
River mendapatkan peningkatan kekuatan dari kemampuan Gluttony miliknya yang telah berevolusi menjadi Ultimate Sin Of Gluttony.
Wujud pelahap Gluttony yang awalnya berwarna hitam itu kini berubah menjadi berwarna ungu gelap ketika ia melahap rantai naga yang mengikat tubuh River.
Perlahan namun pasti rantai yang terkenal dengan kekuatannya itu mulai dapat dilahap oleh kerakusan berwujud kabut ungu itu.
* CRACK!! *
Lengan kanan River telah berhasil lepas dari rantai yang mengikatnya dan diikuti dengan tangan kirinya.
"Baiklah, mari kita keluar dari tempat menyebalkan ini..." gumam River sambil menggosok pergelangan tangannya yang sedikit sakit.
River kemudian menatap ruangan emas yang mengurungnya itu dengan sedikit kesal karena harus dibuat berusaha mati-matian untuk keluar.
"Lahap semua benda menjengkelkan ini!" titah River pada skill Gluttony miliknya.
Seolah-olah mengerti perintah River kabut ungu itu kemudian menyebar dan menyelimuti seluruh ruangan untuk melahapnya sedikit demi sedikit.
Dan tidak lama kemudian seluruh ruangan itu akhirnya berhasil dilahap sepenuhnya bersamaan dengan suara sistem yang bergema di kepalanya.
[Skill Gluttony telah melahap kekuatan baru, anda mendapatkan Skill:]
...[Sealing Dimension]...
...Sebuah kemampuan untuk menciptakan dimensi penyegel tak terbatas yang bahkan bisa digunakan untuk menyegel seorang Dewa....
...[Dragon Chain]...
...Rantai emas yang hanya dimiliki oleh keturunan Schwarzer, sebuah rantai yang langsung terhubung dengan jiwa pemiliknya dan memiliki kemampuan penyegel yang sangat kuat sampai bisa menyegel seekor Naga sekalipun....
[Bloodline Schwarzer dalam tubuh Anda telah meningkat drastis karena Skill Gluttony, meminta izin untuk mengubah struktur tubuh dan jiwa anda.]
"Lakukanlah." kata River tegas, jika itu dapat memperkuat dirinya maka dia rela untuk menanggung apapun resikonya.
...[Terkonfirmasi]...
...[Memulai evolusi kedua!]...
...[10%......30%.....60%.........
Dragon Chain kembali bermunculan di sekitar tubuh River ketika dia kembali berevolusi untuk kedua kalinya, tubuhnya bersinar keemasan bersama dengan corak rantai emas yang bermunculan di sekujur tubuhnya.
Tulangnya yang sudah ditempa ke tahap terkuat ketika melakukan evolusi sebelumnya kini kembali ditempa langi namun dengan campuran Dragon Chain yang membuat tulangnya berubah menjadi berwarna emas terang.
Perlahan namun pasti rambut hitam panjang River mulai berubah menjadi berwarna emas indah yang menjadi salah satu ciri khas keluarga Schwarzer, sementara manik mata merahnya juga berubah berwarna emas.
...80%......99%.....100%]...
...[BERHASIL!]...
[Anda telah berevolusi menjadi Heavenly God Emperor]
[Mendapatkan gelar The Last Descendants Of Schwarzer]
__ADS_1
"Sungguh kekuatan yang luar biasa..." gumam River sambil menggenggam tangannya ketika merasakan kekuatannya sudah meningkat 2 kali lipat.
Evolusi itu hanya memakan waktu yang sebentar dan tidak memiliki banyak perubahan ataupun penambahan kemampuan baru seperti Evolusi yang pertama.
Sekarang kekuatan yang diemban oleh River bukan hanya kekuatan Dewa Kegelapan peninggalan ayahnya Arshadow Sizraes, tapi juga kekuatan dari keluarga legendaris Schwarzer dari peninggalan ibunya Lilith Schwarzer.
