DRAGON CHAIN EMPEROR

DRAGON CHAIN EMPEROR
SPESIAL CHAPTER — Diplomat Kerajaan Mazzarri


__ADS_3

"M- maafkan saya Nyonya Iblis putih!" ucap Harley meminta maaf dengan gugup.


Dia sudah sering mendengar kehebatan dari sosok Iblis Putih di hadapannya itu yang mampu membunuh Raja tirani dan membunuh Naga Salju seorang diri.


Bukan hanya itu tapi dari rumor yang beredar Iblis Putih di depannya itu adalah orang yang kejam dan tak kenal ampun.


Dia bukanlah sosok yang bisa disinggung seenaknya jika masih ingin hidup di dunia itu, jadi dia sangat gugup dengannya.


"... Lain kali perhatikanlah kemana arah jalanmu." ucap wanita itu dingin lalu berbalik pergi, membuat Harley sedikit kebingungan.


Dia tidak sekejam yang orang-orang bicarakan... - pikir Harley kebingungan.


Dan karena Harley adalah anak yang memiliki rasa penasaran tinggi, dia mengikuti arah kemana perginya si Iblis Putih itu.


Awalnya dia memiliki prasangka buruk terhadap wanita itu yang tiba-tiba datang ke kotanya untuk menaklukkannya, tapi nyatanya si Iblis Putih itu tidak melakukan hal sekejam itu.


Ketika melewati taman bermain kanak-kanak, wanita itu memberikan beberapa hadiah kecil kepada para anak-anak, ia juga sempat menggagalkan aksi pencurian yang dilakukan secara diam-diam.


Tentu saja tidak ada yang menyadari perbuatan baiknya itu kecuali Harley yang benar-benar memperhatikannya.


Namun ketika Harley mengejar wanita itu yang tiba-tiba memasuki lorong sepi, Harley kehilangan jejaknya.


"Dimana dia?" pikir Harley kebingungan.


Sebuah tangan tiba-tiba menepuk pundak Harley dan membuatnya sedikit terkejut.


"Apa kau mengikutiku dari tadi?" ujar si Iblis Putih yang sudah berada tepat di belakang Harley.


Tubuh Harley menegang karena gugup, namun dia meyakinkan dirinya untuk tidak takut karena wanita yang dijuluki Iblis Putih itu bukanlah orang yang berbahaya.


"S- sepertinya rumor tentang dirimu yang dikatakan sebagai orang yang kejam itu tidak benar ... nyatanya kau adalah orang yang sangat baik dan ramah..." ucap Harley memberanikan dirinya.


"... terserah kau menganggapku seperti apa, yang pasti jangan mengikutiku lagi." kata wanita itu singkat lalu pergi begitu saja.


"Tunggu!"


Harley mencegah wanita itu pergi dengan cara menarik jubahnya, itu adalah tindakan yang sangat berani untuk anak seusianya.


"Aku dengar kau itu sangat kuat, jadi biarkan aku menjadi muridmu!" kata Harley bersungguh-sungguh.


Si Iblis Putih menatap wajah Harley yang penuh tekad, matanya yang membara dan rambut hitamnya yang lembut mengingatkan wanita itu akan masa lalunya yang penuh kesalahan.


Dalam hati dia berpikir-pikir apakah bisa menebus kesalahannya dengan cara merawat anak di depannya itu hingga menjadi sekuat dirinya.


"Jika kau bisa bertahan dalam pelatihan kerasku maka aku tidak akan memaksamu." ucap wanita itu masih dengan suara datar.


Tapi sangat berbeda dengan Harley yang sangat senang mendapatkan tanggapan sosok kuat di hadapannya itu.


"Kalau begitu bolehkah aku memanggilmu Master?" katanya dengan mata berbinar-binar.


"Hm.." wanita itu hanya menanggapinya dengan datar.


...


...


...


Sementara itu di atas tembok kota Lumise, terlihat seorang pria paruh baya dengan penampilan acak-acakan.


Ia memiliki kumis dan jenggot tipis yang tidak terawat beserta kantong hitam di mata pusatnya.


Pria itu duduk termenung memandangi langit di siang hari dengan berbekal sebotol minuman keras, dia ingin meneguk minumannya namun seketika mengingat perkataan sang istri sebelum meninggalkannya.


"Kalian kira aku tidak bisa bahagia tanpa kalian dasar brengsek!"


* PYARR!! *


Pria itu berteriak keras sambil membanting botol minumannya yang bahkan belum dia teguk, dalam hatinya dia berusaha bersikap kuat dan percaya jika dirinya bisa hidup bahagia tanpa istri dan anaknya.

__ADS_1


Namun dia tidak bisa karena air mata kesedihan sudah jatuh terlebih dahulu di pelupuk matanya.


"Tampaknya kau tambah kacau seiring berjalannya waktu..."


Suara seorang pria yang terdengar berat tiba-tiba terdengar di belakang pria menyedihkan itu.


