
Di sebuah ruangan mewah dengan ornamen emas, terlihat sebuah meja emas berbentuk bundar dengan 6 kursi emas yang mengelilinginya.
Disana sudah terlihat 3 orang yang tengah duduk dengan tenang. Mereka adalah Dewa Ilmu pengetahuan Carvath Gaedistrer, Dewi Kematian Nolectre Thanaesah, dan Dewi Keadilan Rosemary Harper.
Sembari menunggu kedatangan Dewi Lautan Cain Seahart dan Dewi Cahaya Lightosy Savannah, mereka sedikit mengobrol mengenai alasan pertemuan mereka yang akhirnya terjadi setelah ribuan tahun lamanya.
"Aku dengar dia sudah dikalahkan oleh Pewaris Dewa Kegelapan, benarkah itu?" kata Rosemary membuka pembicaraan.
Jelas orang yang ia bicarakan adalah Xander yang dikalahkan oleh River.
"Tidak usah berpura-pura lagi, aku tahu kalian semua pasti sudah menyadari hal itu." jawab Carvath sedikit sinis dengan pertanyaan Rosemary.
"Apakah salah jika aku bertanya?" balas Rosemary tak kalah sinis.
"Kurasa kau hanya membuang-buang waktu untuk hal yang tidak berguna."
Mereka berdua sedikit berdebat dalam waktu yang cukup lama hingga membuat Nolectre yang menyaksikan itu menjadi tidak nyaman dan memutuskan untuk melerai keduanya.
"Untuk apa kalian bertengkar untuk hal yang tidak berguna itu? Tujuan dari pertemuan ini adalah untuk membahas tentang perubahan besar yang terjadi akibat pertarungan mereka." ujar Nolectre.
"Apa yang dia katakan memang benar."
Sebuah suara terdengar menyusul pernyataan Nolectre dan bersamaan dengan itu sebuah portal terbuka di dekat mereka.
Mereka tidak terkejut sama sekali karena sudah tahu siapa orang yang datang.
"Akhirnya kalian datang juga ... Cain, Lightosy..." ucap Nolectre lega.
"Lama tidak bertemu, apa kabar kalian semua?" Cain menyapa rekan rekannya itu dengan hangat, namun hanya dibalas dengan setengah hati oleh mereka.
"Seperti biasa, melakukan pekerjaan membosankan tanpa henti selama ribuan tahun.." balas Rosemary cuek.
Cain tidak menanggapi balasan cuek dari rekan rekannya itu dan memilih untuk duduk disusul oleh Lightosy di belakangnya.
Cain menghela nafas panjang terlebih dahulu sebelum berkata, "Aku tahu kalian semua merasa bosan dengan kebebasan kalian yang sangat terbatas, tapi ketahuilah jika ini semua demi keberlangsungan dunia-"
"Yah ... itu adalah kata-kata motivasi yang selalu aku dengar setiap pertemuan kita." potong Rosemary cepat, membuat Cain mengernyitkan dahinya.
"Rosemary Harper ... banyak orang yang masih belum mendapatkan keadilan di dunia bawah, sepertinya kau sangat malas dalam melaksanakan tugasmu..." kata Cain dingin sambil menatap wanita itu dalam-dalam.
Cain ingin memojokkan Rosemary yang terkenal sebagai wanita keras kepala, tapi tak lama kemudian Carvath ikut berbicara untuk melindunginya.
"Lupakan omong kosongmu itu Cain, katakan saja apa alasanmu membuat pertemuan ini setelah ribuan berlalu?"
"Ah ... aku hampir lupa tujuan utamaku, maaf maaf..." kata Cain mengubah ekspresinya cepat.
Dewa dengan banyak wajah, tidak dapat dipercaya, pembohong, licik, manipulatif, itu semua yang ada dalam benak para Dewa Dewi lainnya ketika melihat sosok Cain.
Diantara mereka berlima dialah Dewa yang paling dekat dengan sistem dunia, dia memiliki kesetiaan yang besar pada sosok yang telah merenggut kebebasannya.
Menjadikan Cain Seahart memiliki status lebih tinggi daripada yang lainnya, oleh sebab itu dia bisa mengadakan pertemuan seperti ini dengan mudahnya.
