
...[๐๐๐ซ๐๐ง ๐ผ๐๐๐๐จ๐ค๐ฃ ๐๐๐]...
Akhir-akhir ini aku merasakan keanehan pada diriku sendiri, aku jadi mudah marah dan tidak bisa mengendalikan diriku sebagaimana biasanya.
Terlihat dari pertarunganku dengan Asher yang hampir membunuhnya, aku juga membentak Finley tanpa alasan yang jelas.
Padahal 1 bulan telah berlalu semenjak kejadian itu, aku sudah mengikhlaskan kepergian Master dan rela mengemban takdir berat seperti yang Master katakan, tapi untuk sekarang aku masih belum memutuskan apa yang akan kulakukan selanjutnya.
Yah, sebelum memikirkan tujuanku sebaiknya aku meminta maaf terlebih dulu pada Finley. Tapi aku takut tidak bisa mengendalikan diriku dan melakukan kesalahan yang sama seperti sebelumnya.
'Apa yang harus kulakukan sekarang....' batinku.
[Sebaiknya kau coba meminta maaf pada gadis itu terlebih dahulu, kau pasti bisa mengendalikan dirimu jika kau fokus untuk meminta maaf.]
Sebuah suara tiba-tiba terdengar ketika aku dalam kebingungan, aku melihat cincin yang berbentuk tengkorak di tanganku lalu tersenyum.
"Seperti biasa kau selalu bisa diandalkan, Raymond..." ujarku.
[Sudah menjadi kewajibanku untuk membantumu dalam berbagai situasi, lagipula aku tidak bisa pergi kemana-mana dengan keadaan seperti ini.]
Aku bisa merasakan kesedihan dalam nadanya.
Satu bulan lalu tepatnya ketika tragedi itu, aku berhasil hidup lagi dan mendapatkan kesadaran di tubuhku. Master telah menghilang dari sana tapi untungnya aku bisa menyelamatkan Raymond yang hampir menghilang.
Raymond telah kehilangan sebagian besar kekuatannya karena membantu Master untuk menghidupkanku, jadi dia hanya bisa hidup dalam wujud cincin tengkorak karena aku tidak bisa mengembalikan kekuatannya dengan sempurna.
Ketika kami berdua tengah asyik mengobrol bersama dan mengeluarkan semua isi hati kami, suara seseorang tiba-tiba terdengar di belakangku.
"Kenapa kau berbicara sendiri?"
Aku sangat terkejut karena tidak bisa merasakan keberadaannya ketika dia datang. Sontak aku langsung waspada dan menarik pedangku tapi tubuhku langsung berhenti bergerak begitu saja.
"Bukankah tidak baik bersikap seperti itu kepada seorang kepala akademi? kau bisa saja aku mengeluarkanmu dari akademi ini..."
Aku melihat orang yang berbicara itu dan mulai menyadari jika orang itu adalah kepala akademi Nethilor, Aria Scarlet.
"Aku tidak masalah keluar dari akademi ini." balasku cuek dengan tubuh yang masih tidak bisa bergerak.
Aria menaikan satu alisnya, "Oh? tapi aku tidak akan membiarkanmu pergi sebelum kau menjawab tentang apa yang terjadi di hutan monster saat itu." ujarnya sambil tersenyum manis.
Memang aku akui kalau Aria Scarlet adalah wanita yang sangat cantik dan menawan, tapi aku tidak suka sifatnya dan perlakuannya padaku yang semena-mena.
Pada saat peristiwa itu Aria Scarlet datang ke hutan monster sendirian untuk memeriksa aura kegelapan yang terpancar itu dan menemukan diriku berada di dalam hutan monster.
Jadi dia menaruh curiga kepadaku dan terus-terusan mengintrogasiku.
"Bukankah sudah kukatakan kalau aku tidak tahu apapun tentang peristiwa itu? aku hanya pingsan di hutan monster ketika aura kegelapan itu menyebar dan tidak ingat apapun." balasku sedikit kesal.
"Sudah aku katakan bukan jika berbohong tidak ada gunanya di hadapan True Eyes milikku?" balas Aria dengan percaya diri dengan matanya yang berwarna emas.
Aku tahu dia bohong.
True Eyes adalah salah satu dari sekian banyak mata spesial yang ada di dunia ini, itu adalah mata yang bisa melihat kebohongan seseorang tapi aku tahu jika itu tidak berdampak padaku karena aku juga mempunyai mata spesial, bukan hanya satu melainkan tiga sekaligus.
Anti Magic Eyes yang bisa menghilangkan pengaruh sihir apapun kepada tubuhku, itu sudah aku gunakan saat menghancurkan sihir Nerffed milik Asher.
Eye of Time yang memungkinkanku bisa melihat sekilas masa depan, dan Dark God's Eyes yang memungkinkanku untuk mengendalikan kegelapan sesuka hatiku dan mengatur seluruh makhluk hidup berelemen gelap.
