
Kenapa dia meninggalkanku?
Kenapa aku memaksakan diriku melewati rasa sakit ini, berlatih mati matian demi menjadi kuat tapi tidak ada yang berubah.
Ketika aku merasa bangga dengan kemampuanku, ketika aku merasa bangga dengan pencapaianku selama ini, hasil dari kerja kerasku, semua itu hanyalah sampah di hadapan kekuatan yang sesungguhnya.
Mereka telah memperlihatkan betapa lemahnya diriku ini hanya melalui satu pertarungan.
Ketika aku merasa sudah menjadi lebih kuat, mereka tiba-tiba datang dan menunjukkan perbedaan kekuatan kita yang sesungguhnya.
Seolah olah ada ratusan rantai yang mengekang diriku, aku benar-benar menjadi orang yang tidak berguna.
Kenapa aku tidak menyerah saja pada rasa sakit dan penghinaan ini? Kenapa aku bersikeras untuk bertahan? Terlebih lagi, kenapa aku masih berada di tempat ini?
Aku datang ke sini setelah berdebat dengan ayahku selama berminggu-minggu sampai sampai aku diusir dari rumah.
Keputusanku dihadiahi dengan kenyataan yang sangat terbalik, aku mulai bertanya-tanya apa salahku hingga pantas mendapatkan semua ini.
Terlepas dari semua upaya terbaikku dan latihan melelahkan yang terus-menerus kulakukan, aku masih belum berkembang.
Entah saat masih bersama Olivia, atau sekarang ketika sudah berpisah, aku selalu berusaha keras, aku benar benar sudah berusaha.
Hingga aku berpisah dengan Olivia, semua yang kulakukan hanyalah menyiksa diri dengan semua rentetan pelatihan bodoh yang tidak ada akhirnya.
Bahkan taman bunga yang kulalui saat ini terlihat lebih gelap daripada biasanya, aku hanya bisa berjalan menunduk seraya meratapi nasibku yang menyedihkan ini.
"Bagaimana dengan pertandinganmu dengan Nona Alexa Northern, Olivia? Apakah kau keluar menjadi pemenangnya?"
"Sayangnya tidak, aku-"
Aku mendengar suara seseorang yang sangat kukenali di sebelahku, dan ini sukses membuatku sangat terkejut.
Memalingkan pandanganku dengan sedikit ragu, aku melihat Olivia yang menatapku dengan tatapan sinisnya.
Di sebelah kanannya ada seorang pemuda tampan dengan rambut putih yang sama dengan Olivia, itu adalah Issac Ryker, teman masa kecilku dari desa Lumise.
Sementara di sebelah kirinya ada seorang gadis berambut pirang, dia adalah Niselin Vla, teman pertama yang dimiliki Olivia ketika memasuki akademi Nethilor.
Mereka bertiga sedang duduk di bangku taman dan bercerita dengan riang, tapi karena kedatanganku yang tanpa sengaja membuat mereka terdiam dan menatapku dengan sinis.
Tampaknya aku terlalu tenggelam dalam lamunanku sehingga tidak menyadari arah tujuanku....
"Lama tidak bertemu, River..." sapa Issac sambil melemparkan senyuman khasnya kepadaku, tapi aku bisa melihat keterpaksaan dalam matanya.
Aku tidak tahu apakah aku berhak membalas sapaannya, tapi yang pasti tidak baik mengabaikannya begitu saja.
Ya, kalau memungkinkan aku ingin berbaikan dengan mereka....
"Ah ... lama tidak bertemu-"
"Jangan berbicara seperti itu pada kami!"
Niselin langsung membentakku bahkan sebelum aku bisa menyelesaikan kelimatku, tatapannya sangat tajam dan penuh dengan kebencian.
Padahal pertama kali kita bertemu dia tidak seperti ini, dia adalah gadis yang baik dan ramah, tapi sekarang dia sudah sangat berbeda.
"River...."
__ADS_1
Aku melihat Olivia yang mencoba bicara padaku, kepalaku linglung sesaat, setelah sekian lama akhirnya dia berbicara padaku.
Aku memasang telingaku baik baik untuk mendengar kata pertama yang dia ucapkan padaku setelah bertahun-tahun lamanya.
Tapi....
"Kau masih disini, ya?"
"Eh?"
Apa yang dia katakan? Apa dia berharap aku pergi dari akademi? Atau apa dia mengusirku?
"Kau tidak mengerti maksud Olivia? Dia menyuruhmu pergi dari tempat ini segera! Kenapa kau masih bersikeras bertahan di tempat ini? Apa kau berharap Olivia akan kembali kepadamu? Mimpi saja!"
Niselin lagi lagi membentakku dengan kasar dan mengatakan sesuatu yang sangat menyakitkan.
Aku tidak bisa sanggup menatap mata Olivia dan hanya bisa menundukkan kepalaku lagi dan lagi.
"Pergi dari hadapan kami kau dasar pengkhianat!"
