
"Apa yang kau bilang barusan? Kau mengatakan jika kami semua pengecut?"
Salah satu siswa berdiri untuk memprotes perkataan Asher, bukan hanya siswa itu tapi semua siswa juga terlihat tidak terima dengan perkataan Asher termasuk kakaknya, Henry Dean.
"Apa yang kau katakan? Apa kau ingin bersikap sok kuat sekarang? Adikku yang lemah..." balas Henry.
Asher kesulitan untuk membalas perkataan kakaknya, sejak kecil orang yang paling dia takuti di dunia ini adalah kakaknya sendiri.
Dia mengalami penderitaan tanpa akhir ketika masih berada di kediaman keluarganya karena kakaknya yang selalu mempermalukannya, itu juga kembali terjadi ketika dia sudah masuk akademi...
Tapi Asher menguatkan dirinya untuk berbicara menentang kakaknya sekarang.
"..... Setidaknya aku sudah berusaha yang terbaik, bukan hanya meringkuk ketakutan." ujar Asher sambil menatap mata Henry dalam-dalam.
Henry menjadi kesal, dia kemudian berjalan menghampiri Asher sambil berkata, "Berusaha yang terbaik? Coba katakan kau masih berada di kelas mana setelah bertahun-tahun bersekolah di akademi? Dasar aib keluarga...."
Asher terdiam sementara Henry mengangkat tangannya untuk memukul wajah adiknya di hadapan semua orang, tapi sebelum itu terjadi sebuah pedang tipis tiba-tiba menempel di lehernya.
Henry mengalihkan pandangannya dan melihat Alexa yang mengarahkan pedangnya ke lehernya.
"Apa yang kau lakukan, Alexa...." kata Henry.
"Kurasa adikmu tidak sepenuhnya salah, jadi berhentilah menyakitinya." balas Alexa dingin.
Finley, Leon, dan Leyn juga berjalan dan berdiri di sebelah Asher.
"Aku tidak mengenalmu, tapi aku akan mendukungmu." ujar Leon sambil menepuk pundak Asher.
"Aku benci orang yang kasar pada adiknya sendiri." kata Leyn.
"Walaupun kau adalah pria brengsek, tapi kurasa kau jauh lebih baik daripada kakakmu...." ujar Finley.
""Kenapa kau menyebutnya pria brengsek?"" tanya Leon dan Leyn bersamaan.
Mereka tentunya tidak tahu menahu tentang Asher yang selalu membully River sebelumnya, tapi Finley juga tidak ingin mengungkit masalah itu.
"Bukan apa-apa." jawab Finley.
"Tch! Apa kalian benar-benar ingin membela orang lemah ini?" kata Henry terlihat kesal.
Mereka semua tidak menjawab, melainkan hanya memasang wajah serius.
"Lakukan apapun yang kalian inginkan, tapi aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi selanjutnya." kata Henry pasrah.
Walaupun dia yakin bisa menang jika melawan Leon, Leyn, dan Finley, tapi dia tidak yakin jika harus melawan Alexa.
Alexa adalah orang kedua yang menolak memasuki organisasi Osis setelah River.....
Henry kemudian pergi ke pojokan dan ingin melihat usaha adik dan teman-teman barunya yang sia sia.
"Terima kasih semuanya..." ujar Asher sedikit ragu, dia tahu jika orang-orang di depannya itu adalah teman River, jadi dia sedikit malu setengah ditolong oleh mereka.
__ADS_1
"Tidak masalah. Senang kau memiliki pemikiran yang baik di situasi seperti ini, tidak seperti orang-orang itu." ujar Leon menyindir siswa lainnya.
Para siswa tentu saja kesal, tapi tidak ada yang bisa mereka lakukan setelah melihat sang ketua Osis yang juga pasrah menghadapi mereka semua.
"Jadi, kau pasti punya rencana untuk situasi ini." kata Finley.
Asher menganggukkan kepalanya, "Hm, apa kalian mau mendengar rencanaku?"
"Tentu." balas Finley.
...--------------------------------...
...[๐๐๐ซ๐๐ง ๐ผ๐๐๐๐จ๐ค๐ฃ ๐๐๐]...
Padahal kami berdua sudah membunuh cukup banyak orang berjubah hitam ini, tapi mereka terus-menerus berdatangan seperti serangga yang sangat menjengkelkan.
Aku tidak bisa menggunakan teknik berpedang dewa kegelapan untuk membunuh musuhku karena di tempat ini masih ada Raja Laurence yang mengawasiku.
Aku tidak ingin dia menganggapku sebagai musuh karena akan merepotkan untuk menghadapinya bersamaan dengan Riona yang telah pergi entah kemana.
Aku harus pergi dari orang ini secepatnya.
"Nak, sepertinya kau sudah kelelahan. Kembalilah ke Shelter, biar aku yang menghadapi orang-orang berjubah hitam ini."
Yah, itulah kata-kata yang ingin aku dengar dari mulut Raja Laurence!
"Terima kasih yang mulia." kataku lalu pergi menjauh dari pertempuran itu.
"Lawan kalian adalah aku!" teriak Raja Laurence.
