
...[๐๐ค๐ง๐ข๐๐ก ๐๐๐]...
๐๐จ๐ฉ๐๐ฃ๐ ๐๐๐ง๐๐๐๐๐ฃ ๐๐๐๐ฉ๐ค๐ง๐๐
"Ayah, apa kau serius ingin turun tangan langsung ke pertempuran ini?" tanya seorang pria tampan berambut emas kepada Raja Laurence.
Pria itu adalah pangeran kerajaan Victoria sekaligus seorang putra mahkota, dia memiliki ketampanan tiada tara dengan rambut emasnya yang terlihat sangat indah dan gagah.
Namanya adalah pangeran Alexander yang telah berumur kurang lebih 19 tahun dan merupakan lulusan terbaik dari akademi Nethilor.
Sementara di sampingnya terlihat seorang gadis berambut emas dengan mata yang berkilauan layaknya permata, dia adalah anak bungsu dari Raja Laurence yang bernama Arcadia.
Arcadia adalah seorang gadis yang berusia sekitar 15 tahun, tapi dia tidak masuk akademi Nethilor karena alasan khusus....
"Ayah, tetaplah disini..." ujar Arcadia.
Raja Laurence melirik kedua anaknya tersebut dengan tatapan penuh penyesalan, "Maafkan ayah anakku, tapi ayah harus turun tangan langsung demi keselamatan kerajaan ini ... ayah tidak ingin kejadian 10 tahun lalu terulang lagi..."
Alexander menggelengkan kepalanya, "Tidak ayah, kematian ibu bukan salah ayah...."
"Itu benar ayah, jangan selalu menyalahkan diri ayah karena sesuatu yang tidak ayah perbuat." sambung Arcadia.
10 tahun lalu, istri satu-satunya Raja Laurence atau Ratu kerajaan Victoria meninggal dunia karena gelombang monster yang menyerang ibukota.
Saat tragedi itu terjadi sang Ratu sedang berada di luar istana karena beberapa urusan penting, jadi dia ikut menjadi korban keganasan para monster karena Raja Laurence terlambat menyelamatkannya.
Sejak saat itu Raja Laurence selalu menyalahkan dirinya sendiri atas kematian sang istri.
"Ini bukan masalah itu. Tapi ayah memang harus turun tangan langsung untuk mempertahankan kerajaan dan para rakyat yang sedang berlindung di Shelter. Ayah tidak ingin ada seseorang yang merasa kehilangan sama seperti ayah dulu...." kata Raja Laurence.
Walau sudah dibujuk oleh kedua anaknya, Raja Laurence mengabaikannya dan mengambil sebuah pedang berwarna emas bersama dengan armor lengkap yang juga berwarna emas.
Raja Laurence ingin pergi, tapi dia sebelum itu dia mendekati kedua anaknya terlebih dahulu dan sedikit berlutut untuk menyelaraskan tinggi badannya.
"Alexander, kau adalah pria yang baik dan bijak. Ayah yakin kau bisa mengambil keputusan yang terbaik demi kerajaan ini. Jadi jika sesuatu terjadi kepada ayah atau ayah tidak kembali dari medan perang, ayah ingin kau memimpin kerajaan ini demi ayah..." kata Raja Laurence dengan tatapan lembut.
Setelah itu Raja Laurence beralih ke anak gadisnya dan berkata, "Arcadia, tidak peduli apapun kekuranganmu tetaplah jadi dirimu sendiri. Ayah yakin suatu saat kau akan menggapai mimpimu."
"Ayah....." gumam Arcadia sambil meneteskan air matanya.
Raja Laurence kembali beralih ke putranya setelah mengusap air mata putrinya dan berkata, "Alexander, berjanjilah kepada ayah bahwa kau akan terus melindungi kerajaan dan adikmu apapun yang terjadi."
"Aku berjanji ayah." balas Alexander berusaha bersikap tegas.
