
...[𝙍𝙞𝙫𝙚𝙧 𝘼𝙙𝙙𝙚𝙨𝙤𝙣 𝙋𝙊𝙑]...
Suatu ketika aku menyadari jika diriku tiba-tiba berada di tempat yang antah berantah, itu adalah sebuah dataran padang pasir yang gersang dan sangat luas hingga aku tak bisa melihat ujungnya.
Tapi ada yang aneh dengan padang pasir itu, ada banyak api hitam yang sangat mengerikan membakar segala tempat.
Aku melihat arah langit dan menemukan jika langit tempat itu sangat berbeda dengan langit biru yang biasanya aku lihat, melainkan langit berwarna oranye dengan matahari yang berwarna merah.
Matahari merah itu juga terlihat sangat aneh karena terdapat sebuah garis vertikal di tengahnya, sekilas itu mirip seperti bola mata seekor reptil.
Di dalam lingkungan seperti ini seharusnya aku merasakan sesuatu seperti panas yang sangat menyengat, tapi aku sama sekali tidak merasakan apapun seolah olah tubuhku mati rasa.
Pikiranku kacau, aku tidak bisa mengingat bagaimana aku bisa berada di tempat yang sangat mengerikan ini.
Tidak ada yang bisa aku lakukan selain berjalan menelusuri padang pasir yang sangat luas dan tak berujung itu.
Satu hari, satu bulan, satu tahun, sepuluh tahun, hingga ratusan tahun lamanya aku masih berjalan di tempat itu tanpa arah tujuan.
Malam tak kunjung datang dan perutku tak kunjung lapar, aku juga tidak pernah istirahat ataupun tidur.
Anehnya waktu terasa begitu cepat, padahal rasanya baru kemarin aku menyadari keberadaanku di tempat ini tapi sekarang sudah ratusan tahun berlalu.
Dalam waktu yang sangat lama itu, tidak ada perubahan sama sekali pada tubuh maupun alam sekitar, ini seolah-olah konsep waktu yang berlalu di tempat ini.
Tapi tak lama setelah itu akhirnya aku menemukan sesuatu dalam tempat kosong ini, itu adalah sekumpulan manusia yang berbaris dan berjalan menuju satu arah secara bersamaan.
Anehnya tidak ada ekspresi sama sekali dalam wajah para manusia itu, bahkan mata mereka tidak memancarkan cahaya kehidupan bagaikan sebuah boneka.
Selain itu ada sebuah rantai panjang yang mengikat tangan dan kaki mereka, serta satu lingkaran besi besar di leher mereka, mereka terlihat lebih mirip seperti budak dengan kondisi seperti itu.
Aku melihat arah tujuan mereka dan menemukan sebuah kastil besar yang menjulang tinggi hingga ke menembus langit.
Padahal kastil itu sangat besar dan tinggi, tapi anehnya aku baru menyadari keberadaan kastil itu.
Jauh di ujung kastil itu, aku melihat bisa seorang wanita yang sedang duduk di singgasana kebesarannya.
Wanita itu berkulit hitam pucat, rambutnya yang hitam pekat tergerai sangat panjang serta terdapat dua burung gagak merah di samping wanita itu.
Padahal jarak kami berdua sangatlah jauh, tapi aku bisa melihat wanita itu yang menatapku dengan intens menggunakan matanya yang bersinar emas.
Lama kelamaan aku bisa merasakan aura kematian yang sangat pekat dari wanita itu, padahal tubuhku cukup kebal terhadap alam ini tapi dihadapan wanita itu aku masih bisa tertekan.
Aku mulai bertanya-tanya siapakah wanita itu, dia memiliki aura kematian yang sangat kuat seolah-olah dialah kematian itu sendiri.
Dua gagak merah di sampingnya itu.... Ciri-ciri fisiknya itu.... Kurasa aku tahu tentang wanita itu.
Aku mulai menyadari sesuatu, aku pernah membaca sebuah buku yang menyebutkan identitas wanita itu, buku itu berjudul Aquila Phoroneuse17, dan wanita itu adalah...
Salah satu dari 6 entitas tertinggi, Dewi yang mengatur hudup dan mati, Nolectre Thanaesah!
Ketika aku sudah menyadari identitas wanita itu yang tidak biasa, dia tiba-tiba menghilang dari tempatnya meninggalkan dua burung gagak merahnya hanya dalam sekejap mata.
