
"Hei bocah, apa kau menghina kami?"
Salah satu peserta adu panco berdiri dan angkat bicara dengan River, dia adalah seorang Dwarf dengan tubuh penuh otot dan jenggot tebal.
River menatap orang itu, "Aku tidak salah, kan? Adu panco hanyalah mainan anak-anak yang sedang kekurangan, apa yang dilakukan laki-laki sejati adalah bertarung melawan monster untuk mendapatkan uang."
"Kau..." geram orang itu menggertakkan giginya.
River tersenyum, dari awal dia melihat jalannya adu panco tersebut dia sudah tahu jika itu hanyalah kebohongan semata untuk mendapatkan uang hasil taruhan.
Kedua peserta itu jelas bersekongkol dalam pertandingan demi keuntungan mereka.
"Kalau kau berkata begitu maka lawanlah aku dalam adu panco yang kau sebut permainan anak kecil itu!"
"Ada apa? Apa kau ketakutan, bocah?" lanjut orang itu yang memprovokasi River.
River tidak terprovokasi oleh perkataannya, namun dia menyetujui tantangan orang itu, "Baiklah kalau begitu."
Rekan orang curang itu berdiri dari kursinya dan mempersilahkan River untuk duduk melawan pria yang menantangnya tadi.
Sorak-sorai terdapat lebih meriah diiringi gelak tawa orang-orang yang menertawakan River, dilihat dari ukuran tubuh River dan lawannya sudah jelas sekali perbedaannya.
Jadi mereka sangat yakin jika River akan mendapatkan kekalahan telak.
"Masih belum terlambat untuk menyerah, kalau kau menyerah sekarang maka-"
River memotong lawannya dengan menyodorkan tangannya di meja yang telah disediakan untuk pertandingan panco itu.
"Tidak usah repot-repot memperingatiku." kata River yang membuat wajah lawannya memerah karena marah.
"Kalau begitu jangan salahkan aku kalau tanganmu patah." balas pria itu sambil menyodorkan tangannya.
Tangan mereka saling menggenggam di atas meja makan yang dijadikan sebagai arena panco, wajah sangar pria itu terlihat sangat serius ketika menunggu aba-aba diberikan.
"Siap ... Mulai!"
Aba-aba diberikan oleh salah satu orang, mendengar itu lawan River langsung mengencangkan genggamannya dan langsung mendorong tangan River untuk menumbangkannya.
Pria itu berusaha keras untuk menumbangkan tangan River, namun sekeras apapun usahanya dia masih tidak bisa melakukannya.
__ADS_1
Tangan River masih kokoh berdiri di area panco tanpa tergeser sedikitpun.
"Hiyaaa!!"
Pria itu berteriak keras dengan wajahnya yang memerah padam berharap bisa menggeser tangan River barang sedikit, tapi nyatanya dia tidak bisa melakukannya.
Perlahan sorakan yang mendukung pria kekar itu mulai menghilang digantikan dengan keheningan orang-orang dengan mulut yang menganga.
"Bagaimana? Kau bahkan tidak bisa menggoyangkan tanganku sedikitpun.."
River mengejek pria yang sangat sombong tadi, tapi sekarang dia tengah putus asa karena tidak bisa berkutik di hadapan River.
Berpikir bahwa sudah saatnya untuk berhenti memainkan permainan anak kecil itu, River menggerakkan tangannya dengan cepat membanting tangan pria itu ke meja.
* BRAK! *
Meja makan itu hancur berkeping-keping bersamaan dengan tubuh pria itu yang tergeletak di lantai kayu sementara tangannya telah patah karena bantingan keras River tadi.
"Aaargh! Tanganku, tanganku!!"
Pria itu berteriak histeris, sangat tidak pantas untuk seorang pria dewasa sepertinya.
"Tunggu! Mau pergi kemana kau dasar sialan! Kau harus membayar ganti rugi pengobatan tanganku ini!" teriak pria itu menghentikan langkah River.
River sedikit melirik orang tidak tahu malu itu, mengintimidasinya dan berjalan perlahan mendekatinya.
