DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 21: Pengorbanan Master


__ADS_3

Waktu berlalu dan malam sudah tiba, akan tetapi River belum datang sama sekali ke tempat Master untuk menjalani latihan.


"Ini aneh ... tidak biasanya River mengingkari janjinya." kata Master semakin khawatir.


Raymond juga merasa khawatir, dia tidak ingin terjadi hal yang buruk kepada teman barunya.


"Aku punya alat yang bisa mendeteksi keberadaan seseorang, kita mungkin bisa melihat keadaan River." saran Raymond.


"Apa lagi yang kau tunggu, cepat bawakan alatmu."


"Tunggu sebentar."


Raymond kembali ke reruntuhan kuno tempat dirinya menyimpan semua benda sihirnya.


Saat ini Raymond tidak memiliki pasukan Undead sama sekali karena semuanya sudah dibunuh oleh River sebelumnya, jadi tidak ada orang yang bisa dia perintahkan untuk saat ini.


Beberapa saat kemudian Raymond kembali dengan alat yang dia maksud, bentuk alat itu adalah bulat dengan cahaya biru ditengahnya.


"Kurasa kau lebih pantas untuk menggunakannya." kata Raymond memberikan alatnya kepada Master.


"Kau tinggal membayangkan River dan alat itu akan menunjukkan keberadaannya melalui peta." lanjut Raymond.


Master mengangguk, dia memejamkan matanya dan langsung membayangkan River untuk menemukan keberadaannya.


'Semoga kau dalam keadaan baik....' batinnya penuh harapan.


Alat sihir itu bersinar terang dan membentuk sebuah penampakan layar transparan yang memperlihatkan sebuah peta dan satu titik biru yang merupakan penanda keberadaan River.


"I-Ini, bukankah ini peta hutan monster bagian dalam!? Bagaimana dia bisa sampai di tempat itu!?" kata Master dengan panik.


"Cahayanya mulai meredup, itu artinya energi kehidupannya mulai menipis."


"Apa!?"


"Kita harus segera bergegas kesana!" teriak Raymond.


Master mengangguk, dia kemudian mengambil pedang utamanya yang sudah bertahun-tahun tidak dia gunakan dan menyarungkannya di pinggangnya.


Itu adalah pedang berwarna hitam pekat dengan ukiran indah menghiasinya, terlebih lagi pedang itu mengeluarkan hawa kematian yang sangat pekat, entah sudah berapa banyak nyawa yang melayang akibat pedang itu.


Raymond juga mengambil beberapa alat sihirnya yang berguna untuk pertarungan seperti kristal sihir yang sama dengan punya River dan banyak alat sihir lainnya.


"Ayo!"


...


...


...


Mereka berdua melesat dengan cepat di tengah hutan monster yang sangat lebat itu.


Beberapa monster Rank-B keatas muncul untuk menghambat jalan mereka, tapi semua monster itu langsung mati bahkan sebelum Master mengeluarkan pedangnya.


Mereka berdua bagaikan mesin pemusnah yang membawa kematian kepada makhluk hidup apapun yang mereka temui.


Hingga tak berselang lama kemudian, mereka akhirnya tiba di tempat dimana keberadaan River terdeteksi sebelumnya.


"Apa apaan tempat ini?"


Raymond membulatkan mata Undeadnya ketika melihat peman di tempat itu.


Itu adalah pemandangan wilayah hutan yang hancur berantakan dengan puluhan mayat Naga darat yang mati mengenaskan dan anggota tubuh yang hancur tak beraturan.


Tempat itu juga dialiri oleh sungai darah yang berasal dari mayat Naga darat, membuat tempat itu lebih mirip sebagai tempat pembantaian.


"Apa semua ini ulah River?" tanya Raymond.

__ADS_1


"Aku bisa merasakan jejak teknik berpedang dewa kegelapan dari mayat Naga darat itu ... kemungkinan besar memang River pelakunya." balas Master.


"Aku tahu dia memiliki bakat dengan teknik berpedang dewa kegelapan, tapi ini sudah benar-benar diluar dugaanku...." ujar Raymond.


"Berhenti bicara dan bergeraklah."


Mereka berdua berjalan menelusuri lautan mayat Naga darat itu. Setiap mereka berjalan maka percikan darah akan terdengar di kaki mereka, membuat suasana itu menjadi semakin mencekam.


