
Suatu ketika di sebuah istana matahari, terlihat seorang wanita dengan paras yang sangat cantik bagaikan bidadari tengah bersedih hati.
Wanita itu memiliki rambut merah panjang dan mengenakan gaun putih yang dihiasi oleh perhiasan emas yang sangat mewah, ia juga mengenakan mahkota yang indah bagaikan matahari.
Benar, wanita itu adalah Dewi Cahaya Lightosy Savannah.....
Alasan kenapa dia bersedih adalah karena kepergian pria yang sangat ia cintai.
Sebenarnya Dewi Cahaya dan pria yang ia cintai itu memiliki perbedaan yang sangat besar dan tidak dapat disatukan oleh takdir apapun.
Tapi bukan berarti ia menyerah akan rasa cintanya itu, walaupun mendapatkan pertentangan oleh seluruh Dewa dan Dewi yang ada tidak membuat Lightosy Savannah menyerah akan cintanya itu.
Pria yang Dewi Lightosy Savannah cintai itu adalah Dewa Kegelapan, Arshadow Sizraes.....
Lightosy Savannah tinggal di matahari demi melakukan tugasnya yaitu menyinari dunia Aquila Phoroneuse17 dengan sinar hangatnya, sementara Arshadow Sizraes tinggal di bulan untuk melakukan tugasnya juga, yaitu memberikan sinar bulan dan kegelapan malam.
Oleh karena itu cahaya bulan erat kaitannya dengan energi gelap atau negatif sementara cahaya matahari erat kaitannya dengan energi positif.
Mereka berdua hanya bisa bertemu sekali dalam ratusan tahun yaitu saat terjadinya gerhana matahari atau gerhana bulan.
Lalu apakah Dewa Kegelapan juga mencintai Dewi Cahaya sebesar cinta Dewi Cahaya kepadanya? Tentu saja tidak karena Dewa Kegelapan tahu betul jika mereka berdua tidak akan pernah bisa bersatu.
Jadi ia hanya bersikap cuek dan mengabaikan Dewi Cahaya ketika mereka bertemu saat terjadinya gerhana bulan atau matahari.
Hal itu membuat Dewi Cahaya menjadi sangat sedih, terlebih lagi ketika dia mengetahui fakta jika Dewa Kegelapan melakukan pengkhianatan terhadap para Dewa dan Dewi lainnya.
"Kenapa kau mengkhianati kita, Ars....." gumam Dewi Cahaya sedih.
Ia kemudian meneteskan setetes air matanya yang penuh kerinduan dan cinta kasih kepada Dewa Kegelapan. Air mata itu kemudian terjatuh ke dunia bawah, tepatnya dunia Aquila Phoroneuse17.
Setetes air mata yang suci dan penuh cinta kasih itu terjatuh ke sebuah benua yaitu benua Lhigor, lebih tepatnya di kerajaan Victoria dan terjatuh tepat di perut seorang wanita hamil yang sedang berjalan bersama suaminya.
Pasangan suami istri itu hanyalah seorang pedagang kecil di pinggir jalanan ibukota yang luas, terlebih lagi mereka baru saja menikah dan bayi di kandungan sang wanita adalah anak pertama mereka.
Beberapa Minggu kemudian sang wanita sudah saatnya untuk melakukan persalinan, ia begitu gugup karena ini adalah pertama kalinya dia melahirkan begitupun dengan sang pria yang khawatir dengan keadaan istrinya.
Tapi setelah persalinan selesai, sang wanita sama sekali tidak merasakan kesakitan. Bahkan para suster yang membantu persalinan begitu terkejut karena rahim sang wanita telah sembuh dan tertutup rapat kembali.
Bayi yang lahir dari rahim sang wanita tidak menangis ketika kelahirannya, melainkan tersenyum.
Melihat itu sang pria yang baru saja menjadi seorang ayah itu menjadi sangat bahagia, dia mengangkat bayi perempuannya tinggi-tinggi dan berteriak, "Namamu sekarang adalah Finley Belle! Kau akan menjadi kebanggaan kami berdua dan menjadi penyembuh bagi dunia busuk ini!"