"Kurasa pelajaran itu masih belum cukup untuk orang sepertimu..." kata River sambil membunyikan jari-jari tangannya, bersiap untuk memberikan pelajaran kepada orang tidak tahu malu itu.
"Tu- tunggu! K- kau tidak bisa menyakitiku sesuka hatimu seperti ini..."
Pria itu berkeringat dingin penuh ketakutan ketika melihat kedatangan River yang mengintimidasi dirinya, dia melihat ke sekelilingnya dan menemukan rekannya telah melarikan diri meninggalkannya.
Seketika nyalinya menciut, "T-Tidak, kumohon ampuni aku."
"Sudah terlambat untuk meminta pengampunan." ucap River dingin.
Ketika River selangkah lagi menuju orang itu dan memberikannya pelajaran, seseorang tiba-tiba memegang kakinya yang membuat River sedikit tertegun.
"Hei ... ada apa ribut-ribut disini? Apa kalian tidak tahu kalau aku sedang mencoba untuk tidur dengan tenang di bawah sini?"
__ADS_1
River mengalihkan pandangannya melihat seorang Dwarf tua yang memiliki penampilan layaknya Dwarf biasa, dia memiliki janggut coklat tebal dam pakaian coklat lusuh.
Terlebih lagi tatapan matanya yang sayu menandakan jika dia tengah mabuk berat selama semalaman tadi.
Pertama kali memasuki Bar kurcaci merah, River melihat beberapa orang yang tertidur pulas di lantai, orang yang memegang kaki River adalah salah satu diantara mereka.
Tapi ... entah kenapa River merasakan sesuatu yang aneh ketika pria itu memegang kakinya, seolah-olah ada sengatan listrik yang membuatnya sedikit terkejut.
"Jangan ribut disini dan biarkan aku tidak dengan tenang ... aku ada jadwal dengan para gadis malam ini..." ujar pria itu dengan suara khas orang mabuk.
Dia kembali memejamkan matanya, namun pegangannya pada kaki River masih sangat kuat seolah-olah melarang River untuk membuat keributan.
Beberapa kali River berniat untuk lepas dari pegangannya namun tidak bisa.
Apa dia orang yang dimaksud sebagai pendekar mabuk? Orang yang telah membunuh Boris... - pikir River.
Ia kemudian berinisiatif untuk mengujinya secara langsung.
Dengan sangat mendadak, River membuat gerakan seperti menendang bola ke arah dinding yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Gerakan itu berhasil membuat pegangan pria itu lepas dari kaki River dan terlempar bagaikan bola ke dinding yang membuat dinding itu langsung hancur berbentuk jaring laba-laba.
Debu berterbangan menutupi orang itu bersamaan dengan teriakan panik pengunjung lainnya yang langsung keluar dari Bar. Cukup bagus karena tidak akan ada orang yang menghalangi River.
Sepertinya aku sudah salah sangka... - pikir River melihat tidak adanya gerakan dari orang itu.
Dengan kekuatan River tadi mungkin saja dia sudah mati, jadi dengan sedikit kecewa River ingin berbalik pergi dari tempat itu sebelum penjaga kota datang.
"Apa kau mau pergi sekarang? Lalu siapa yang akan membereskan kekacauan ini?"
Suara orang itu membuat River sedikit terkejut, dia menoleh ke belakang dengan cepat dan melihat orang itu yang tidak terluka sama sekali meski terlempar cukup keras.
Dia keluar dari sekumpulan debu yang menutupi tubuhnya sambil menepuk-nepuk pakaiannya yang sedikit kotor.
Tatapan matanya masih sama yaitu tatapan dari seorang pemabuk dan jalannya juga sedikit sempoyongan.
"Ah ... kau merusak Bar favoritku di kota ini..." ucap orang itu acuh tak acuh.
Melihat kondisi pria itu yang masih sehat setelah menerima serangan yang pastinya akan melukai orang normal, River sedikit tersenyum, "Akhirnya aku menemukanmu, pendekar mabuk."
__ADS_1
"Dan kau ... sepertinya kau bukan seorang Dwarf, ataupun Elf dan manusia. Tidak, kau bahkan bukan makhluk fana..."