terlihat di dataran kering itu, itu adalah air kotor yang sudah tidak layak dikonsumsi namun masyarakat setempat masih menggunakannya.


Dalam situasi kekurangan air seperti ini mungkin membangun pemukiman dekat dengan laut adalah solusi terbaik agar sekat dengan sumber air, namun tentunya itu memiliki bahaya tersendiri seperti tsunami dan serangan monster laut.


Menunggu turunnya hujan juga sulit dilihat dari kondisi langit cerah tanpa adanya awan sedikitpun.


River bertanya-tanya bagaimana mungkin ras Dwarf bisa bertahan hidup di kondisi tempat tinggal ekstrem seperti itu.


Namun River tidak ingin terlalu memikirkan itu karena dia telah tiba di tempat tujuannya, yaitu kerajaan Swordland.


River turun tidak jauh dari gerbang ibukota kerajaan dan langsung mengubah pakaiannya dengan jubah coklat kumuh dan penutup kepala yang melindungi dari teriknya panas matahari walaupun ia tidak terpengaruh dengan hal itu.


Ras Dwarf memiliki tubuh yang pendek, jadi untuk menyamar River juga mengubah tinggi badannya menjadi lebih pendek layaknya anak 10 tahunan.


Setelah mengantri beberapa saat akhirnya River mendapatkan giliran untuk memasuki ibukota.


"Tunggu, bisa kau perlihatkan kartu identitasmu? Akhir-akhir ini ada serangan musuh di tempat ini jadi kita harus lebih waspada dengan pengunjung yang datang."


Sebelum River memasuki ibukota, salah satu penjaga gerbang menghentikan dirinya dan menanyakan kartu identitasnya.


"Tentu."


River setuju dan merogoh sakunya, disana dia menciptakan sebuah kartu identitas palsu dan memberikannya kepada penjaga gerbang.


"Seorang petualang Rank Silver, cukup baik, silahkan masuk!"


Penjaga gerbang itu mengizinkan River masuk setelah selesai memeriksa kartu identitasnya. River sengaja membuat pekerjaannya sebagai seorang petualang karena petualang adalah pekerjaan umum di tempat itu.

__ADS_1


River memasuki ibukota sambil melihat-lihat ke sekelilingnya, sebagian besar orang yang berlalu lalang di dalam ibukota adalah ras Dwarf, namun tidak jarang juga River melihat adanya ras Gnome dan Dark Elf.


Bangunan penduduk terbuat dari bebatuan murni yang di pahat langsung menggunakan tangan seorang profesional, itu bisa dilihat dari detailnya corak pada dinding bangunan yang mirip seperti batu bata.


Kios-kios bertebaran di pinggir jalan raya yang banyak dilalui oleh kereta yang ditarik oleh seekor hewan mirip kadal namun lebih besar, mungkin tidak ada kuda di tempat ini.


Memasuki distrik tengah ibukota yang luas itu, suasana yang awalnya normal mulai berantakan. Puing-puing bangunan berserakan dimana-mana dengan sebagian besar bangunan penduduk yang rusak total.


Beberapa orang Dwarf yang berpenampilan seperti tukang renovasi terlihat sedang merenovasi bangunan yang rusak sementara petugas kebersihan sedang membersihkan jalanan dari puing-puing bangunan.


"Mengerikan bukan? Beberapa hari yang lalu ada kekacauan yang cukup besar di tempat ini, diduga pembuat kekacauan adalah seorang Raja Iblis. Tapi seorang pendekar mabuk datang dan menghabisinya dengan cepat."


Seorang Dwarf yang berdiri di samping River tiba-tiba berbicara padanya dan memberikan informasi yang cukup bagus kepadanya.


"Pendekar mabuk?" tanya River mengernyitkan dahinya.


"Apa kau berasal dari pelosok terkecil negri ini sampai tidak tahu tentang pendekar mabuk kawan?"