Sang wanita yang baru saja menjadi seorang ibu itu juga tersenyum bahagia melihat antusias suaminya.
...
...
...
Beberapa tahun telah berlalu, sekarang Finley sudah menginjak umur 5 tahun, itu adalah umur bagi anak-anak untuk mengenal dunia luas dan mendapatkan teman yang banyak.
Tapi itu tidak berlaku untuk Finley.
"Dasar gadis yang aneh."
"Kenapa kau sangat suka menyembuhkan makhluk hidup yang hampir mati?"
"Apa kau tidak tahu apa itu arti dari keseruan?"
Anak-anak lain mengejek Finley kecil karena menyembuhkan seekor burung kecil yang baru saja menjadi bahan mainan anak-anak nakal itu.
Finley hanya diam dan fokus untuk menyembuhkan burung kecil itu, membuat anak-anak lain menjadi kesal dan mulai melempari Finley dengan batu.
Finley tidak melindungi dirinya, melainkan melindungi burung kecil itu dengan tubuhnya. Alhasil Finley kecil kembali pulang ke rumah dengan tubuh yang penuh dengan luka untuk kesekian kalinya.
Sesampainya di rumah, orang tua Finley begitu terkejut dengan kondisi anak kesayangannya itu.
Sang ayah sangat marah dan ingin mencari orang tua dari anak-anak yang sudah menyakiti putrinya, tapi Finley menggenggam tangan ayahnya dan menghentikannya.
"Ayah, apa menyiksa makhluk hidup itu seru?" tanya Finley kecil dengan mata yang berkaca-kaca.
Sang ayah menundukkan badannya untuk menyelaraskan tinggi badannya dengan putrinya.
"Kenapa kau bertanya seperti itu?" ujar sang ayah sambil menghapus air mata putrinya.
"Habisnya anak-anak itu bilang kalau menyiksa makhluk hidup itu seru." jawab Finley kecil.
Sang ibu yang melihat itu juga menundukkan badannya di samping suaminya untuk menyelaraskan tingginya dengan sang putri.
Dia kemudian mengelus rambut putri kesayangannya itu dengan lembut.
"Bagaimana menurutmu? Apakah menurut Finley menyiksa makhluk hidup itu menyenangkan?" tanya sang ibu.
__ADS_1
Finley kecil menggelengkan kepalanya, "Tidak, entah kenapa dadaku terasa sesak melihat makhluk hidup yang tersiksa..."
"Kalau begitu maka jangan pernah menyakiti makhluk hidup apapun jenisnya." ujar sang ibu sambil memeluk putrinya itu disusul dengan sang ayah yang memeluk istri dan putrinya.
...
...
...
2 Tahun kemudian, usia Finley sudah menginjak usia 7 tahun.
Finley kecil sudah tidak pernah lagi bermain dengan anak-anak lain termasuk anak-anak tetangga, dia lebih sering diam di rumah atau membantu orang tuanya berjualan di pinggir jalan.
Semakin hari dagangan orang tuanya semakin ramai pembeli, itu berkat Finley yang pintar memasak dan menjualnya dengan harga yang cukup terjangkau oleh kalangan masyarakat manapun.
Sekeluarga itupun memutuskan untuk membeli sebuah gedung besar untuk membuka restoran, bisnis itupun berjalan dengan lancar berkat Finley juga yang mengajak anak-anak panti asuhan bekerja bersamanya.
Semakin lama dan semakin lama nama keluarga Belle sudah dikenal luas di masyarakat dari berbagai kalangan. Mulai dari sini hidup Finley dan keluarganya sudah mulai membaik.
Dari yang awalnya hanya keluarga miskin menjadi keluarga yang terbilang kaya.
Setiap malam Finley memiliki kebiasaan yang terbilang cukup aneh, yaitu dia sering duduk di balkon kamar sambil menatap bulan di langit malam sampai dia benar-benar tertidur pulas, jadi sang ayah selalu memindahkannya ke kasur setiap malam.
