
Di sebuah ibukota kerajaan Frostland, seluruh ksatria dan prajurit tengah bersiaga di depan gerbang demi melindungi kerajaan mereka dari ancaman musuh terbesar yang pernah mereka lawan.
Tubuh semua orang gemetaran hebat tak terkecuali para ksatria ketika menyadari siapa sebenarnya musuh mereka.
Mereka ingin lari dari medan tempur tapi mereka tidak bisa lari dari tanggung jawab dan perintah Ratu mereka, jadi mereka hanya bisa pura-pura memasang wajah tegas di balik ketakutan mereka.
Seperti namanya, kerajaan Frostland adalah wilayah yang dipenuhi dengan es dan salju. Mereka memiliki resistensi yang cukup tinggi terhadap dingin karena sudah terbiasa semenjak lahir.
Namun desiran hawa dingin dari depan mereka sukses membuat mereka menggigil.
"Hei, lihat disana!"
Salah satu ksatria berteriak sambil menunjuk ke depan. Jauh di depan sana terlihat siluet sosok manusia yang dikaburkan oleh badai salju.
Perlahan-lahan siluet itu mulai menampakkan wujudnya sebagai seorang wanita berambut putih, bermata merah darah, dan memiliki gigi taring layaknya vampir.
"D- dia telah datang! Ratu Iblis Estienne telah datang! bersiap untuk bertempur!"
Teriakan terdengar dari jendral perang, membuat semua pasukannya waspada dengan senjata mereka masing-masing.
Disisi lain Estienne yang melihat perlawanan tidak berguna dari para manusia di depannya sedikit tertawa.
"Manusia lemah ini ingin melawanku? fufufu kalau begitu akan kuladeni mereka sebelum aku menundukkan mereka..."
Setelah perkataannya itu Estienne merentangkan tangan kanannya dan sedikit melukainya sehingga membuat sedikit darah keluar.
Darah itu bergejolak sebelum membentuk sebuah sabit besar yang terbuat dari darah itu.
Semua pasukan sontak menjadi waspada kepada Estienne, namun tanpa mereka sadari wanita itu telah menghilang dari tempatnya dan berpindah tepat di hadapan sang Jendral.
"Apa yang-"
Pria paruh baya itu sangat terkejut ketika Estienne menggenggam kepalanya dengan erat-erat lalu membantingnya ke tanah bersalju.
* BOOOMMM!! *
Hantaman besar terjadi hingga meretakkan tanah dan menghancurkan kepala sang Jendral. Darah berceceran dan perlahan-lahan mulai melayang sebelum memasuki tubuh Estienne.
Wanita itu menjilat bibirnya seolah-olah merasakan makanan yang sangat lezat.
"Tidak ada yang lebih nikmat dari darah manusia selalu ras spesial..." gumam Estienne yang merasa bergairah dan menginginkan lebih banyak darah lagi.
Sedangkan ribuan pasukan yang melihat kejadian itu dibuat membelalakkan matanya sebab jendral mereka yang sangat kuat itu bisa terbunuh dengan mudah.
Mereka bukanlah orang bodoh yang rela mengorbankan nyawa dengan sia-sia, jadi mereka mundur perlahan-lahan dan langsung melarikan diri selagi sempat.
Estienne tersenyum lebar, "Kenapa kalian pergi begitu cepat setelah memberikan penyambutan yang begitu meriah kepadaku?"
Dengan satu gerakan sederhana, Estienne menerjang ke sekumpulan pasukan yang sedang melarikan diri itu.
Dia memutar sabit darah besarnya 360 derajat berkali-kali hingga memotong setiap bagian tubuh musuhnya.
"AAAARRGH!"
Teriakan keputusasaan terdengar dari para pasukan yang tertebas, walaupun mereka masih bisa hidup namun darah mereka langsung terserap hingga benar-benar kering.
Kali ini Estienne tidak menyerap darah yang didapatnya dari kematian para pasukan itu, melainkan mengumpulkannya di atas langit hingga membentuk bola darah yang cukup besar.
"Bunuhlah semua musuhku!"
「Blood Phantom Bullet!」
Bola darah di atas langit melesatkan beberapa peluru darah yang langsung menembus dan membunuh puluhan sampai ratusan pasukan musuh.
Darah yang dihasilkan kemudian kembali melayang ke bola darah di atas langit sebelum kembali ditembakkan.
Rotasi itu terus terulang sebelum teriakan seorang wanita yang sedang marah bergema di tempat itu.
"Hentikan itu!"
「Ice Magic : Ice Smasher!」
Sebuah serangan sihir dengan elemen es menghantam bola darah milik Estienne dan menghancurkannya hingga kembali ke bentuk semula.
Para pasukan yang masih selamat menoleh ke atas tembok kota yang terdapat seorang wanita cantik dengan jubah biru dengan hiasan putih.
__ADS_1
Mata mereka berbinar dengan penuh harapan ketika melihat sosok wanita itu.
