DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
SPESIAL CHAPTER — Pertikaian Seorang Saudara


__ADS_3

Perang tiada akhir, langit membisu, penderitaan berkepanjangan, tanah tempat orang-orang berpijak telah hangus, bau peperangan selalu tercium di setiap sudut wilayah.


Mati adalah pilihan terbaik bagi mereka yang muak pada dunia yang kejam. Namun, perjuangan demi hidup dan harga diri mengobarkan api peperangan walau tahu maut menunggu di ujung jalan.


Di bawah bentangan dataran gersang, dua orang berbeda gender saling berhadapan. Salah seorang pria kekar tengah bertekuk lutut sambil menundukan kepala di depan seorang gadis cantik dan anggun dengan tangan kanannya yang menggenggam sebuah senapan.


Gadis itu memandang pria di depannya dengan rasa haru yang menderu di benaknya.


"Nona Leyn, saya akan terus mengikuti langkah anda, menjadi pedang anda dan pengikut setia anda sampai akhir hayat."


Kata-kata yang dilontarkan pria itu membuat perasaan Leyn semakin bergetar.


Angin menderu halus di pipi mungil Leyn. Sejenak keheningan memeluk dataran yang telah gersang karena peperangan sebagai tempat mereka berpijak.


Leyn belum mengatakan sepatah kata pun semenjak dia bertemu dengan pria itu yang tengah terluka parah saat dalam perjalanan berkuda untuk kembali ke kamp.


Dan sekarang dia langsung berlutut di bawah kakinya.


"Kau sudah mengabdikan dirimu untuk tanah ini, Jendral Edward." kata Leyn. Intonasi suaranya sangat datar, walaupun hatinya terasa sakit ketika harus kehilangan rekan seperjuangannya selama berbulan-bulan lamanya.


Sakit setengah mati mendera fisik Edward kala mulutnya kembali memuntahkan darah.


Membasahi tanah gosong yang menjadi tempat ia berpijak.


Namun ia tetap pada posisinya meski bulir-bulir keringat mengucur deras dari pelipisnya. Menahan rasa sakit luar biasa di hadapan panutannya itu.


"Kau adalah orang yang paling setia kepadaku, tapi kau tidak bisa terus mengikutiku jika waktumu sudah tiba. Beristirahat lah dengan damai. Kau bagian dari pahlawan Lumise, sekaligus prajuritku, maka berbangga lah wahai Jendral Edward." ucap Leyn tenang.


Senyum lemah akhirnya terukir di bibir Edward yang helmnya telah terlepas entah kemana, menghiasi wajah keras tapi kian memucat itu.


"Saya sangat senang mendengarnya langsung dari anda."


Perlahan kelopak matanya menutup seiring otot-otot tubuh melemah. Genggaman jernari lentik Leyn pada senapannya bergerak sedikit mengerat saat mendengar suara jatuh tubuh prajuritnya. Gugur sudah seorang pahlawan perang.


Pengorbanan dan perjuangan semua orang di pihaknya membuat kabut tebal tidak hanya dialami langit, hati Leyn juga semendung cuaca hari ini.


Leyn benci kekalahan, tapi sebagai pemimpin, ia lebih benci jika prajuritnya tewas dalam tugas mereka apalagi yang tewas kali ini adalah orang terdekatnya.


Leyn tidak marah, ataupun sedih, konsekuensi dari perang memang sebuah kematian dan pastinya hal itu akan dia alami juga...


Setetes air jatuh di pipi Leyn. Itu bukan tangisan Leyn melainkan tangisan langit yang meneteskan air hujan seolah ikut sedih dengan kepergian sang pahlawan untuk ke sekian kali.


Di tengah gerimis yang bertambah deras, samar-samar Leyn menangkap suara gerakan cepat dari seberang kiri dan kanannya.

__ADS_1


Bayangan hitam berjumlah lebih dari dua itu melesat sangat cepat, menembus hujan, hingga mendarat dengan sempurna di hadapan Leyn.


Leyn menatap wajah seorang pria tampan ber-armor silver di hadapannya dengan malas, "Sudah kuduga itu kau yang membunuh prajuritku, Leon..." ujarnya.


"Ini adalah peperangan, dari awal membunuh memanglah hal yang wajar." balas Leon santai.


"Kalau begitu membunuh saudara kandung sendiri juga dianggap wajar dalam peperangan."


Leyn mengencangkan genggamannya, bersiap untuk membalas kematian Edward kepada seseorang yang dia anggap sebagai pengkhianat itu.


...


...


...