Kekuatannya yang sekarang sudah jauh melampaui para Dewa lainnya, meskipun semua Dewa bersatu untuk melawannya, kemenangan masih tampak dengan jelas di tangan River.
"Aku pasti akan menundukkan kalian semua..." gumam River serius.
Ia melihat ke sekelilingnya, ruangan yang menyegelnya sudah menghilang sepenuhnya dan menyisakan ruang hitam yang sangat hampa.
Sepertinya dirinya sudah dipindahkan dari dunia fana ke kehampaan oleh Carvath Gaedistrer.
"Yah, lagipula keluar dari tempat ini tidaklah sulit." gumam River lalu menciptakan sebuah pedang besar di tangan kanannya.
Itu bukanlah pedang hitam yang biasa dia pakai melainkan pedang emas indah yang dililit oleh rantai emas kecil, namun jangan salah karena kekuatan pedang itu setara dengan pedang hitam miliknya.
Dan keistimewaan pedang emas itu ialah bisa merobek ruang dan waktu layaknya mentega.
* SWOOOSH!! *
Pedang di ayunkan dengan pelan oleh River, namun demikian tebasan pelan itu bisa menghancurkan dunia dengan mudah jika diarahkan padanya.
Tapi karena dirinya saat ini tengah berada di kehampaan, maka yang tertebas bukanlah dunia ataupun benda lainnya, melainkan ruang dan waktu itu sendiri.
Sebuah robekan bersinar terang di kehampaan yang tidak berujung itu, River memasukinya dan sampailah dia di wilayah kekuasaan Dewa Carvath Gaedistrer atau bisa dibilang di dimensi buatannya.
"Sepertinya aku tidak bisa melarikan diri darimu..." gumam Carvath tersenyum pahit ketika dimensi buatannya dapat dengan mudah dimasuki oleh River.
"Sepertinya kau bisa membunuh keabadian menggunakan pedang itu." kata Carvath menebak pedang istimewa milik River.
"Kau adalah orang yang pintar, seharusnya kau sudah tahu dengan sendirinya." balas River sinis.
Menurut River orang yang berdiri di hadapannya itu hanyalah orang bodoh yang tidak bisa menggunakan ilmu pengetahuannya dengan baik.
River memang bisa membunuh keabadian menggunakan pedang emasnya itu, namun dia tidak yakin bisa membunuh mereka secara permanen setelah melihat goresan di pipi Carvath yang perlahan mulai sembuh.
Mungkin Dewa atau Dewi yang River bunuh menggunakan pedang itu bisa mati, tapi mereka akan bangkit kembali dengan tubuh yang baru setelah melalui waktu bertahun-tahun lamanya.
Carvath jelas-jelas sudah mendapatkan kekalahan di momen saat itu juga, tidak, kekalahan dirinya sudah terlihat dengan jelas ketika River melakukan Evolusi keduanya.
Dia bahkan tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri saat ini, mungkin orang normal tidak akan menyadarinya, tapi...
Jutaan tebasan dimensi telah mengarah ke lehernya semenjak kedatangan River!
"Baiklah, aku menyerah." ujar Carvath menghela nafas panjang sambil mengangkat kedua tangannya.
"Kalau seperti itu tunjukkan kesetiaanmu." balas River sambil memberikan selembar kertas yang sama dengan yang ia berikan kepada Nolectre.
Kertas itu melayang ke hadapan Carvath masih tidak bisa bergerak dari tempatnya berdiri, dia mengambil kertas itu, membaca isi perjanjian dan sedikit terkejut melihat tanda darah Nolectre di dalamnya.
"Sudah kuduga wanita itu pasti berkhianat..." gumamnya.
__ADS_1
Dia tidak terlalu memikirkannya karena toh dirinya juga akan berkhianat setelah mengisi kertas perjanjian itu dengan setetes darahnya.
Carvath ingin menyetujui kertas perjanjian itu dengan setetes darahnya, tapi sebelum itu River tiba-tiba menghentikannya.
"Tunggu."