BRAK!
Satu dorongan kasar dari Niselin berhasil menjatuhkanku ke tanah.
Mendongkakkan kepalaku aku melihat mereka bertiga yang menatapku bagaikan menatap seekor serangga menjijikkan.
Itu adalah tatapan yang lebih mengerikan daripada sensasi kematian.
Mereka bertiga kemudian berbalik dan pergi begitu saja meninggalkanku, aku hanya bisa menatap punggung mereka bertiga yang semakin menjauh dariku.
Dia telah pergi, meninggalkanku dengan perasaan hampa diam tak bergeming di tanah.
Taman ini cukup ramai, membuat semua orang bisa menyaksikan apa yang terjadi diantara kami.
Dan untuk kesekian kalinya, mereka kembali mencemoohku tanpa tahu permasalahan yang sebenarnya terjadi, beberapa bahkan melempariku dengan batu tanpa peduli apapun.
Dunia ini sangat kejam.
Mereka suka menghakimi seseorang bahkan tanpa tahu yang sebenarnya terjadi, hanya karena sebuah omongan, satu tuduhan yang tak berarti, nasibku langsung menjadi tragis di tempat ini.
Pada akhirnya apa yang bisa kulakukan?
Ya, itu benar, melarikan diri.
Aku sangat ahli dalam melarikan diri dari kenyataan, bahkan aku saat ini tengah berlari di tengah kota dengan mendongkakkan kepalaku keatas, mencegah air mataku tumpah.
Tatapan aneh dari penduduk kota seketika tertuju kepadaku yang tengah berlari tanpa menghiraukan apapun.
Entah berapa banyak orang yang kutabrak, entah berapa banyak barang dagangan yang rusak karenaku, aku tidak berhenti dan terus berlari menuju hutan monster, tempat dimana aku bisa melampiaskan semuanya.
Aku terus dan terus berlari tanpa menghiraukan apapun, bahkan setelah memasuki hutan monster aku masih berlari dengan mendongkakkan kepalaku keatas.
Hingga pada akhirnya ... aku menyadari jika diriku sudah masuk ke hutan monster jauh terlalu dalam....
...
...
__ADS_1
...
"Aku tersesat, ya...."
Bagian dalam hutan monster terasa jauh lebih gelap dan mencekam dibandingkan di tempat Master, aku tidak bisa melihat langit dari sini karena lebatnya pepohonan yang tumbuh.
Kurasa aku tengah tersesat di tempat ini, aku tidak bisa kembali, setiap aku berbalik untuk kembali ke pinggir hutan, aku akan kembali ke tempatku berada sebelumnya, seolah-olah hutan ini dipenuhi oleh ilusi.
'Bisa bisanya aku tersesat di tempat seperti ini.' batinku.
* GROOOOAAARRGH!! *
Aku tidak punya waktu untuk merenungkan kejadian sebelumnya setelah mendengar suara raungan monster yang sangat keras hingga menggetarkan hutan.
Aku berlari untuk menghindari arah suara tapi lagi-lagi aku kembali ke tempatku sebelumnya.
Situasinya semakin buruk setelah kakiku terluka akibat tumbuhan rambat yang berdiri tajam, membuatku kesulitan bergerak tapi aku memaksakan diriku.
Aku bersandar di salah satu pohon besar demi mempermudah jarak pandangku, akan sulit jika aku diserang dari belakang.
* GROOOOAAARRGH!! *
Raungan kembali terdengar.
Aku menyiapkan pedangku yang sedari tadi aku bawa dan mengarahkannya ke semak belukar di depanku.
Bersamaan dengan itu muncullah sosok monster reptil setinggi 3 meter, monster itu bernama Naga darat yang merupakan monster Rank-B, mereka bukan 100% jenis naga melainkan kerabatnya.
Tapi walaupun begitu mereka juga cukup kuat karena biasanya hidup berkelompok.
Salah satu Naga darat berlari dengan mulutnya yang terbuka lebar untuk melahapku, aku menundukkan tubuhku ke bawah dan berguling sehingga Naga itu menabrak pohon besar di belakangku.
「Dark God Sword Technique : Third Technique : Impossible God Slash!」
* SLASH! *
* CRESSH! *
Bersamaan dengan itu aku menebas tepat pada lehernya untuk membunuhnya.
* GROOOOAAARRGH!! *
Dia meraung dengan sangat kencang sebelum menerima kematiannya itu.
Tapi aku tahu itu bukanlah raungan biasa, melainkan raungan untuk memanggil kelompok yang lebih besar lagi.
'Ini akan sangat sulit.' batinku.
Aku tidak yakin apakah aku bisa selamat dan keluar hidup hidup dari sini atau tidak, tubuhku sedang tidak fit dan pikiranku masih kacau setelah kejadian yang tadi.
Tapi aku akan berusaha untuk tetap hidup.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 19 : 1161 kata~...
__ADS_1