DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
SPESIAL CHAPTER โ€” Janji Seorang Pemimpin


__ADS_3

...[๐™‰๐™ค๐™ง๐™ข๐™–๐™ก ๐™‹๐™Š๐™‘]...


Lokasi: Desa Lumise


Suasana desa Lumise masih sama dengan hari-hari sebelumnya, penduduk yang berprofesi sebagai petani sibuk bekerja di sawah mereka sementara yang berprofesi sebagai penebang kayu sedang berjalan untuk menemukan pohon untuk ditebang.


Semenjak hancurnya Kerajaan Victoria, keadaan desa semakin memburuk karena kehilangan tempat untuk menjual hasil pangan mereka.


Ada beberapa kota dan desa yang bisa mereka jadikan tempat perdagangan, tapi letaknya sangat jauh dari desa mereka. Oleh karena itu kepala desa ingin membuat gerobak mereka sendiri untuk membawa hasil pangan mereka ke kota yang jauh.


Tapi makin hari pepohonan semakin melangka karena telah mereka tebang dalam bertahun-tahun, membuat para penebang pohon dan pengrajin kesulitan membuat gerobak yang diinginkan kepala desa.


Selain masalah pepohonan, desa Lumise juga memiliki krisis pertahanan karena tiadanya Kerajaan Victoria yang biasanya mengirimkan beberapa prajurit untuk melindungi desa.


Jadi ketika para monster datang untuk menyerang, para penduduk prialah yang bertugas untuk melindungi desa dengan peralatan seadanya.


Tapi ... ada bahaya yang jauh lebih besar daripada serangan monster, mereka adalah para bandit....


...


...


...


"Kami datang lagi para penduduk desa kumuh!! Kuharap kalian sudah mempersiapkan barang-barang yang kami minta!"


Seorang pria paruh baya dengan tubuh kekar datang dengan sombong ke tengah alun-alun desa, dia berteriak dan memaki para penduduk desa bersama anak buahnya.


Mendengar keributan di tengah alun-alun, banyak penduduk yang datang dan berkerumun di tempat itu, dan alangkah terkejutnya mereka ketika melihat pria itu.


"Dimana kepala desa tua itu?! Panggil dia keluar!!" teriaknya lagi.


Tak lama kemudian seorang pria tua datang terburu-buru sambil menundukkan kepalanya.


"T- tuan Bram, anda baru saja mengambil barang berharga kami minggu lalu, dan sekarang kami sudah tidak punya apapun lagi..." ujar kepala desa.


"Berisik pak tua!! Aku tidak mau tahu, cepat serahkan barang-barang berharga kalian kepada kami atau kami akan membakar desa kumuh ini!" teriak pria paruh baya yang ternyata bernama Bram.


"K- kumohon biarkan kami untuk hari ini saja, kami sama sekali belum menjual barang dagangan sedikitpun, jadi kami belum memiliki uang..."


"Aku tidak peduli dengan apapun alasanmu! Kau pikir kerajaan yang sudah hancur itu bisa menyelamatkanmu lagi? Semuanya, rampas secara paksa barang berharga orang-orang kumuh ini!" teriak Bram memerintahkan anak buahnya.


""Baik Bos!""


Bram memiliki anak buah sebanyak 30 orang bersenjata, dan itu sukses membuat para penduduk ketakutan dan berlarian untuk menyelamatkan diri.


Para bandit itu memasuki rumah warga dan mengacak-acaknya untuk menemukan barang berharga, tak jarang mereka melakukan kekerasan kepada para warga yang mencegah mereka.


Para anak-anak diamankan oleh orang tua mereka ketika kejadian itu, kecuali satu orang anak yang berdiri dengan kokoh di depan rumahnya sambil membawa ranting kayu di tangannya.


Anak itu adalah Harley Addeson, adik River.


Salah satu bandit yang melihatnya kemudian menghampiri anak itu dengan memainkan belati miliknya di lidahnya dengan menyeramkan, "Nak, menyingkirlah dari sana atau tubuhmu tidak akan utuh lagi."


Pria itu mengancam Harley, tapi itu tidak menggetarkan dirinya.


Hingga pria itu berada tepat di depan Harley dan ingin menjambak rambut hitamnya, Harley langsung memukul tangan pria itu dengan ranting miliknya dengan keras.


"Akh!! Dasar bocah sialan!" teriak pri itu.


