DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
Chp 40: Sesuatu Yang Aneh Sedang Terjadi


__ADS_3

Beberapa hari setelah kepergian Olivia dari Akademi, kehidupanku masih berjalan dengan cukup normal. Hubunganku dengan Finley, Leon, dan Leyn masih sama baiknya. Kami berempat sering menghabiskan waktu bersama di waktu luang.


Berbanding terbalik dengan mereka, hubunganku dengan Issac sangatlah buruk layaknya hewan buas yang selalu ingin bersaing dalam berbagai hal.


Sebelumnya Issac adalah murid populer di kelas 1-A karena kepintaran dan kekuatannya, tapi semua itu mendadak tergeser karena kedatanganku.


Popularitasku di akademi sekarang naik cukup tinggi setelah aku mengalahkan beberapa orang yang berniat membullyku.


Mereka datang dengan sombong, berpikir jika aku masih lemah seperti sebelumnya, tapi semua kesombongan itu sirna setelah aku mengalahkan mereka dengan mudahnya.


Hal itu membuat pandangan orang-orang yang sebelumnya buruk kepadaku menjadi jauh lebih baik sekarang, mereka bahkan ingin menjadi temanku tapi aku menolak mereka karena tahu jika mereka hanya ingin menjilatku.


Teman yang aku anggap cukup 3 orang saja, yaitu Finley, Leon, dan Leyn....


Tapi walaupun begitu masih saja ada orang yang benar-benar membuatku kesal.


...


...


...


"Sekarang apa kau ingin bergabung dengan Osis?"


"Tidak."


Pria itu terus-menerus membujukku untuk masuk organisasi Osis, tapi aku selalu menolaknya apapun yang terjadi.


Bahkan sekarang, dia tiba-tiba saja mendatangiku ketika aku tengah makan siang bersama di kantin dengan tiga orang temanku (Finley, Leon, Leyn)


Leon berbisik kepadaku, "Hei River, kenapa kau tidak menerimanya saja? Bergabung dengan Osis pasti memiliki banyak manfaat yang cukup baik. Misalnya populer di kalangan gadis..."


Aku benar-benar tidak mengerti dengan jalan pikiran Leon. Bergabung dengan Osis memang memiliki banyak keuntungan, lupakan tentang popular di kalangan gadis, salah satu keuntungan yang sangat bermanfaat adalah hak khusus yang dimiliki para anggota Osis.


Misalnya diizinkan untuk tidak masuk pelajaran, dan mendapatkan asrama khusus yang sangat mewah setara dengan kamar kerajaan.


Itu terdengar menyenangkan, tapi mengingat anggota Osis juga harus mengabdi kepada akademi dan kerajaan membuatku sedikit tidak suka.


Sejak awal aku memang ingin pergi dari akademi ini jika kepala akademi Aria Scarlet tidak menghalangiku....


"Untuk kesekian kalinya, Henry. Aku menolak untuk masuk organisasi Osis bukan karena tidak menghormati organisasi itu, melainkan aku tidak ingin terlalu repot dengan urusan Osis." kataku.


"Begitu ya, kalau begitu sayang sekali...."


Henry Dean, itulah nama pria yang lumayan tampan di hadapanku ini. Dia adalah seorang ketua Osis sekaligus kakak laki-laki dari Asher Dean.


Dia memiliki senyum yang indah, tapi sayangnya aku sudah tahu banyak sisi buruk pria ini dari Asher dulu.


Dia adalah pria brengsek yang sesungguhnya, pria yang suka bermain dengan banyak gadis, bahkan sekarang dia terus-terusan melirik Finley dan Leyn dengan mata busuknya...


"Mohon jaga matamu, ketua Henry...." kataku sedikit mengintimidasinya.


Aku bisa melihat keringat dingin di dahinya, tapi dia tetap terlihat tenang agar tidak merusak citranya sebagai pria cool.


"Ah ... kalau begitu aku pamit dulu karena masih memiliki banyak pekerjaan. Tawaranku masih berlaku sampai kapanpun, cari saja aku jika kau berubah pikiran di lain hari." ujarnya.


"Terima kasih banyak, tapi aku tidak membutuhkannya." balasku.


Dia kemudian pergi setelah mata kami berdua bertatapan penuh kebencian.


