DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 46: Musim Semi Leon


__ADS_3

"Apa kalian semua baik-baik saja?" tanya Aria Scarlet setelah melihat ekspresi tertegun para warga dan siswa yang melihat hal itu.


"K-Kami baik-baik saja Nona Scarlet." ujar Finley mewakili semua orang dengan gugup.


Namun tiba-tiba ada seseorang yang mendorong Finley hingga terjatuh ke tanah. Orang yang mendorong Finley adalah Henry yang langsung bergegas setelah melihat kedatangan kepala akademi.


"Untungnya anda datang tepat waktu, Nona Scarlet. Saya tidak tahu hal buruk apa yang akan terjadi jika anda tidak datang..." kata Henry sambil menundukkan kepalanya di hadapan Aria.


Alexa membantu Finley berdiri dan tidak terima dengan perlakuan kasar Henry.


"Henry, apa apaan kau!" kata Alexa kesal.


Finley memegang tangan Alexa untuk menahannya berbuat yang tidak-tidak di hadapan Arie Scarlet.


"Tidak usah dipikirkan Alexa...." kata Finley lirih dengan lutut yang terluka.


Henry menatap Alexa, Finley, dan semua orang dengan tatapan sombong sambil menyeringai, "Ini semua salah kalian yang tidak mematuhi perintahku dan membuat para warga bertarung sendiri melawan musuh, apa kalian tidak tahu malu!?" teriaknya.


Henry menuduh Finley, Leon, Leyn, Alexa, dan adiknya sendiri, Asher dengan begitu jelas.


Dia ingin melimpahkan semua kesalahannya kepada orang lain dan memfitnah mereka dengan buruk agar mendapatkan hukuman dari kepala akademi Aria.


"Dan kalian para siswa akademi Nethilor, apakah kalian begitu tidak tahu malunya sampai tidak berani menghadapi musuh di garis depan? Dasar menyedihkan...." lanjut Henry yang kali ini memfitnah semua siswa.


Wajah tidak senang terlihat dari para warga dan semua siswa termasuk Finley dan kawan-kawan.


Sejak awal Henry sudah mengatakan jika siswa akademi tidak akan diperintahkan bertarung dan hanya bertugas untuk mengevakuasi warga, oleh sebab itu mereka tidak ingin bertarung.


Yah... Walaupun sebagian besar dari mereka memiliki ketakutan dalam pertarungan yang sebenarnya dan memungkinkan mereka untuk kehilangan nyawa.


"I-Itu tidak benar! Kau sendiri yang -"


"Diam!"


Salah satu siswa ingin memprotes, tapi Henry langsung membentaknya dan menyuruhnya untuk diam. Dia tidak ingin seorangpun memberi tahu kejadian yang sebenarnya.


"Dasar orang sialan...." ujar Leon sambil menggulung lengan bajunya dan menghajar Henry.


Tapi Alexa langsung mencegahnya.


"Kenapa kau mencegahku? Kita tidak bisa membiarkannya memfitnah kita semaunya." kata Leon tidak terima.


"Lihat saja apa yang akan terjadi selanjutnya..." ujar Alexa misterius.


Leon tampak mengerti, dia kemudian mengalihkan pandangannya kearah Henry yang masih mengoceh dan terus memfitnah orang lain.


Dia adalah seorang ketua Osis, jadi Henry yakin jika Aria Scarlet akan mempercayainya.


TAP!


Aria menepuk pundak Henry dan bertanya, "Apakah kau sudah selesai?"


Suaranya terdengar dingin, tapi Henry tidak merasa ada yang aneh.


"Sudah Nona, jadi sekarang silakan berikan mereka hukuman yang setimpal." kata Henry dengan percaya diri.


"Tentu saja aku akan melakukannya, tapi hanya ada satu orang yang ingin aku hukum di tempat ini..." balas Aria tersenyum dingin.


"Hah? Siapa-"


CRASSH!


"Aaaarrgh!!!"


Sebelum Henry menyelesaikan kalimatnya, Aria sudah menebas kedua kakinya terlebih dahulu menggunakan sihir angin hingga putus dengan sempurna, Henry berteriak kesakitan dengan tubuhnya yang langsung terjatuh ke tanah.


"K-Kenapa, Nona...." kata Henry lirih.


Aria menatap Henry dengan tatapan dingin dan menjijikkan lalu berkata, "Seharusnya kau tahu jika berbohong di depanku itu tidak akan berguna...."

