
Kami berdua saling menatap satu sama lain demi melihat pergerakan lawannya. Hingga akhirnya Raja Laurence menggerakkan kaki kanannya ke depan hingga menggetarkan tanah, aku juga mengikuti gerakannya itu.
Dan beberapa saat kemudian kami berdua meneriakkan nama teknik berpedang terakhir kami yang sengaja kami tunda dengan keras, yang dimulai oleh Raja Laurence terlebih dahulu.
「The Wrath of the Goddess of Light」
「God of Darknes's Rage」
* SWOOOSH!! *
* SWOOOSH!! *
* DUAAAARR!! *
Kami berdua menebaskan pedang kami secara bersamaan hingga kedua kekuatan yang sangat berlawanan itu bertabrakan dengan sangat dahsyat.
Seketika langit mulai berubah-ubah dari yang awalnya siang menjadi gelap.
Tabrakan kedua kekuatan yang tidak seharusnya terjadi itu membuat dunia menjadi tidak seimbang selama beberapa saat.
Aku terus mengeluarkan kekuatanku sebanyak yang aku bisa untuk mengalahkan Raja Laurence sembari melindungi Riona yang ada di belakangku.
"Hiyaaa!!!"
Raja Laurence berteriak dengan kencang ketika dirinya dipaksa berlutut karena tekanan yang aku berikan, tanah di sekeliling tempatnya berpijak juga hancur karena kejadian itu.
Dia sudah mengalami luka yang parah sedari tadi, jadi menggunakan kekuatan sebesar ini pasti akan benar-benar membuatnya tersiksa.
* CRACK! *
Aku bisa mendengar suara retakan dari pedang emas milik Raja Laurence, ini pertanda jika dia sudah mencapai batasnya.
Aku kemudian memperkuat tenagaku lagi untuk mengakhiri dirinya.
* CRACK! *
* BOOOOOOOM!*
* JEEEDDAAAR!! *
Pedang emas milik Raja Laurence berhasil hancur berkeping-keping, bersamaan dengan itu ledakan yang sangat dahsyat terjadi di tempat itu karena seranganku yang menghantam tubuh Raja Laurence.
Ledakan itu juga membuat sihir penghancur milik Riona menjadi tidak terkendali dan mengamuk di tempat itu lalu menciptakan ledakan penghancur yang jauh lebih besar.
Ledakan yang sangat mengerikan itu ingin melahap diriku dan juga Riona, tapi sebuah sayap tiba-tiba terbentuk di udara dan melindungi kami berdua.
Itu adalah sayap milik Zetton.
Di dalam perlindungan sayap Zetton, aku bisa mendengar gemuruh yang sangat besar di luar sana, tanah juga bergetar dengan kencang karena kejadian itu.
Beberapa saat suara gemuruh telah hilang, kemudian sayap Zetton yang melindungi kami juga menghilang.
Ketika keluar dari dalam sayap itu, aku bisa melihat kondisi dataran yang sekarang ini membuatku begitu terkejut.
Itu karena dataran yang sebelumnya merupakan wilayah kerajaan Victoria telah menghilang sepenuhnya dan digantikan dengan dataran hampa yang tak berujung.
Tidak ada lagi manusia, pepohonan, ataupun reruntuhan bangunan yang terlihat....
'Zetton, apa semua warga kerajaan telah mengevakuasi diri mereka?' batinku mencoba berfikir positif.
Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika seranganku yang barusan membunuh para warga beserta dengan teman-temanku.
{Kau bisa tenang, para warga dan teman-temanmu berhasil selamat karena mereka telah pergi mengungsi ke kerajaan tetangga. Tapi semua ksatria yang masih berada di ibukota untuk melawan gelombang monster telah musnah karena ledakan yang tadi.}
__ADS_1
'Begitu ya....... setidaknya aku bersyukur jika teman-temanku selamat dari ledakan mengerikan tadi.....' batinku.
Aku melihat kearah Riona, ternyata dia tengah pingsan dan dia telah kembali ke wujudnya semula yaitu seorang wanita dengan rambut hitam.
Aku tersenyum karena kesalahpahaman ini akhirnya selesai, namun tiba-tiba aku merasakan ada aura kehidupan di tempat itu.
Aku mengalihkan pandanganku dan melihat Raja Laurence dengan tubuh yang penuh luka bakar....
'Ini mustahil......dia masih bisa hidup setelah ledakan dahsyat tadi?' batinku benar-benar terkejut.
Namun di tengah keterkejutan itu aku juga dibuat terkejut dengan kedatangan seseorang yang berteriak dari atas langit.
"Ayah!!!"
Tak lama kemudian turunlah tiga orang manusia dari atas langit. Salah satunya adalah orang yang sangat aku kenali yaitu kepala akademi Aria Scarlet, tapi dia terlihat terluka parah.
Kemungkinan besar dia menggunakan seluruh kekuatannya untuk melindungi dua orang yang bersamanya itu.
Mereka berdua adalah anak-anak dari Raja Laurence, kenapa aku bisa tahu? karena hanya keluarga kerajaan saja yang mempunyai rambut emas seperti itu.....
"Ayah, apa yang terjadi denganmu!?"
Sang putri terdengar sangat khawatir dan menghampiri ayahnya yaitu Raja Laurence, sementara sang pangeran dan Aria Scarlet menatapku dengan penuh selidik.
"Kau......aku sempat melihatmu menyerang ayahku tadi, siapa kau?" tanya sang pangeran.