Pada dasarnya pemilik mata spesial tidak bisa menggunakan kekuatan miliknya kepada pemilik mata spesial lainnya, jadi dia jelas bohong kepadaku jika bisa melihat aku berbohong.
Dia hanya ingin membuatku percaya dengan dirinya sehingga dia bisa membuatku mengatakan yang sebenarnya.
"Jika kau punya kekuatan mata spesial, maka seharusnya kau bisa mencari informasi itu sendiri tanpa menyuruhku bicara." jawabku sambil tersenyum sinis.
Seketika ekspresi wajah yang cantik dan menawan itu menjadi dingin.
"Bisa kau lepaskan efek sihirmu padaku sekarang?" kataku sedikit risih dengan tubuhku yang tidak bisa bergerak.
Aku tidak bisa menggunakan Anti Magic Eyes untuk menghilangkan pengaruh sihir pada tubuhku karena dia juga memiliki mata spesial.
Jadi lain kali aku harus waspada dengan wanita ini karena sihirnya yang sangat berbahaya dan misterius, tidak ada yang tahu elemen spesial miliknya itu seperti apa....
Aria menyipitkan matanya, "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku dan semua orang, tapi jangan harap kau bisa menyembunyikannya dalam waktu yang lama." katanya dengan dingin.
Senyuman manis yang sebelumnya dia berikan padaku hilang seketika, sejatinya dia adalah seorang wanita yang dingin dan kejam.
Dia menjentikkan jarinya dan tubuhku akhirnya bisa kembali bergerak.
"Ingat ini, aku selalu mengawasimu." katanya sebelum hilang begitu saja dari depanku.
__ADS_1
Dia benar-benar hilang begitu saja, tanpa menggunakan sihir ataupun kekuatan lainnya.
Akhirnya aku bisa bernafas lega.
Aku sudah memiliki kekuatan yang cukup kuat di benua ini, aku juga yakin jika tidak ada seorangpun yang bisa mengalahkanku di akademi ini.
Tapi wanita itu berbeda, aku merasa jika aku tidak akan bisa mengalahkannya walaupun menggunakan seluruh kekuatanku.
Sebenarnya aku tidak tahu seberapa kuatnya dia, tapi yang pasti kekuatannya itu sangat merepotkan.....
[Sebaiknya kau tidak melawannya sebelum tahu bagaimana kekuatannya bekerja.]
"Aku tahu itu, aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi..."
...
...
...
...[๐๐ก๐๐จ๐๐๐๐๐ ]...
1 bulan lalu di hutan monster.
Aku kembali mendapatkan kesadaranku di tubuhku yang semestinya, aku bangkit dan menemukan pemandangan sebelum aku mati yaitu sekumpulan mayat Naga darat dan lautan darah.
Master telah pergi, sementara aku melihat Raymond yang tubuhnya mulai terurai sedikit demi sedikit ke udara.
Dia adalah Undead, jadi dia memiliki cara kematian yang berbeda dari manusia dan makhluk hidup lainnya.
Aku telah kehilangan Master, sosok yang berharga bagiku, aku tidak ingin kehilangan Raymond juga jadi aku akan berusaha keras untuk mencegah dia menghilang.
Aku baru saja mendapatkan kekuatan dari Master, jadi aku masih belum bisa menggunakannya dengan baik, tapi walaupun begitu aku tidak menyerah dan menggunakan segala cara untuk menyelamatkannya.
Setelah berusaha keras akhirnya aku bisa menyelamatkan Raymond tapi dalam wujud sebuah cincin tengkorak, tapi aku senang dengan itu.
"Oh? Disini ada orang? Haloo!"
Aku tiba-tiba mendengar suara seseorang di belakangku padahal aku tidak bisa merasakan keberadaannya.
Aku berbalik dan memegang pedang hitam milik Master dengan waspada. Orang itu adalah seorang wanita cantik, aku pernah melihat wanita itu ketika acara penyambutan siswa baru, dia adalah kepala akademi Aria Scarlet.
Dia tidak bereaksi apapun terhadap tempat ini yang penuh dengan mayat naga darat yang sangat menjijikkan, matanya yang indah hanya fokus padaku.
"Apa yang anda lakukan di tempat ini, kepala akademi?" tanyaku tidak menghilangkan kewaspadaanku.
"Hm ... sepertinya akulah yang seharusnya menanyakan hal itu, apa yang dilakukan seorang murid di tempat seperti ini? Apa kau baik baik saja setelah terpapar aura kegelapan yang begitu besar tadi?" jawabnya masih dengan senyum khasnya.
Padahal aura itu baru muncul beberapa jam lalu tapi dia sudah tiba di bagian terdalam hutan monster? sungguh orang yang pantas memegang gelar kepala akademi.
Aku tidak bisa mengatakan tentang teknik berpedang dewa kegelapan ataupun tentang Master dan Raymond, aku sekarang adalah musuh dunia.
Jadi aku diam tak menjawab.