__ADS_1


Sekarang Henry mulai menyadarinya jika Aria Scarlet mempunyai mata spesial yang bisa mendeteksi kebohongan, dan dia baru saja berbohong di depannya berkali-kali? Sungguh bodoh sekali....


"M-Maafkan saya nona.... Saya tidak akan mengulangi -"


CRASSH!


CRASSH!


"Aaaarrgh!!"


Henry ingin meminta maaf, tapi Aria memotong kedua tangannya setelah memotong kedua kakinya dan membuat Henry kembali berteriak histeris.


"Kau masih berniat untuk meminta maaf setelah semua yang telah kau lakukan? Sungguh memalukan, matilah di tempat ini dengan perlahan...." ujar Aria sambil menatap Henry bagaikan menatap seonggok sampah.


Wanita sadis itu kemudian kembali mengubah ekspresi wajahnya menjadi ramah dan menatap pangeran Alexander dan putri Arcadia dengan mata ceria.


"Maaf atas kejadian barusan, itu pasti sangat mengagetkan pangeran dan putri." kata Aria.


Pangeran Alexander dan putri Arcadia masih memiliki ekspresi terkejut dan sangat tidak menyangka jika wanita cantik, ramah, dan baik seperti Aria Scarlet bisa menjadi sekejam itu.


Tapi mereka berdua tidak terlalu memikirkannya karena yang terpenting sekarang adalah mengevakuasi warga ke tempat yang lebih aman.


Semua orang masih tertegun dengan kejadian tadi termasuk Finley dam kawan-kawan, tapi pangeran Alexander langsung menenangkan mereka.


"Maaf atas kejadian yang tadi, sekarang kalian tidak perlu khawatir lagi dengan orang seperti itu." kata pangeran Alexander, lalu melanjutkan, "Gelombang Monster di sebelah Utara ibukota telah dibersihkan, kalian akan mengungsi ke kerajaan tetangga terlebih dahulu sebelum situasi di ibukota ini membaik."


Semua warga setuju, mereka kemudian berbondong bondong berjalan menuju sebelah Utara ibukota yang katanya sudah bersih dari gelombang monster.


Disana ada beberapa ksatria yang akan mengawal mereka untuk mengungsi ke kerajaan tetangga.


Para siswa juga disuruh mengungsi karena situasi ini bukanlah situasi sembarangan melihat sinar mengerikan yang terpancar ke langit. Tapi Finley, Leon, Leyn, Asher, dan Alexa masih tidak ingin pergi dari sana.


"Kenapa kalian tidak ingin mengungsi?" tanya Aria.


"Teman kami masih ada di sana." kata Finley sambil menunjuk kearah sinar misterius itu.


Aria mengerutkan keningnya, "Teman kalian? Siapa dia?" tanyanya.


"Ahhh...... Siswa itu ya....." gumam Aria Scarlet tampak sedikit tertarik.


"Apa anda mengenalnya?" tanya Finley sedikit kebingungan.


"Memangnya siapa yang tidak mengenalnya?" balas Aria secara misterius.


"Aku tahu kekhawatiran kalian mengenai teman kalian, tapi bukan berarti kalian harus melakukan sesuatu yang beresiko untuk menyelamatkannya. Kalian mengungsilah terlebih dahulu, untuk urusan teman kalian biar para ksatria yang menyelamatkannya."


Pangeran Alexander masuk dalam percakapan dan memberikan saran yang terbaik. Tapi Finley dan yang lainnya masih khawatir akan keselamatan River.


"Kami tidak bisa meninggalkannya sendirian di sini karena kami adalah teman, tidak ada teman yang meninggalkan temannya ketika sedang dalam kesusahan." kata Leon tegas.


Semua orang menganggukkan kepalanya termasuk Asher.


'Bagaimanapun River adalah teman pertamaku, aku tidak keberatan jika dia membalas dendam atas semua hal yang telah aku lakukan kepadanya. Sejujurnya aku ingin dia balas dendam kepadaku, jika dia tidak melakukan hal itu maka aku tidak akan pernah bisa hidup dengan tenang....' batin Asher.


Tampaknya dia sudah menyadari kesalahannya selama ini dan berusaha untuk insyaf. Asher juga tidak peduli dengan kematian kakaknya karena itu memang hasil dari perbuatannya sendiri.


"Tapi tetap saja kalian tidak boleh mengorbankan diri kalian."


Kali ini Arcadia yang berbicara setelah hanya diam sedari tadi.


Leon ingin memprotes gadis itu, tapi gadis itu sudah mendekatkan wajahnya terlebih dahulu kepada wajah Leon.