"Tidak usah basa-basi lagi, aku yakin jika kalian semua pasti sudah tahu alasan kenapa aku mengadakan pertemuan ini setelah sekian lamanya. Salah satu rekan kita telah tiada, kenapa kalian tidak menolongnya?" ucap Cain sambil menatap keempat rekannya satu persatu.
"Aku terlalu sibuk dengan pekerjaanku dan terlalu malas untuk berurusan dengan orang sepertinya..." Carvath angkat bicara, membuat Cain menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Yang lainnya?" tanya Cain dan dibalas dengan jawaban cuek para Dewa dan Dewi lainnya.
Semua orang tahu tentang pertarungan yang menewaskan Xander dan menghancurkan sebagian dari bulan, mereka sebenarnya bisa membantunya tapi mereka tidak ingin melakukan hal itu.
Alasannya sederhana ... mereka sudah muak dengan Xander dan ingin menyingkirkannya dari dunia mereka...
Mereka semua tentunya tahu tentang perbuatan Xander yang seringkali menyebar malapetaka di dunia dan melakukan hal-hal keji lainnya, tapi mereka tidak memiliki hak untuk menghentikannya karena mereka terikat dengan hukum.
Xander adalah seorang Dewa palsu yang memiliki banyak kebebasan dalam hidupnya, membuatnya menjadi makhluk yang arogan dan serakah. Jadi mereka senang dengan kematian pria itu....
"Aku tahu jika kalian semua membenci pria itu, akupun begitu ... tapi tetap saja kita tidak boleh mengabaikan rekan kita seperti itu, apa yang akan dilakukan Sistem Dunia nanti jika mengetahui hal ini?" kata Cain dengan tatapan iba, namun mereka tidak semudah itu percaya dengannya.
Jangan mengabaikan rekan? Perkataannya itu hanyalah sebuah omong kosong karena mereka melihat sendiri jika Cain adalah satu satunya orang yang berkontribusi penuh terhadap penangkapan Dewa Kegelapan Arshadow Sizraes.
"Karena keputusan kalian yang ceroboh membuat Xander mati dan gelar Dewa Kegelapan telah jatuh pada bocah pewaris itu, ini akan sangat merepotkan bagi kita nantinya." lanjut Cain.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Lightosy yang sejak awal hanya diam dan tidak mengikuti topik pembicaraan.
"Dan kau, Lightosy Savannah ... aku harap kau memberi kami alasan yang bagus atas keputusanmu melepaskan bocah itu padahal kau sudah berhasil menangkapnya kala itu." ujar Cain menaikan sudut bibirnya.
Semua orang mengalihkan pandangannya ke arah Lightosy dengan tatapan kebingungan.
Padahal sebelumnya ketika pertarungan di kerajaan Victoria yang hampir memusnahkan seluruh dunia, dia sudah berhasil mengikat River dengan rantai emas miliknya. Namun dia malah melepasnya begitu saja....
Wanita berambut merah itu mengangkat kepalanya, menatap semua Dewa dan Dewi di depannya itu dengan serius sebelum berkata-
"Kalian tidak akan pernah tahu perasaan seorang ibu."
Semua orang membelalakkan matanya dengan ekspresi yang sangat terkejut, dalam hati mereka bertanya-tanya satu hal.
Apakah Dewi Cahaya sudah memiliki anak?
...----------------...
Sementara itu di kerajaan Mazzarri tepatnya di ruang singgasana Raja, terlihat Raja Gallagher Ashton yang duduk dengan penuh kharisma di singgasana kebesarannya sambil menatap semua bawahannya.
Dia memiliki ekspresi yang aneh di wajah paruh bayanya itu setelah mendengar laporan dari salah satu bawahannya yang memegang gelar sebagai kepala perdagangan.
__ADS_1
"Hanya itu yang bisa saya laporkan Yang Mulia..." ujar sang kepala perdagangan dengan suara gemetaran, takut membuat Rajanya marah.
"Bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya Gallagher mencoba menahan emosinya.
Laporan yang ia terima dari kepala perdagangan adalah banyaknya pihak yang melakukan bisnis dengan kerajaannya tiba-tiba mengundurkan diri. Ini sangat merugikan kerajaan Mazzarri yang notabenenya bisa sukses karena perdagangan.
