
...𝐃𝐫𝐚𝐠𝐨𝐧 𝐂𝐡𝐚𝐢𝐧 𝐄𝐦𝐩𝐞𝐫𝐨𝐫...
...<𝐀𝐑𝐂 𝐈𝐈𝐈 : 𝐍𝐄𝐖 𝐀𝐃𝐕𝐄𝐍𝐓𝐔𝐑𝐄>...
...--------------------------------...
...[𝙍𝙞𝙫𝙚𝙧 𝘼𝙙𝙙𝙚𝙨𝙤𝙣 𝙋𝙊𝙑]...
Demi mencapai benua Dyuraz, Aku, Finley, dan Riona harus melewati Great Dungeon yang merupakan wilayah terbesar kedua di seluruh dunia Aquila Phoroneuse17 setelah Triangle Ocean.
Tidak ada yang tahu pasti bagaimana terciptanya Great Dungeon, tapi ada rumor yang beredar cukup luas di kalangan para petualang yang mengatakan jika Great Dungeon memiliki hubungan erat dengan Dewa Kegelapan dan Dewi Kematian.
Mereka menyimpulkan hal seperti itu karena di dungeon itu sendiri terdapat aura kegelapan dan kematian yang sangat padat.
Great Dungeon adalah satu-satunya wilayah merah yang menghubungkan benua Lhigor dan benua Dyuraz melalui ruang bawah tanah yang terletak jauh di bawah samudera.
Jadi aku dan yang lainnya harus turun ke lantai terbawah Great Dungeon untuk melewati samudra dan mencapai benua Dyuraz.
Kami tidak bisa melewati samudra secara langsung karena wilayah itu merupakan wilayah kekuasaan Dewa Lautan, Cain Seahart. Terlebih lagi kekuatan mereka telah terkuras banyak akibat pertarungan sebelumnya....
...
...
...
"Huff ... Sebaiknya kita beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanan," saran Riona setelah menghela nafas panjang.
"Itu ide yang bagus mengingat jika kita belum pernah istirahat semenjak memulai perjalanan," balasku menyetujui saran Riona.
Aku mengalihkan pandanganku dan melihat seorang gadis cantik di sebelahku, "Bagaimana menurutmu Finley?" tanyaku.
Penampilan Finley sekarang jauh berbeda daripada sebelumnya, dia tidak menggenakan kacamata lagi dan melepas ikatan rambutnya, membuat rambut pirang indahnya itu tergerai.
Dia benar-benar wanita tercantik yang pernah aku temui...
"Aku akan selalu mengikuti keputusanmu," jawab Finley.
Dia dengan jelas memperlihatkan jika dirinya tidak ingin mengikuti saran Riona, melainkan hanya mengikuti keputusanku.
"Kalau begitu sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih nyaman," kata Riona dengan ekspresi kesal.
Dia pasti kesal karena tidak pernah dihargai dan selalu dipandang sebelah mata oleh Finley.
__ADS_1
Aku dan Finley tentu setuju dengan saran Riona sekali lagi, karena tempat kami berdiri sekarang bukanlah tempat yang nyaman melihat banyaknya mayat monster Rank-A kebawah yang baru saja kami bantai.
Jadi tempat itu terlalu menjijikkan untuk menjadi tempat istirahat.
Setelah berjalan selama beberapa saat, akhirnya kami menemukan tempat yang sempurna untuk beristirahat, walaupun sebenarnya itu hanyalah sebuah batu besar tapi setidaknya tidak ada mayat monster yang mengganggu penglihatan mereka.
"Jadi sampai kapan lagi kita harus menelusuri dungeon ini? Aku benar-benar tidak tahan karena tidak bisa tidur dengan tenang karena gangguan para monster menjijikkan itu."
Setelah kami bertiga duduk di batu besar itu untuk beristirahat, Finley langsung mengeluhkan masalahnya dan membuat kekesalan Riona memuncak.
"Kita baru menelusuri dungeon ini selama seminggu dan kau sudah merengek? Jika kau mau kau bisa pergi dari sini kebetulan pintu keluar masih dekat." balas Riona tampak jengkel.
"Tch, aku tidak berbicara denganmu..." balas Finley lalu mengalihkan pandangannya kepadaku.
Aku bisa mendengar Riona yang bergumam dengan kesal, "Perempuan sialan ini..."
Finley memang ahlinya membuat Riona menjadi emosi, selama memiliki kesempatan maka dia akan membuat wanita itu menjadi kesal hingga marah.
Tentunya dia berani melakukan hal itu karena sadar jika ada diriku yang selalu membelanya, tapi aku sadar jika aku tidak bisa terus-terusan pilih kasih diantara mereka berdua.
Aku menghela nafas panjang, "Hah.... berhentilah menjahili Riona seperti itu. Kita bertiga adalah rekan sekarang, jadi bisakah kalian melupakan dendam kalian demi kebaikan kita bersama?"
"Uh ... baiklah." jawab Finley patuh tapi dia masih menatap Riona dengan sinis, begitupun dengan Riona.
Aku sudah tahu tentang masa kecil Finley yang terlibat dalam gelombang monster yang membuat ayahnya terbunuh.
Jadi sudah sewajah jika Finley sangat membenci Riona....