"Ada apa?" Carvath sedikit kebingungan namun tak lama kemudian dia terkejut karena merasakan hawa keberadaan lain di tempat itu.
"Sebelum itu keluarlah dulu dari sana." kata River mengalihkan perhatiannya ke satu titik ruang dimensi milik Carvath.
Tak lama kemudian api berkobaran di tempat itu dengan sangat tiba-tiba, perlahan-lahan langkah kaki seorang wanita keluar dari api yang berkobar itu hingga memperlihatkan seorang wanita cantik berambut merah.
Dia adalah Dewi Cahaya Lightosy Savannah.
"Sejak kapan kau berada disana?" tanya Carvath sedikit terkejut pasalnya dia tidak menyadari ada orang lain yang bersembunyi di ruang dimensinya.
"Sejak awal kau merencanakan rencana lisikmu yang berakhir dengan kegagalan itu." kata Lightosy dengan tenang.
Ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada River, "Dan kau ... aku tidak pernah menyangka anak yang dulu aku lepaskan bisa menjadi sekuat saat ini."
"Senang melihatmu lagi." balas River sedikit tersenyum.
Melihat interaksi mereka berdua Carvath memahami satu yang pasti, "Jangan-jangan kalian telah bersekongkol kala itu?!"
River dan Lightosy tidak menjawabnya melainkan hanya tersenyum yang meyakinkan Carvath jika mereka berdua memang sudah bersekongkol sejak lama.
Saat pertarungan River melawan Raja Laurence, Lightosy datang ke tempat itu walaupun tidak secara langsung dengan tujuan utama untuk menangkap River.
Saat itu dia belum tahu jika River itu adalah anak Dewa Kegelapan dan akhirnya tahu setelah melihat kekuatan maha dahsyat yang River keluarkan secara langsung.
Lightosy saat itu sangat kebingungan dan tidak tahu harus melakukan apa, namun seorang gadis yang memiliki aura cahaya yang mirip persis dengan dirinya tiba-tiba datang dan memanggilnya ibu.
Hati Lightosy luluh karena anaknya, Finley yang tidak dia lahirkan secara langsung itu.
Dan berkat bujukan Finley dia akhirnya setuju untuk bekerjasama dengan River yang masih belum sadar akan jati dirinya sebagai anak Dewa Kegelapan tersebut.
Lightosy berharap banyak kepada River, berharap dia bisa memberikan kebebasan untuk semua Dewa termasuk membebaskan Arshadow Sizraes dan Lilith Schwarzer yang tersegel oleh sistem dunia.
Ia sangat pandai dalam menyembunyikan fakta tentang dirinya yang bersekongkol dengan musuhnya bahkan sampai tidak disadari oleh Carvath Gaedistrer selaku Dewa Ilmu pengetahuan.
"Ini semua sangat membingungkanku..." Carvath menghela nafas panjang sambil memegangi kepalanya yang pusing memikirkan peristiwa mengejutkan yang terjadi saat itu juga.
Mulai dari Evolusi yang dilakukan oleh seorang Dewa dan pengkhianatan rekannya yang tidak dia sadari, semua itu membuat kepala Carvath yang penuh akan ilmu pengetahuan menjadi pusing.
Dan dengan pasrah, pria itu kemudian menyetujui perjanjian yang tertera di atas kertas pemberian River.
Dengan begini akhirnya River memiliki 3 Dewa yang bekerjasama dengannya yaitu Dewi Nolectre Thanaesah, Dewa Carvath Gaedistrer, dan Dewi Lightosy Savannah.
"Sisanya hanya dua orang lagi ya..." gumam River sambil memikirkan Dewa Cain Seahart dan Rosemary Harper.
"Sebaiknya lupakan saja mereka." saran Carvath.
"Kenapa begitu?"
__ADS_1
"Cain adalah orang yang paling dekat dengan Sistem Dunia sementara Rosemary bisa dibilang sangat setia dengannya, mustahil untuk membuat mereka berdua berpihak bersama kita." jelas Carvath.
"Baiklah kalau begitu." kata River menerima saran Carvath.