
"Maaf karena melupakannya. Biar aku perkenalkan dia, gadis ini bernama Finley Belle, temanku." kataku memperkenalkan Finley.
"Hai Finley! Namaku Leon Nereida, salam kenal!" kata Leon dengan penuh semangat.
Leon melirik Leyn yang masih menatap Finley dengan tatapan permusuhan dan sedikit menyenggolnya.
"Hei, perkenalkanlah dirimu pada teman baru kita." bisik Leon.
"Aku tahu. Namaku Leyn Nereida, salam kenal Finley." kata Leyn memperkenalkan dirinya, tapi belum menghilangkan tatapan permusuhannya.
"Apa kalian benar-benar hanya seorang teman?" lanjut Leyn.
"Setidaknya untuk sekarang." balas Finley sedikit berani.
Leyn menyipitkan matanya, "Jadi maksudmu mungkin saja hubungan kalian akan berkembang?"
Finley mengangguk.
"Jadi sekarang sainganku ada dua orang ya.... Tapi tidak masalah, aku pasti akan menang siapapun lawanku itu." kata Leyn dengan penuh semangat.
Aku tidak tahu apa yang barusan dia maksud, tapi sepertinya itu akan merepotkan.
Kami kemudian mengobrol banyak hal sampai lupa waktu, itu wajar mengingat kami yang sudah berpisah selama kurang lebih 5 tahun.
Ternyata petualangan Leon dan Leyn untuk sampai di ibukota kerajaan Victoria tidaklah semudah yang aku bayangkan.
Keluarga mereka tidak punya cukup uang untuk menyewa seorang petualang kuat sebagai pengawal ataupun kereta yang langsung menuju ibukota.
Jadi mau tidak mau mereka hanya bisa menumpang gerbong kereta yang mengangkut barang dagangan hasil produksi dari desa Lumise yang hanya dijaga oleh beberapa orang petualang tingkat rendah.
Perjalanan tidak berjalan dengan mulus karena banyaknya monster yang menyerang kereta mereka, mereka juga tidak bisa tidur dengan nyenyak ketika malam hari karena selalu waspada dengan serbuan monster.
Mereka hanya bisa beristirahat dengan tenang setelah memasuki kota yang menjadi tujuan kereta yang mereka tumpangi.
Mereka telah melalui banyak sekali petualangan berbahaya dan memasuki berbagai kota yang ada di kerajaan ini.
Pada akhirnya mereka berhasil sampai di ibukota ini dalam total waktu 5 bulan semenjak keberangkatan mereka.
"Untungnya pada saat di perjalanan itu, kami sempat dilatih oleh paman petualang menggunakan sihir, pedang, dan seni bela diri. Jadi kami tidak terlalu kesusahan saat ujian masuk akademi, tapi kami sedikit buruk di bidang ujian lisan karena tidak pernah belajar." kata Leon sambil menggaruk belakang kepalanya.
"Kami? Kau saja yang tidak belajar. Aku sebelumnya sudah belajar di perpustakaan ibukota, jadi aku percaya diri dengan hasil dari ujianku." balas Leyn mengejek Leon.
"Kenapa kau tidak mengajakku!" teriak Leon.
"Siapa suruh kau asyik berkeliaran di ibukota? Lagipula mengajak orang sepertimu belajar pasti akan merepotkan..."
__ADS_1
"Dasar.... kau harus bertanggung jawab nanti kalau hasil ujianku itu jelek." kata Leon dengan kesal.
Aku sedikit tertawa, "Kalian berdua tidak berubah ya, kalian sering bertengkar tapi juga bisa sangat kompak di situasi apapun."
Ini membuatku sedikit bernostalgia.
Dulu di desa kami memiliki banyak teman, semuanya sangat seru dan menyenangkan diajak bermain termasuk Leon dan Leyn.
Aku jadi ingat jika Leyn dan Olivia dulu sering bertengkar dan bersaing untuk bisa berada di dekatku.....
"Hm, sikap gadis kecil ini memang buruk, dia sangat suka membuat masalah terlebih lagi jika itu dengan Olivia." ujar Leon.
"Ngomong-ngomong tentang Olivia, dimana dia sekarang? tidak biasanya dia berada jauh darimu River." lanjut Leon.
"........"
Aku tidak tahu bagaimana harus menjelaskan tentang hubunganku dengan Olivia yang telah berakhir sekarang, mereka pasti akan sangat terkejut dan tidak percaya dengan apa yang aku katakan.
Leon memiringkan kepalanya karena kebingungan, "Kenapa kau hanya diam?" tanyanya.
