DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 27: Cinta Yang Baru


__ADS_3

...[𝙁𝙞𝙣𝙡𝙚𝙮 𝘽𝙚𝙡𝙡𝙚 𝙋𝙊𝙑]...


"Ada apa dengan River akhir-akhir ini, ya....." gumamku.


Semenjak dia kembali dari hutan monster sebulan yang lalu dia jadi berbeda daripada sebelumnya, dia jadi lebih dingin dan mudah marah karena alasan sepele....


Dia sudah bukan dirinya yang dulu lagi, tapi aku tidak bisa membencinya.


Aku memang orang yang cengeng, aku mengakui itu jadi sudah wajar River tidak menyukai orang yang cengeng.


Tidak ada orang yang menyukai orang cengeng dan mudah menangis termasuk River juga.


Dia pasti merasa risih setiap kali berada di dekatku tapi dia menyembunyikannya agar tidak menyakiti perasaanku, dan kali ini dia jujur pada dirinya sendiri dan diriku.....


"Hah ... sarapan siang sendirian terasa sangat menyedihkan..." gumamku setelah menghela nafas panjang.


Saat ini aku tengah sarapan siang sendirian di taman akademi setelah ditolak oleh River.


Sarapan sendirian terasa sangat berbeda dibandingkan ketika sarapan bersamanya, ini terasa sangat hampa.


Aku hanya bisa menatap bekal makan siang yang cukup banyak itu dengan tatapan sayu, aku juga hanya mengaduk-aduk makanan itu dengan sendok karena kehilangan napsu makanku.


Tapi beberapa saat kemudian, aku melihat seseorang yang sedang kesusahan di taman akademi, dia mondar-mandir dengan panik bersama satu temannya sambil memeriksa setiap semak-semak dan bunga-bunga.


Terlebih lagi orang yang sedang kesusahan itu adalah mantan kekasih River, Olivia Briar....


'Apakah aku harus membantunya?' batinku.


...--------------------------------...


...[𝙍𝙞𝙫𝙚𝙧 𝘼𝙙𝙙𝙚𝙨𝙤𝙣 𝙋𝙊𝙑]...


Setelah bertemu dengan kepala akademi untuk kesekian kalinya, aku kembali mencari Finley untuk meminta maaf atas sikapku yang sudah berlebihan.


Tapi ketika aku pergi ke ruang kesehatan, tempat dimana kita biasanya makan siang, dia tidak ada disana.


Aku kebingungan dan mulai mencarinya di atap akademi, tapi dia juga tidak ada disana.


'Dimana dia berada sekarang....' batinku sedikit khawatir.


Tidak mungkin dia keluar akademi karena merasa sedih, kan? Itu terlalu berbahaya bagi seorang gadis yang tidak mengenal ibukota dengan baik.


Apakah dia tersesat di dalam kota? Di kota pasti ada banyak kriminal berbahaya, aku tidak tahu apakah Finley bisa selamat jika bertemu dengan mereka.


Ketika aku sedang sangat panik dan khawatir dengan keselamatan Finley, aku tiba-tiba melihat kerumunan siswa dari atas atap akademi.


Mereka berkumpul di taman akademi sedang mengerumuni sesuatu, tidak, itu adalah seseorang.


Aku sedikit aneh dengan ini, jadi aku melihat dengan baik siapa orang yang mereka kerumuni dan sangat terkejut ketika tahu jika itu adalah Finley.


Dia berlutut di tanah sambil menangis dengan rambut dan pakaian yang basah kuyup karena disiram, dan di depannya ada dua orang wanita yang sangat aku kenali.


Dia adalah Olivia dan Niselin.....


'Apa yang sebenarnya telah mereka lakukan kepada Finley!' batinku sedikit marah.


Aku turun dari atap akademi melalui tangga dan akhirnya sampai di taman akademi dalam beberapa saat.


Di sana aku mulai mendengar suara bisik-bisik para siswa.


"Berani-beraninya dia mencuri barang kesayangan Olivia..."


"Bukankah dia seharusnya meminta maaf dan mengakui kesalahannya?"


"Itu benar, tidak seharusnya dia menyangkal kesalahan yang dia perbuat....."

__ADS_1


Aku tahu sedikit situasinya dari pembicaraan siswa lainnya, tapi aku tidak percaya jika Finley mencuri barang seseorang.


Jadi aku menerobos kerumunan untuk menghampiri Finley.


Disana aku melihat Olivia yang menatap Finley dengan tajam, "Sebaiknya kau mengakui kesalahanmu." ujarnya.


"Sudah kubilang kalau aku tidak mencuri barang milikmu...."


"Memangnya apa susahnya mengakui kesalahanmu dan meminta maaf? Jika kau melakukan itu masalah ini pasti akan selesai dengan cepat."


Kali ini Niselin yang berbicara.


Finley menggigit bibirnya, dia ingin meminta maaf dan mengakui kesalahan yang tidak dia perbuat demi menyelesaikan masalah yang semakin besar ini.


"Ma-"


"Tidak usah minta maaf, Finley....." kataku memotong perkataan Finley.


Dia tampak sangat terkejut dan menoleh kebelakang, tempat dimana aku berada dengan senyum penuh harapan.


Dia kemudian menghapus air matanya dan menguatkan dirinya, dia pasti tidak ingin terlihat cengeng lagi di hadapanku.