Sebagai seorang laki-laki dan putra mahkota, Alexander tidak ingin terlihat lemah.
"Kalau begitu ayah pergi dulu." kata Raja Laurence berbalik pergi sementara kedua anaknya hanya bisa mengangguk pasrah.
Situasi kerajaan sekarang sangat darurat. Awalnya gelombang monster hanya terjadi di sebelah Utara ibukota karena memang di sanalah letak hutan monster.
Tapi sekarang 3 gelombang monster juga terlihat di sebelah Selatan, Barat, dan Timur ibukota secara bersamaan dan sangat tiba-tiba.
Semua pasukan kerajaan Victoria berhamburan tidak jelas karena tidak siap dengan dengan kedatangan gelombang monster yang sangat tiba-tiba ini.
'Aku tidak akan pernah melepaskan orang yang menjadi dalang gelombang monster 10 tahun lalu, aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri dan membalaskan dendam istriku!' batin Raja Laurence dengan tatapan tajam.
...--------------------------------...
__ADS_1
...[๐๐๐ซ๐๐ง ๐ผ๐๐๐๐จ๐ค๐ฃ ๐๐๐]...
Situasi menjadi semakin buruk setelah mendengar kabar tentang gelombang monster yang terjadi di 3 penjuru ibukota lainnya.
Mereka datang terlalu tiba-tiba membuat semua pasukan tidak siap akan situasi ini, terlebih lagi gelombang monster kedua mulai terlihat dari bagian terdalam hutan monster membuat ibukota terkepung dari 4 arah.
Tidak ada jalan keluar untuk mengevakuasi warga karena sekeliling ibukota sudah didominasi sepenuhnya oleh para monster.
Melihat para ksatria yang terlihat sangat panik dan tampak sangat putus asa dengan situasi yang sedang terjadi saat ini, aku merasa mereka sudah tidak ada harapan lagi.
'Sepertinya pewaris Demon Ancestor Laplace tidak ada di sebelah sini ... lebih baik aku periksa di tempat lain.' batinku.
ใDark God Magic : Entering the Soul!ใ
Aku menggunakan sihir tingkat tinggi untuk merasuki ksatria yang aku diami saat ini.
Ksatria itu tiba-tiba terjatuh dan pingsan, membuat semua orang yang melihatnya menjadi kebingungan termasuk sang jendral.
Ksatria itu kemudian kembali bangkit, tapi itu bukan dirinya yang dulu melainkan akulah yang sedang merasukinya.
Jika kau bertanya apa yang terjadi dengan jiwa ksatria itu, maka jawabannya adalah mati...
"Hei, kau baik-baik saja?" tanya salah seorang ksatria.
Aku tidak memperdulikannya melainkan hanya mengalihkan pandanganku kearah Barat ibukota, tempat dimana gelombang monster kedua muncul.
Aku kemudian melompat turun dari dinding dan berlari sambil melompat dari satu atap ke atap rumah lainnya.
"Hei kemana kau pergi!? Kembalilah atau kau akan dicap sebagai pengkhianat." teriak sang jendral tapi aku mengabaikannya.
Sembari berlari dan melompat di atas atap, aku melihat situasi ibukota yang aku lalui saat ini.
Dengan begini, aku bisa bertarung melawan musuh dengan bebas-
{Bocah awas!!!}
* *SWIING!! * SLASH*!! *
* CRASSH! *
"Eh?"
Aku sangat tertegun ketika sebuah serangan secepat kilat tiba-tiba memenggal kepalaku.
Tapi untungnya ini bukanlah tubuh asliku, jadi aku bisa kembali ke tubuh asliku yang masih berwujud sebuah bayangan sebelum jiwaku benar-benar terbunuh.
Aku yang sudah kembali ke wujud bayanganku langsung pergi bersembunyi di balik sebuah rumah besar dan mengintip seseorang yang menyerangku dengan begitu ganasnya.
