DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 8: Master Rahasia


__ADS_3

"Hah ... hah ... hah ..."


Nafasku terengah-engah di tengah hutan monster sementara pandanganku mulai memudar, aku menancapkan pedangku di tanah untuk menopang tubuhku yang bisa ambruk kapan saja.


Jauh di depan sana, terlihat masterku yang menatapku dengan dingin seolah olah mengejekku.


Ini sangat keterlaluan. Padahal aku sudah menjelaskan kalau aku tidak bisa berlatih karena masih dirawat, tapi dia tidak mendengarkanku dan malah memberikan latihan yang mematikan seperti ini!


"Apa yang kau tunggu? cepat serang aku sekarang sebelum aku menyerangmu!"


Dia menyuruhku maju, aku tidak bisa membiarkannya menyerangku terlebih dahulu, jadi aku akan maju menyerangnya dengan sekuat tenaga.


Aku memegang pedangku dengan erat, berlari kemudian melancarkan tebasan beruntun. Tapi sebelum tebasanku mengenainya, dia sudah memegang pergelangan tanganku terlebih dahulu dan memutar tubuhku hingga menghantam tanah.


Gerakannya sangat cepat, aku tidak bisa melihatnya. Sebelum aku menyadarinya tubuhku sudah tergeletak di tanah dengan dia yang berdiri di hadapanku.


Aku terpana melihatnya. Pria paruh baya yang terlihat kurus dan rentan itu sebenarnya adalah seorang pengguna teknik berpedang dan seni bela diri yang sangat hebat....


"Seperti biasa gerakanmu sangat lambat, dengan kemampuanmu yang seperti ini kau berani untuk tidak hadir dalam pelatihanku? Sungguh menyedihkan...." ujarnya dengan nada merendahkan.


Aku berusaha bangkit dengan susah payah dan menatapnya dengan ekspresi kesakitan.


"Sudah kubilang aku tidak bisa datang karena sedang terluka, kan? Seharusnya kau mendengarkanku sebagai masterku...." ujarku lirih.


"Tidak ada yang lebih memalukan selain mendapatkan kekalahan dengan menggunakan teknik berpedang ajaranku, oleh karena itu aku menghajarmu." jawabnya dengan tatapan sinis.


Aku sudah menceritakan tentang kekalahanku ketika melawan Asher, dan tak kusangka dia malah menjadi semakin marah karena teknik berpedang yang ia ajarkan padaku mendapatkan kekalahan.


Teknik berpedang dewa kegelapan, itulah nama teknik berpedang yang master ajarkan padaku.


Tapi aku juga memiliki alasan yang kuat atas penyebab kekalahanku.


"Itu karena lawanku menggunakan sihir. Master tahukan kalau aku tidak bisa menggunakan sihir?"


"Memangnya kenapa jika kau tidak bisa menggunakan sihir?! Aku bahkan bisa menang melawan puluhan penyihir level 7 tanpa menggunakan sihir melainkan hanya menggunakan teknik berpedangku. Menurutmu apa perbedaan kita?"


Aku terdiam.


Aku tahu betul jika dia tidak hanya membual tentang kekuatannya. Aku pernah melihat dia membunuh monster level-S hanya dengan menggunakan ranting kayu.


Itu adalah hal yang tidak akan pernah aku lupakan dalam hidupku.


Kekuatannya benar benar melampaui akal sehat, aku tidak tahu bagaimana dia bisa mendapatkan kekuatan sebesar itu.


Aku sekarang mulai memikirkannya pertanyaan yang master ajukan padaku..... Apa perbedaanku dengan Master?


Kita sama sama sudah mempelajari teknik berpedang dewa kegelapan. Walaupun kemahiran kita berbeda jauh, seharusnya aku sudah cukup kuat sehingga bisa mengalahkan Asher waktu itu.

__ADS_1


Itu dia, mungkin perbedaan kita ada di kekuatan sihir! Aku sama sekali tidak bisa menggunakan sihir, sementara Master bisa menguasai segala jenis elemen dan memiliki kekuatan sihir yang hebat.


"Jika kau berpikir tentang perbedaan kekuatan sihir maka itu salah besar..."


Tampaknya master tahu jalan pikiranku sebelum aku menyebutkannya....


"... Setahuku perbedaan kita memang hanya di kekuatan sihir..." balasku.


"Tch! Dasar murid bodoh! Inilah sebabnya kau tidak akan pernah bisa maju, kau selalu saja terpaku dengan kekuatan sihir! Memangnya apa itu kekuatan sihir?! Itu bukanlah segalanya!"