Jika bisa aku sudah membunuhnya dari kemarin, tapi sayangnya dia memiliki dukungan penuh dari Aria Scarlet dan kerajaan Victoria. Jadi membunuhnya terlalu beresiko untuk sekarang, tapi di lain hari.....


"River kenapa kau hanya bengong, ayo lanjutkan makan siang kita." ajak Finley.


Aku mengangguk dan kembali melanjutkan makan siangku yang sempat tertunda.


Setelah beberapa saat, kami berempatpun akhirnya selesai makan siang.

__ADS_1


"Jadi apa yang ingin kalian lakukan hari ini?" tanyaku.


Ini masih jadwal istirahat, dan aku tidak tahu harus kemana lagi setelah makan siang.


"Entahlah denganmu tapi aku akan kembali ke kelas terlebih dahulu karena masih ada sesuatu yang harus aku selesaikan." balas Leon terlihat menyembunyikan sesuatu.


"Dia baru saja dimarahi oleh guru tadi karena tidur di jam pembelajarannya, jadi guru memberinya hukuman mengerjakan tugas yang cukup banyak." kata Leyn membongkar aib Leon.


"Kenapa kau mengatakannya pada River!" teriak Leon.


"Terserahku." balas Leyn sambil menjulurkan lidahnya lalu memeluk lenganku dan berkata, "Apakah kakak River punya waktu luang sekarang? Aku ingin kakak menemaniku ke perpustakaan akademi untuk meminjam buku."


Leyn bertingkah manja dan membujukku ikut dengannya.


Lagipula aku tidak ada kesibukan, jadi kurasa tidak masalah ikut dengan Leyn ke perpustakaan.


Aku mengalihkan pandanganku kearah Finley yang terlihat sudah terbiasa dengan sikap kekanak-kanakan Leyn, "Lalu bagaimana denganmu Finley?" tanyaku.


"Aku akan membantu Leon mengerjakan tugasnya, jadi kalian bersenang-senanglah di sana." ujar Finley tidak keberatan ketika aku dan Leyn berduaan.


"Finley, kau adalah teman terbaikku!" kata Leon dengan senang gembira karena mendapatkan bantuan dari orang sepintar Finley.


Sementara Leyn, "Kau memang orang yang pengertian kakak Finley." ujar Leyn sambil mengedipkan satu matanya.


'Sejak kapan Leyn memanggil Finley dengan sebutan kakak?' batinku.


...


...


...


Setelah sampai di perpustakaan akademi, Leyn langsung menerjang kearah puluhan rak buku bagaikan melihat mainan baru, dia terlihat sangat senang berada di tempat ini.


Sejak kecil Leyn memang orang yang suka belajar sama sepertiku, tapi sayangnya di desa kami tidak ada perpustakaan. Jadi wajar jika Leyn terlihat sangat senang berada di perpustakaan yang sangat luas ini.


"Baiklah!" jawab Leyn lalu mengambil beberapa buku.


Aku juga berkeliling di perpustakaan itu untuk menemukan buku yang menarik, tapi sayangnya tidak ada satupun buku yang menarik perhatianku karena sebagian besar buku di perpustakaan ini sudah pernah aku baca.


Sudah 5 tahun lamanya aku selalu berkunjung ke perpustakaan ini untuk membaca buku, dan keadaan disini masih sama seperti sebelumnya yaitu sepi.


Dibandingkan membaca buku di perpustakaan, anak-anak bangsawan lebih memilih untuk ke kantin dan jalan-jalan, jadi wajar jika perpustakaan seluas ini sepi.


Tapi ada yang berbeda sekarang karena aku melihat seorang gadis yang tengah asyik membaca buku di sebuah meja baca yang sudah disediakan disana, disampingnya juga ada secangkir teh hangat.


Gadis itu berambut hitam panjang, pupil matanya bergerak dengan indah ketika dia membaca bukunya dengan serius hingga tidak menyadari keberadaanku yang dekat dengannya.


Gadis itu adalah Alexa Northern, teman sekelasku....


"Ah ... aku tidak menyadari ada seseorang disini..." gumamnya ketika mulai menyadariku.


"Maaf mengganggu waktu membacamu." kataku sambil duduk di kursi yang ada di depannya.


Alexa menutup bukunya dan meletakkannya dengan perlahan lalu menuangkan teh ke sebuah cangkir dan menyodorkannya kepadaku, itu adalah etika mengobrol yang baik khas para bangsawan.


