DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 77: Sebuah Bencana


__ADS_3

* BOOOM!! *


* DUUAAR!! *


Setengah bagian dari kastil Dewa Kegelapan hancur dengan beberapa orang yang keluar dari bawah tanah sambil bertempur dengan sangat sengit.


Mereka adalah River dan Riona yang tengah bertarung melawan Issac yang memiliki banyak lengan di tubuhnya.


Setiap kali mereka memotong lengannya pasti pria itu akan terus menumbuhkannya seolah-olah seluruh tubuhnya dapat ia modifikasi sesuka hatinya.


Issac melayang di udara ketika baru keluar dari ruang bawah tanah sementara River dan Riona sudah mendarat dengan mulus di dataran bulan yang berwarna abu-abu itu.


Namun tak lama kemudian dengan hentakan keras di permukaan bulan, River dan Riona kembali melesat ke atas atau lebih tepatnya ke arah Issac berada sambil melayangkan beberapa tebasan.


「Dark God Sword Technique : Third Technique : Impossible God Slash」


* SWOOOSH!! *


* SLASH!! *


"Tch!"


River berdecak kesal karena tebasannya yang seharusnya bisa memotong seluruh tangan Issac hanya berhasil memotong satu tangannya, itu karena refleks Issac yang sangat cepat.


Namun harapan masih belum pupus karena Riona yang juga menyerang Issac menggunakan teknik berpedang miliknya beberapa saat setelah River mendapatkan kegagalan.


「Demon Ancestor Sword Technique : Sixth Technique : Explosion Wave!」


* SWOOOSH!! *


* BOOOMMM!! *


Sabit besar milik Riona tepat mengenai pangkal leher Issac hingga membuat pria itu mendesis penuh amarah. Dan dengan satu teknik berpedang, Riona langsung meledakkan tubuh Issac di udara.


River dan Riona mendarat dengan mulus di dataran bulan, mereka berdua menatap ledakan besar di hadapan mereka dengan penuh harap.


Semoga serangan itu bisa menghabisinya - pikir Riona.


Namun River berkata lain-


"Belum!" kata River yang melihat ada pergerakan di dalam kobaran api berwarna gelap itu.


Issac menembus kobaran api yang mengelilinginya, dan melesat kearah River dan Riona yang sudah berada dibawah.


"Kalian pikir kalian bisa mengalahkanku dengan semudah itu?!" teriak Issac dengan tubuh yang hampir terpotong menjadi dua. Sedikit demi sedikit lukanya itu mulai beregenerasi.


* TING!! *


River menangkis cakaran Issac yang semakin tajam dan berbahaya, sementara Riona refleks bergerak untuk menyerang Issac yang berada tepat di depan dirinya.


"Tidak akan kubiarkan!" teriak Issac lalu memutar tubuhnya 360 derajat untuk menendang Riona dengan sangat keras.


Riona terlempar ratusan meter jauhnya sambil menabrak gundukan permukaan bulan yang tidak rata itu hingga melukai tubuhnya dengan cukup parah.


"Sekarang tinggal kita berdua saja!" ujar Issac yang mendekatkan wajahnya ke wajah River.


「Dark God Sword Technique : Second Technique : Furious Strike!」


* SWOOOSH!! *


* SLASH!! *


Tanpa basa-basi River langsung memotong tangan Issac, lalu kembali melancarkan serangannya untuk mengakhiri hidup Issac dengan lebih serius hingga pedangnya mengeluarkan aura ungu.


Issac menyeringai sambil menumbuhkan kembali lengannya, "Bagus!! Inilah yang aku inginkan!!" teriaknya.


Issac menangkis serangan River menggunakan tangannya yang baru saja ia tumbuhkan, namun tangannya itu hancur seketika hingga menjadi kabut darah setelah menyentuh pedang River yang sudah diselimuti aura ungu.


Bersamaan dengan itu Issac menggunakan tangannya yang lain untuk menyerang River, tapi itu digagalkan dengan refleks cepat milik River.


Setelah itu Issac kembali menumbuhkan tangannya yang sudah terpotong untuk menyerang River lagi....


Kejadian itu terus terjadi berulang kali hingga akhirnya Issac mengganti pola serangannya dengan menciptakan sebuah bilah tajam di tangan kanannya, lalu menancapkannya ke perut River.


Karena tidak siap dengan perubahan pola serangan yang tiba-tiba, River tidak bisa menangkis tusukan itu hingga membuat bilah tajam itu sukses menembus perutnya.


* JLEB!! *


Bilah tajam menembus perut River, membuat darah menyembur dengan deras dari belakang punggungnya.

__ADS_1


"Hahahaha!! Bagaimana dengan ini dasar keparat?!" teriak Issac kegirangan karena berhasil melukai River dengan sangat parah.


"Hei ... kau pikir kau sudah berhasil melukaiku?" ujar River lirih namun berhasil membuat Issac sangat terkejut.


"Bagaimana mung-"


* SWOOOSH!! *


* BUGH!! *


* CREESH!! *


Sebelum Issac sempat menyelesaikan kalimatnya, pukulan River sudah mendarat tepat di wajahnya hingga dan merubahnya menjadi kabut darah.


