DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 115: Kemunculan River


__ADS_3

"Ratu Iblis ... bagaimana dia bisa ada disini?" gumam Leyn sambil membelalakkan matanya.


Apapun alasan kedatangannya, yang pasti itu adalah ancaman terbesar yang harus mereka hadapi.


Leyn dan Leon kembali bersiaga setelah pertarungan mereka, begitupun dengan Gerald dan Lovita. Mereka tahu jika wanita di hadapan mereka itu sangatlah kuat.


"Fufu~ sudah lama aku mengawasi kalian dan tidak aku sangka akan menjadi seperti ini akhirnya..." ujar Estienne pelan namun dapat di dengar oleh semua orang.


"Kau ... sejak kapan kau mengawasi kami?" tanya Leyn tak gentar di hadapan sosok yang telah menghancurkan satu kerajaan itu.


"Sejak awal pertikaian aku sudah mengawasi kalian, niatku ingin menundukkan kalian seperti penduduk kerajaan Frostland tapi aku urungkan karena merasa pertikaian ini sangatlah menarik."


"Seorang adik yang bertekad kuat untuk melindungi kampung halamannya dan seorang kakak yang rela melakukan apapun demi cintanya, yah ... walaupun ujung-ujungnya dia dikhianati oleh rekannya hahaha!"


"Ini tidak berjalan sesuai harapanku, kenapa kalian saling memaafkan? Kenapa kalian tidak melanjutkan untuk saling membunuh saja? Kalian membuatku kecewa..." imbuh Estienne membuat Leon tersenyum miris.


Leon menundukkan kepalanya menyesal, "Aku memang orang yang bodoh, aku bisa dengan mudah dimanfaatkan orang lain sehingga harus membuat banyak jiwa berjatuhan. Oleh karena itu aku akan menebus dosaku itu dengan membunuhmu!"


"Membunuh tidak akan membuatmu kembali suci, bocah..."


"Aku tahu, tapi dengan membunuhmu maka tidak akan ada lagi manusia yang menderita karenamu." jawab Leon serius.


Tanpa pikir panjang Leon mengulurkan tangannya ke depan, tepatnya ke arah Estienne lalu mengeluarkan sihir petir yang sama untuk mengurung Leyn.


Petir menyambar dengan dahsyat, membuat kilatan cahaya biru yang sangat terang sebelum menabrak tanah tempat Estienne berdiri.


Estienne sudah menghilang dari sana dan muncul di belakang Leon dengan siluet hitam yang mengaburkan pandangan, "Kau lengah!"


Estienne mengangkat tangannya tinggi-tinggi, lalu menumbuhkan kuku jarinya yang panjang dan tajam sehingga membuat kilatan cahaya bagaikan pedang di kukunya.


Dihujamkannya kuku-kuku panjang nan tajam itu dengan niat membunuh yang besar dari Estienne.


Waktu seperti berhenti, dalam sepersekian detik Estienne bisa melihat Leyn yang tengah menodongkan shotgun miliknya tepat ke arahnya.


* PANG! *


Tembakan peluru dari Shotgun Winchester milik Leyn melesat dengan cepat membelah angin dengan suara yang nyaring.


"Aku sudah tahu kelemahan dari senjatamu itu dasar bodoh!" teriak Estienne lalu menghancurkan peluru sihir yang ditembakkan Leyn tadi.

__ADS_1


Leyn sangat terkejut pasalnya ini adalah pertama kalinya seseorang bisa menghancurkan peluru sihir miliknya.


Leon yang mendapatkan timing untuk menjaga jarak dari Estienne langsung saja melompat ke dekat Leyn.


Tidak hanya memiliki kekuatan yang besar, tapi Estienne juga memiliki kelincahan yang sangat baik. Jika mereka berpencar maka bisa dipastikan Estienne akan membunuh mereka satu persatu. Jadi mereka harus tetap bersama dalam situasi ini.


"Sebenarnya aku ingin menawarkan kalian untuk tunduk kepada Tuanku, tapi sepertinya itu mustahil melihat kalian yang bersikeras untuk melawanku." kata Estienne berhenti sejenak sebelum melanjutkan pertarungan.


Sudah jelas apa jawaban dari Leyn dan yang lainnya, mereka tidak semudah itu mau tunduk kepada orang jahat. Mereka memilih untuk tetap bertarung sampai titik darah penghabisan.


"Jangan banyak bicara dan lanjutkanlah pertarungannya!" teriak Leyn lantang.


Mereka berempat kemudian melesat ringan namun cepat menuju Estienne, Gerald dengan pedang besarnya berniat menebas Estienne namun sudah bisa ditebak jika yang kena hanyalah tanah karena Estienne telah melompat pergi.


Namun karena tebasan pedang besar Gerald yang amat dahsyat itu juga membuat ledakan besar yang menghancurkan permukaan tanah hingga berkeping-keping.


Lovita melompat jauh ke atas Estienne lalu mengeluarkan pedangnya yang berbentuk tipis dan melengkung seperti katana berwarna biru, wanita itu menarik nafas dingin lalu menggunakan teknik berpedang es yang sama dengan milik Olivia.