"Setelah dipikir-pikir kita jarang mengobrol di kelas sebelumnya. Apa kau masih ingat denganku?" ujar Alexa.


"Tentu, kita pernah bertemu sebelumnya di hutan monster, kan?" balasku.


Sebelumnya kita memang pernah bertemu di hutan monster beberapa bulan lalu, itu bukan pertemuan spesial tapi cukup berkesan bagiku.


"Sebenarnya aku sedikit terkejut melihat dirimu yang berubah begitu drastis, bukan hanya dari segi kekuatan tapi juga dari segi kepribadian. Bagaimana cara mengatakannya ya ... kau terlihat jadi lebih jantan sekarang." ujarnya.


"Apa sebelumnya aku terlihat seperti betina?" balasku sedikit bercanda.


Alexa sedikit tertawa, "Hehe, aku tidak bermaksud begitu."

__ADS_1


Aku mengakui bahwa diriku yang sebelumnya begitu menyedihkan dan aku membencinya, tapi tanpa diriku yang dulu maka tidak akan ada diriku yang sekarang, jadi aku juga menyukainya.


Aneh bukan? Tapi itulah kenyataannya.


"Jadi, apa yang dilakukan Nona Alexa di tempat seperti ini?" ujarku mengalihkan pembicaraan.


"Bukan hal yang penting. Aku hanya tidak tahu harus melakukan apa lagi untuk menghabiskan waktu istirahat yang masih tersisa, jadi aku datang ke tempat ini untuk menghabiskan waktu. Tapi sepertinya jarang ada orang yang datang ke tempat ini."


"Ngomong-ngomong tolong jangan terlalu formal padaku, panggil saja namaku tanpa embel-embel Nona." lanjut Alexa.


"Baiklah kalau kau berkata seperti itu." balasku, dia memang bangsawan yang baik.


"Sekarang giliranku untuk bertanya. Apa yang kau lakukan disini? Aku lihat kau kesini bukan untuk membaca buku."


"Ah, aku kesini hanya untuk menemani temanku, aku tidak menemukan buku yang menarik untuk dibaca dari tadi." balasku.


"Temanmu? Apa mereka adalah orang-orang yang biasa sarapan bersamamu itu?" tanya Alexa penasaran.


"Itu benar, mereka adalah orang-orang yang baik."


"Wah... apa aku bisa bertemu dengan mereka lain kali?"


Alexa terlihat sedikit bersemangat.


"Tentu boleh." balasku.


Kami berdua berbincang-bincang bersama dengan riang untuk menghabiskan waktu.


Ternyata Alexa adalah orang yang menyenangkan diajak bicara, dia juga tidak memiliki sikap yang sombong seperti anak-anak bangsawan lainnya.


Disini aku berpikir jika aku bisa berteman dengan baik bersamanya.


Tapi disaat kita berdua tengah asyik berbincang-bincang-


"!!!"


Instingku tiba-tiba berteriak tanda bahaya, aku tertegun seketika dan mengalihkan pandanganku kearah jendela perpustakaan.


"River? Apa ada masalah?"


Alexa tampaknya tidak menyadari sesuatu yang aneh sedang terjadi.


"Sesuatu yang buruk sedang terjadi di dalam hutan monster." gumamku.


...


...


...


...[𝙉𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙋𝙊𝙑]...


Sementara itu di dalam hutan monster terlihat ribuan sampai jutaan monster tengah berbaris diam tak bergeming.


Mulai dari Goblin sampai dengan Naga Darat, mereka Semua berkumpul di satu, sekumpulan orang-orang berjubah hitam juga terlihat di atas ranting pepohonan.


Mereka semua menatap satu orang wanita cantik dengan penuh penghormatan dan pengabdian.


"Tujuan kita adalah kerajaan Victoria!! Bunuh semua manusia yang kalian lihat seperti 10 tahun yang lalu!" teriak wanita itu memberi perintah.


Bersamaan dengan perintah wanita itu, para monster mulai meraung-raung dengan ganas dan mulai berlari menuju tembok kerajaan Victoria.


Wanita itu tersenyum manis, 'Sekarang apa yang akan kau lakukan ... pewaris Dewa Kegelapan...' batin wanita itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...

__ADS_1


...~Chp 40 : 1396 kata~...


__ADS_2