* TAK!! *


Ia kemudian melancarkan belatinya tanpa enggan sama sekali untuk membunuh Harley, tapi Harley dengan cepat juga memukul tangan pria itu hingga belatinya terlempar ke samping.


Mendapat kesempatan, Harley langsung berlari dan mengambil belati milik pria itu dan langsung bersiap sedia.


"Dasar bocah sialan!!"

__ADS_1


Pria yang kehilangan belatinya itu langsung berlari kearah Harley walau tanpa menggunakan senjata.


Dia berpikir jika anak berumur 10 tahun seperti Harley tidak akan bisa menggunakan belati itu dengan baik, dia juga berpikir jika Harley hanya ingin menggertaknya menggunakan belati itu.


Jadi dia percaya bisa menang dengan mudah walaupun tidak menggunakan senjata. Tapi nyatanya, pemikirannya itu salah besar....


* SWOOOSH!! *


* CRAAASH!! *


"AAAARRGH!!"


Mata kanan pria itu langsung tertebas seketika, membuat pria itu berteriak histeris dan darah yang terus berceceran.


Pria itu tertunduk di tanah sembari menatap Harley dengan mata kirinya.


"Ba- bagaimana bisa..." ujarnya lirih.


Harley tidak menjawab dan hanya menempelkan belatinya di leher pria itu sambil menatapnya dengan dingin.


"Jangan kira aku tidak bisa bertindak kejam," kata Harley dingin.


Dia ingin mengakhiri hidup pria menyedihkan itu, tapi seseorang tiba-tiba keluar dari rumah dan memeluknya dengan isak tangis, "Harley, apa yang telah kau lakukan, Nak..."


Orang yang memeluk Harley itu adalah ibunya.


"Mereka telah membuat penduduk desa menderita bu ... jadi aku ingin membalasnya..." kata Harley layaknya seorang anak biasa.


Sang ibu ingin menasehati anaknya yang hampir kehilangan arah itu, tetapi ledakan besar di tengah alun-alun mengalihkan perhatiannya.


Mereka berdua kemudian pergi kearah desa untuk melihat apa yang terjadi, meninggalkan pria menyedihkan itu di tanah.


Disana alangkah terkejutnya Harley dan ibunya ketika melihat para bandit yang sering menjarah desa mereka telah tewas dengan mengenaskan.


Sang ibu menutup mata Harley untuk mencegahnya melihat pemandangan mengerikan itu, tapi Harley menepisnya karena ingin melihat orang yang telah membunuh para bandit itu.


Harley tidak mengenal kedua orang itu, tapi dia mengenal gadis satunya yang sedang bertarung melawan bos dari para bandit.


"Kak Leyn!" teriak Harley.


Disisi lain Leyn yang sedang bertarung melawan Bos bandit itu berhasil memojokkannya hingga membuatnya putus asa.


"Tch! Siapa sebenarnya kau!!" teriak Bram.


"Kau tidak perlu tahu siapa aku, tapi yang pasti aku tidak akan memaafkanmu karena telah membuat warga desa menderita!" teriak Leyn lalu menggunakan serangan terakhirnya.


ใ€ŒMartial Magic : Fifth Arts : Final Blow!ใ€


* BUGH!! *


"Gukhak!!"


Pukulan cepat dilayangkan tepat pada perut Bram hingga membuat tulangnya remuk dan terbatuk darah.


Pria paruh baya dengan tubuh yang kekar itu kemudian tumbang begitu saja di hadapan seorang gadis yang baru saja pulang kampung.


"Tidak ada yang perlu dikhawatirkan lagi, kalian semua sudah aman sekarang," kata Leyn kepada para warga.


Para warga yang awalnya bersembunyi di tempat aman itupun langsung keluar dan menyambut kemenangan Leyn dan kebebasan mereka dari para bandit yang selama ini menjarah mereka.


Harley juga langsung berlari dan langsung memeluk Leyn dengan penuh kerinduan.


"Kakak Leyn, akhirnya kau pulang juga..." ujar Harley.


"Harley, kau sudah besar ya. Padahal baru beberapa bulan sejak kita berpisah, apa kau baik-baik saja? Bajumu penuh dengan darah," kata Leyn tampak khawatir.


Dia sudah menganggap Harley sebagai adiknya sendiri.