"Dia adalah River Addeson."
Bukan aku yang menjawabnya, melainkan Aria Scarlet.
Sang pangeran terlihat sangat terkejut, sementara sang putri menatapku dengan tajam dan penuh kemarahan, "Kau, teman-temanmu mengkhawatirkan dirimu dan mempercayakan kita untuk mencarimu, tapi kau malah melakukan hal ini pada ayahku.....dasar tidak tahu malu!"
Teman-temanku?
"Kenapa kau hanya diam-"
* SWOOOSH! *
Aku tiba-tiba menghilang dari hadapan mereka dan membuat mereka semua sangat terkejut, dalam sepersekian detik aku sudah berada di depan sang pangeran.
"Pangeran!!!"
* JLEB!! *
Aria Scarlet sangat terkejut dan ingin melindungi sang pangeran, tapi aku sudah menancapkan pedang hitamku terlebih dahulu di tubuh wanita itu hingga tembus sampai punggungnya.
Sang pangeran melompat mundur untuk menjaga jarak, dia kemudian mencabut pedangnya yang terpasang di pinggangnya dengan cepat dan ingin menyerangku.
* TAP! *
Aku menggenggam wajahnya terlebih dahulu dengan kasar, lalu membantingnya ke tanah dengan keras hingga aku bisa mendengar suara tulang tubuhnya yang patah.
Pedang milik sang pangeran terlempar ke atas karena kejadian yang sangat tiba-tiba itu, aku mengambilnya dengan cepat lalu memutarnya di udara sebelum menancapkannya ke punggung sang pangeran.
* JLEB!! *
"Aaaarrgh!"
Pedang tertancap dengan sempurna di punggung sang pangeran dan membuatnya berteriak histeris, bukan hanya sang pangeran yang berteriak histeris tapi juga sang putri.
"Kakak!" teriaknya.
Aria Scarlet telah mati, begitupun dengan sang pangeran yang tengah sekarat dan menunggu kematian menjemputnya.
__ADS_1
Aku berjalan dengan pelan sambil mencabut pedang yang menancap di punggung sang pangeran untuk menghampiri sang putri yang diam tak bergeming.
Tempat itu sangat hening, hanya ada suara pedang berlumuran darah yang aku seret di tanah sambil berjalan mendekati sang putri yang tidak berdaya.
Setelah sampai di depan sang putri, aku langsung memegang dagunya dengan kasar lalu mengangkat wajahnya yang tertunduk tak berdaya itu hingga mendekati wajahku.
Aku bisa melihat kecantikan sang putri yang tiada tara itu ketika wajah kami berdekatan, tapi aku sama sekali tidak tertarik.
"Seharusnya kau tidak pernah datang ke tempat ini...." kataku dengan dingin.
Mata sang putri telah kehilangan cahaya kehidupannya, dia pasti terkena serangan mental yang sangat besar karena kejadian ini.
Yah......lagipula aku juga tidak peduli.....
Aku juga melirik Raja Laurence yang juga tampak tidak berdaya dan kehilangan cahaya kehidupannya.
Kemudian aku tersenyum, "Dasar boneka yang bodoh." ujarku.
Mengangkat pedang di tanganku dengan tinggi-tinggi, aku ingin mengakhiri hidup kedua ayah dan putri itu secara bersamaan dengan satu serangan.
Tapi Raja Laurence tiba-tiba bergumam, "Aku menyerahkan semua jiwa dan ragaku untukmu....."
Aku tidak tahu apa yang dia maksud, tapi yang jelas kata-kata itu tidak ditujukan kepadaku.
{Bocah waspadalah......seseorang akan datang.....}
Zetton terdengar sangat serius.
Bersamaan dengan itu simbol matahari tiba-tiba muncul di dada bidang Raja Laurence, matanya juga bersinar terang dengan simbol matahari.
'Tidak salah lagi, Dewi Cahaya akan datang ke sini!'
* BOOOOOOOM! *
Ledakan aura yang sangat besar terjadi di tempat itu dengan Raja Laurence sebagai pusatnya dan membuat langit yang awalnya gelap menjadi terang kembali.
Perlahan tapi pasti sesosok wanita mulai terbentuk dari kumpulan aura cahaya yang menyilaukan nan suci itu.
Aku ingin menjaga jarak karena kekuatan suci miliknya yang sangat besar, tapi sebuah rantai emas tiba-tiba mengekang tubuhku. Rantai itu bukan hanya mengekang tubuhku melainkan menyerap kekuatan kegelapanku.
Bukan hanya aku yang dikekang oleh rantai itu, tapi juga Riona.
{Bocah~~}
Aku tidak bisa mendengar suara Zetton lagi di benakku.
Wanita itu, atau bisa aku bilang Dewi Cahaya, dia menatapku dengan penuh intimidasi.
Padahal aku yakin dia bisa membunuhku langsung dan mengirimku ke neraka tingkat 9, tapi anehnya dia tidak melakukannya melainkan hanya menatapku dengan tatapan aneh yang tidak bisa aku mengerti.
"River!!!"
Aku mendengar suara seseorang yang meneriakkan namaku, mengalihkan pandanganku dengan susah payah, aku melihat Finley yang tampak sangat berbeda dari biasanya.
Finley kemudian mengalihkan pandangannya kearah Dewi Cahaya.
"Kumohon hentikan itu, Ibu!" teriaknya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 49 : 1285 kata~...
__ADS_1