Aku merasakan keberadaan seseorang di belakangku, itu adalah Dewi Nolectre Thanaesah yang ingin mencengkram kepalaku menggunakan tangannya yang dipenuhi dengan kuku tajam.
Dalam waktu sepersekian detik itu tubuhku tidak bisa bergerak, aku hanya bisa memejamkan mataku karena refleks.
Beberapa detik sudah berlalu tapi aku belum merasakan sentuhan Dewi itu dan membuatku sedikit kebingungan, aku membuka satu mataku dan menyadari jika diriku sudah berpindah tempat lagi.
Daripada disebut sebagai 'tempat' kurasa lebih pantas disebut sebagai ruang hampa karena tidak ada apapun di sini, bahkan kakiku tidak menginjak apapun di bawah sana.
{Bocah, kau bisa mendengar suaraku?}
__ADS_1
Aku mendengar sebuah suara berat bergema di kehampaan ini, memalingkan pandanganku ke arah suara, aku bisa melihat makhluk yang sangat besar di hadapanku.
Aku tidak bisa melihat wujudnya dengan jelas karena diselimuti oleh kegelapan tapi aku bisa melihat mata merahnya yang sangat besar bersinar terang di kegelapan.
Aku mulai berbicara dengannya.
"Apakah kau yang memindahkanku?"
{Itu benar ... kau hampir saja tertangkap olehnya, jika itu terjadi maka tidak ada harapan untuk menyelamatkanmu, beruntung kami bisa memindahkanmu tepat waktu....} jawab makhluk itu.
Aku bisa merasakan kesedihan dalam nadanya ketika dia berkata 'kami'
"Wanita itu ... apakah dia benar-benar dewi kematian?" tanyaku lagi.
{Hm? Kau mengetahuinya, ya?}
Dia terlihat sedikit terkejut.
"Hm, aku pernah membaca buku tentangnya dan 6 entitas tertinggi." balasku sambil mengangguk.
{Lupakan tentang itu, apa kau sudah mengingat alasan bagaimana kau bisa berada di tempat sebelumnya?} lanjutnya.
"Itu......"
Sekarang aku bisa mengingatnya, hal yang terjadi kepadaku dan alasan kenapa aku bisa berada di tempat mengerikan itu.
"B-Bukankah aku sudah mati saat itu?"
{Itu benar, kau sudah mati dari duniamu dan jiwamu terkirim ke alam kematian tepatnya neraka tingkat 9, itu adalah tempat penyiksaan bagi pendosa besar sekaligus tempat tinggal Dewi kematian.} kata makhluk itu memberikan penjelasan.
Ini sulit jika dipercaya.
Aku? Masuk neraka? Memangnya apa dosa yang pernah aku perbuat sewaktu hidupku?
Aku juga tidak pernah membunuh manusia, yang kubunuh hanyalah beberapa ikan karena aku hobi memancing dan monster jahat.
Bahkan aku tidak pernah balas dendam kepada orang orang yang membullyku di akademi, aku selalu sabar dengan segala kesulitan yang aku alami.
Apakah aku pantas masuk neraka tingkat 9 dengan semua itu? Ini sungguh tidak adil....
{Itu mungkin terasa tidak adil bagimu, tapi itu memang sudah menjadi konsekuensi sebagai pewaris teknik berpedang dewa kegelapan, terlebih lagi kau bukan hanya pewaris teknik berpedang dewa kegelapan, melainkan pewaris Dewa Kegelapan langsung.} kata makhluk itu.
Makhluk itu tampaknya mengerti perasaanku.
Aku sedikit kebingungan, "Apa hubungannya diriku sebagai pewaris teknik berpedang dewa kegelapan dengan hukuman neraka?"
"......."
Makhluk itu terdiam, dia hanya menatapku dengan tatapan aneh sebelum dia berkata, {Aku harap kau siap dengan kebenaran yang akan aku sampaikan padamu....}
Sebelum mendengar persetujuanku, kehampaan di sekitarku berubah dan menampilkan sebuah gambaran situasi setelah kematianku.
Saat itu master berdebat tentang sesuatu. Aku bisa mendengar mereka dengan jelas dari sini, ternyata teknik berpedang dewa kegelapan bukanlah nama belaka karena teknik itu memang diturunkan oleh Dewa Kegelapan.