Tak lama kemudian akhirnya mereka menemukan keberadaan River yang tergeletak di tumpukan mayat Naga darat dengan dilumuri darah.


""River!""


Mereka berduapun langsung menghampiri River.


"Ini ... bagaimana dia bisa terluka separah ini!?" kata Master penuh kekhawatiran.


River telah kehilangan tangan kanannya serta satu kakinya, dan luka yang amat parah memenuhi seluruh tubuhnya bahkan detak jantungnya semakin melemah.


Kemarahan yang amat besar muncul di benak Master dan Raymond, sekilas ada keinginan untuk memusnahkan seluruh ras Naga darat bahkan ras Naga di dunia itu.


Itu bukanlah hal yang mustahil bagi Master yang memiliki kekuatan yang setara atau bahkan melebihi kekuatan Raja Iblis.


Tapi yang terlebih penting sekarang adalah menyelamatkan nyawa River karena darah yang keluar dari tubuhnya mulai menghitam.


"Efek samping dari teknik berpedang dewa kegelapan sudah separah ini ... sebenarnya berapa kali dia menggunakan teknik itu?" ujar Master melihat darah River yang menghitam.


"Aku punya alat sihir yang bisa menyembuhkan segala penyakit apapun, itu pasti bisa menyembuhkan River-"


"Tidak Raymond, ini bukanlah penyakit, ini adalah kutukan dari teknik berpedang dewa kegelapan yang bahkan dewa sekalipun tidak bisa menyembuhkannya...." kata Master memotong perkataan Raymond.


Raymond sangat terkejut.


"I-Itu mustahil! Lalu bagaimana cara kita menyelamatkannya? Tidak mungkin kita hanya diam melihat kematiannya!"


Raymond merasa putus asa, dia tidak ingin kehilangan teman pertamanya setelah ratusan tahun lamanya.


Master juga terdiam dan hanya bisa menatap wajah River yang masih kehilangan kesadarannya, tapi beberapa saat kemudian River terbatuk mengeluarkan darah hitam.


"River, jangan bergerak dulu, lukamu sangat parah tapi kami pasti akan menyembuhkanmu secepatnya."


Master berkata dengan sangat khawatir, menyuruh River tetap diam ditempatnya.


River tiba-tiba memegang tangan Master dengan penuh usaha.


"River....."


"Master ... tidak usah membuang waktumu untukku...." kata River dengan lirih.


"Eh? Apa maksudmu? Tentu saja sebagai Mastermu akau akan menyelamatkanmu, bagaimana bisa itu disebut buang buang waktu?"


Master kebingungan dengan sikap River ketika dia menatapnya dengan mata sayu penuh kesedihan.


River kembali menggerakkan bibirnya untuk bicara dengan lirih, "Aku sudah menyerah untuk hidupku dan dirinya, aku tidak bisa menahannya lagi, rasa sakit di hatiku ini sudah terlalu banyak hingga tak bisa aku tahan lagi ... jadi aku menyerah."


Master mulai mengeluarkan air matanya.


"Kenapa kau menyerah dengan sangat mudah seperti ini? Bukankah tekadmu untuk menjadi kuat sudah melampaui semua rasa sakit dan kesedihanmu? Jadi kenapa kau menyerah sekarang!?"


Sekarang River sudah benar-benar menyerah akan hidupnya, tidak ada lagi tekad untuk bertahan hidup dan menjadi kuat seperti sebelumnya.


Dia benar-benar sudah tenggelam dalam kesengsaraan dan keputusasaan yang selama ini dia tahan....


"Hei! Kenapa kau tidak menjawabku? Cepat jawab perkataanku dasar murid bodoh!"


Master sangat khawatir melihat River yang tiba-tiba terdiam dan mulai menutup matanya secara perlahan-lahan.


"...... Detak jantungnya, sudah berhenti...."

__ADS_1


Raymond menjatuhkan dirinya berlutut di depan River yang sudah menghembuskan nafas terakhirnya.


Jika Raymond bisa menangis maka dia pasti akan menangis bagaikan seorang bayi kecil, tapi dia hanya bisa menundukkan kepalanya diam meratapi kematian River.


