
"Desa Lumise? Bukankah itu desamu, River?" ujar Finley mendengar perkataan pembuat keributan itu.
"Hm ... sebaiknya aku melihat orangnya dulu, mungkin dia orang yang aku kenal di desa." balasku.
Aku berdiri dari tempat dudukku dan maju menerobos kerumunan para siswa hingga sampai di tengah-tengah kerumunan, tempat dimana orang yang membuat keributan itu berada.
Di bawah lantai aku melihat seorang pria yang telah pingsan dengan busa di mulutnya dan tanda pukulan di wajahnya.
Disana sedikit berantakan karena pria itu jatuh di atas meja makan hingga hancur.
Aku mengalihkan pandanganku ke seorang anak kecil yang berdiri di kursinya dengan melipat kedua tangannya di dada agar terlihat gagah, sementara di kursi satunya duduk seorang anak perempuan sambil mengelap telapak tangannya dengan elegan.
Aku mengenal kedua anak itu.
"Leon, Leyn, apa yang kalian berdua lakukan di tempat ini?" sapaku.
Mereka berdua sedikit terkejut mendengar sapaanku dan mengalihkan pandangannya kepadaku.
"River! Kaukah itu!?" ujar anak laki-laki itu yang bernama Leon dengan antusias.
Sementara Leyn, anak perempuan itu juga sontak terkejut dan melirik ke arahku.
"Kakak River, akhirnya aku menemukanmu."
Leyn berlari kearahku dan langsung melompat ke pelukanku, aku memeluknya dan melihat wajahnya yang memerah dan matanya yang membesar dan berkilauan layaknya seorang bayi yang imut.
"Kakak tahu? Kami sangat kesusahan di kota ini, banyak sekali pria pria busuk yang menggodaku salah satunya adalah orang yang terkapar di lantai itu ... untungnya Kakak River datang tepat waktu dan menyelamatkanku." ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di dadaku dengan manja.
'Sejak kapan aku menyelamatkannya?' batinku kebingungan.
"Oi Leyn, jangan memeluk River terlalu lama!" ujar Leon sambil menarik tangan Leyn dan menjauhkannya dariku.
Lupakan tentang kami yang saling kenal, saat ini aku sedang diperhatikan oleh seluruh siswa yang ada di kantin.
"Hei lihat! bukankah dia si tukang selingkuh itu?"
"Apa yang dia lakukan di tempat ini, apa dia mengenal siswa baru pembuat onar itu? Ayo kita beri pelajaran mereka!"
"Ssstt, jangan berkata seperti itu. Aku dengar dia sudah cukup kuat sekarang mengalahkan beberapa orang sekaligus."
Aku sedikit risih dengan situasi ini, padahal tadi tidak ada yang menyadari keberadaan kami karena mungkin mereka terlalu sibuk dengan urusan mereka sendiri.
Tapi semua orang sekarang mengalihkan perhatiannya padaku.
"Ayo kita bicara di luar." ajakku kepada Leon dan Leyn, tidak lupa aku memanggil Finley juga untuk keluar dari kantin yang semakin ramai itu karena keributan yang tadi.
Tapi tentu saja ada beberapa orang bodoh yang menghalangi jalan keluar kita.
"Hei hei, apa kau kira bisa keluar dengan mudah dari tempat ini setelah menyakiti salah satu teman kita?" ujar seorang siswa dengan badan gendut.
"Aku dengar kau sudah bertambah kuat, tapi aku tidak percaya dengan rumor itu karena sampah tetaplah sampah sampai kapanpun." ujar siswa satunya yang memiliki badan kurus.
Mereka menghalangi pintu keluar kantin sambil menggulung lengan baju mereka, bersiap untuk menghajarku.
Leyn tampak ketakutan dan memeluk tubuhku lagi.
"Kyaa... mereka sangat menakutkan, Kakak River tolong lindungi aku~"
__ADS_1
Aku tidak bisa melihat ekspresi ketakutan dari Leyn, melainkan aku bisa merasakan tatapan dingin dari Finley.
Aku menghela nafas, 'Tolong jangan cemburu, Finley.... sikapnya memang seperti ini sejak kecil.'
"Yah, lagipula mengatasi ini sangat mudah-"
"Jangan halangi jalan kami, terima ini!"
* BUGH! *
* BRAK! *
Kata-kataku langsung dipotong oleh Leon yang menerjang kearah dua orang siswa itu dan melayangkan pukulan kepada pria kurus itu sehingga membuatnya terpental jauh dan menghantam dinding.
Pria gemuk itu sangat terkejut, "D-Dasar orang desa!" teriaknya.
「Earth Magic : -」
Pria gemuk itu ingin melancarkan serangan sihir, tapi-
"Terlalu lambat!"
* BUGH! *
"Gukhak!"
Leon terlebih dahulu memukul perut gemuknya hingga membuat pria gemuk itu mengerang kesakitan sebelum selesai menggunakan sihirnya.
Pria gemuk itu membungkuk di lantai sambil memegangi perutnya yang baru saja dipukul dengan keras, tapi Leon tidak berhenti di sana dan menendang wajah pria gemuk itu.
"Dasar babi gemuk, mati saja kau sana!"
* BUGH! *
* BRAK! *
Aku bisa merasakan keheningan di belakangku, semua orang yang awalnya ribut menjadi terdiam seketika setelah melihat Leon yang mampu menghajar dua orang siswa hanya dalam beberapa saat saja.
