DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
SPESIAL CHAPTER — Awal Perang


__ADS_3

Ketika Leyn dan orang tuanya tengah melepaskan rindu satu sama lain karena telah berpisah selama bertahun-tahun lamanya, suara Myra dari luar ruangan kemudian menyadarkan mereka bertiga.


"Nona, mohon maaf mengganggu tapi sepertinya pasukan musuh sudah menuju kota kita!"


"Mereka bergerak jauh lebih cepat dari dugaanku..." gumam Leyn yang kembali ke sikap seriusnya.


"Kami akan selalu berada di sisimu, jadi jangan khawatir." kata Gerald dibarengi dengan anggukan kepala Lovita.


"Terima kasih banyak, ayah, ibu..." jawab Leyn tersenyum lembut.


Mereka bertiga kemudian keluar ruangan dan mengikuti Myra yang menuntun mereka ke atas tembok kota sebelah gerbang masuk.


"Apa semua meriam sudah dipasang?" tanya Leyn kepada Edward yang sudah bersiaga di tempatnya.


"Sudah nona, bahkan para penembak jitu sudah bersiap di menara yang telah disiapkan." jawab Edward patuh.


Matanya sedikit melirik Gerald dan Lovita yang berdiri di sebelah Leyn, dia sebenarnya sangat terkejut karena tentu tahu identitas mereka yang sebagai seorang petualang Rank Adamantite tapi dia menyembunyikannya.


Dalam hatinya dia senang karena mendapatkan bantuan dua orang hebat yang setara dengan ratusan ksatria kerajaan itu.


"Mereka sudah tiba!" teriak Leyn memperingati semua pasukannya untuk bersiap siaga untuk sesuatu yang buruk.


Jauh di depan kota terdapat sebuah hutan lebat, tapi anehnya pepohonan bergerak-gerak yang menandakan ada sejumlah orang yang bergerak secara bergerombolan disana.


Itu adalah para pasukan kerajaan Mazzarri.


"Dia kira kita tidak bisa menyerang mereka dari jarak itu? Seperti biasa dia sangat naif..." gumam Leyn mencibir kakaknya.


Leyn mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk memberikan perintah kepada seluruh orang yang bertugas menembakkan serangan meriam.


Dan ketika Leyn menurunkan tangannya ke arah pasukan musuh dengan tegas, itu artinya perintah untuk menembak sudah diberikan.


Bersamaan dengan itu ratusan meriam sihir yang terpasang di tempat Utara kota Lumise ditembakkan ke satu titik yaitu hutan dimana pasukan kerajaan Mazzarri berada.


Ledakan besar disertai teriakkan orang-orang terdengar sangat putus asa ketika mereka di bombardir dengan serangan udara yang sangat banyak dan mematikan.


Mereka tidak pernah memperkirakan jika Leyn bisa menyerang dari jarak sejauh itu dan sangat panik dibuatnya, mereka berlari berhamburan untuk menyelamatkan diri namun kematian masih terus mendatangi mereka.


Ternyata bukan hanya sebelah Utara kota Lumise yang dikepung oleh musuhnya tapi juga seluruh sisi kota.


Tapi untungnya sekeliling kota sudah dipasangi meriam sihir yang siap untuk membombardir musuh setelah perintah diberikan oleh Leyn.


1 jam berlalu dan sebagian besar musuh telah berhasil disingkirkan, banyak nyawa yang melayang di tempat itu dengan mayat pasukan musuh yang sudah tidak terbentuk lagi.


Tapi meskipun telah mendapatkan banyak serangan mematikan seperti tadi ternyata masih ada beberapa musuh yang berhasil selamat dengan luka-luka di tubuh mereka.


Inilah saat yang tepat untuk mengerahkan pasukan yang telah bersiaga di dalam tembok kota Lumise.

__ADS_1


Pintu gerbang dibuka dan segerombolan pasukan kota Lumise berteriak dengan heboh sembari berlarian ke arah pasukan musuh yang masih berhasil selamat.


Pembantaian sepihakpun tidak dapat terhindari...


"Mereka telah maju terlebih dahulu untuk menyerang kita, jadi ini saatnya bagi kita untuk maju!" teriak Leyn membakar seluruh semangat pasukannya.


"Leyn, berhati-hatilah." kata Lovita khawatir dengan keselamatan putrinya, namun dia yakin jika Leyn itu adalah seorang gadis yang kuat.


"Tolong doakan kemenanganku, ayah, ibu..." ujar Leyn dibalas dengan anggukan Gerald dan Lovita.


"Kami akan selalu berada di sisimu Leyn."


...


...


...


Perang telah dimulai, Leyn memerintahkan pasukannya untuk segera berangkat menyerang kerajaan Mazzarri secara langsung.


Mereka harus bergerak cepat untuk membangun kamp sementara di dekat ibukota kerajaan, tempat yang harus mereka hancurkan.


Singkat cerita 3 hari telah berlalu dan mereka sudah mendapatkan tempat yang sempurna untuk membangun kamp sementara walaupun beberapa kali mendapatkan sergapan musuh tapi itu tidak terlalu mengurangi jumlah mereka.