"Hidup Ratu Isabell!"
"Hidup Ratu Isabell!"
"Hidup Ratu Isabell!"
Semua orang meneriakkan satu nama yaitu Ratu Isabell, dia adalah Ratu dari kerajaan Frostland.
Seorang wanita yang telah memimpin kerajaan itu semenjak dirinya berusia 14 tahun dan sampai sekarang ia masih belum memiliki pasangan.
Dia adalah orang yang sangat bijaksana dan mencintai seluruh rakyatnya layaknya keluarga.
Dia benci peperangan yang seringkali merenggut korban jiwa, jadi dia membuat kerajaannya terasingkan dari dunia luar dan jangkauan kerajaan lain dengan cara menciptakan badai salju di perbatasan wilayahnya.
Namun seorang wanita dengan identitas Ratu Iblis itu dapat dengan mudah menerobos badai salju miliknya dan membantai pasukannya dengan begitu mudahnya.
Itu membuat Ratu Isabell menjadi sangat murka dan turun tangan langsung untuk melawan musuhnya...
Senyuman masih belum luntur dari wajah Estienne ketika melihat kedatangan orang terkuat dari kerajaan itu.
Ia merentangkan tangannya dan menyerap darah yang berceceran di tanah untuk memperkuat dirinya.
Melihat itu Isabell dibuat semakin kesal, "Dasar Iblis rendahan ... beraninya kau membuat kekacauan di wilayah kerajaan Frostland yang damai ini..."
"Sebenarnya tujuanku datang kesini bukan dengan niat buruk, melainkan untuk menawarkan bangsa kalian agar tunduk kepada Tuanku." balas Estienne santai.
"Kami tidak akan pernah sudi tunduk kepada iblis biadab sepertimu!" gertak Isabell kesal.
Walaupun dia tidak tahu pasti siapakah Tuan yang dimaksud Estienne tapi dia tidak akan pernah tunduk pada kejahatan.
Isabell mengeluarkan sebuah pedang indah berwarna biru yang dilapisi oleh aura es, ia kemudian menghunuskan pedangnya tinggi-tinggi dengan niat untuk mengakhiri nyawa musuhnya.
"Aku, Isabell sebagai Ratu kerajaan Frostland akan memberikanmu hukuman yang setimpal atas semua perbuatan kejimu pada pasukanku!" teriak Isabell berkharisma.
Semua orang bersorak, bukan hanya pasukan yang masih tersisa tapi juga para rakyat yang berlindung di dalam tembok kota.
Estienne tidak bisa menahan tawanya yang lepas melihat perlawanan sia-sia dari sekumpulan orang-orang di hadapannya itu.
"Kalau begitu aku akan membunuhmu terlebih dahulu sebelum menundukkan bangsa menyedihkanmu itu!" teriak Estienne dengan suara yang menggema dan bisa di dengar oleh semua orang.
Wujud Estienne mulai berubah, kuku jarinya menjadi tajam sementara telinganya meruncing. Seluruh matanya berwarna merah darah yang bisa bersinar di kegelapan sementara giginya semakin bertaring.
Dia bukan vampir biasa - pikir Isabell pasalnya dia sudah pernah melawan vampir biasa.
Vampir di depannya itu jelas jauh lebih kuat daripada vampir yang pernah ia lawan sebelumnya.
Beruntungnya dia bisa menguasai sihir cahaya yang menjadi kelemahan utama dari ras vampir, jadi Isabell merasa bisa menang melawan Estienne yang dalam wujud terkuatnya.
Estienne menghentakkan kakinya hingga menghancurkan tanah bersalju dan melesat cepat ke atas tembok, tepatnya ke tempat Isabell berada.
Isabell menyiapkan pedangnya yang telah dibalut dengan sihir suci, dan ketika jarak mereka kurang lebih 5 meter, Isabell langsung menebas tubuh Estienne.
Estienne yang sejak awal menyadari rencana Isabell membelokkan tubuhnya ke samping sehingga tebasan tidak dapat mengenainya.
"Kau lengah..." gumam Isabell.
「Light Magic : Purgatory Light!」
Pedang biru milik Isabell mengeluarkan sinar suci yang amat terang hingga menerpa tubuh vampir Estienne.
Isabell tersenyum bangga, berpikir ia jika dirinya bisa mengalahkan Estienne hanya dengan sekali serangan menggunakan sihir suci.
Namun nyatanya itu salah besar karena Estienne tidak terpengaruh sama sekali terhadap sihir suci itu.
"Ap-"
* BUGH!! *
* BOOOMMM!! *
Isabell sangat terkejut ketika tendangan maut Estienne mengenai dirinya hingga membuat tubuhnya terlempar jauh ke tengah kota dan menghancurkan beberapa rumah warga.
Para warga yang ada di sekitaran sana sontak berteriak histeris dan melarikan diri.
__ADS_1
"Uhuk ... uhuk ..."
