
...[𝙍𝙞𝙫𝙚𝙧 𝘼𝙙𝙙𝙚𝙨𝙤𝙣 𝙋𝙊𝙑]...
Beberapa hari telah berlalu dan tahun ajaran baru di akademi kembali dimulai. Leon, Leyn, dan Finley memulai hari barunya di kelas baru mereka, yaitu kelas 3-A.
Sementara aku juga memulai hari baru di kelasku yang baru, yaitu kelas 1-A yang merupakan kelas paling tertinggi.
Ngomong-ngomong rangking atau peringkatku juga naik pesat berkat ujian akhir sebelumnya, dari yang awalnya peringkat terendah naik ke peringkat sepuluh besar yaitu peringkat ke-3.
Tentu saja hal ini membuat heboh seluruh akademi, dan perlahan-lahan sikap orang-orang kepadaku mulai berubah tapi aku tidak terlalu menghiraukannya.
Aku sudah tidak peduli lagi dengan pandangan orang-orang kepadaku.....
Setelah berjalan di lorong akademi selama beberapa saat, akhirnya aku tiba di kelas baruku.
Perlahan tapi pasti aku membuka pintu kelas itu untuk masuk, bersamaan dengan itu seisi kelas yang awalnya ribut langsung hening seketika.
Semua orang mengalihkan pandangannya kepadaku walaupun aku sudah membuka pintu kelas dengan perlahan seolah-olah mereka telah menunggu kedatanganku.
"Hei, bukankah itu orang yang akhir-akhir ini sering dibicarakan?"
"Itu benar, aku dengar dia mendapatkan rangking 3 dari yang awalnya rangking terendah."
"Apakah kepala akademi melakukan kesalahan?"
Itulah bisik-bisik yang terdengar, tapi aku menghiraukan mereka.
Satu-satunya orang yang menarik perhatianku hanyalah seorang gadis cantik berambut hitam dan seorang pria berambut putih yang sangat aku kenali.
Gadis itu adalah Alexa Northern, lawan dari Olivia sebelumnya. Dan pria itu adalah Issac Ryker, mantan teman masa kecilku.
Aku tidak melihat Olivia di kelas ini, mungkin saja dia masih tetap berada di kelas 1-B tanpa perkembangan, kasihan sekali.....
Yah, aku tidak berniat membantunya sih.
Aku memilih duduk di bangku paling belakang, tak lama kemudian seorang wanita cantik datang memasuki kelas kami.
Dilihat dari penampilannya maka dia adalah salah satu guru akademi, lebih tepatnya dia adalah wali kelas kami.
"Selamat pagi semuanya." sapa guru wanita itu.
""Pagi bu."" balas para siswa tapi tidak termasuk diriku.
Sekilas aku bisa melihat tatapan guru itu mengarah kepadaku.
"Mungkin sebagian dari kalian belum mengenalku disini, jadi biarkan aku memperkenalkan diri terlebih dahulu sebagai wali kelas kalian. Namaku Ariella Rutherford, kalian bisa memanggil Guru Ariel atau Mis Ariel agar terdengar lebih dekat, untuk status kebangsawananku sepertinya tidak usah aku katakan karena statusku disini hanyalah sebagai Guru. Begitupun dengan kalian yang hanyalah seorang siswa." lanjut Guru Ariel.
Aku akan memanggilnya guru Ariel saja karena aku tidak ingin terlihat lebih dekat dengannya.
Guru Ariel memiliki perawakan yang ceria dan ramah jika dilihat dari senyumnya, tapi aku tidak yakin dengan itu.....
__ADS_1
"Hah!? Kami hanyalah seorang siswa!? Jangan bercanda! Kami adalah seorang bangsawan, bangsawan yang seharusnya mendapatkan perlakuan hormat dari siapapun! Kami tidak seharusnya diperlukan setara dengan orang desa!"
Salah satu siswa berteriak dengan keras menentang perkataan guru Ariel. Dilihat dari sikap dan penampilannya, sepertinya dia adalah siswa baru sama seperti Leon dan Leyn.
Tapi bukan itu masalahnya, 'Apa dia barusan menyindirku?' batinku.
"Hei, murid baru ... apa kau baru saja menyindirku?"
Rupanya bukan hanya aku yang merasa seperti itu, tapi juga Issac. Dia bahkan langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Memangnya kenapa? Bukankah itu memang benar? Dasar orang desa...." sindir murid baru itu.
Issac berdecak kesal, "Tch! Hanya karena kau berhasil masuk ke kelas ini dengan sekali ujian, kau jadi bersikap sombong seperti ini?"
"Itu benar, aku memang jenius karena aku seorang bangsawan, tidak sepertimu dasar orang desa."
"Sepertinya aku harus mengajari bocah ini tentang sopan santun...." ujar Issac sambil menggulung lengan bajunya.
Tapi sebelum itu terjadi, Guru Ariel sudah menghentikan Issac terlebih dahulu.
"Tolong hentikan itu, Issac. Kau seharusnya bersikap lebih baik kepada murid baru, biar bu guru yang mengajari anak ini tentang sopan santun."
"Baik, Mis Ariel." balas Issac sambil duduk kembali di kursinya.
Ini sedikit mengejutkanku karena orang seperti Issac tiba-tiba saja menuruti perintah seseorang dengan patuh.