Jika bulan tidak terlihat karena tertutup awan, maka Finley akan merasa sangat khawatir hingga tidak bisa tidur sampai pagi, membuat kedua orang tuanya menjadi sangat khawatir.
Walaupun begitu sekeluarga itu hidup dengan bahagia setelah menghadapi kerasnya kehidupan sebelum mereka sukses.
Hingga suatu tragedi yang membuat semuanya tidak akan sama lagi terjadi tidak lama setelah kebahagiaan itu.....
...
...
...
Langit malam terlihat sangat mencekam di sebuah ibukota yang terlihat sangat mengerikan dengan banyaknya reruntuhan bangunan dan darah yang berceceran dimana-mana.
Para monster datang memasuki ibukota dan membunuh banyak warga yang tidak bersalah. Tragedi ini bernama gelombang monster, tapi bukan gelombang monster biasa karena ada beberapa orang berjubah hitam yang ikut membunuh para warga.
"Sayang, tolong bawa putri kita ke tempat yang aman."
"Bagaimana denganmu, suamiku?"
"Aku akan menahan mereka agar tidak mengejarmu."
"Tolonglah.... Keselamatan putri kita ada di tanganmu....."
Di sebuah bangunan mewah terlihat sepasang keluarga yang tampak sangat khawatir dengan tragedi berdarah yang baru saja terjadi itu.
Mereka adalah keluarga Finley Belle.
Sang ayah menyuruh istrinya untuk pergi berlindung sambil membawa Finley di pelukannya, setelah membujuk istrinya dengan keras dia akhirnya bisa meyakinkan istrinya itu.
Finley yang saat itu masih berusia 7 tahun sama sekali tidak bisa melakukan apapun selain memeluk tubuh ibunya erat erat.
"Ayah....." gumam Finley.
Sang ayah menatap Finley dengan tatapan penuh kasih, "Ayah pasti akan kembali...." ujarnya lalu mencium pipi putri kesayangannya itu.
Tidak lupa juga ia mencium pipi istri tercintanya.
Setelah itu ia pergi kearah pintu yang terus didobrak oleh orang berjubah hitam. Ibu Finley juga pergi berlari kearah yang berlawanan.
* SLASH! *
Tak lama kemudian ia mendengar suara tebasan di belakangnya, dia tahu apa yang terjadi dengan suaminya tapi dia tetap berlari demi keselamatan putrinya.
"Finley... Tolong jangan lihat ke belakang...." kata sang ibu berusaha tersenyum dihadapan putrinya.
Finley mengangguk dan memeluk tubuh ibunya dalam dalam sambil menenggelamkan wajahnya.
Sang ibu terus berlari menelusuri luasnya restoran milik keluarganya itu, hingga dia melewati sebuah lorong dengan banyak mayat anak-anak di dalamnya.
Itu adalah anak-anak dari panti asuhan yang sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri seperti Finley, dan mereka semua sekarang telah tewas dengan mengenaskan.....
"Jangan lihat sekitar...." kata sang ibu dengan suara yang bergetar sambil terus memeluk putrinya.
* BUGH! *
* BRAK! *
Hingga sebuah pukulan mengenai belakang punggung sang ibu dengan keras, itu membuatnya terpental dan melepaskan pelukannya terhadap Finley.
__ADS_1
Kedua ibu dan anak itu kemudian tergeletak di lantai restoran yang penuh dengan darah anak-anak panti asuhan.
Sang ibu merangkak dengan susah payah untuk menggapai Finley, tapi sebuah tangan kekar tiba-tiba menjambak rambut panjangnya dengan kasar.
"Hei lihat, aku mendapatkan wanita yang menawan disini!" ujar salah satu orang berjubah hitam.
"Jangan menyia-nyiakan wanita secantik itu untuk dibunuh. Lagipula tumbal yang diperlukan ketua sudah lebih dari cukup, jadi ayo kita nikmati dia bersama-sama!" balas rekannya.