__ADS_1


Harley menggelengkan kepalanya, "Aku baik-baik saja, lalu siapakah orang-orang di belakangmu itu?" tanya Harley penasaran karena pakaian mereka yang terlihat sangat mewah.


"Ah ... mereka adalah teman-teman baruku yang ikut datang ke desa ini bersamaku, yang laki-laki bernama Asher Dean sementara yang perempuan bernama Alexa Northern, mereka berdua itu adalah bangsawan jadi bersikap baiklah."


"Bangsawan? Apakah mereka termasuk bangsawan jahat?" tanya Harley dengan polosnya.


"Bangsawan jahat, ya..." gumam Asher gugup.


Mendengar perkataan Leyn, Alexa sedikit mengkoreksinya.


"Kurasa gelar bangsawan sudah tidak berlaku lagi untuk kami karena kerajaan yang sudah hancur, jadi kami adalah orang biasa sama seperti kalian," kata Alexa.


Asher mengangguk, "Hm, kami adalah orang biasa, orang biasa yang baik dan ramah."


Tak lama setelah perkenalan itu, seorang perempuan tua datang dan menghampiri Leyn. Tentu Leyn mengenalnya dan menyapa perempuan tua itu.


"Nenek!" sapa Leyn.


"Leyn ... kau sudah pulang?" ujar sang Nenek.


"Iya nek, cucumu ini sudah pulang ... tapi kakak..."


Leyn kesulitan harus menjelaskan alasan kenapa kakaknya tidak ikut pulang.


Melihat itu sang Nenek tampak mengerti dan menepuk pundak Leyn, "Tidak usah dijelaskan kalau kau tidak bisa."


Leyn tersenyum hangat, "Terima kasih Nek."


Leyn kemudian mengalihkan pandangannya kearah kepala desa.


"Bisa anda jelaskan masalah yang dialami desa ini kepada kami? Mungkin saja kami bisa membantunya," kata Leyn dibarengi dengan anggukan Asher dan Alexa.


"Baiklah..." ujar kepala desa.


...


...


...


Setelah menceritakan semua masalah yang dialami oleh desa Lumise semenjak hancurnya Kerajaan Victoria, ekspresi prihatin muncul di wajah Leyn, Asher, dan Alexa.


"Aku turut prihatin dengan kondisi yang menimpa kalian semua, tapi tenang saja karena kami ada disini sekarang untuk membantu kalian," kata Leyn memberikan harapan pada semua orang.


Kepala desa tersenyum senang mendengar kata-kata Leyn, dia kemudian berlutut di hadapan Leyn sambil melepaskan topi khasnya yang membuat semua orang terkejut.


"A- apa yang anda lakukan kepala desa?" tanya Leyn dengan gugup.


"Aku sangat tersanjung dengan pengabdianmu kepada desa kecil ini, oleh karena itu aku akan turun dari jabatanku sebagai kepala desa dan memberikannya padamu. Apa kau menerima permintaan pria tua ini, Nak?" kata kepala desa dengan hormat.


Leyn belum menjawabnya, melainkan dia melihat para warga, neneknya, Harley, dan kedua orang tuanya yang baru saja sampai, dan tak lupa juga dia melihat kedua temannya itu.


"Tidak ada salahnya menerimanya, kan?" ujar Asher.


"Desa ini pasti akan makmur jika dipimpin oleh orang sepertimu," lanjut Alexa.


Leyn memantapkan tekadnya, dia kemudian berteriak dengan keras hingga bisa di dengar oleh semua orang.


"Namaku Leyn Nereida, mulai sekarang aku akan menjadi kepala desa Lumise! Aku berjanji akan menjadikan desa ini sejahtera dan tentram untuk semua orang!"


Janji seorang pemimpin telah diungkapkan, akankah gadis remaja sepertinya bisa menepati janjinya itu?


...โ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆ...


...๐ฟ๐‘–๐‘˜๐‘’, ๐‘‰๐‘œ๐‘ก๐‘’, ๐ด๐‘›๐‘‘ ๐ถ๐‘œ๐‘š๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก ๐‘ˆ๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘€๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘ข๐‘˜๐‘ข๐‘›๐‘” ๐ด๐‘ข๐‘ก๐’‰๐‘œ๐‘Ÿ ๐ท๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐ต๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž...


...~Chp 56 : 1475 kata~...

__ADS_1


__ADS_2