"Bagaimana jika kalian hanya menjadi beban untuknya? Bukannya membantu yang ada kalian malah merepotkannya." ujar putri Arcadia.


Karena wajah mereka berdua yang sangat berdekatan membuat Leon bisa melihat kecantikan gadis itu yang sebenarnya dan membuat pipi Leon menjadi merah merona.


Putri Arcadia kembali ke posisinya semula dan menatap mata Leon dalam-dalam.


"Aku tahu kalian khawatir dengan keselamatan teman kalian, tapi setidaknya hargai juga nyawa kalian agar tidak membuat orang yang menyayangi kalian menjadi sedih. Aku dan Kak Alex juga merasakan hal yang sama dengan kalian, ayah kami sedang bertarung sendirian di luar sana, kami sangat khawatir, tapi kami harus tetap kuat untuk menuntun para warga ke tempat yang selamat...." kata Arcadia sedih.

__ADS_1


Melihat putri Arcadia yang sedih, Leon juga menjadi prihatin.


"Maaf atas keegoisan kami.... Anda ada benarnya juga putri." kata Leon.


Putri Arcadia tersenyum lembut, "Kami harus memimpin para ksatria, jadi kami tidak bisa tinggal berlama-lama disini. Semoga kita bisa bertemu lagi...."


"A-Aku juga berharap kita berdua bisa bertemu kembali." balas Leon dengan gugup.


Arcadia sedikit tertawa, "Maksudku bukan hanya kita berdua, tapi semua orang."


"Ah, benar, kita semua pasti akan bertemu kembali. Itu pasti, kita pasti akan hidup sampai kiamat membunuh kita."


"Kurasa kau sedikit berlebihan.... Tapi tidak masalah."


Setelah pembicaraan yang lumayan panjang itu, Aria Scarlet membawa pangeran Alexander dan putri Arcadia terbang ke langit untuk memberi perintah kepada para ksatria.


Sementara Finley dan yang lainnya harus pergi ke pengungsian, tapi sebelum itu Leon berteriak kearah Arcadia yang sudah terbang jauh di langit terlebih dahulu.


"Ngomong-ngomong namaku Leon Nereida! Ingat itu!" teriak Leon.


"Dia sudah pergi jauh, jadi dia tidak akan mendengarmu dasar bodoh." balas Leyn risih dengan perubahan sikap kakaknya.


"Ayo pergi." ajak Alexa.


Semua orang beranjak pergi, tapi tidak dengan Finley yang masih khawatir dengan keadaan River. Bukan hanya khawatir dengan keselamatan River, Finley juga merasa ada seseorang yang memanggil namanya.


"Kenapa kau hanya diam hanya, Finley?" tanya Alexa.


"Maaf, tapi aku harus pergi." kata Finley lalu berlari kearah sumber cahaya.


"Oi! Kemana kau mau pergi!?" Leon berteriak, tapi diabaikan begitu saja oleh Finley.


...


...


...


Sementara itu di atas langit ibukota, terlihat Aria yang terbang bersama dengan pangeran Alexander dan putri Arcadia di sampingnya yang juga terbang karena Aria sudah menggunakan sihirnya kepada mereka.


"Leon Nereida, aku akan mengingat nama itu...." gumam putri Arcadia sambil tersenyum.


"Apa kau mengatakan sesuatu, adikku?" tanya Alexander.


Suara angin disana terlalu berisik untuk mendengar gumaman seorang gadis.


"Bukan apa apa." balas Arcadia sambil tersenyum.


"Kau terlihat lebih ceria sekarang."


"Benarkah itu?"


"Tentu, kau baru saja tersenyum tadi."


Arcadia juga tidak tahu perasaan apa yang dia rasakan saat ini, tapi dia menggelengkan untuk fokus dengan tujuannya sekarang yaitu memberi perintah kepada para ksatria dan prajurit.


...****************...


Hai, Author disini 👋


Aku rasa ngak adil kalo semua ceweknya di borong sama MC, jadi aku mau kasih satu cewek ke temennya juga dong biar ngak jomblo wkwkw


Ngomong-ngomong karena novel ini UP 2 chp sehari (walau ada yang bolong) pasti ada banyak kesalahan penulisan atau typo, jadi tolong bantu Author untuk memperbaiki typo itu dengan cara komentar paragraf 👍


Anyway, Thank you for reading this novel ♥️


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...

__ADS_1


...~Chp 46 : 1554 kata~...


__ADS_2