"I- itu karena kabarnya ada pihak ketiga yang memiliki alat transportasi jauh lebih baik daripada kerajaan kita, kalau tidak salah mereka menyebutnya kereta api!" Kepala perdagangan menjawab dengan tubuh gemetaran.
"Pihak ketiga? Apakah itu dari kerajaan lain?"
"Tidak Yang Mulia, itu hanyalah sebuah kota kecil yang baru berkembang akhir-akhir ini, letaknya sendiri berada di wilayah kerajaan Victoria yang tidak terdampak kehancuran." jawab Kepala Perdagangan.
Mungkin aku terlalu fokus pada masyarakat kerajaan Victoria yang mengungsi sehingga tidak memperhatikan ada kekuasaan baru yang berkembang di dekat kerajaanku... - pikir Gallagher.
Dia tidak peduli dengan siapapun pemilik kota itu, yang pasti lawannya itu telah berani merampas mitra bisnis kerajaannya, sebagai Raja yang berkuasa dia tidak akan membiarkan musuh seperti itu berkembang di dekat wilayah kekuasaannya.
"Komandan ksatria Leon, aku memerintahkanmu untuk segera menyelidiki kota itu. Suruh mereka tunduk pada Kerajaan Mazzarri jika tidak maka hancurkanlah!" titahnya pada seorang pria berambut hitam dengan armor silver.
Dia memiliki wajah yang tampan dan pandangan mata tajam, kemanapun dia pergi teriakan seorang gadis pasti akan terdengar ketika melihat sosoknya yang begitu berkharisma dan idola semua wanita.
Dia adalah Leon Nereida, komandan ksatria tertinggi kerajaan Mazzarri sekaligus merupakan kakak kandung dari Leyn Nereida.
Mereka berdua menempuh jalan yang berbeda setelah pertengkaran kala itu, akankah kedua saudara itu akan bersatu kembali atau malah saling bermusuhan hingga saling bunuh? Saksikan di Arc berikutnya!
...----------------...
Hujan gerimis mengguyur sebuah kota besar di malam hari yang penuh cahaya terang lampu-lampu di jalan ataupun di gedung-gedung.
Ratusan mobil melaju dengan kencang di jalanan kota yang sangat besar itu, sementara orang-orang berjalan di trotoar sambil membawa payung demi melindungi diri mereka dari hujan yang tak kunjung berhenti.
Tak jauh dari pusat kota, terlihat taman bermain kanak-kanak yang penuh dengan warna pelangi.
Tempat itu sangat sepi di malam hari yang dingin, namun tak lama kemudian muncullah sebuah sinar terang yang memuntahkan sesosok badut menyeramkan, dia adalah Simon.
"Uhuk! Uhuk!" Simon terbatuk dan memuntahkan seteguk darah segar dari mulutnya.
Dengan susah payah ia mencoba untuk berdiri dengan kedua kakinya, namun itu tidak berhasil karena luka yang di deritanya cukup parah.
"Bocah sialan itu ... dia membuatku begitu terpojok sampai menghancurkan dunia buatanku yang megah. Untungnya aku sempat membuka portal ke dunia lain sebelum terbunuh..." gumamnya lirih.
Simon ingin beristirahat sejenak sambil menyembuhkan lukanya, tapi suara seorang pria tiba-tiba mengalihkan perhatiannya.
"Hei apa yang kau lakukan disini? Ini sudah malam jadi sebaiknya kau pulang dan tidak berkeliaran di tempat sepi seperti ini, bagaimana jika ada penjahat?"
Suara itu berasal dari seorang pria paruh baya yang kurus dengan sedikit kumis dan jenggot, ia mengenakan seragam biru yang bertuliskan 'Polisi'
"Hei apa kau mendengarku?" tanya Polisi itu lalu mengarahkan senternya pada sosok Simon, membuat Simon refleks menutup matanya karena silau.
Dia mundur sedikit demi sedikit setelah melihat sosok Simon yang mengeram seperti hewan buas.
"Manusia ... tanpa mana ... sangat lemah dan sepertinya sangat lezat..." ujar Simon dengan suara serak, membuat Polisi itu merinding ketakutan.
"J- jangan bergerak, a- aku adalah polisi!" teriaknya sambil menodongkan pistol.