"Hah! Kau bahkan tunduk begitu saja kepada seorang wanita dasar lemah!" balas murid baru itu dengan sombong.
* SWOOOSH! *
"Eh?"
Kilatan putih melalui leher murid baru itu dengan sangat cepat, membuat murid itu sangat kebingungan.
* CRASSH! *
Darah menyembur keluar dengan deras dari leher murid baru itu yang baru saja terpotong dengan sempurna.
Seketika semua murid menjadi panik dan memegangi mulut mereka yang hampir saja mengeluarkan muntahan. Tapi itu tidak berlaku padaku, Alexa, dan Issac.
"Satu lagi murid bodoh telah mati dengan menyedihkan di kelas ini...." gumam Issac dengan dingin dan tanpa perasaan.
"Semuanya tenang!" teriak Guru Ariel yang sontak membuat semua siswa langsung terdiam.
Tatapan ramah dari Guru Ariel perlahan menjadi tatapan tajam dan haus darah.
"Aku tahu yang barusan terjadi itu sangat mengejutkan kalian, tapi perlu kalian ingat jika kami para guru kelas 1 diizinkan melakukan apapun yang kami inginkan kepada murid kami termasuk membunuhnya tidak peduli apakah itu anak bangsawan atau bukan. Jadi kalian tidak punya hak untuk mengeluh...."
Sudah kuduga guru yang satu ini bukanlah orang sembarangan.
__ADS_1
Dia sangat kuat dan cepat sehingga bisa melemparkan sebuah jarum yang dialiri oleh sihir hingga memenggal kepala seseorang.
Mungkin orang lain tidak bisa melihat serangannya itu tapi aku bisa melihatnya dengan jelas.
Bahkan sebenarnya aku bisa menangkap jarum itu sebelum mengenai murid menyedihkan itu, tapi untuk apa aku melakukannya? Dia baru saja menghinaku tadi....
Tatapan dan senyum guru Ariel kembali menjadi ramah, "Yah, aku harap kejadian yang tadi tidak menghalangi kegiatan belajar kita hari ini."
'Serius? Kita masih melanjutkan pelajaran dengan kondisi kelas seperti ini? Maksudku ada darah dan mayat yang tergeletak begitu saja di lantai.....' batinku.
Walaupun darah dan mayat itu tidak berpengaruh kepadaku, tapi melihat para siswa yang bisa muntah kapan saja membuatku sedikit risih.
Guru Ariel mulai menyadari sesuatu, "Ah ... aku baru ingat kondisi kelas kita sekarang kurang baik, sepertinya kita akan mulai pembelajaran setelah petugas kebersihan membersihkan kelas ini."
Guru Ariel mengizinkan semua siswa untuk pergi keluar karena jadwal pembelajaran tidak akan diadakan sekarang, semua siswa sontak berlari keluar karena ingin muntah.
Aku juga ingin keluar dari ruangan tapi Guru Ariel tiba-tiba menghentikanku.
"Sepertinya kau bisa mengatasi seranganku sebelumnya, benarkah itu?" kata guru Ariel tiba-tiba.
Sudah kuduga dia menyadarinya.
Aku menatapnya dengan datar, "Itu benar." jawabku.
"Aku penasaran kenapa kau tidak menyelamatkan orang bodoh itu sebelum dia mati."
"Orang seperti itu sudah sepantasnya mati." balasku masih dengan wajah datar.
Guru Ariel tersenyum manis, "Sebenarnya tujuanku menyerang murid itu adalah untuk mengujimu, apakah kau akan menyelamatkannya atau tidak, aku penasaran dengan itu. Tapi tanpa aku duga kau hanya mengabaikannya dan membiarkannya mati. Dengan kata lain kaulah yang telah membunuh murid itu, bukan aku...."
Jadi dia ingin melimpahkan semuanya kepadaku ya ... dasar wanita yang licik.
"Aku tidak peduli dengan itu, yang terpenting bagiku adalah sepertinya kau begitu mengenalku?" kataku.
"Tentu aku mengenalmu, maksudku siapa yang tidak mengenalmu di akademi ini? Berawal dari siswa lemah yang selalu di bully hingga menjadi siswa kuat yang bahkan diwaspadai oleh kepala akademi dalam beberapa hari, terlalu banyak kejanggalan yang ada pada dirimu jadi aku ingin membongkarnya." ujar Guru Ariel sambil tersenyum licik.
Dia cukup jujur.
Aku menyeringai sambil menatapnya dengan tajam, "Sebaiknya kau tidak menyelam terlalu dalam jika tidak ingin tenggelam."
Guru Ariel membalas tatapanku dengan sama tajamnya, "Aku menantikan saat-saat ketika aku tenggelam."
Kami berdua bertatapan di dalam ruang kelas yang sepi itu selama beberapa saat sebelum Guru Ariel mengalihkan pandangannya, "Yah, aku menantikan pertemuan kita selanjutnya ... sekarang aku pergi dulu karena ada urusan penting."
Dia kemudian pergi ke luar kelas sementara aku hanya menatap punggungnya dari kejauhan.
'Dia terlalu berbahaya untuk dibiarkan tetap hidup....' batinku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 34 : 1235 kata~...