Tubuh tanpa kepala itupun kemudian jatuh tergeletak begitu saja di permukaan bulan dengan hampa.


River menggerakkan tangannya, menggapai bilah tajam yang tertancap di perutnya itu lalu mencabutnya perlahan-lahan hingga membuat suara gesekan tulang dan daging terdengar sangat jelas.


"Akh ... ini sangat menyakitkan..." gumam River setelah selesai mencabut bilah tajam itu dari tubuhnya dan membuangnya ke sembarang tempat.


Lubang di perut River terlihat begitu jelas, namun perlahan-lahan luka besar itu mulai beregenerasi dengan aura ungu yang menghiasinya. Dan dalam beberapa detik saja, lubang di perutnya itu sudah tertutup dengan rapat.


Terima kasih Zetton - batin River.


[Lain kali berhati-hatilah karena aku tidak bisa menyembuhkan dirimu jika jantungmu dihancurkan.] kata Zetton memberi nasihat.


Sebelumnya River sudah pernah kehilangan lengannya, tapi berkat bantuan Zetton lengannya itu kini sudah beregenerasi kembali, bisa dibilang apapun luka yang River derita akan disembuhkan dengan cepat oleh Zetton.


River menatap mayat Issac dengan dingin, kemudian mengalihkan pandangannya karena merasakan kedatangan seseorang.


Itu adalah Riona yang sudah dalam wujud Demon Ancestor miliknya, yaitu berambut putih dengan tanduk di dahinya.


"Dimana pria brengsek itu?" tanya Riona geram, ia sangat marah karena telah ditendang oleh olehnya hingga ratusan meter jauhnya bagaikan sebuah bola.


"Dia sudah mati. Apa kau baik-baik saja?" ujar River menyembunyikan fakta jika dirinya baru saja mengalami luka yang sangat parah.


"Begitukah..." gumam Riona yang tidak tahu harus senang atau sedih dengan hal itu karena tidak bisa membunuh Issac dengan tangannya sendiri.


"Lalu apakah aku harus kembali ke wujudku semula?" lanjut Riona sedikit kebingungan.


"Sepertinya tidak usah, lagipula kita akan melawan Xander cepat atau lambat. Hanya saja aku tidak tahu dimana dia sekarang berada-"


River menoleh ke belakang dan melihat Issac yang tanpa kepala sudah berdiri di belakangnya sambil menghunuskan bilah tajam yang sebelumnya River buang.


Riona ingin bereaksi untuk melindungi River, sementara River ingin segera mengelak.


Tapi sebelum mereka berdua sempat melakukan hal itu, tubuh Issac yang tanpa kepala itu sudah diterjang oleh sosok besar yang jatuh dari langit, itu adalah makhluk semacam burung tapi memiliki tubuh yang menyerupai manusia.


Tubuh Issac meronta-ronta saat dibawa terbang oleh sosok itu dengan sayap emasnya yang sangat besar, tubuh Issac yang sangat menyedihkan tanpa kepala itu digenggam oleh monster itu, lalu dirobeknya tubuh itu bagaikan merobek sebuah kertas.


Setelah melenyapkan Issac untuk selamanya dari dunia itu, manusia berkepala burung itu kemudian mengeluarkan suara elang yang sangat memekakkan telinga.


River dan Riona sampai menutup telinganya karena saking kerasnya suara yang dibuat.


"Dari mana datangnya makhluk itu?" tanya Riona penasaran.


Kemudian River mulai mengingat sesuatu yang sangat penting.


"Dimana Yui?" tanya River.


"D- dia masih di dalam ruang bawah tanah itu!" jawab Riona yang juga mulai ingat dengan keberadaan Yui.


"Aku disini..."


Sebuah suara terdengar dari lubang di sebelah kastil Dewa Kegelapan yang mengarah langsung ke ruang bawah tanah, tempat dimana mereka bertemu dengan Issac untuk pertama kalinya.


River dan Riona mengalihkan pandangannya dan melihat sosok Yui di dekat lubang itu, sepertinya dia keluar lewat lubang itu.


"Kau baik-baik saja Yui?" ujar Riona sambil menghampiri gadis itu disusul oleh River.


"Aku baik-baik saja..." balas Yui memaksakan dirinya untuk tersenyum.


River dan Riona tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Yui dan ikut sedih karenanya, bahkan Riona yang sejak awal tidak menyukai gadis itu sekarang malah memeluknya erat-erat dengan penuh rasa kasihan.


"Tenanglah ... kau masih memiliki kami di sisimu..." ujar Riona sambil memeluk Yui.


"Terima kasih kak..." balas Yui merasa sangat terharu.


Sekarang bukan saatnya untuk bersantai dan saling berpelukan, Riona melepas pelukannya terhadap Yui lalu berusaha bersikap tegar, sementara River masih belum mengalihkan pandangannya pada manusia berkepala burung yang terbang memutar di atas langit.