Dengan sigap seluruh pasukan yang sudah sangat terlatih itu mulai mendirikan tenda otomatis yang di dasari dari tenda camping di Bumi, tentu saja itu adalah ide Leyn yang menganggap pembangunan tenda prajurit terlalu merepotkan.


Tenda milik Leyn, Gerald, dan Lovita dibuat lebih besar daripada tenda Prajurit karena tempat itu akan berguna untuk merencanakan strategi penyerangan berikutnya.


Rencana telah disusun dengan rapi oleh Leyn, Gerald, Lovita, dan Edward di malam hari, namun di malam itu juga prajurit kerajaan Mazzarri menyergap mereka dari kegelapan malam.


Peperangan ringan tidak bisa terhindarkan lagi, beberapa pasukan di pihak Leyn gugur karena sergapan itu.


* SWOOSH! BOOM! *


* TING! TING! *


* CRASSH! *


Ledakan sihir dan pedang yang beradu satu sama lain menghiasi tempat tandus itu, puluhan mayat terlihat bergeletakan penuh darah dan terlihat sangat tragis.


Leyn sangat kesal dengan musuhnya yang bersikap pengecut dan langsung keluar dari tenda untuk menghabisi mereka hanya dengan berbekalkan sebuah Shotgun Winchester 1887 dan di pinggangnya tersarung sebuah katana bergagang merah.


* DUAAR! *


Sebuah bola apa mendarat tepat disampingnya dan ledakan besar langsung menghempaskan tubuh kecil Leyn, bersamaan dengan itu beberapa prajurit musuh berlari kearahnya sembari mengarahkan senjata mereka tanpa sedikitpun keraguan.


Dengan cepat Leyn mengarahkan senapannya ke salah seorang prajurit yang ada ditengah dan langsung menembaknya.

__ADS_1


* PANG! *


Peluru sihir keluar dari moncong Winchester 1887 miliknya dengan cepat sebelum menembus tengkorak prajurit itu dan meledakannya hingga tewas tanpa berkutik sedikitpun.


Prajurit lainnya yang melihat rekannya langsung tewas hanya dengan satu serangan langsung tertegun dengan mata yang membulat sempurna.


"Tidak mungkin!"


"Senjata apa itu!"


"Aku tidak pernah mendengar ada senjata seperti itu!"


Seketika para prajurit yang tadinya gagah berani menyerang Leyn langsung gemetar ketakutan, bahkan Leyn bisa mencium bau pesing dari bagian bawah para prajurit itu.


Leyn sama sekali tidak merasa bersalah ketika meledakan kepala prajurit tadi. Ini adalah medan perang, tidak ada namanya hati nurani di dalam medan perang.


Yang ada hanyalah pembunuhan, pembantaian dan kematian....


Dengan kepercayaan itu Leyn mulai menatap para prajurit yang sedang gemetaran itu.


"Seharusnya bajingan pengecut seperti kalian sudah siap untuk mati dalam medan perang..." ucap Leyn dingin lalu menodongkan Winchester 1887 milikku.


"T-Tolong ampuni, k-kami tidak bersalah sama sekali, kami hanya dipaksa untuk berperang."


Mereka berlutut dibawah kaki Leyn dan memohon pengampunan, mereka mungkin berharap akan mendapatkan belas kasihan darinya tapi Leyn tidak senaif itu.


"Mengampunimu adalah urusan dewa, tapi mengirimmu pada dewa adalah urusanku."


Dengan satu kalimat dingin Leyn menodongkan Winchester 1887 miliknya tepat pada kening mereka dan langsung menghancurkan kepala mereka satu persatu hingga darah mengalir bagaikan sebuah sungai di bawah kakinya.


Dua orang musuh yang mengenakan jubah serba hitam tertawa lebar melihat senjata yang Leyn gunakan, mereka menganggap jika itu hanyalah dua buah besi biasa yang dihiasi dengan indah.


Semua musuh yang melihat kejadian itu terdiam tak percaya namun Gerald dan Lovita hanya tersenyum senang.


"Itulah putriku!" kata Lovita sebelum menghilang daei tempatnya dengan kecepatan yang tidak bisa dilihat oleh mata telanjang.


Bersamaan dengan itu teriakan kesakitan dan putus asa terdengar dari segala penjuru kamp ketika setiap bagian tubuh musuh terpotong dengan sempurna.


Seolah tak mau kalah dari istrinya, Gerald juga menghilang dari tempatnya dan melakukan jenis serangan yang sama dengan Lovita.


Leyn, Gerald, dan Lovita bagaikan penguasa di medan perang yang mendominasi hidup dan mati musuhnya.


Mereka bertiga bisa membunuh musuhnya tanpa berkedip sama sekali seolah tak punya belas kasihan.


Hingga kurang dari setengah jam, seluruh musuh yang menyergap tenda mereka telah berhasil dilenyapkan.


Pandangan mata Leyn menatap langit gelap dengan bulan sabit di atasnya yang terlihat sangat suram sama seperti suasana hati Leyn melihat kematian prajuritnya.

__ADS_1


__ADS_2