Finley yang sejak tadi diam menghela nafas panjang melihatku yang tidak mampu menjawab.
"Hubungan River dan Olivia sudah berakhir sekarang." kata Finley yang angkat bicara.
Aku merasa tertolong karena Finley yang mendorongku untuk tidak berbohong kepada teman masa kecilku.
Sementara Leyn-
"Horee!"
Dia malah berteriak kegirangan.
Seketika semua tatapan mata menuju padanya dan membuat Leyn menjadi gugup.
"M-Maksudku, bagaimana itu bisa terjadi? Aha ha ha...." kata Leyn sambil tertawa gugup.
Aku menghela nafas panjang, dan berkata, "Ceritanya sangat panjang-"
""Pendekkan."" kata Leon dan Leyn serentak.
Mereka berdua terlihat sangat penasaran dengan yang sebenarnya terjadi diantara kita, itu wajar saja mengingat dulu aku dan Olivia selalu akur dan tidak pernah bertengkar sama sekali.
Jadi ada baiknya aku menjelaskan kepada mereka apa yang terjadi diantara kami berdua beberapa tahun lalu.
Aku mulai menjelaskan.
__ADS_1
"Sebenarnya hubungan kita sudah berakhir beberapa tahun lalu, itu karena ada rumor yang mengatakan jika aku adalah seorang pria brengsek yang suka bermain dengan banyak gadis, aku tidak tahu siapa awalnya yang menyebarkan rumor itu tapi yang pasti hubungan kita berakhir karena hal itu." kataku.
Leon tampak tidak percaya, "Itu terdengar tidak masuk akal jika Olivia meninggalkanmu hanya karena rumor yang tak berdasar itu. Maksudku, apakah dia tidak berusaha menyelidiki rumor itu terlebih dahulu?"
"Aku tidak tahu, tapi mungkin saja rumor itu hanya alasan semata untuk meninggalkanku...." balasku.
"Apa maksudmu."
Leyn mulai memasuki pembicaraan, dia tampak lebih serius ketika tahu jika masalah ini bukanlah masalah kecil atau sekedar candaan semata.
Aku menjawab, "Sebenarnya kehidupanku di akademi ini tidak berjalan dengan lancar karena aku sangatlah lemah sebelumnya, aku juga menjadi target bully dari siswa lain saat itu. Jadi dia pasti menggunakan rumor itu untuk mengakhiri hubungan kami dan mencari seorang pria yang jauh lebih baik dan kuat."
"Itu mustahil...." gumam Leyn.
Aku adalah sosok sempurna dulu ketika di desa, aku bisa menjadi pemimpin yang baik dan pintar bagi anak-anak lainnya, jadi banyak yang mengagumi diriku.
Tapi aku malah mendapatkan bullyan di tempat ini, jadi wajar jika Leon dan Leyn sangat terkejut dan tidak percaya.
"Lupakan tentang itu, ayo kita bicarakan hal ini baik-baik dengan Olivia-"
"Lupakan saja Leon, aku juga sudah tidak peduli dengannya."
Aku memotong perkataan Leon yang ingin menyarankanku untuk berbaikan dengan Olivia, setelah kejadian sebelumnya aku tahu jika berbaikan kembali itu tidak mungkin lagi.
Dia sudah bukan Olivia yang aku kenal dulu, begitupun dengan diriku yang bukan River dahulu kala. Kami sudah menjadi orang yang berbeda dan tidak dapat kembali bersama lagi.
Leon menundukkan kepalanya sambil mengigit bibirnya, "Aku tidak ingin kebersamaan dan pertemanan yang sudah kita bangun bersama-sama hancur begitu saja di tempat ini." kata Leon dengan lirih.
"Lalu apa yang ingin kau lakukan?" tanyaku.
Leon mengalihkan pandangannya dan menatapku dengan tegas, "Aku akan bicara dengan Olivia, aku akan menanyakan keputusannya yang sebenarnya! apakah dia benar-benar serius dengan keputusannya atau dia hanya memaksakan dirinya, aku akan menanyakan itu semua!"
Leon memang orang yang baik, tapi kebaikan saja tidak akan berguna di tempat ini jika tidak dibarengi dengan akal sehat.
"Lakukan apapun yang kau inginkan, tapi jangan bawa namaku ketika berbicara dengannya." balasku datar.
"Terima kasih banyak!" balas Leon lalu pergi untuk menemui Olivia.
"Apa dia tahu dimana Olivia berada?" tanya Finley.
"Entahlah." balasku.
"Punya kakak yang bodoh itu menyusahkan ya....." gumam Leyn.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 31 : 1091 kata~...