"Orang dengan kehidupan mewah sepertimu tidak cocok menceramahiku." balas pria menyedihkan itu sinis.


Tanpa menoleh kebelakang ia sudah bisa tahu siapa orang yang datang menghampirinya itu, dia adalah sahabat dekatnya Felix Nereida atau ayah Leyn Nereida.


"Lihatlah dirimu Warren. Kau sudah jauh berubah dari dirimu sebelumnya..." ucap Felix sambil duduk di sebelah Warren Addison.


Tatapan mata Warren sayu ketika melihat pantulan wajahnya di belahan botol kaca yang ia pecahkan, itu adalah wajah seorang pria yang amat menyedihkan.


"Kau juga sudah berubah sahabatku Felix ... lihatlah pakaian bagus yang kau kenakan dan tempatmu yang sangat nyaman. Kau pasti sangat bangga karena anakmu menjadi anak yang berbakti. Coba lihat anakku, yang satu telah tewas sedangkan satunya meninggalkanku..." ucap Warren terkekeh.


Walaupun River bukan anak kandungnya, namun Warren sebenarnya sangat menyayangi River seperti anaknya sendiri.


"Sejujurnya aku merasa sangat tidak berguna karena membiarkan putriku memegang tanggung jawab yang sangat besar, tapi dia meyakinkanku bahwa dirinya mampu memegang tanggung jawab itu." balas Felix sambil merenung sejenak.


Keluarga Addeson dan Nereida memang memiliki hubungan yang erat, itu berasal dari Warren dan Felix yang memang sepasang sahabat semenjak kecil.


Tapi nyatanya kedua orang pria paruh baya itu bukanlah orang biasa, mereka memang asli penduduk Lumise namun mereka juga pernah bersekolah di Akademi Nethilor dan menjadi lulusan terbaik yang pernah ada.


Setelah lulus mereka tidak memilih menjadi seorang ksatria kerajaan karena telah dipanggil oleh orang tua mereka untuk mewarisi pekerjaan mereka yaitu sebagai petani dan penebang pohon.


Pada akhirnya seluruh kemampuan yang mereka peroleh dari akademi berkelas itu tergantikan oleh cangkul dan kapak.


Mereka tidak sedih ataupun kecewa dengan itu, justru sebaliknya mereka bahagia karena bisa menikahi wanita yang sekarang menjadi istri mereka dan memiliki anak.


Maka dengan begitu tanggung jawab mereka juga telah bertambah sebagai suami dan seorang ayah.


Tapi nyatanya mereka tidak bisa mengemban tanggung jawab mereka dengan baik, itu membuat mereka menjadi sangat frustasi.


Meskipun begitu Felix tetap berpikiran positif, tidak seperti Warren yang jatuh tenggelam dalam keputusasaan.


"Semuanya telah berubah Warren. Dari para penduduk desa sampai dengan kampung halaman kita, semuanya telah berubah. Jadi kau juga harus berubah menjadi lebih baik lagi."


Warren akhirnya sadar akan kesalahan yang ia perbuat berkat sahabatnya, dalam hati dia bertekad untuk menemui istri dan anaknya untuk meminta maaf nanti.


"Kalau begitu aku pergi dul-"


"Diplomat dari kerajaan Mazzarri telah tiba! Cepat panggil pemimpin kalian keluar menghadap kami atau kalian akan tahu akibatnya!"


Suara teriakan dari arah gerbang kota sukses mengambil alih perhatian Warren dan Felix.


"Diplomat dari kerajaan Mazzarri?" gumam mereka berdua.


Mereka kemudian berjalan menghampiri gerbang kota yang tidak jauh dari tempat mereka berada, dari atas tembok mereka berdua bisa melihat segerombolan kereta kuda mewah dengan bendera kerajaan Mazzarri.


"Apa-apaan ini..." gumam Warren.


"Kami mendapat kabar bahwa kota ini berdiri di kawasan kerajaan Mazzarri tanpa izin Yang Mulia Raja Gallagher, jadi kalian memiliki dua pilihan disini yaitu tunduk atau berperang!" teriak sang diplomat kerajaan Mazzarri dengan sombongnya.


Disisi lain Leyn yang saat itu ada di meja kerjanya mendapatkan kabar dari sekretarisnya Myra tentang kedatangan Diplomat dari kerajaan Mazzarri.


Dia sangat terkejut pasalnya mereka datang sangat tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan sama sekali.


Dengan terburu-buru Leyn langsung bergegas menuju gerbang kota ditemani oleh sekretarisnya.


Para warga dan pengunjung berkumpul di gerbang kota karena teriakan diplomat itu cukup keras dan mampu menarik perhatian semua orang, tapi mereka langsung memberikan jalan melihat kedatangan Leyn.


"Ada keributan apa disini?" tanya Leyn melihat penjaga gerbang kota Lumise.


"Maafkan saya Nona, tapi orang-orang ini tiba-tiba datang tanpa surat undangan melakukan keributan di tempat ini, jadi saya melarangnya untuk masuk meski tahu mereka adalah diplomat kerajaan Mazzarri." ujar salah satu penjaga gerbang.


