
...[𝙉𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙋𝙊𝙑]...
Di sebelah sebuah dataran yang hampa dan tandus, terlihat sebuah kota yang sedang dalam proses perbaikan.
Orang-orang saling bergotong-royong untuk membangun dinding di sekitaran kota yang sedang berkembang itu.
Pasokan kayu datang terus menerus yang diangkat para pria kekar, sementara para wanita tengah sibuk menyiapkan makan malam untuk mereka yang sedang bekerja keras.
Mereka bekerja sangat kompak untuk membangun tempat tinggal yang jauh lebih baik daripada sebelumnya.
Disisi lain, terlihat seorang gadis cantik dan sangat imut dengan helm proyek berwarna kuningnya sedang memantau pekerjaan para warga.
"Apa ini sudah benar, Nona Leyn?" kata salah seorang pria yang sedang memasang sebuah papan nama kota mereka di depan pintu masuk kota.
Leyn yang melihatnya di bawah sana memegangi dagunya tampak berpikir, "Tolong ke kiri sedikit." ujarnya.
Sesuai perintah Leyn, pria itu menggeser papan nama itu sedikit ke sebelah kiri dan berhenti ketika Leyn menyuruhnya.
"Sempurna!" ucap Leyn sambil mengacungkan jempol.
Dia berdiri dengan gagah menatap papan nama kota itu yang bertuliskan Kota Lumise.
'Tidak aku sangka jika desa kecil ini akan bisa berkembang menjadi sebuah kota hanya dalam beberapa bulan saja. Seharusnya aku melakukan ini sejak lama...' pikir Leyn.
Usaha Leyn dalam mengembangkan tempat tinggalnya ternyata membuahkan hasil yang sangat memuaskan.
Sekarang makanan sudah bukan masalah lagi bagi penduduk desa, atau sudah bisa dipanggil penduduk kota.
Itu terjadi karena usulan Leyn untuk melakukan rotasi tanaman sangat sukses besar, bukan hanya di sektor pertanian, melainkan di sektor perkebunan juga.
Jadi mereka punya sumber makanan yang berlimpah di tempat itu sekarang.
Leyn berjalan berkeliling kota yang setiap bangunannya sedang di renovasi keseluruhannya.
Sekarang rumah para warga bukan terbuat dari papan kayu lagi melainkan beton yang kokoh, selain itu setiap rumah cukup luas untuk ditinggali 7 orang sekaligus.
Berbagai macam fasilitas juga sudah dibangun sebagai penunjang hidup masyarakat, contohnya adalah tempat yang saat ini Leyn kunjungi.
""Terima kasih pak guru!""
Suara anak-anak terdengar sangat riang di salah satu bangunan, pintu dibuka dan gerombolan anak-anak keluar dari tempat itu sambil berlarian dengan gembira.
Tak lupa mereka juga menyapa Leyn ketika melihatnya ada di tempat itu.
Setelah semua anak pergi, seorang pria yang sebaya dengan Leyn keluar dari bangunan itu dengan merangkul banyak buku.
__ADS_1
"Pagi Asher!" sapa Leyn kepada pria itu yang ternyata adalah Asher.
"Maksudmu siang kan?" ucap Asher mengkoreksi sapaan Leyn.
"Sepertinya aku bekerja terlalu keras sampai lupa waktu..." ujar Leyn sambil melihat matahari yang sudah ada di atas kepalanya.
"Lupakan tentang itu. Bagaimana dengan pekerjaanmu?" lanjut Leyn.
Asher berjalan bersebelahan dengan Leyn untuk menuju suatu tempat. Sembari berjalan, Asher menjawab pertanyaan Leyn sambil memandang langit yang cerah.
"Semuanya berjalan dengan baik, ternyata anak-anak itu sangat penurut dan mudah diatur. jadi aku menyukai pekerjaan ini..." ucap Asher.
Asher bekerja sebagai seorang pengajar atau guru di sekolah khusus anak-anak, dia sama sekali tidak mengajarkan tentang sihir ataupun cara bertarung melainkan pengetahuan dasar seperti menulis dan membaca.
Anak-anak itu belum pernah mendapatkan pendidikan seperti itu sebelumnya, jadi mereka sedikit bersemangat untuk belajar.
"Begitu ya ... ngomong-ngomong sepertinya kau sangat cepat beradaptasi dengan lingkungan sederhana seperti ini, padahal sebelumnya kau itu adalah seorang bangsawan tinggi."
"Aku rasa tempat ini tidak terlalu buruk.." balas Asher.
