DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 11: Latihan


__ADS_3

...[๐™๐™ž๐™ซ๐™š๐™ง ๐˜ผ๐™™๐™™๐™š๐™จ๐™ค๐™ฃ ๐™‹๐™Š๐™‘]...


Keesokan harinya aku terbangun dari tidurku dengan perasaan malas, aku tidak pernah menyangka kalau aku bisa tidur dengan nyenyak walaupun hanya beralaskan tanah dan rumput.


Pagi hari ini kita akan melakukan latihan dengan giat seperti kata Master kemarin.


Master sudah bersiap di depanku dengan membawa pedang kayunya yang kemarin.


Diapun berkata, "Apa kau sudah baikan?"


"Hm, aku sudah baikan berkat master, maaf karena sudah menyulitkanmu lagi, master...." kataku dengan tulus.


Hanya master orang yang cocok untuk mencurahkan isi hatiku, aku sering datang kepadanya ketika sedang putus asa dan dia memberikanku kata kata motivasi yang membantu.


Hanya saja kurasa tindakanku yang kemarin itu sedikit keterlaluan....


"Baiklah, kalau begitu ambil pedangmu sekarang!" perintah Master.


Ini bukan saatnya untuk berbicara dari hati ke hati, ini saatnya untuk berlatih dengan serius!


Bisa dibilang jika aku sudah mulai menerima kenyataan tentang diriku yang tidak bisa menggunakan mana, jadi aku harus berlatih serius di teknik berpedang.


Seperti kata Master, aku mengambil pedang kayu baru dari tempat penyimpanan senjata karena yang kemarin telah hancur.


Berdiri di depan Master dengan jarak 10 meter


* SWOOSH! *


Aku menggunakan kuda-kudaku lalu melesat kearah Master dengan lebih serius, aku tidak ingin kejadian menyedihkan terakhir kali terjadi lagi kali ini.


* TAK! *


* TAK!*


* TAK! *


Kedua pedang kayu kami beradu dengan sengit di tengah hutan monster, akan tetapi semua seranganku dengan mudah dapat ditangkis oleh Master.


"Huff...... "


Aku menarik napas terlebih dahulu sebelum menenangkan pikiranku untuk menggunakan teknik berpedang dewa kegelapan yang telah kupelajari sejauh ini.


[ Dark God Sword Technique : First Technique : Dark Slash! ]


Aku menebaskan pedangnya secara Horizontal seperti sedang menebas permukaan air dengan cepat, Master tidak dapat menangkis serangan yang dapat memotong pedang kayunya itu jadi memilih untuk menghindarinya.


[ Dark God Sword Technique: Second Technique: Furious Strike ]


Tidak berhenti disana, aku melesat dan menggunakan teknik kedua dari teknik berpedang dewa kegelapan lagi untuk menyerangnya.


* SWOOOSH! *


* TAK! *


Aku menusukan pedangku kearah Master, tapi Master dengan cepat menangkis pedangku dari bawah keatas yang membuat tusukan itu gagal mengenainya.


"Usaha yang sia sia, sekarang giliranku menunjukkan kekuatan teknik berpedang dewa kegelapan yang sebenarnya!" teriak Master padaku.

__ADS_1


ใ€ŒDark God Sword Technique : First Technique : Dark Slash!ใ€


'Ini gawat!' batinku.


Master menggunakan teknik berpedang dewa kegelapan miliknya yang membuatku sangat terkejut karena ini adalah pertama kalinya Master menunjukkan tekniknya di depanku.


Serangan cepat dari Master mengarah tepat di depan mataku saat diriku tidak dapat bereaksi saking cepatnya serangan yang dilancarkan itu.


Bersamaan dengan itu seluruh tubuhku menjadi kaku, napasku dan jantungku berhenti sesaat tepat ketika serangan master berada di depan mataku.


Aku tidak tahu perasaan apa ini karena ini adalah pertama kalinya aku merasakannya, tapi yang pasti seluruh instingku mengenal perasaan ini.


Ini adalah perasaan kematian....


* WOOOSSH! *


* BOOOM! *


* BOOOM! *


* BOOOM! *


Ledakan dahsyat terjadi di belakangku, aku terlambat menyadarinya tapi tampaknya Master menggeser serangannya tepat sebelum mengenaiku dan membuat dampak serangannya itu menghantam pepohonan lebat di belakangku.


Padahal itu hanyalah teknik berpedang tanpa sihir sama sekali atau Sword Technique bukan Sword Magic, tapi kekuatan penghancurnya sampai sedahsyat itu.


Ini jauh berbeda dengan levelku saat ini...


* BRUK! *


Tubuhku jatuh lemas di tanah dengan kaki yang gemetaran setelah beberapa detik, ini adalah pertama kalinya diriku mengalami sensasi kematian tepat ada di depan mataku.


"Aku tidak menyangka kau akan bisa menggunakan dua teknik berpedang secara berturut-turut, kurasa ini pertanda kalau kau sudah siap untuk latihanmu yang sesungguhnya..." kata Master tiba-tiba dan membuatku sangat terkejut.


"A-Apa maksudmu, Master?" balasku dengan tergagap.


Aku bisa merasakan firasat buruk dengan perkataan Master barusan.


"Seperti yang aku katakan, sudah saatnya dirimu menjalani latihan yang sesungguhnya."


"Lalu bagaimana dengan latihan selama ini? Bukankah itu adalah latihan yang sesungguhnya?" aku menyangkalnya.