__ADS_1


"Manusia burung itu ... apa itu adalah makhluk panggilanmu, Yui?" tanya River menebak dibarengi dengan anggukan Yui.


"Aku kira kau hanya bisa memanggil hantu." gumam Riona.


"Yui juga baru tahu kalau bisa memanggil makhluk lain selain hantu, Yui hanya perlu membayangkan wujud makhluk itu dan membutuhkan jiwa yang setimpal untuk memanggilnya." balas Yui sambil melihat makhluk panggilannya.


Itu adalah makhluk panggilan yang cukup kuat, mungkin kekuatannya setingkat dengan monster Rank-SSS.


Untuk memanggil makhluk sekuat itu Yui menghabiskan seluruh stok jiwa yang dia punya, jadi dia tidak akan bisa memanggil makhluk panggilan lagi untuk beberapa saat ini sebelum ia mendapatkan jiwa lagi.


"Ngomong-ngomong orang itu sama sekali tidak memiliki jiwa." kata Yui tiba-tiba yang membuat River dan Riona sedikit kebingungan.


"Apa maksudmu?" tanya River.


"Setiap kali ada makhluk hidup yang terbunuh di dekat Yui, maka jiwanya akan otomatis terserap oleh kemampuan milik Yui. Tapi saat orang itu terbunuh dia sama sekali tidak mengeluarkan jiwa." kata Yui menjelaskan.


Orang yang Yui maksud adalah Issac.


"Mungkin orang itu sudah lama mati, dan pasti ada orang yang bisa membuatnya hidup kembali tanpa jiwa seperti Undead." kata Riona menyimpulkan.


Dan satu-satunya orang yang mereka ketahui cukup kuat hingga bisa melakukan hal mustahil seperti itu hanyalah satu orang, yaitu Xander....


"Kita belum menemuinya semenjak datang ke tempat ini, mungkin dia sedang merencanakan sesuatu jadi sebaiknya kita bergegas." saran River dibarengi dengan anggukan dari Riona dan Yui.


Namun sebelum mereka sempat pergi dari tempat itu, dataran bulan tiba-tiba bergetar dengan hebat hingga meretakkan beberapa bagiannya.


Cahaya biru yang sangat terang juga keluar dari dalam retakkan itu.


Wajah Yui berkeringat dingin ketika melihat kejadian besar itu terjadi di depan matanya, "Bulan akan segera hancur..." gumamnya.


...


...


...


Sementara itu di sisi lain Finley dan Raymond yang tengah berlari menuju kastil Dewa Kegelapan untuk menyusul River dan yang lainnya juga melihat retakkan yang terjadi di depan mereka.


"Apa yang terjadi disini? Apa musuh utama kita sudah keluar?" tanya Finley sedikit panik melihat retakkan besar yang semakin menjadi-jadi itu.


"Mungkin saja orang itu sudah muncul!" ujar Raymond yang juga terlihat sangat panik.


Ia sudah tidak memiliki satupun pasukan Undead sekarang, jadi jelas dia sangat panik.


* TAP!! *


Langkah kaki terdengar di belakang mereka berdua dan sontak membuat mereka langsung berbalik dengan sangat waspada.


* SWOOOSH!! *


*JLEB!! *


"Aaargh!"


Bersamaan dengan itu sebuah pedang merah darah tiba-tiba terhunus dari depan mereka dan menembus tubuh dada Raymond hingga membuatnya berteriak kesakitan.


Ia menjatuhkan tubuhnya berlutut sambil memegangi lubang besar di dadanya itu.


Sial! Apa apaan ini?! Bukankah aku memiliki resistensi terhadap rasa sakit?! Kenapa serangan sederhana itu terasa sangat sakit!! - batin Raymond.


Dengan menutup satu matanya karena menahan rasa sakit luar biasa yang menyerang seluruh syarafnya, Raymond mendongkakkan kepalanya dan menatap si penyerang.


Sebuah seringai terlukis dengan jelas di wajah seorang pria yang memiliki rambut putih panjang dan sangat acak-acakan, pupil matanya berwarna merah dengan bola mata hitam sementara tubuhnya diselimuti sesuatu berwarna merah darah.


Raymond bisa merasakan jika pria itu memiliki kekuatan yang sangat besar sehingga hampir menghampiri para Dewa, dia adalah Xander!


"Fufufu~ seorang putri Dewi Cahaya pasti akan sangat membantu evolusiku..." ujarnya sambil mendekati Finley.


Finley diam membeku di tempatnya dengan mata yang telah kehilangan cahaya kehidupannya, dia sudah terkena pengaruh sihir Xander tepat ketika melihat matanya.


"T- tidak..." ujar Raymond lirih sembari menggapai kaki Xander.


Ekspresi jijik muncul di wajah Xander ketika kak,inya dipegang oleh sosok yang ia anggap sebagai makhluk rendahan.


"Dasar entitas rendahan..." gumam Xander lalu menghujani tubuh Raymond dengan lebih banyak pedang darah.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...

__ADS_1


...~Chp 77 : 1789 kata~...


__ADS_2