Finley mendapatkan kembali kesadarannya setelah terbentur cukup keras di lantai, dia melihat tangan mungilnya yang penuh dengan darah di lantai lalu beralih melihat ke sekelilingnya.
Dan betapa terkejutnya gadis itu ketika melihat teman-temannya yang telah tewas dengan mengenaskan.
"Iris, Rose, Lily, Elsa, Safira, Cleo, Naomi...." kata Finley menyebut nama teman-temannya satu persatu.
Dia kemudian mengalihkan pandangannya kearah ibunya yang ingin dilecehkan oleh dua orang pria berjubah hitam, seketika kemarahan yang tidak pernah ia rasakan muncul dalam dirinya.
Finley bangkit dengan perlahan sambil menggerakkan tangannya dengan dada yang berdebar-debar.
"Mati."
* SWIING!! *
* SWIING!! *
* CRASSH!! *
Dengan satu ucapan gadis kecil itu, sebuah sihir cahaya muncul dari tangannya dan langsung memotong tubuh kedua orang berjubah hitam itu menjadi dua.
Dia bahkan menggunakan sihir tanpa harus merapal mantra terlebih dahulu.
Finley yang sebelumnya tidak pernah menggunakan kekuatannya untuk menyakiti makhluk hidup sekarang baru saja membunuh makhluk hidup.
Tapi Finley tidak menyesal karena telah berhasil menyelamatkan ibunya dari perlakuan bejat kedua orang berjubah hitam.....
...
...
...
Setelah tragedi berdarah itu, ibukota kembali menjadi tempat yang aman setelah para ksatria berhasil membunuh semua monster dan orang berjubah hitam.
Tapi tentu saja kejadian itu memberikan duka yang mendalam bagi orang-orang yang kehilangan anggota keluarga mereka termasuk Finley yang kehilangan ayahnya.
Finley dan ibunya sangat sedih karena kejadian itu, tapi mereka tahu jika bukan hanya mereka yang merasakan kesedihan itu.
Banyak orang yang merasa kehilangan juga termasuk Raja mereka yang kehilangan istrinya.
Setelah kejadian itu juga Finley menjadi orang yang tertutup, dia hanya bisa tersenyum di hadapan ibunya sendiri dan tidak pernah membuka hatinya untuk orang lain.
Finley juga mulai merubah penampilannya, dia mengenakan kacamata bulat dan mengikat kepang rambutnya, menjadikannya terlihat seperti gadis culun dan seorang kutu buku.
Finley sadar jika penampilannya itu terlalu cantik dan dia tidak ingin kejadian yang sama seperti ibunya juga terjadi padanya.
Dunia ini kejam terhadap gadis cantik dan lemah, jadi dia menutupi kecantikannya.
...
...
...
Beberapa tahun telah berlalu dan sekarang Finley menginjak usia 12 tahun, ini adalah usia yang disarankan untuk bersekolah di akademi Nethilor.
Ibukota telah kembali damai, begitupun dengan bisnis restoran keluarga Belle yang kembali berjaya.
Walaupun tidak ada sang suami lagi yang menemani sang ibu mengurus restoran tapi dia tetap semangat untuk membuka restoran.
Melihat orang-orang yang terlihat menikmati masakannya membuat sang ibu mendapatkan kebahagiannya sendiri.....
Ketika bersekolah di akademi Nethilor, kehidupan Finley sangat suram karena tidak memiliki teman dan selalu dipandang sebelah mata oleh orang-orang.
Hingga suatu ketika Finley bertemu dengan seorang pria yang membuat hatinya kembali bergerak, ketika menatap pria itu Finley merasakan kepuasan yang setara dengan menatap bulan selama puluhan tahun.
Tanpa ia sadari, perasaan cinta Dewi Cahaya kepada Dewa Kegelapan telah mempengaruhinya hingga mencintai seorang pria yang juga mempunyai hubungan erat dengan Dewa Kegelapan.
Pria itu adalah River Addeson.....
[Ilustrasi Dewi Cahaya Lightosy Savannah]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 50 : 1889 kata~...