"Tidak, kau salah. Latihan yang selama ini kau jalani hanyalah sebuah tes untuk mengukur sejauh mana kau bisa menjalani latihan yang sesungguhnya...."


Aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang Master katakan, latihan yang selama ini aku jalani tidaklah mudah tapi ternyata itu hanyalah sebuah tes untuk latihan yang sesungguhnya?


Aku hanya bisa menelan ludah kasar ketika memikirkan itu.


"Ayo kita pergi sekarang, lukamu perlu disembuhkan terlebih dahulu..." ajak Master lalu pergi duluan.


Aku berusaha mengendalikan diriku dan bangkit dengan susah payah karena kakiku yang masih lemas, setelah membersihkan pakaianku yang kotor lalu bersiap untuk pergi.


Tapi sebelum itu aku menoleh ke belakang, tempat dimana serangan dahsyat Master mendarat terlebih dahulu.


Mataku refleks melebar dengan sendirinya melihat pemandangan pepohonan yang terpotong dengan sempurna hingga beberapa kilometer jauhnya, itu membuat sedikit wilayah hutan monster yang sangat lebat itu menjadi gundul seketika.


Selain pepohonan yang terpotong ada juga ratusan atau bahkan ribuan monster level-E sampai level-C yang tewas dengan bagian tubuh yang terpisah.

__ADS_1


Padahal teknik yang digunakan hanyalah teknik pertama dari ketujuh teknik berpedang dewa kegelapan dan tanpa menggunakan sihir, tapi kekuatan penghancurnya sudah sedahsyat ini....


Ini membuatku mendapatkan kepercayaan diri mengenai bertambah kuat tanpa mengandalkan sihir, tapi bersamaan dengan itu aku juga mendapatkan keraguan yang besar di benakku.


'Apakah aku bisa menjadi kuat seperti Master....?' batinku penuh keraguan.


..


..


..


Di hari yang sama tepatnya di siang hari, Master mengajakku untuk masuk lebih dalam ke hutan monster.


Hutan tampak sangat gelap padahal ini siang hari, pepohonan juga terlihat jauh lebih lebat dan monster lebih sering terlihat di tempat ini.


Tapi seluruh monster yang kami temui sama sekali tidak berani mendekati kami karena merasakan aura Master yang mencekam, jadi mereka hanya mengintai kami dari jauh.


"Master, latihan apa yang akan kau berikan padaku di tempat seperti ini?" tanyaku.


"Jauh di depan sana ada sebuah reruntuhan kuno yang dihuni oleh ratusan undead, kau akan masuk ke sana dan mengambil sebuah permata yang dijaga oleh raja undead."


Perkataan Master membuatku sedikit terkejut.


"T-Tapi Master, bukankah jumlah mereka terlalu banyak? Aku bisa mati jika melawan mereka sekaligus!" bantahku.


"Dasar bodoh! Pikirkanlah elemen dari teknik berpedangmu!"


Master hanya memberikanku satu petunjuk, atau lebih tepatnya teka teki.


Elemen dari teknik berpedangku? Sudah jelas jika kekuatannya adalah elemen kegelapan. Undead juga memiliki elemen kegelapan, lalu apa?


Lawan dari elemen kegelapan adalah elemen cahaya, jadi jika aku ingin mengalahkan ratusan undead itu dengan mudah, maka aku harus menggunakan teknik berpedang dengan elemen cahaya, tapi itu jelas tidak mungkin karena aku tidak menguasai teknik berpedang dengan elemen cahaya.


Ketika aku tengah berpikir keras sambil berjalan, tanpa kusadari kami telah sampai di reruntuhan kuno yang dimaksud.


* GREB! *


Master langsung memegang kerah bajuku ketika aku tengah berpikir. Aku terkejut, tapi dia langsung melemparku ke dalam reruntuhan kuno itu.


"Pulanglah sebelum malam tiba, dasar murid bodoh!" teriak Master sembari melemparku.


* BRAK! *


"Akh!"


Aku mengerang kesakitan, padahal lukaku baru saja disembuhkan tapi dia seenaknya saja melemparku dan melukaiku lagi...


Aku memikirkan perkataan Master tadi, alasan kenapa aku disuruh pulang sebelum malam tiba adalah karena kekuatan undead akan semakin meningkat saat malam hari, jadi masuk akal jika dia menyuruhku pulang sebelum malam hari.


'Walaupun terkadang tegas, ternyata dia perhatian juga....' batinku.


Lupakan tentang itu, sebaiknya aku segera bergegas.


...โ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆฮฉโ„ฆโ„ฆ...


...๐ฟ๐‘–๐‘˜๐‘’, ๐‘‰๐‘œ๐‘ก๐‘’, ๐ด๐‘›๐‘‘ ๐ถ๐‘œ๐‘š๐‘š๐‘’๐‘›๐‘ก ๐‘ˆ๐‘›๐‘ก๐‘ข๐‘˜ ๐‘€๐‘’๐‘›๐‘‘๐‘ข๐‘˜๐‘ข๐‘›๐‘” ๐ด๐‘ข๐‘ก๐’‰๐‘œ๐‘Ÿ ๐ท๐‘Ž๐‘™๐‘Ž๐‘š ๐ต๐‘’๐‘Ÿ๐‘˜๐‘Ž๐‘Ÿ๐‘ฆ๐‘Ž...

__ADS_1


...~Chp 11 : 1151 kata~...


__ADS_2