Ia senang jika dirinya sudah tidak terkekang lagi oleh kedua orang tuanya yang sangat keras itu. Menjadi bangsawan sangat merepotkan bagi Asher, sebaliknya ia mulai menyukai hidup normal.
"Lalu bagaimana dengan gadis bangsawan satunya itu? Aku jarang melihatnya akhir-akhir ini." lanjut Asher yang bertanya tentang Alexa.
"Begitu ya. Aku bisa melihat potensi besar dari anak itu."
"Itu benar. Dia sangat mirip dengan River..." ucap Leyn yang mulai merenung ketika membicarakan soal River.
Tapi tak lama kemudian ia menggelengkan kepalanya untuk fokus pada tujuannya saat ini.
"Kau kembali saja duluan ke balai desa, aku harus melihat pekerjaan Grinz. Sepertinya dia sudah selesai dengan proyek yang aku berikan untuknya." kata Leyn lalu pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Asher.
...
...
...
Setelah sampai di tempat kerajinan milik keluarga Grinz, Leyn langsung menghampiri Grinz yang sedang beristirahat ditemani oleh secangkir kopi hangat.
"Hai Grinz! Bagaimana dengan kereta yang aku suruh kau buat?" kata Leyn tiba-tiba dan membuat kaget Grinz yang sedang istirahat santai.
"Kenapa kau sangat suka datang tiba-tiba?" gerutu Grinz.
"Hehe, mungkin kebiasaan?" ucap Leyn sambil menggaruk belakang kepalanya.
__ADS_1
"Hah ... kau itu. Soal kereta aneh yang kau suruh aku buat itu sudah jadi, kau bisa mengeceknya sendiri dan memeriksa bagian yang menurutmu salah." kata Grinz sambil menghela nafas panjang.
Ia kemudian bangkit dan membuka ruang kerjanya yang cukup besar itu, disana sudah terlihat beberapa komponen-komponen kereta yang Leyn suruh buat.
"Kau menyelesaikan ini sendiri?" tanya Leyn kagum.
"Tentu saja tidak, ada cukup banyak orang yang bekerja di bawah keluargaku, jadi merekalah yang membantuku membuat ini semua. Jadi-"
"Jadi kau ingin bayaran lebih, kan?" kata Leyn menebak perkataan Grinz.
"Seperti yang diharapkan dari Nona Walikota!" ucap Grinz sambil mengacungkan dua jempol.
"Aku akan memberimu bayaran yang setimpal, jadi berhentilah memanggilku seperti itu." potong Leyn risih.
Grinz menganggukkan kepalanya senang, sementara Leyn memeriksa setiap bagian komponen kereta itu dengan teliti.
'Semuanya sesuai harapanku, pengrajin di dunia ini memang yang terbaik!' batin Leyn senang.
"Semuanya sudah bagus, lalu bagaimana dengan body luarnya?" tanya Leyn.
"Ikuti aku." jawab Grinz sambil menuntun Leyn ke belakang ruang kerjanya.
Disana sudah terlihat puluhan gerbong kereta besar yang terpisah satu sama lain dan terbuat dari besi, dan masing-masing di bawah gerbong itu terdapat roda besi yang jumlahnya cukup banyak.
Selain puluhan gerbong itu, disana juga terlihat kepala kereta dengan cerobong asap di atasnya.
"Aku tidak punya tempat untuk menampung semua benda ini, jadi dengan terpaksa aku hanya menyimpannya di tempat terbuka seperti ini." kata Grinz menjelaskan alasan kenapa gerbong-gerbong itu terletak di luar.
"Itu tidak masalah, lagipula gerbong itu terbuat dari logam anti karatan." kata Leyn masih dengan tatapan kagum di matanya.
"Lalu kau beri nama apa kereta ini? Tidak mungkin namanya tetap kereta kuda, kan?" ucap Grinz menyindir ide aneh Leyn yang menurutnya hanya membuang-buang logam.
Tapi Leyn sama sekali tidak merasa tersindir.
"Sudah aku putuskan ... kereta ini akan bernama kereta api!" teriak Leyn bangga dengan penemuannya.
Yah ... sebenarnya itu bukanlah penemuannya, melainkan meniru alat transportasi dari kehidupannya yang sebelumnya.
Tapi karena ini adalah kereta api pertama di dunia ini, jadi bisa dibilang ini adalah penemuan Leyn walaupun melakukannya dengan curang....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 69 : 1079 kata~...
__ADS_1