"Tidak masalah, kau sudah melaksanakan tugasmu dengan benar." kata Leyn lalu maju menghampiri orang yang terlihat seperti pemimpin mereka.


Dari pakaian yang ia kenakan jelas jika dia itu adalah seorang bangsawan, tapi dia bukanlah bangsawan tampan dan menawan seperti kebanyakan bangsawan melainkan pria gemuk dan jelek.

__ADS_1


Dia mengangkat dagunya dengan sombong, selalu merendahkan orang lain dan tidak sadar akan kekurangannya sendiri.


"Aku kira siapa yang datang rupanya hanya badut jalanan..." ujar Leyn sambil menghela nafas panjang.


Wajah pria itu langsung memerah karena emosi setelah mendengar perkataan Leyn.


"Dasar rakyat jelata rendahan, apa kau tidak tahu siapa aku ini?! Aku adalah seorang bangsawan tingkat Marquess dan dipilih secara khusus untuk menjadi diplomat kerajaan Mazzarri!" teriaknya.


Leyn sedikit merasa aneh dengan situasi ini.


Orang di depannya yang mengaku sebagai diplomat itu jelas tidak memiliki pengalaman yang cukup, dia terlalu bodoh dan sombong untuk menjadi seorang diplomat.


Belum lagi sekumpulan pasukan lemah yang dia bawa membuat Leyn semakin yakin jika orang di depannya itu tidak lebih dari badut jalanan.


Jika mau Leyn bisa menyingkirkan orang-orang lemah di hadapannya itu dengan mudah, tapi dia ingin memastikan terlebih dahulu apakah pria gemuk di depannya itu benar-benar seorang diplomat atau bukan.


Membunuh diplomat dari kerajaan lain terlalu beresiko dan dapat menyebabkan peperangan yang panjang.


"Jika kau benar-benar seorang diplomat maka kau pasti memiliki kartu identitas atau surat izin perintah langsung dari Rajamu. Bisakah aku melihat itu?"


Pria gemuk itu terlihat gugup ketika Leyn menanyakan tentang surat perintah dari Raja Gallagher.


"A- aku lupa membawa surat perintah itu, t- tapi aku punya kartu identitas." ucap pria gemuk itu gugup.


"Alasan klasik." balas Leyn datar.


"Aku tidak berbohong! Salah satu rekanku memiliki surat perintah itu, dialah yang membawanya!"


"Rekanmu? Siapa orang itu?" tanya Leyn sekali lagi membuat pria bodoh itu semakin terpojok.


"Aku ... tidak bisa mengatakannya..." gumamnya lirih.


Leyn menghela nafas panjang karena merasa sia-sia meladeni orang bodoh sepertinya, dia menyesal meninggalkan ruang kerjanya yang nyaman itu.


"Tolong tangkap saja mereka semua." perintah Leyn santai pada pasukan di belakangnya.


"A- apa yang kalian lakukan! Aku ini bangsawan lho, kalian tidak boleh menyentuhku sesuka hati kalian!"


Pria gemuk itu memberontak tapi tidak bisa melawan sekumpulan pasukan Leyn yang lebih kuat dari pasukan biasa itu.


Pasukan yang pria gemuk itu bawa juga tidak mampu melawan dan hanya pasrah ditangkap dan dimasukkan ke penjara.


Walau Leyn merasa ada yang aneh dengan kejadian hari ini tapi dia tidak terlalu memikirkannya dan memilih untuk kembali ke ruang kerjanya.


Sementara itu di atas tembok kota, Felix yang melihat sikap dewasa Leyn tersenyum bangga dibuatnya.


Itulah putriku yang sudah dewasa - batinnya bangga.


...


...


...


Sementara itu jauh di dalam hutan dekat kota Lumise, terlihat beberapa tenda pasukan yang terpasang di dalam sana.


Seorang pria tampan ber-armor silver duduk di batang kayu roboh sambil melihat sebuah kristal yang menampilkan situasi gerbang kota Lumise.


Pria itu memainkan sebuah kertas yang bertuliskan surat perintah dan ditandatangani langsung oleh Raja Gallagher.


Pria itu sedikit menyeringai melihat keputusan bijak yang dilakukan oleh pemimpin kota Lumise yaitu Leyn Nereida.


Rencana awalnya adalah mengirim bangsawan bodoh yang mengaku sebagai diplomat kerajaan Mazzarri ke kota Lumise dan membiarkannya membuat masalah di kota itu dan terbunuh sehingga membuat terjadinya perang.


Namun tanpa diduga-duga Leyn malah menangkap orang-orang itu tanpa menyakiti mereka, jadi rencana untuk memulai perang karena kematian diplomat kerajaan Mazzarri telah gagal.


"Seperti yang diharapkan dari adikku yang jenius..." gumam pria itu.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...


...~Chp 94 : 1766 kata~...


__ADS_2