
Di malam harinya, aku menyiapkan pedang hitam peninggalan Master dan beberapa buah belati tajam.
Aku juga mengambil sebuah benda sihir melalui cincin ruang yang berguna untuk menyimpan ratusan benda sihir di dalamnya.
Ngomong-ngomong setelah Raymond berubah menjadi cincin tengkorak, dia menitipkan semua benda sihir yang dia jaga kepadaku dan tersimpan di cincin ruang yang ada di jariku saat ini.
Cincin ruang itu juga milik Raymond yang merupakan benda sihir Rank-A, itu sepadan dengan fungsinya yang bisa menyimpan banyak benda mati di dalamnya.
Benda sihir yang baru saja aku ambil dari cincin ruang itu bernama Disguise Bracelet atau gelang penyamaran yang mempunyai Rank-A.
Sesuai namanya itu adalah sebuah gelang yang bisa menyamarkan wujud fisik hingga aura penggunanya hingga ke tingkat tertinggi.
Aku ingin menggunakannya pada diriku sendiri, tapi sebelum sempat melakukannya suara Raymond tiba-tiba terdengar di dalam benakku.
[Apa yang ingin kau lakukan dengan semua persiapan dan benda sihirku itu?]
Aku sedikit terkejut, "Raymond, akhirnya kau bangun juga setelah sekian lama tertidur."
Selama ini Raymond tengah tertidur untuk memulihkan aura kegelapannya, walaupun itu tidak bisa mengembalikan kekuatannya 100% tapi setidaknya Raymond akan mendapatkan wujud fisiknya lagi.
[Jawab dulu pertanyaanku]
"Bukan hal yang besar, aku hanya ingin menyingkirkan ancaman di masa depan." balasku.
[Apa ancaman yang kau maksud itu Guru barumu itu, kalau tidak salah namanya Ariella atau Ariel?]
"Bukankah sebelumnya kau sedang tertidur? Kenapa kau tahu tentang apa yang terjadi di luar sini jika tertidur?" tanyaku sedikit kebingungan.
[Apa kau lupa kalau aku ini adalah Undead? Aku tidak pernah tertidur melainkan hanya terlelap.]
'Memangnya apa bendanya?' batinku tapi tidak menanyakan hal itu terlalu jauh.
Waktuku terlalu berharga untuk menanyakan hal yang tidak perlu....
"Itu benar, aku ingin menyingkirkannya ... apa kau ingin menghentikanku?" ujarku serius.
[Aku tidak bisa melakukan hal itu walaupun aku mau. Aku hanya menyarankanmu untuk selalu bertindak dengan hati-hati.]
Aku tahu kekhawatiran Raymond.
Ariella Rutherford, dia tiba-tiba datang kepadaku dan mengatakan sesuatu tentang membongkar rahasiaku, itu sangat mencurigakan.
Dia tahu jika dirinya akan kalah melawanku, tapi dia masih nekat menyatakan niatnya yang sebenarnya kepadaku.
Ini seolah-olah dia menyuruhku untuk datang padanya langsung sebagai musuh.
Aku ragu jika dia bertindak sendirian dalam hal ini, wanita sepertinya tidak akan bertindak seceroboh itu.
Satu-satunya musuh yang aku anggap di tempat ini hanyalah satu orang, yaitu kepala akademi Aria Scarlet....
Mereka berdua pasti bekerja sama untuk menjatuhkanku.
Jika aku melawan mereka berdua bersamaan, aku yakin bisa membunuh keduanya dengan sangat mudah, tapi mengingat Aria Scarlet yang masih bisa hidup meski telah dibunuh, ini akan merepotkan.
Sebenarnya Aria Scarlet sudah memiliki banyak bukti tentangku yang sudah membunuhnya beberapa kali, tapi aku tidak tahu kenapa dia masih diam tentang hal itu.
Aku tidak tahu bagaimana jalan pikiran wanita licik itu.....
__ADS_1
[River? River!?] Raymond berteriak dan langsung menyadarkanku dari lamunanku.
"Ah, maaf aku melamun...." ujarku, lalu melanjutkan, "Kau tenang saja Raymond, aku memiliki rencana sendiri untuk melawan musuhku, sebaiknya kau kembali memulihkan auramu."
[Hm, baiklah semoga sukses. Oh dan satu lagi, gunakan saja semua benda sihir milikku yang menurutmu berguna, aku tidak keberatan sama sekali.]
"Terima kasih Raymond." balasku sambil tersenyum senang.
'Mendapatkan izin untuk menggunakan seluruh benda sihir kuno miliknya ... tidak ada yang lebih menyenangkan daripada hal itu...' batinku.
Raymond telah kembali tidur, atau terlelap? Entahlah apa namanya tapi aku kembali menyiapkan diriku untuk melakukan penyerangan.
Aku mengeluarkan beberapa benda sihir lagi karena sudah diizinkan oleh Raymond.
Melihat tumpukan benda sihir tingkat atas di depanku ini, mataku berkilauan penuh semangat.
...
...
...
...[𝙉𝙤𝙧𝙢𝙖𝙡 𝙋𝙊𝙑]...