Ternyata berpura-pura lelah berhasil membuatku pergi dari pria berbahaya itu. Sekarang aku hanya perlu mencari keberadaan wanita itu.
Aku menoleh keatas dan melihat menara jam yang menjulang tinggi di tengah ibukota.
'Mungkin akan lebih mudah mencarinya dari atas.' batinku.
Aku menghentakkan kakiku dengan keras hingga menghancurkan lantai lalu melompat keatas menara dengan cepat.
Diatas sana aku bisa melihat pemandangan ibukota Victoria yang awalnya adalah kota yang indah menjadi kota yang sepi dengan beberapa bangunan yang hancur karena dampak seranganku dan Riona sebelumnya.
Ibukota ini sangat luas dengan beberapa dinding besar yang mengelilinginya. Aku melihat dinding sebelah Utara, Selatan, Barat, dan Timur yang masih terdapat gelombang monster.
Para ksatria dan prajurit terlihat kesusahan mempertahankan Ibukota karena jumlah monster yang berdatangan semakin banyak, bahkan dinding di sebelah Utara telah dihancurkan oleh beberapa monster Rank-B.
Aku melihat kearah istana kerajaan, lebih tepatnya sebuah kubah di samping istana kerajaan. Itu adalah Shelter pengungsian, tapi ada beberapa orang berjubah hitam yang mendobrak pintu masuknya.
'Apakah aku harus membantu mereka? Tapi mencari keberadaan wanita itu jauh lebih penting sekarang.' batinku.
Aku sedikit kebingungan, tapi tak lama kemudian beberapa siswa keluar dari Shelter dan melakukan perlawanan balik kepada orang-orang berjubah hitam.
Mereka adalah taman-temanku.
__ADS_1
'Sudah aku duga mereka tidak akan diam saja dalam situasi genting seperti ini....' batinku.
Aku bisa tenang karena Alexa telah bersama dengan mereka, sekarang aku bisa fokus mencari wanita itu....
"Zetton, kau masih merasakan aura keberadaan wanita itu?" tanyaku kepada Zetton.
{Aku masih merasakannya tapi agak lemah daripada sebelumnya, sepertinya dia sedang memulihkan dirinya yang terluka parah akibat serangan suci barusan.}
Serangan itu terlalu kuat, aku harus waspada dengan Raja Laurence....
"Lalu dimana dia sekarang?" tanyaku.
{Di bawah tanah kota ini....}
Aku sedikit kebingungan, "Apa maksudmu?"
{Lebih baik kau memeriksanya sendiri.}
Aku memiliki sihir pendeteksi yang lumayan kuat, sebaiknya aku melihatnya sendiri. Aku memejamkan mataku dan menggunakan sihir yang pendeteksi.
ใDark God Magic : Simulation Detection!ใ
Sebuah simulasi Ibukota kerajaan Victoria terbentuk di pikiranku, simulasi itu terlihat sangat sempurna bahkan aku bisa melihat pertempuran Raja Laurence dan teman-temanku secara langsung.
Seperti yang dikatakan Zetton, aku memeriksa di bawah tanah ibukota dan melihat ternyata disana terdapat sebuah tempat aneh yang cukup besar, daripada disebut tempat aneh kurasa menyebutnya sebagai dungeon terdengar lebih baik.
Aku tidak tahu sejak kapan dungeon itu ada di bawah ibukota, yang pasti setahuku tidak ada yang mengetahui hal ini.
Ada beberapa makhluk aneh di dalam sana, mereka bukan monster melainkan hewan-hewan kecil yang belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku juga bisa merasakan keberadaan Riona di dalam sana.
'Lebih baik aku masuk ke dalam sana.' batinku.
Aku melompat dari atas menara jam, perlahan tapi pasti tubuhku mulai terjatuh kebawah dan semakin cepat seiring berjalannya waktu.
Orang normal mungkin akan mati jika terjatuh dari ketinggian ini, tapi aku bukanlah orang normal, bahkan aku ragu apakah aku masih bisa disebut sebagai manusia dengan kekuatan seperti monster ini.
ใDark God Martial Art : Fifth Arts : Consecutive Hitsใ
BOOOOOOOM!
Aku melancarkan pukulan kearah tanah hingga menimbulkan lubang yang cukup dalam, tapi itu belum selesai karena pukulan yang aku lancarkan adalah pukulan beruntun.
Tanganku terus bergerak mengebor tanah sementara tubuhku terus jatuh ke lubang yang aku buat, hingga beberapa saat kemudian aku akhirnya sampai di dungeon bawah tanah ibukota.
...โฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆฮฉโฆโฆ...
...๐ฟ๐๐๐, ๐๐๐ก๐, ๐ด๐๐ ๐ถ๐๐๐๐๐๐ก ๐๐๐ก๐ข๐ ๐๐๐๐๐ข๐๐ข๐๐ ๐ด๐ข๐ก๐๐๐ ๐ท๐๐๐๐ ๐ต๐๐๐๐๐๐ฆ๐...
...~Chp 35 : 1166 kata~...
__ADS_1