"Kau bisa menganggapnya begitu."


Nama pendekar mabuk terdengar adalah nama yang aneh untuk seorang pemabuk.


"Apa kau tahu dimana dia tinggal?" tanya River lagi setelah berpikir sejenak.


"Entahlah, tidak ada yang tahu ada dimana orang itu karena bisa muncul tiba-tiba dan menghilang tiba-tiba juga. Ngomong-ngomong kau cukup asyik kawan, lain kali datanglah ke Bar milikku di ujung distrik ini, namanya adalah Bar kurcaci merah." lanjut orang itu sambil menunjuk arah dimana Bar miliknya berada.


Orang itu kemudian mendekati telinga River dan berbisik dengan mulutnya yang bau alkohol, "Kami juga menyediakan beberapa wanita cantik disana."


River tidak menanggapinya.


Bar? Pendekar mabuk? Mungkin kedual hal itu saling berhubungan - pikir River.


Dimana biasanya seorang pemabuk minum? Tentu saja di sebuah Bar, jadi mungkin saja River bisa menemukan pendekar mabuk di tempat itu.


"Aku akan ikut denganmu sekarang." kata River.

__ADS_1


"Wah wah wah, sepertinya ada yang sudah tidak sabar untuk bersenang-senang." Pria itu tertawa lebar dan berjalan untuk menuntun River ke Barnya.


Sesampainya disana pemandangan sebuah Bar yang pengap dan penuh bau alkohol menyerang indra penciuman River.


Ada beberapa orang pria yang tergeletak lemas di lantai karena terlalu banyak minum sementara beberapa pria lagi masih tampak kuat meneguk alkohol yang dituangkan langsung oleh wanita Dark Elf cantik.


"Selamat datang di Bar kurcaci merah, jangan sungkan dan anggap saja tempat ini sebagai rumahmu kawan baruku." ujar pria itu memperkenalkan Bar miliknya.


Ia menuntun River untuk duduk di depan bartender dan memesankan segelas anggur merah dengan kadar alkohol yang sedang, tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu rendah.


Bartender yang seorang Dwarf berjenggot merah itu menuangkan anggur merah dengan elegan layaknya Bartender profesional.


"Pesanan telah siap!" kata sang Bartender sambil meletakkan segelas anggur merah di hadapan River.


"Silahkan dinikmati dengan perlahan." lanjutnya.


River mengangkat gelas kayu itu perlahan namun pasti, ia sedikit mengundangnya sehingga menyebarkan aroma khas anggur merah sebelum River menghabiskan segelas anggur itu dengan sekali teguk.


Minuman keras itu memasuki mulut River sehingga membuat rasa soda pecah di mulutnya, seharusnya rasa anggur yang memabukkan itu akan terasa sangat nikmat.


Tapi karena kemampuan Illness Immunity miliknya River sama sekali tidak bisa mabuk dibuatnya.


River menyimpan gelas anggurnya sebelum mengalihkan pandangannya kearah salah satu meja yang dikerumuni oleh banyak orang-orang Bar.


Suara sorak sorai terdengar cukup meriah dari meja itu bersamaan dengan suara orang-orang yang menetapkan uang taruhannya.


"Memangnya ada apa disana?" tanya River pada sang Bartender yang sedang mengelap gelas yang dipakai River sebelumnya.


"Sebuah pertandingan bodoh seperti biasanya, mereka akan saling menantang adu panco kepada pengunjung Bar dan melakukan taruhan uang." kata sang Bartender.


"Oh ... bukankah itu terlalu kekanak-kanakan?" gumam River dengan suara kecil.


Namun tanpa diduga kerumunan orang yang tengah bertarung itu mendengar perkataan River dengan jelas.


"Apa dia bilang tadi kalau ini adalah permainan anak-anak?"

__ADS_1


"Mungkin begitu."


"Memangnya apa yang dia tahu tentang adu panco?"


__ADS_2