Rambut hitam pekat tergerai dengan indah ketika dia mengangkat pedang besarnya setelah memenggal kepala ksatria itu, tatapannya matanya yang indah terlihat sangat suram ketika dia menatap mayat tanpa kepala itu tanpa perasaan.
"Ara? Kau berhasil lari ya?"
Suaranya sangat indah, tapi bukan waktunya untuk mengaguminya karena dia baru saja menemukan tempat persembunyianku!
Bersamaan dengan itu wujud bayanganku telah menghilang dan mengembalikanku ke wujud fisikku karena durasi sihir Dark Camouflage telah berakhir.
'Zetton, apa dia adalah pewaris Demon Ancestor Laplace?' tanyaku kepada Zetton.
__ADS_1
{Tidak salah lagi, dialah orangnya! Terlebih lagi apa-apaan kekuatannya barusan? Dia sudah melampaui Demon Ancestor Laplace!}
Zetton terdengar sangat terkejut. Jika memang Zetton berkata seperti itu, maka itu itu memang benar adanya...
'Sial! Melawan musuh sekuat ini padahal aku baru menjadi pewaris Dewa Kegelapan selama beberapa bulan, apa kau bercanda!?'
{Tenang saja bocah, jika Dewa Kegelapan bisa membunuh Laplace maka kau juga pasti bisa melakukannya.}
Apa kau serius? Kau baru saja membandingkan aku dengan seorang Dewa? Aku ini hanyalah seorang remaja yang seharusnya menikmati masa masa pubertas yang menyenangkan....
Tapi setelah dipikir-pikir perkataan Zetton memang benar, sebelumnya dia begitu waspada kepadaku padahal sudah mempunyai kekuatan yang sangat besar.
Pasti ada alasan dia begitu waspada terhadapku.
Sebelumnya aku berhasil diserang karena berada di tubuh orang lain, jadi kekuatanku tidaklah maksimal. Dengan berada di tubuhku sendiri mungkin saja aku bisa menghadapinya dengan lebih maksimal.
Aku yakin itu....
Aku kembali mengintip kearah wanita itu, tapi bersamaan dengan itu-
"Hai!"
Dia tiba-tiba berada di depan wajahku!
Sontak aku mendaratkan tendangan mematikan kearahnya karena refleks. Tapi ketika tendanganku itu mengenainya, tubuhnya tiba-tiba berubah menjadi kabut hitam.
'Dibelakang!' batinku.
Aku mengeluarkan pedang hitam milik Master dari cincin ruangku dan langsung menebas kearah belakang, tempat dimana wanita itu berada.
* TING! *
Dia menangkis tebasanku menggunakan pedang besarnya dan membuat percikan bunga api yang cukup besar dan intens.
"Pedang Dewa Kegelapan, terlihat cukup indah." gumamnya.
"Tch! Rasakan ini!"
ใDark God Sword Technique : Fourth Technique : Darkness Explosion Waveใ
ใDemon Ancestor Sword Technique : Fourth Technique : Demon Counter!ใ
* SWOOOSH! *
* DUUUUAAAARRR!!! *
Teknik berpedang kami saling berbenturan dengan sangat dahsyat dan membuat ledakan yang sangat besar hingga menghancurkan rumah dan sekelilingnya hingga menjadi abu.
Saking dahsyatnya serangan kami berdua sampai sampai membuat dataran berguncang dengan hebat dan merobohkan beberapa rumah yang terletak cukup jauh dari kami.
Untungnya Shelter terletak sangat jauh dari tempat kami bangunannya juga sangat kokoh karena terbuat dari logam khusus, jadi aku tidak khawatir dengan keselamatan orang-orang disana.
Tapi walaupun begitu bertarung di tempat ini sepertinya terlalu beresiko....
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
...๐ฟ๐๐๐, ๐๐๐ก๐, ๐ด๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐ ๐ด๐ข๐ก๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐๐ฆ๐...
__ADS_1
...~Chp 42 : 1262 kata~...