Master membentakku dan menyentil keningku dengan kesal, aku memegangi keningku yang terasa sangat sakit dan menatapnya dengan satu mata terpejam.


"... Bagiku kekuatan sihir itu adalah segalanya ... teknik berpedang akan semakin kuat jika menggunakan sihir, begitupun dengan seni bela diri."


Kita hidup di tengah masyarakat yang selalu bergantung dengan sihir, orang yang memiliki kekuatan sihir akan dianggap sebagai orang normal, sementara yang tidak mempunyainya adalah sampah masyarakat.


Sword Techique akan selalu kalah dengan Sword Magic, Martial Art akan selalu kalah dengan Martial Magic. Begitulah yang kupikirkan.


Jadi sebagai sampah masyarakat bukankah normal jika aku menganggap sihir itu adalah segalanya?


"Sepertinya aku harus menghancurkan keras kepalamu itu terlebih dahulu sebelum mengajarimu teknik berpedang dewa kegelapan lebih jauh lagi..."


Master mengatakan itu dengan seringai tajam bersamaan dengan membunyikan kepalan tangannya.


Dari gelagatnya saja aku bisa merasakan hal yang sangat buruk akan menimpaku.....


..


..


..


"E-Em ... Aku baik baik saja, aku hanya merasa sedikit kelelahan karena pelajaran tadi..." balasku berbohong.


Finley adalah seorang penyembuh yang sangat ahli, dia pasti menyadari keanehan yang ada pada tubuhku.


'Ini semua salah kakek tua itu.....' batinku kesal.


Aku tidak pernah menyangka jika dia akan menghukumku sampai sekeras itu selama semalaman.


Seluruh tubuhku masih terasa sangat sakit hingga saat ini, padahal aku baru saja sembuh tapi dia sudah membuatku seperti ini lagi...


Ngomong-ngomong aku dan Finley saat ini sedang berada di ruang kesehatan untuk makan siang bersama. Aku tidak bisa membiarkan Finley curiga dengan hal ini jadi aku menyembunyikan lukaku.


Tapi sepertinya itu sudah terlambat...


Finley mendekati tubuhku dan menatapnya dengan intens sehingga membuatku merasa sedikit tidak nyaman.

__ADS_1


"Kau terluka, ya?" tanyanya menyelidik.


"E-Em ... Itu tidak benar...."


"Jangan berbohong, aku tahu kalau kau terluka dari gelagatmu yang aneh."


Aku tidak tahu bagaimana harus menyangkalnya, dia sudah mengetahuinya jadi tidak ada lagi yang bisa aku sangkal.


"Biar aku periksa."


Finley mendekatiku dan ingin meraih pakaianku lalu membukanya untuk melihat luka di tubuhku.


Situasi ini sangat aneh dan tidak masuk akal, jadi aku menolaknya dan memegang tangannya.


"Apa yang kau lakukan, biarkan aku melihatnya agar aku bisa merawatnya." kata Finley memberontak.


"Kurasa aku bisa membukanya sendiri."


"Tidak, biar aku saja yang melakukannya, kau harus dirawat secepatnya."


Gadis polos ini ... apakah dia sadar dengan apa yang dia lakukan? Dia ingin melepaskan pakaianku!


Darimanapun kau melihatnya itu adalah hal yang aneh jika seorang gadis melepas pakaian seperti pria!


"Akh...."


Lukaku berdenyut karena aku bergerak berlebihan, itu membuatku sedikit mengerang kesakitan dan langsung jatuh ke lantai.


Finley terlihat panik, dia kemudian mulai melepas bajuku selagi mendapatkan kesempatan bagus.


* CKLEK! *


Pintu ruang kesehatan tiba tiba terbuka di saat yang tidak tepat.


Karena refleks kami langsung mengalihkan pandangan ke pintu dan melihat mis Ayla yang diam membeku di sana.


Aku terbaring di lantai sedangkan Finley berada di atasku sedang membuka pakaianku, posisi kami sekarang sangat tidak bagus dan akan membuat siapapun yang melihatnya akan salah paham.


Mis Ayla mengubah ekspresinya dengan cepat dan berkata, "Ekhem! Sepertinya aku salah ruangan....."


* CKLEK! *


Pintu ditutup, bersamaan dengan itu kami mendapatkan kesadaran kami kembali.


""Mis Ayla! Ini hanya salah paham!!"" teriak kami bersamaan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...


...~Chp 8 : 1072 kata~...


__ADS_2