Di sebuah kamar mewah yang dihiasi dengan berbagai pernak-pernik yang indah, seorang wanita cantik tengah tertidur pulas di ranjangnya dengan wajah cantiknya yang diterangi oleh cahaya rembulan.
Wanita cantik itu terlihat seperti Ariella Rutherford.
Hembusan angin malam yang lembut dan menyegarkan menghempaskan gorden kamar hingga menerpa wajah cantik Ariella dengan lembut.
Tapi bersamaan dengan hembusan angin itu seorang pria berjubah hitam dengan rambut putih tiba-tiba terlihat di sebelah ranjang Ariella.
Tapi cahaya rembulan yang menyinari bilah tipis belati itu membuat sebuah kilatan cahaya ke kelopak mata Ariella dan membuatnya langsung terbangun.
"S-Siapa kau ... eghm...."
Ariella sangat panik, dia ingin berteriak tapi mulutnya tiba-tiba di bungkam oleh pria itu sehingga membuatnya tidak bisa berteriak.
Pria itu naik ke atas tubuh wanita itu untuk mengekangnya lalu menghunuskan belatinya kearah mata wanita itu.
Mereka berdua terdiam beberapa saat di posisi itu tanpa sedikitpun suara.
Setelah beberapa saat, pria itu mulai merasakan keanehan.
'Aria Scarlett belum datang walau aku sudah hampir membunuh rekannya....' batin pria itu yang adalah River yang menggunakan Disguise Bracelet.
River sedikit kebingungan, 'Apakah wanita itu sudah gila hingga tega mengorbankan rekannya sendiri?' batin River.
Menurut perkiraan River Aria akan datang ketika dia hampir membunuh Ariella, bagaimanapun mereka berdua berteman baik jadi tidak mungkin Aria akan mengabaikannya.
Tapi dia benar-benar belum datang sekarang.
'Apakah niat membunuhku belum cukup besar untuk membuatnya keluar? Kalau begitu sebaiknya aku benar-benar membunuhnya....' batin River.
River mengalihkan pandangannya kepada Ariella yang masih dipegangnya dan ingin langsung mengakhiri hidupnya, tapi ada yang aneh ketika River melihat ekspresi Ariella.
Itu karena wanita itu tiba-tiba menangis.....
__ADS_1
'Apa maksudnya ini?' batin River.
Ariella benar-benar menangis, air mata jatuh dari kelopak matanya yang indah dan menawan.
Setelah memastikan Ariella yang tidak berbahaya, River melepaskan tangannya dari mulut wanita itu, membuat wanita itu bisa berbicara kembali.
"Kumohon jangan bunuh aku.... hiks.... kau boleh melakukan apapun kepadaku tapi tolong jangan sakiti aku..... hiks...."
Wanita itu malah memohon kepada River.
River tidak tertarik akan godaannya yang mengatakan bisa melakukan apapun kepadanya, melainkan mulai menyadari sesuatu.
"Kau bukan Ariella Rutherford...." gumam River.
Wanita itu sedikit tertegun mendengar nama yang disebutkan oleh River.
"A-Ariella Rutherford?" katanya dengan kebingungan.
"Bukankah itu dirimu?" tanya River masih menghunuskan belatinya, takut jika wanita itu hanya berakting.
Wanita itu menggelengkan kepalanya, "A-Aku bukan Ariella Rutherford melainkan Alyssa Rutherford, Ariella adalah saudari kembarku yang sudah meninggal 10 tahun lalu."
Pernyataan ini membuat River sukses menjadi kebingungan tapi dia masih belum melepaskan Wanita itu yang mengaku bernama Alyssa.
River tahu wanita itu tidaklah berbohong karena sudah menggunakan benda sihir yang bisa mendeteksi kebohongan, tapi tetap saja ini masih membingungkan.
"Apa kau bekerja sebagai guru di akademi Nethilor?" tanya River.
"T-Tidak, aku memang pernah bersekolah disana tapi sudah selesai karena aku terlalu lemah untuk lulus...." jawab wanita itu dengan gugup.
'Dia tidak berbohong....' batin River.
Sebelum River bisa melanjutkan interogasinya, pintu kamar tiba-tiba diketuk oleh seseorang, "Nona muda, apakah anda baik-baik saja disana?"
Sepertinya itu adalah salah satu pelayan di kediaman ini.
"T-Tolong aku, ada penyusup disini- Eghm!"
Wanita itu berteriak meminta pertolongan, River langsung membungkam mulutnya dan menggendongnya lalu melompat keluar jendela.
Pintu kamar terbuka, ekspresi terkejut tampak di wajah pelayan itu.
"Tolong! Nona muda telah diculik!" teriaknya.
Sementara itu River melompat dari atap ke atap bangunan sambil menggendong wanita itu dengan kasar bagaikan menggendong barang bawaan.
"L-Lepaskan aku, kemana kau mau membawaku!" kata wanita itu memberontak.
"Aku belum bisa tenang sebelum kau menunjukkan kuburan saudarimu." balas River dengan cuek.
"Apa kau sudah gila!?"
"Aku memang gila, jadi tutuplah mulut sialanmu itu sebelum aku merobeknya."
Sontak wanita itu menutup mulutnya hingga sampai di tempat tujuan River.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
...~Chp 35 : 1214 kata~...