"Mengenai pertanyaanmu tadi Finley. Sepertinya perjalanan kita di dalam dungeon ini akan membutuhkan waktu yang lama karena luasnya dungeon dan banyaknya monster yang ada sementara kekuatan kita telah terkuras cukup banyak karena pertarungan sebelumnya," kataku.
Finley menganggukkan kepalanya, dia kemudian merenungkan sesuatu seolah-olah sedang mengingat-ingat sesuatu yang janggal.
Setelah beberapa saat, ia kemudian mengalihkan pandangannya kepada Riona.
"Hei, bukankah kau berasal dari benua Dyuraz?" tanyanya.
"Setidaknya sebutlah namaku-"
"Aku tidak sudi." balas Finley cepat.
'Sepertinya akan sulit membuat mereka berdua akur...' batinku.
"Itu benar, aku berasal dari benua Dyuraz, memangnya kenapa?" kata Riona pasrah.
"Aku hanya penasaran bagaimana caramu bisa sampai ke benua Lhigor sementara kau pernah bilang kalau ini adalah pertama kalinya kau memasuki Great Dungeon?" tanya Finley penasaran.
__ADS_1
Sekarang aku juga baru menyadari hal tersebut, tidak mungkin Riona melalui jalur air ataupun udara karena seperti yang dibilang tadi, itu merupakan wilayah kekuasaan Dewa Lautan dan Dewi Cahaya.
"Ah, ... 5000 tahun yang lalu ketika era kekaisaran, leluhur dari ras iblis pernah datang untuk menginvasi benua Lhigor. Awalnya mereka datang dengan mengambil resiko melalui jalur air, dan setelah sampai mereka memasang sebuah portal teleportasi di sebuah dungeon yang terhubung dengan Great Dungeon-"
"Dan portal teleportasi itu terletak di dungeon bawah tanah ibukota, tempat kita bertarung sebelumnya, bukan?"
Sebelum Riona menyelesaikan penjelasannya, aku sudah langsung menebaknya.
Riona menganggukkan kepalanya, "Hm, itu benar ... tapi portal teleportasi itu sudah hancur karena ledakan besar sebelumnya, jadi kita tidak bisa menggunakannya." lanjut Riona.
"Lalu apa kau punya sihir teleportasi?" tanyaku
Riona adalah musuh terkuat yang pernah aku temui, selain itu Riona adalah seorang pewaris Demon Ancestor Laplace yang mempunyai kekuatan ruang dan waktu. Jadi aku menyimpulkan jika Riona memiliki sihir teleportasi.
"Sepertinya kau salah akan satu hal ... Demon Ancestor Laplace adalah seorang pengkhianat Dewa Kegelapan, karena pengkhianatan itu Dewa Kegelapan mengambil kemampuan teleportasi dan time travel darinya ... kau tahu apa maksudku kan?" balas Riona sambil tersenyum penuh arti.
Aku bisa mengerti maksud perkataannya.
"Mungkinkah itu ... kemampuan teleportasi dan time travel milik Demon Ancestor Laplace ada padaku?" jawabku agak terkejut.
Kenapa aku menyimpulkan seperti itu? Itu karena akulah pewaris Dewa Kegelapan walaupun belum sekuat dirinya.
"Itu benar, tapi sepertinya kau belum bisa menggunakan dua kekuatan besar itu sebelum kau menjadi Dewa Kegelapan sepenuhnya. Sekarang kau masihlah seorang pewaris sementara aku sudah berevolusi menjadi Demon Ancestor sesungguhnya, mungkin sebutan Demon Ancestor Riona cocok untukku." kata Riona bangga.
"Berevolusi, ya..." gumamku.
Setiap makhluk bisa melakukan evolusi rasnya sendiri, tapi itu seseorang haruslah memenuhi beberapa persyaratan yang dibutuhkan terlebih dahulu.
Mungkin makhluk lain bisa berevolusi dengan mudah seperti Goblin yang menjadi Hob Goblin, atau Elf yang menjadi High Elf. Tapi untuk ras manusia memiliki tingkat kesulitan yang luar biasa untuk berevolusi ke tingkat selanjutnya.
Dalam sejarah manusia hanya ada satu orang yang pernah mencapai evolusi ke tahap selanjutnya, dia adalah Magdalen Questria yang merupakan Kaisar kekaisaran Equestria. Dan orang itu dibunuh dengan mudahnya oleh Master....
"Aku paham, tapi ras manusia sangat susah berevolusi, jadi-" kataku kepada Riona, tapi dia tiba-tiba memotong perkataanku.
"Kau bukan manusia lagi."
"Eh? Apa maksudmu?" tanyaku kebingungan.
"Semenjak kau menjadi pewaris Dewa Kegelapan, rasmu bukanlah seorang manusia lagi, juga bukan iblis, melainkan setengah Dewa. Jadi kau tentu bisa melakukan evolusi dengan mudah ... atau lebih tepatnya sedikit lebih mudah daripada ras manusia..." kata Riona menjelaskan.
'Setengah Dewa, ya... tapi aku tidak merasakan perubahan apapun pada tubuhku, apakah yang berevolusi itu hanyalah jiwaku?' batinku kebingungan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
__ADS_1
...~Chp 52 : 1168 kata~...