Yah, setidaknya aku tidak perlu turun tangan untuk masalah sepele seperti ini, tapi aku bisa melihat ekspresi tidak senang dari Leyn.
Dia pasti berharap melihat aksiku yang menghajar dua orang bodoh tadi, tapi semua itu digagalkan oleh kelakuan kakak kandungnya yang tidak peka.
Aku menepuk pundaknya, "Ayo kita pergi." ajakku.
"Hm." Leyn menganggukkan kepalanya.
...
...
...
Leon Nereida dan Leyn Nereida, mereka berdua adalah saudara kembar yang berasal dari desaku yaitu desa Lumise, kami bertiga sangat dekat saat kecil karena rumah kami yang memang berdekatan dan hubungan antara keluarga Addeson dan Nereida juga cukup dekat.
Sebenarnya umur kami hanya berbeda 2 tahun tapi penampilan fisik Leon dan Leyn terlihat seperti seorang anak berusia 10 tahun, itu memang menjadi salah satu ciri khas keluarga Nereida yang awet muda.
Bahkan nenek dari Leon dan Leyn yang sudah berusia sekitar 70 tahunan masih terlihat layaknya seorang wanita berusia 30 tahunan.
__ADS_1
Walaupun memiliki fisik yang kecil layaknya seorang anak usia 10 tahunan, tapi bukan berarti keluarga Nereida itu memiliki fisik yang lemah, justru sebaliknya mereka memiliki kekuatan fisik yang sangat kuat.
Itu bisa dilihat dari pertarungan Leon melawan dua orang siswa sebelumnya, padahal Leon saat itu tidak menggunakan sihir Buffed apapun tapi sudah cukup kuat untuk mengalahkan dua orang itu.
Keluarga Nereida berprofesi sebagai seorang penebang pohon yang sangat hebat karena fisik mereka yang kuat.
Setahuku keluarga itu juga mewariskan pekerjaannya kepada anak cucu mereka seperti keluargaku yang mewariskan pertaniannya kepada anak tertua, tapi kenapa Leon dan Leyn berada di sini sekarang?
Kami berempat sudah berada di taman akademi, jadi sudah saatnya menanyai mereka.
"Jadi, kenapa kalian bisa berada di tempat ini?" tanyaku.
"Kenapa kau menanyakan hal itu lagi? tentu saja untuk belajar untuk menjadi lebih kuat." jawab Leon dengan santai.
Aku menghela nafas panjang, "Maksudku apa kalian kabur dari rumah? aku yakin jika paman dan bibi tidak akan mengizinkan kalian pergi ke tempat seperti ini sendirian, apa lagi mengingat penampilan kalian...."
"Hei! jangan lihat kami dari penampilan kami yang seperti anak kecil ini! asal kau tahu kalau kami sudah mencapai masa pubertas." kata Leon dengan bangga.
"Oh..... aku sudah mengalaminya dua tahun lalu." balasku sukses membuat Leon tampak murung.
Leyn tampak risih mendengar pembicaraan kami, "Jangan membicarakan hal memalukan itu pagi pagi buta seperti ini." ujar Leyn dengan wajah memerah karena malu.
Sedikit mengkoreksi, ini sudah siang.
"Kakak River tenang saja, kami berdua tidak kabur dari rumah untuk datang kesini, melainkan kami memang diizinkan untuk datang oleh ayah, ibu, dan nenek kami. Semenjak kepergian kakak dari desa, desa itu sudah menjadi tidak berwarna lagi dan sangat membosankan, ayah dan ibu merasa sedih melihat kami yang terus-terusan murung jadi mereka mengizinkan kami datang menyusul kakak." kata Leyn menjelaskan.
"Aku mengerti...." balasku, lalu melanjutkan, "Bagaimana dengan kabar keluargaku? Apa mereka baik-baik saja?"
Leyn tampak kesulitan menjawab pertanyaanku, tapi sekarang giliran Leon yang berbicara.
"...... Sebenarnya mereka kurang baik semenjak kepergianmu, ayahmu jadi sering mabuk-mabukan yang membuat ibu dan adikmu harus menggantikannya bekerja di sawah, terkadang kami berdua datang membantu ibu dan adikmu bekerja, tapi sekarang kami sudah pergi juga dari desa."
Aku menundukkan kepalaku.
"Begitu ya ... aku sudah banyak menyusahkan mereka..." kataku penuh penyesalan.
"Sebaiknya kau pulang ke desa sesekali untuk menjenguk keluargamu." saran Leon sambil menepuk pundakku.
"Terima kasih, aku akan memikirkannya." balasku sambil tersenyum.
Dia memang teman terbaik yang pernah aku miliki.
"Anu ... bolehkah aku bertanya sekarang?"
Leyn tiba-tiba bertanya.
"Tentu boleh, memangnya ada apa?" jawabku.
"Kenapa gadis itu selalu menatapku dengan aneh? Apa dia temanmu, kak? Kau belum memperkenalkannya dari tadi...."
Mengalihkan pandanganku, aku melihat Finley yang menatap Leyn dengan ekspresi cemberut karena terlalu dekat denganku.
'Ugh ... aku melupakannya.....' batinku.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
__ADS_1
...~Chp 30 : 1279 kata~...