* TRANGG!! *


Leyn terdorong mundur saat nenangkis serangan dengan senapannya yang kecil, Dia terdiam tenang. sanubarinya menghitung lawan di hadapan. Satu, dua, empat, enam, dan .., tujuh!


"Leyn, menyerahlah, dengan begitu kedamaian akan terwujud karena Yang Mulia Raja akan berhenti melanjutkan peperangan yang sudah berjalan selama berbulan-bulan lamanya ini!"


Leon berkata sambil berdiri memimpin ke-enam prajuritnya mengabaikan hujan deras yang mengguyur seluruh permukaan tanah dan tubuh mereka.


"Tch! Kalau begitu jangan salahkan aku kalau kau terluka!" lantangnya bangga.


Mata Leon yang beriris hitam pekat itu melihat bagaimana reaksi Axelia di sana. Mengharapkan serangan brutal perempuan itu.


"Apa maumu sebenarnya?" tanya Leyn geram yang membuat Leon sedikit kecewa pasalnya gagal membuat gadis itu murka.


"Membunuhmu." Satu kata dilontarkan pendek tanpa emosi dari Leon seolah-olah menganggap jika gadis di depannya itu tidak pernah memiliki hubungan darah dengannya.


"Coba saja kalau kau bisa melakukannya." tantang Leyn angkuh sembari mengubah shotgun sihirnya menjadi dua belati kecil.


Kemudian, secara bersamaan mereka melesat ke depan, saling beradu senjata di udara untuk beberapa saat lamanya.


Bagai kilatan cahaya gerakan mereka saat menyerang di udara sehingga membuat wujud keduanya nyaris tak terbaca oleh mata telanjang. Yang terlihat hanya dua bayangan silih bertubrukan cepat.


Benturan nyaring senjata mereka mengiringi pertarungan selama beberapa detik di udara.


Tak berselang lama kemudian Leyn mendarat kembali bersamaan dengan Leon.


Pertarungan pertama yang seimbang membuat Leon terkejut. Namun, dia belum mengeluarkan setengah kekuatan untuk menundukan Leyn di hadapannya.

__ADS_1


"Silver Barrier!" teriak Leon yang seketika memunculkan dinding transparan berwarna silver yang membentuk persegi mengurung dirinya, Leyn, termasuk ke-enam prajurit Leon.


...


...


...


"Api peperangan sudah berkobar selama berbulan-bulan lamanya, apa yang akan kau lakukan Harley?"


"... Entahlah master, kak Leyn dan ibu melarangku untuk ikut campur dalam perang."


Harley menjawab pertanyaan yang di lontarkan oleh Masternya dengan sedikit ragu.


Beberapa bulan perang sudah berlalu dan dia sama sekali tidak memiliki kontribusi apapun dalam perang itu.


Leyn melarang para siswa akademi Khisfire untuk ikut campur dalam perang, mereka hanya disuruh untuk bersiaga di kota untuk membantu menyembuhkan prajurit yang terluka dan sebagai pertahanan terakhir semisal musuh menyerang langsung ke kota.


Leyn memiliki sifat patriotisme yang tinggi, dia tidak rela disuruh diam di kota ketika orang lain berjuang mati-matian untuk mempertahankan kota.


Terlebih lagi, musuh yang mereka lawan membuat Harley sangat kebingungan dibuatnya.


"Apa benar kalau musuh kita itu adalah kak Leon?"


"Begitulah kabar yang beredar luas."


Jawaban sang master berpenampilan serba putih itu membuat perasaan Harley bimbang antara melawan atau berdiam diri.


Harley dan Leon bisa dibilang sangat dekat karena memiliki banyak kesamaan, dia sangat mengenal Leon dan tidak pernah menyangka orang sebaik dia akan menjadi pembuka perang.


"Aku tidak percaya ini..." gumam Harley mengenang kebersamaannya dengan Leon.


"Mau mendengar sesuatu yang menarik?"


"Apa itu?"


Wanita berpenampilan serba putih itu sukses membuat Harley penasaran, ia menoleh ke arah Harley seolah menatapnya dengan serius di balik topeng putihnya.


"Leon adalah orang yang baik, saking baiknya dia kerap kali bersikap naif dan sangat mudah dipengaruhi oleh orang lain."


"Maksud Master Kak Leon hanya dimanfaatkan?" potong Harley menebak perkataan Masternya.


"Kemungkinan besar seperti itu."

__ADS_1


"Kalau begitu kita harus segera menyadarkannya sebelum Kak Leon dan Kak Leyn saling membunuh!" ujar Harley bertekad kuat.


__ADS_2