Master dan Raymond bahkan sempat berdebat tentang itu.
Aku sudah tahu mengenai tentang alasan kenapa diriku bisa masuk neraka tingkat 9 walau tanpa dosa yang begitu besar.
Tapi yang membuatku sangat terkejut adalah apa yang ingin Master lakukan untuk menyelamatkanku dari terjebak di neraka tingkat 9, dia ingin mengorbankan kekuatannya demi diriku.
Ini hanyalah rekaman yang sudah terjadi sebelumnya, jadi tidak ada gunanya bagiku untuk mencegahnya karena itu sudah terjadi, tapi aku tetap melarang Master melakukan hal itu walaupun aku tahu itu sia sia.
__ADS_1
Wujud Master yang sebenarnya mulai terungkap disini, ternyata dia bukanlah kakek tua yang terlihat rentan melainkan seorang pria yang sangat tampan.
Disini aku juga tahu nama asli Master dan identitasnya sebagai pelayan setia Dewa Kegelapan.
Master telah mentransfer kekuatannya kepadaku lalu sesuatu yang tidak terduga muncul saat itu juga yaitu ada sosok yang mengendalikan tubuhku.
Kemungkinan sosok itu adalah makhluk di yang bersamaku saat ini.
Setelah semuanya sudah selesai, tubuh Master mulai memudar dan menghilang manjadi partikel hitam, Raymond yang membantunya juga ikut tumbang di tempat itu.
Dengan itu diriku di tempat itu sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan.....
Gambar yang menunjukkan kejadian di itu menghilang dan menampilkan kembali suasana kehampaan, aku hanya bisa diam dan menangis karena kehilangan sosok yang berharga bagiku demi menyelamatkanku.
{Mungkin dengan ini kau sudah tahu situasi di luar sana, setelah perjuangan yang begitu sulit akhirnya kami bisa mengeluarkanmu dari alam kematian sekaligus dari kejaran Dewi kematian.}
"........."
{........ Waktumu untuk berada di ruang kehampaan ini hampir habis, aku hanya bisa mengingatkanmu jika akan ada banyak musuh yang menantimu di masa depan nanti, jadi jangan ragu untuk meminta bantuanku.}
"..........."
Aku masih terdiam dan tidak menjawabnya yang membuatnya menjadi sangat marah.
{Dia mengorbankan nyawanya bukan untuk melihatmu menangis dasar bodoh!}
Makhluk itu tiba-tiba berteriak dengan keras di hadapanku dan membuatku sedikit terkejut.
Dia melanjutkan ceramahnya, {Persetan dengan semua masalah duniawi yang terjadi padamu! yang jelas disini aku juga telah kehilangan keluargaku yang masih tersisa di alam semesta itu, kau pikir aku tidak sedih? Aku lebih sedih dibandingkan denganmu yang baru mengenal Arions selama beberapa tahun!}
Aku menatap makhluk itu, terlihat setetes air mata di mata merahnya yang terlihat sangat mengerikan, ini memperlihatkan seberapa sedihnya dia setelah kehilangan sosok yang berharga baginya.
Aku mengusap air mataku dan kembali bangkit dengan tatapan serius, kata katanya benar-benar telah memotivasiku.
Seperti kata Master, jika aku merasa dunia ini terlalu jahat maka ubahnya menjadi lebih baik, sedangkan jika aku membenci dunia ini maka hancurkanlah, aku memiliki kekuasaan yang mutlak dengan kekuatanku yang baru.
Itu benar, aku bukanlah River Addeson yang lemah itu lagi, aku adalah River Addeson yang baru sebagai pewaris teknik berpedang dewa kegelapan.
Aku tidak akan pernah tunduk lagi kepada siapapun!
Makhluk itu tersenyum, {Itulah tatapan yang aku inginkan.}
"Mulai sekarang mohon bantuannya, tuan....."
Aku tidak tahu namanya.
{Namaku Zetton, ingat itu, dan jangan panggil aku tuan karena sebenarnya kaulah tuanku.} kata Zetton sambil tersenyum.
Aku juga tersenyum.
"Jadi, mari hadapi dunia dengan cara yang berbeda!" teriakku.
...----------------...
[Ilustrasi Dewi Kematian Nolectre Thanaesah]
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
__ADS_1
...~Chp 23: 1549 kata~...