Isabell terbatuk beberapa kali hingga memuntahkan seteguk darah segar, dengan mata yang menahan sakit ia mencoba melihat sosok Estienne yang berjalan mendekatinya.
"M- mustahil seorang vampir tidak terpengaruh oleh sihir suci..." ujar Isabell tak percaya.
"Fufu~ sayangnya aku bukanlah vampir biasa melainkan salah satu vampir legendaris yang menyandang gelar Ratu Iblis..." kata Estienne menjawab rasa penasaran Isabell.
Mendengar itu membuat Isabell menggeleng tak percaya, seorang vampir yang tidak terpengaruh oleh sihir suci sama saja dengan orang yang tidak memiliki kelemahan.
Dalam dirinya Isabell sudah merasa sangat putus asa, namun mengingat jika dia memiliki tanggung jawab yang besar atas rakyat dan kerajaannya membuat wanita itu tidak ingin menyerah begitu saja.
Pada akhirnya Isabell memilih untuk tetap melawan Estienne walaupun sudah tahu itu mustahil.
Dia berdiri dengan susah payah dan menggunakan pedangnya sebagai penyangga tubuhnya yang bisa roboh kapan saja.
Estienne yang melihat keteguhan hati Isabell dibuat kagum olehnya.
"Akan ku ulangi tawaranku. Tunduklah kepada Tuanku dan kau pasti akan memiliki kehidupan yang lebih baik lagi, dengan kemampuanmu yang sekarang kau pasti akan menjadi harta yang berharga bagi Tuanku..." kata Estienne sambil mengulurkan tangannya.
"Aku tidak akan pernah ... tunduk ..." ujar Isabell lirih.
"Apa kau serius?"
"Tentu, lawanlah aku hingga titik darah penghabisan!" kata Isabell penuh tekad.
Isabell mulai mengingat kenangannya bersama ayahnya beberapa tahun lalu, saat itu usianya masih sangat muda dan masih berstatus putri kerajaan.
Ibunya telah meninggal karena melahirkan dirinya, namun sang ayah tidak membencinya ataupun menyalahkan Isabell sebagai penyebab meninggalnya sang Ratu kala itu.
Isabell masih ingat dengan jelas detik-detik kematian ayahnya yang dikarenakan gelombang monster yang menyerbu kerajaan mereka.
Anehnya bukan hanya gelombang monster yang menyerang mereka melainkan bersamaan dengan beberapa orang berjubah hitam...
Isabell yang saat itu masih sangat muda diberikan tanggung jawab besar untuk melindungi kerajaan Frostland setelah ayahnya meninggal.
Oleh karena itu dia akan melaksanakan tanggung jawabnya dengan bertarung sampai titik darah penghabisan.
"Aku tidak akan mundur!" teriak Isabell penuh tekad.
Estienne hanya memandangnya dengan datar sebelum menghela nafas panjang.
"Sayang sekali sosok hebat sepertimu akan berakhir di tempat ini ... kalau begitu aku akan meladenimu." ujar Estienne.
Isabell menatap Estienne serius sambil memegang pedangnya erat-erat, Estienne tidak menyerang dengan tiba-tiba seperti sebelumnya melainkan hanya berjalan dengan santai mendekati Isabell.
Isabell tidak kehilangan fokusnya, ia tetap menatap Isabell dengan penuh keseriusan.
Hingga akhirnya Isabell berkedip sekali, Estienne sudah menghilang dari hadapannya.
* SWIING... *
Kilatan merah melintasi leher Isabell dan membuatnya tertegun, bersamaan dengan itu sosok Estienne sudah berada di belakangnya sambil menepuk pundaknya dengan lembut.
"Semoga kau tenang di alam sana..." ujar Estienne, bersamaan dengan itu kepala Isabell terjatuh dan menggelinding di tanah bersalju.
Aku ... mati? - pikir Isabell tak percaya sebelum kesadarannya sepenuhnya menghilang pertanda jika ia telah meninggal dunia.
Estienne mengambil pedang biru milik Isabell lalu terbang tinggi-tinggi ke langit sehingga bisa dilihat oleh semua warga dan pasukan yang masih berada di luar tembok.
Ia kemudian mengangkat pedang itu tinggi-tinggi lalu berteriak, "Pemimpin kalian telah mati, tunduklah atau kalian akan bernasib sama dengannya!"
Pedang di tangan Estienne sudah menjadi bukti yang jelas tentang kematian Isabell, semua orang bersedih hati karena kehilangan sosok yang mereka banggakan.
Kini tidak ada harapan lagi bagi mereka, jadi dengan berat hati para pasukan menjatuhkan senjatanya dan berlutut pasrah di hadapan Estienne, begitupula dengan para warga yang tidak bersalah...
"Ini hanya langkah awalku untuk penaklukan selanjutnya..." gumam Estienne memandang dataran benua Lhigor yang sangat luas itu.
...****************...
[Ilustrasi Estienne]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 92 : 1708 kata~...