"Kau tidak bisa menjawabnya? Atau kau tidak ingin menjawabnya? Hm ... kau membuatku kebingungan....."
Dia sama sekali tidak serius tentang situasi ini, sebaliknya dia terlihat sedang bercanda.
Senyumnya melebar setelah beberapa saat.
"Kalau begitu apakah aku harus mencari tahunya sendiri?" ucapnya.
{Bocah! Cepat bunuh dia sebelum terlambat!}
Aku mendengar suara di benakku.
'Zetton, kaukah itu?'
{Sudah terlambat!}
Aku bertanya-tanya apa maksudnya, tapi setelah aku berbalik dan melihat Aria yang menyeringai dengan mengerikan akhirnya aku sadar jika situasi ini benar-benar gawat.
Dia ingin menyerangku!
{Akan kuambil alih tubuhmu sebentar!}
"Ap-"
Tubuhku bergerak sendiri, tidak, itu digerakkan oleh Zetton sebelum aku mengizinkannya.
__ADS_1
* SWIING! *
* SWOOOSH! *
Zetton mencabut pedang hitam milik Master lalu melesat dengan sangat cepat ke depan Aria, dan setelah itu-
* SLASH! *
* CRASH! *
Dengan satu ayunan pedang itu, kepala Aria Scarlet telah terpenggal dengan sempurna....
Bersamaan dengan itu kendali tubuhku telah kembali kepadaku, aku menjatuhkan tubuhku saat itu juga mengingat aku sudah membunuh seseorang untuk pertama kalinya.
Tapi Zetton langsung menenangkanku.
{Kedepannya kau akan menjumpai musuh kuat lainnya, kau harus siap untuk membunuh untuk keberlangsungan hidupmu dan tujuanmu, jadi jangan merasa bersalah karena setiap makhluk hidup pada akhirnya akan kembali ke alam kematian....}
Setelah memikirkannya sesaat, aku akhirnya mengerti.
Apa bedanya membunuh manusia dengan monster? mereka sama sama makhluk hidup, dan jika berbicara tentang dosa maka aku sudah mempunyai dosa karena membunuh makhluk hidup.
Lagipula jika aku mati aku pasti akan masuk neraka karena seorang pewaris Dewa Kegelapan, jadi tidak ada gunanya menghindari dosa dan berbuat baik demi pahala karena pada akhirnya aku hanya akan masuk neraka.
Setelah menghirup nafas panjang panjang, aku bangkit dan berterima kasih kepada Zetton.
'Aku mengerti, terima kasih Zetton.'
{Hm, aku senang kau bisa mengerti dengan cepat.}
Tentang kematian kepala akademi, aku hanya bisa diam tentang hal ini dan kembali ke akademi tanpa perasaan bersalah apapun.
Tapi.....
Setelah aku kembali ke akademi, aku tiba-tiba disambut oleh seseorang.
Itu bukan Finley, Guru Fanela, Mis Ayla, ataupun Profesor Watson, melainkan kepala akademi Nethilor, Aria Scarlet.....
Dia mendekatiku lalu berbisik, "Semoga kau berhasil membunuhku lain kali, River~"
Ini membuatku sangat terkejut, aku yakin sudah membunuhnya dengan tanganku sendiri, aku yakin jika itu bukanlah ilusi semata karena aku memiliki mata spesial Anti Magic Eyes, itu berarti ilusi tidak akan berdampak padaku.
Bahkan Zetton juga sangat terkejut dengan hal ini, ini pasti akan menjadi ancaman yang besar.
Keesokan harinya aku kembali membunuhnya ketika dia tertidur, tapi lagi-lagi dia kembali hidup seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
Pembunuhan terhadap Aria Scarlet berlangsung selama seminggu penuh, dan seperti biasa tidak terjadi apa-apa padanya walaupun aku sudah membunuhnya dengan berbagai cara.
Kami berdua kemudian saling menyelidiki, dia yang menyelidiki identitasku dan kekuatanku yang sebenarnya, sementara aku menyelidiki cara kerja kemampuannya yang sangat tidak masuk akal....
...****************...
Hai, Author disini ๐
โขMaaf karena Author tidak bisa update 2 chp sehari karena Author sedang kurang sehat akhir-akhir ini, semoga alasan ini bisa dimengerti.
โขTapi walaupun begitu Chp ini berjumlah 1856 kata yang hampir setara dengan 2 Chp.
Dan satu lagi.
[Tanda seperti ini omongan Raymond]
{Tanda seperti ini omongan Zetton}
ใTanda seperti ini artinya mantra sihir, dllใ
"perkataan langsung."
'perkataan dalam hati.'
Semoga dimengerti
Anyway, Thank you for reading this novel โฅ๏ธ
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
...๐ฟ๐๐๐, ๐๐๐ก๐, ๐ด๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐ ๐ด๐ข๐ก๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐๐ฆ๐...
...~Chp 26 : 1856 kata~...
__ADS_1