Estienne menyeringai senang lalu menangkis tebasan cepat Lovita menggunakan kuku panjangnya, namun tanpa diduga-duga kukunya juga ikut tertebas lalu berlanjut memotong salah satu lengannya.


Itu bukanlah masalah besar mengingat seorang iblis memiliki kemampuan regenerasi tubuh, apalagi Estienne yang merupakan Ratu Iblis memiliki regenerasi jauh lebih tinggi dari iblis biasa.


Hingga tak sampai 1 menit, lengan Estienne yang terpotong sudah pulih kembali bersamaan dengan tubuhnya yang mendarat dengan mulus di tanah.


"Mati kau 「Bullet Burst!」"


* PANG!! *


* DUUUAAARR!! *


Leyn menembakkan tembakan peluru terbesar yang pernah ia tembakan, membuat dataran di hadapannya langsung terbakar oleh api ledakan dari peluru dahsyat itu dengan Estienne yang tenggelam di dalamnya.


Ketika Leyn mengira semuanya telah berakhir dengan kekuatan penuhnya, Estienne melesat keluar dari kobaran api dan mencekik lehernya lalu mengangkatnya ke atas.


Leyn tidak mengira hal itu dan tidak bisa melepaskan diri dari cengkraman kuat Estienne.


"Lepaskan dia!" tak berselang lama kemudian Leon datang dengan teriakan lantang.


Ia berniat mendarat serangannya kepada Estienne namun berakhir naas seperti Leyn, lehernya juga dicekik dengan mudah oleh Estienne.

__ADS_1


"Sungguh saudara yang menyedihkan." gumam Estienne dingin lalu membantingnya dengan keras ke tanah, membuat Leon dan Leyn tersentak.


Gerald dan Lovita yang melihat anak mereka tersakiti ingin membalas perbuatan wanita di hadapannya itu, namun sebuah tanaman rambat berwarna hitam muncul dari tanah dan menghentikan mereka.


Luar biasa. Hanya dalam beberapa menit Estienne sudah memperlihatkan kekuatannya yang jauh di atas mereka berempat bagaikan mereka berada di dimensi yang berbeda.


"Kalian semua sangat lemah, jauh lebih lemah daripada wanita yang aku bunuh beberapa bulan lalu." ujar Estienne merujuk kepada Ratu Isabell.


"Tapi walaupun begitu tekad kalian bisa dibilang setara dengan wanita itu ... kalian adalah orang-orang yang sangat berguna bagi Tuanku, jadi akan kuberikan kalian kesempatan sekali lagi untuk tunduk-"


"Kami tidak akan pernah tunduk padamu, atau pada Tuan yang kau maksud..." potong Leyn lirih di bawah tanah.


Tatapan Estienne sontak menajam seolah bisa membunuh seseorang, ia mengarahkan tatapan menyeramkan itu kepada Leyn, "Kau tidak tahu siapa Tuanku-"


"Aku tidak peduli siapapun itu orangnya, yang aku tahu kalau orang itu adalah seorang pengecut yang hanya berani kepada kami yang lemah ini."


"Kenapa Tuanmu tidak datang langsung kepada kami? Apa dia takut?"


Tanpa gentar Leyn memberikan banyak kata-kata penghinaan terhadap Tuan yang dimaksud Estienne, wanita itu terdiam namun dengan tatapan beringas layaknya iblis di dasar neraka.


Mata merah darahnya yang pekat menatap Leyn dengan haus darah sementara nafasnya tersengal-sengal seperti ingin melahap gadis kurang ajar di depannya itu.


Estienne sangat marah, rasanya ingin sekali dia membunuh keempat orang yang ada di tempat itu dan membantai seluruh ras manusia yang ada di dunia, itu bukanlah hal yang mustahil bagi Estienne.


Namun sebelum ia sempat melakukan tindakan tercela itu, aura di sekitarnya tiba-tiba berubah drastis menjadi lebih gelap bersamaan dengan langit yang menunjukkan kehampaan dan kegelapan.


Tubuh Estienne menggigil, ia menghilangkan amarahnya dan kembali ke sikap normalnya lalu tiba-tiba berlutut layaknya ksatria yang sedang memberikan penghormatan kepada sang raja.


Tentunya perubahan drastis itu tidak luput dari pandangan Leyn dan yang lainnya.


Mereka sangat kebingungan, namun tiba-tiba seseorang berteleportasi di dekat mereka yang sontak membuat mereka semua sangat tercengang.


Ia adalah seorang pria tampan dengan rambut hitam pekatnya, mata merah menawan dan mengenakan jubah hitam pekat yang dihiasi dengan aura ungu. Itu adalah pakaian yang dikenakan oleh seorang Dewa.


Terlebih lagi Leyn dan Leon sangat mengenal orang yang datang itu dan sangat tercengang dibuatnya.


"M- mustahil, kau masih hidup, River..." ujar Leyn lirih.


River tidak menanggapi perkataan Leyn melainkan hanya menatapnya datar sebelum pandangannya kembali kepada Estienne.

__ADS_1


"Kau menghabiskan terlalu banyak waktu di tempat, Estienne." kata River datar namun dengan penekanan saat menyebut nama wanita yang tengah berlutut dengan tubuh gemetaran hebat.


"Mohon maafkan saya Tuan..."


__ADS_2