Simon tidak merasakan ancaman dari senjata tumpul yang terbuat dari logam itu, jadi dia tidak menghiraukan peringatan Polisi itu dan tetap melangkah maju sambil menjilati bibirnya.
"Aku bilang jangan bergerak!"
* DOR!! *
"Aaargh!!*
Tembakan pertama dilepaskan, membuat Simon sontak berteriak kesakitan karena tubuhnya ditembus oleh sebuah logam kecil yang sangat menyakitkan.
Itu hanyalah serangan biasa tapi mampu membuat Simon menjadi sangat kesakitan, itu semua adalah karena kekuatannya yang menurun drastis setelah pertarungan sebelumnya.
"Dasar sialan!!" murka Simon sambil membuka mulutnya lebar-lebar, memperlihatkan gigi-giginya yang runcing.
Polisi itu sangat ketakutan seolah-olah berada dalam sebuah mimpi buruk, dia kemudian menembakkan beberapa tembakan lagi sambil terus bergerak mundur.
Simon menerima semua tembakan itu sambil terus maju, menaham rasa sakit yang amat menyengat di tubuhnya itu.
Dan ketika jarak mereka tersisa 5 meter lagi, Simon langsung melompat dan menerjang manusia tak berdaya itu.
Namun-
* CRASSH!! *
Sebuah sabit besar tiba-tiba menebas kedua lengannya hingga putus, Simon sangat ketakutan dan kebingungan di saat bersamaan saat mengetahui sosok yang menyerangnya itu.
"K- kau, bagaimana mungkin?!"
"Aku datang ke tempat ini untuk membalaskan dendamku yang tertunda selama 5000 tahun." ujar sosok itu yang ternyata adalah Riona.
Polisi itu tiba-tiba pingsan karena saking ketakutannya, membuat di tempat itu hanya tersisa Riona bersama dengan Simon yang tampak sangat menyedihkan ketika Riona berjalan mendekatinya.
"T- tidak, menjauh dariku!" teriaknya ketakutan.
Riona menyeringai senang, "Tenang saja, aku tidak akan membunuhmu sebelum aku puas menyiksamu..."
"Tidak!!!"
...<๐๐๐ ๐๐๐ : ๐๐๐ ๐๐๐๐๐๐๐๐๐>...
__ADS_1
...๐๐๐...
...****************...
Hai, Author disini ๐
โขARC 3 telah selesai, terima kasih atas dukungan kalian semua. Dengan ini maka hanya tersisa 1 ARC sebelum tamat, kuharap kalian bisa mengikuti cerita ini sampai selesai biar nggak nanggung.
โขCerita utama dari ARC 4 akan menggunakan dua perspektif yaitu perspektif Leyn dan perspektif River.
โขBagian Leyn akan mengisahkan peperangan melawan Leon yang akan ia hadapi dan memecahkan beberapa misteri lainnya seperti Iblis putih dsb.
โขSementara bagian River akan mengisahkan River yang bertarung melawan para Dewa/Dewi satu persatu untuk menjadikannya rekan atau musuh, kemudian perang besar melawan sistem dunia dan tamat....
โขTerdengar sangat mudah dan simpel, bukan? tapi sebenarnya sangat susah ๐ ๐ก๐คฌ ... like dan pembaca menurun, rekomendasi jarang, penghasilan harian sekecil biji Goblin padahal sudah up tiap hari, gimana caranya mau tamat klo gini???
โขEkhem lupakan tentang keluhan itu โบ๏ธ, selanjutnya ada beberapa ilustrasi yang terlambat saya tunjukin, simak aja yaw.
...****************...
Ilustrasi River Addeson
Ilustrasi Finley Belle
Ilustrasi Riona
Ilustrasi Raymond
Ilustrasi Yui
Ilustrasi Xander
Ilustrasi Olivia Briar
Ilustrasi Leyn Nereida
Ilustrasi Leon Nereida
Ilustrasi Putri Arcadia
Ilustrasi Aria Scarlet
Ilustrasi Ariella Rutherford
Ilustrasi Harley Addeson
Ilustrasi Alexa Northern
Ilustrasi Asher Dean
Ilustrasi Six Demon Ancestor
Ilustrasi Lovita Briar (Coming Soon)
Ilustrasi Gerald Briar (Coming Soon)
Anyway, Thank you for reading this novel โฅ๏ธ
__ADS_1