Aku kemudian berjalan ke depan dan menyembunyikan Finley dari bullyan dua gadis itu, aku bisa melihat tatapan kebencian dari Olivia ketika aku melindungi Finley yang membuat kami terlihat dekat.


"Kenapa kau menghentikannya minta maaf? Dia baru saja mencuri barang berharga milik Olivia." ujar Niselin dengan tatapan sinis.


Aku melihat Finley yang bersembunyi di belakangku, "Apa itu benar?" tanyaku.


Finley menggelengkan kepalanya tanda dia tidak melakukannya.


"Kau lihat sendiri, kan? Dia bilang dia tidak melakukannya." kataku kepada Niselin.


"Apa! Sudah jelas-jelas kalau dia-"


Niselin ingin protes kepadaku tapi segera dipotong oleh Olivia. Olivia kemudian berdiri di depanku dengan sangat dekat.


"Lupakan tentang barangku yang dicuri. Kau ... apa hubunganmu dengan gadis ini? Kenapa kau melindunginya seperti ini?" tanya Olivia dengan tatapan menyelidik.


Aku melihat botol air di tangan Olivia, dia pasti orang yang menyiram Finley hingga basah kuyup.


"Itu bukan urusanmu. Lagipula kita sudah bukan kekasih lagi, jadi terserahku mau bersama gadis manapun...." balasku.


Tatapan mata Olivia menjadi tajam, "Apakah dia gadis dari perselingkuhanmu denganku?"


"Dia tidak ada hubungannya dengan itu."


Aku menyangkalnya, tapi tuduhannya malah semakin parah dan membuatku semakin emosi.


"Atau apakah dia salah satu gadis yang kau permainkan? Dalam hal ini maka dia adalah pemuas napsumu atau bisa dibilang, gadis pela*ur."


* BYURR! *


Aku sangat marah.


Saking marahnya sampai-sampai aku mengambil botol air di tangan Olivia dan menyiramkannya langsung ke wajahnya....


"........"


Olivia terdiam, Niselin terdiam, semua orang terdiam.


Aku melempar botol air itu ke wajahnya dan berkata, "Jaga omonganmu, Finley bukanlah gadis sepertimu."


"Kau, dasar laki-laki busuk!"


Niselin tampak sangat marah setelah perlakuanku terhadap Olivia, dia menggulung lengan bajunya dan bersiap untuk memukulku tapi Olivia menarik dirinya sebelum itu terjadi.

__ADS_1


Niselin tidak terima, "Olivia, kenapa? Tapi, dia-"


"Sudahlah Niselin....." gumam Olivia dengan wajah yang basah kuyup.


Rambutnya yang basah menutup wajahnya sehingga aku tidak bisa melihat ekspresinya.


Yah, lagipula aku sudah tidak peduli lagi dengan apa yang dia rasakan.


Aku hanya menarik tangan Finley dan mengajaknya pergi sejauh-jauhnya dari orang orang munafik itu.


Kejadian ini pasti akan menghebohkan semua orang, terlebih lagi identitas Finley sebagai orang yang dekat denganku pasti akan diketahui oleh semua orang.


Tapi aku sudah tidak peduli lagi dengan itu.


...


...


...


Aku mengajak Finley ke ruang kesehatan untuk mengeringkan tubuhnya dan pakaiannya.


Dia masih diam tidak bersuara ketika aku melepas kacamatanya dan melepas ikatan rambutnya lalu mengeringkannya dengan handuk.


"Bisa kau ceritakan apa yang sebenarnya terjadi? Kenapa kau bisa berurusan dengan mereka?" tanyaku.


Setelah terdiam beberapa saat akhirnya Finley mau menjelaskan kejadian yang sebenarnya.


"....... Aku melihat mereka sedang kesusahan ketika makan siang sendiri di taman, mereka terlihat sedang mencari sesuatu yang hilang. Awalnya aku tidak ingin membantunya tapi setelah tanpa sengaja menemukan sebuah gelang di dekat tempat dudukku, aku berpikir mungkin saja itu adalah benda yang mereka cari...."


"Jadi kau mengembalikannya tapi malah kau yang dituduh mencurinya, kan?" kataku menebak yang terjadi.


"Hm."


Finley menganggukkan kepalanya, setelah itu dia diam begitu saja tanpa ada maksud mengobrol denganku.


"Apa kau masih marah padaku?" tanyaku melihat Finley yang tidak ingin bicara denganku.


"...... Apa kau membenciku?"


Dia malah melemparkan pertanyaan aneh.


"Aku tidak bisa mengatasi masalah sebelumnya, aku hanya bisa diam dan menangis di tanah dengan menyedihkan ... apakah kau membenci itu?" lanjutnya.


"....... Aku tidak membencinya."


"Eh? Tapi sebelumnya kau bilang kau benci orang yang cengeng-"


"Aku minta maaf karena tidak memikirkan perasaanmu saat mengatakan hal itu." kataku sambil merenungkan kesalahanku.


"Aku memang membenci orang yang cengeng karena tidak bisa berusaha dan hanya bisa menangis, itu mengingatkanku pada diriku yang dulu ... tapi aku tidak membencimu." lanjutku.


"Apa itu artinya kau menyukaiku?"


Pipi Finley memerah saat mengatakan itu, dia sedikit menjadi pemberani sekarang.


"Kurasa itu benar." balasku sambil tersenyum.


Kurasa sudah saatnya move on dari kesakitan dan mencari cinta yang baru....


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...


...~Chp 27 : 1232 kata~...

__ADS_1


__ADS_2