"Tidak tidak tidak ini tidak mungkin, dia tidak mungkin mati seperti ini!"


Master berteriak tak percaya.


Dia merasa gagal sebagai seorang Master karena telah membiarkan murid satu satunya mati di depan matanya.


Dia memang menyadari tentang kesengsaraan dan keputusasaan River, semua hal yang terjadi dalam kehidupannya juga telah Master ketahui.


Master merasa bersalah karena tidak berbuat apapun terhadap kesengsaraan River dan malah melatihnya dengan lebih keras, berharap kesengsaraan itu menghilang seiring latihannya.


Tapi dia melupakan fakta jika River hanyalah seorang anak remaja biasa, River bukanlah manusia sempurna seperti dirinya, jadi Master merasa bersalah karena hal itu.


'Jika aku bisa menebus kesalahanku ini, maka aku rela melakukan apapun bahkan jika itu harus mengorbankan nyawaku....' batin Master dengan putus asa.


Bersamaan dengan itu Master tiba-tiba membulatkan matanya, seolah olah menyadari sesuatu.


"Teknik berpedang dewa kegelapan adalah teknik berpedang yang unik, teknik itu elastis dan bisa diterapkan dalam media apapun..." gumam Master.


Raymond sedikit kebingungan mendengar Master yang tiba-tiba bergumam aneh.


"Itu benar, mungkin jika aku mentransfer kekuatanku kepada River, maka dia bisa hidup kembali!" teriak Master dengan penuh harapan.


"Apa maksudmu? Apa kau benar-benar ingin mengorbankan dirimu sendiri?" tanya Raymond.


"Hanya ini satu satunya cara yang kupikirkan, teknik berpedang dewa kegelapan bukan sembarang teknik berpedang, itu di turunkan langsung oleh Dewa kegelapan sebelum Era kekacauan." ujar Master.


Raymond membulatkan matanya.


"Maksudmu Dewa kegelapan Arshadow Sizraes si Dewa pengkhianat? Bukankah itu hal yang tabu bagi dunia ini? Kita akan menjadi musuh 5 Entitas Tertinggi!"


"Aku tahu itu, sebenarnya selama ini aku sedang bersembunyi dari kejaran 5 Entitas Tertinggi karena hanya aku yang memiliki kekuatan langsung Dewa Kegelapan, tapi akan kulakukan apapun demi muridku!" kata Master dengan serius.


Raymond masih tidak terima.


"Tapi jika kau melakukan itu maka bukankah River akan menjadi incaran 5 Entitas Tertinggi? Itu jauh lebih buruk daripada kematian!" teriak Raymond menentang keputusan Master.


"Memangnya apa yang kau tahu tentang kematian? Asal kau tahu orang orang yang memiliki kekuatan Dewa pengkhianat akan menerima hukuman paling kejam di Neraka tingkat 9, biarpun River adalah orang baik yang tidak berdosa, tapi dia tetap akan mendapatkan hukuman itu tanpa roda reinkarnasi sama sekali! Apa kau mau hal itu terjadi padanya!?"


Raymond berdiri dan memegang kerah baju Master dengan kasar.


"Lalu kenapa kau mewariskan teknik mengerikan itu kepadanya jika kau tahu konsekuensinya!" teriak Raymond di depan wajah Master.


"Kau tidak akan pernah mengerti keputusanku." balas Master dengan serius.


Raymond terdiam, begitupun dengan Master, mereka hanya bertatapan selama beberapa menit dengan ekspresi wajah yang serius.


Dan tak berselang lama kemudian, akhirnya Raymond melepaskan kerah baju Master.


"Lakukan apapun yang kau inginkan." ujar Raymond.


Karena telah mendapatkan kebebasan bertindak, Master kembali tempatnya dan menyentuh dada River dan bersiap untuk memindahkan kekuatannya.


Tapi sebelum itu dia menoleh terlebih dahulu kearah Raymond.


"Mungkin keberadaanku akan lenyap dari dunia ini setelah menggunakan sihir itu, jadi aku ingin kau menjaga River setelah kepergianku."


"......"


Raymond tidak menjawab, tapi Master tahu jika dia pasti setuju. Setelah itu Master kembali fokus kepada River.


「God's Magic : God's Destiny Reverser!」


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...


...~Chp 21 : 1490 kata~...


__ADS_2