
...[𝙍𝙞𝙫𝙚𝙧 𝘼𝙙𝙙𝙚𝙨𝙤𝙣 𝙋𝙊𝙑]...
Guru wali kelas kami, Guru Fanela sedang berada di depan kelas untuk menginformasikan sesuatu yang katanya sangat penting.
"Tidak terasa waktu berjalan sangat cepat dan kita sudah akan menghadapi ujian akhir untuk ajaran tahun ini, seperti tahun-tahun sebelumnya ujian akhir akan menjadi penentu apakah kalian akan naik kelas ke tingkat berikutnya atau tetap tinggal di kelas ini, jadi berusahalah dengan baik."
Ini sudah akhir tahun jadi kami pasti akan menghadapi ujian akhir tahun, aku sudah gagal beberapa kali sebelumnya dan tetap berada di kelas ini, tapi sekarang aku yakin bisa lulus ujian dengan mudah.
Bukan hanya kelas kami yang menjalani ujian akhir, tapi juga semua kelas yang ada, selain itu ujian akhir tahun juga bersamaan dengan dengan penerimaan siswa baru seperti tahun-tahun sebelumnya.
"Untuk jadwal ujian akhir sendiri akan dimulai satu minggu lagi." lanjut Guru Fanela.
Satu minggu sudah cukup bagiku untuk mempersiapkan diri dan melatih Finley, aku tidak ingin meninggalkannya di kelas dengan penuh orang orang munafik ini sendirian, jadi aku akan melatihnya agar dia bisa lulus ujian dan naik kelas.
...
...
...
...[𝙎𝙖𝙩𝙪 𝙈𝙞𝙣𝙜𝙜𝙪 𝙆𝙚𝙢𝙪𝙙𝙞𝙖𝙣]...
Setelah melatih Finley dalam kurun waktu satu minggu, dia sudah cukup berkembang walaupun tidak terlalu pesat.
Dia memiliki elemen cahaya yang sangat baik tapi hanya di dalam sihir penyembuhan, sedangkan dia payah dalam sihir serangan.
Kurasa kata 'payah' tidak terlalu cocok untuknya karena sebenarnya dia juga cukup baik dalam sihir serangan, tapi dia tidak tega menyakiti seseorang yang membuatnya enggan menggunakan sihir serangan.
Dia terlalu baik dan naif menurutku, jadi aku memberikannya beberapa nasehat jika rasa belas kasihan tidak selamanya menjadi sesuatu yang baik.
Dia mungkin saja akan dimanfaatkan oleh seseorang jika terlalu baik, jadi aku menasihatinya agar tidak terlalu baik kepada seseorang yang tidak ia kenali dan bisa menilai sifat seseorang.
Bukan berarti aku tidak mengizinkannya untuk menjadi baik, tapi aku menyuruhnya untuk menjadi baik tapi tidak bodoh ataupun naif.
Setelah mencerna nasihatku dengan baik, akhirnya Finley bisa menggunakan sihir serangan dengan baik dan tanpa ragu walaupun masih sedikit kesulitan.
Hingga jadwal ujian akhirnya dimulai....
"Peraturannya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya, kalian akan menjalani 3 jenis ujian yaitu ujian sihir, teknik berpedang, seni bela diri, dan ujian lisan. Jika kalian dapat meraih nilai tertentu maka kalian akan lulus ke kelas yang ditentukan."
Panitia memberikan arahan kepada kami semua, setiap kelas menjalani ujian tersendiri di tempat lain jadi di tempat ini hanya diisi oleh orang orang dari kelasku.
Ujian pertama adalah kekuatan sihir, semua orang maju satu persatu untuk menguji kekuatan sihir mereka dengan menyalurkan mananya ke sebuah batu kristal setinggi 5 meter.
Ketika seseorang menyalurkan mananya ke batu kristal itu maka batu kristal itu akan mengeluarkan cahaya sebagai penanda peringkat orang itu.
Peringkat dari yang terkecil adalah hijau, biru, ungu, merah, emas, dan putih yang merupakan tingkatan tertinggi, belum ada yang berhasil mencapai tingkatan itu di seluruh akademi Nethilor.
Aku melihat semua siswa yang maju untuk menyalurkan mananya ke dalam batu kristal itu, tidak ada yang istimewa dari mereka karena hanya memiliki kekuatan sihir sampai tingkat hijau dan biru.
Kecuali satu orang yang berhasil mencapai tingkat merah, yaitu Asher....
Setelah dipikir-pikir dia tidak pernah menggangguku lagi setelah kekalahannya waktu itu. Yah ... baguslah jika dia tidak menggangguku lagi....
Berikutnya yang menarik perhatianku adalah Finley yang mencapai tingkat merah ketika dia menyalurkan mananya, ini jauh lebih baik dibandingkan tingkat biru yang dia capai tahun lalu.
__ADS_1
Hingga tiba saatnya namaku dibacakan untuk maju dan menguji kekuatan sihirku.
Aku maju, bersamaan dengan itu bisik bisik mulai terdengar dari para siswa.
Yah, aku tahu apa yang mereka pikirkan.
Di ujian sebelumnya aku menjadi bahan ejekan karena tidak bisa mencapai tingkat apapun, bahkan batu kristal itu tidak mau menyala, mereka pasti ingin menertawakan hal itu lagi.
Tapi sekarang berbeda, aku sudah memiliki kekuatan sihir yang jauh lebih besar daripada orang lainnya.
Apakah aku harus menahan kekuatanku untuk merendahkan diri? Tentu saja tidak!
* SWOOOSH! *
* DUARR! *
Kekuatan sihir yang sangat besar keluar dari batu kristal itu ketika aku baru saja menyalurkan sedikit kekuatan sihirku, dan tak lama setelah itu batu kristal itupun langsung meledak dan hancur berkeping-keping bahkan sebelum sempat muncul cahaya.
Tapi aku tahu jika itu pasti melewati tingkat putih.
Aku sangat kebingungan, padahal aku baru menyalurkan sedikit kekuatan sihirku tapi sudah menghancurkan batu kristal yang dikenal tak terhancurkan itu.
Bukan hanya aku yang kebingungan tapi semua orang yang melihat kejadian itu termasuk panitia juga tampak sangat kebingungan, tidak, itu bukan kebingungan tapi tapi sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata.
Aku hanya menghiraukan mereka dan kembali ke tempatku yaitu di samping Finley.
"Itu tadi sangat mengejutkan...." ujar Finley ketika aku sudah kembali ke sisinya.
"Aku tidak melihat ekspresi terkejut dari wajahmu." balasku.
Singkat cerita setelah kejadian mengejutkan itu kami beralih ke ujian latih tanding menggunakan sihir, aku berdiri dengan percaya diri di arena menatap lawanku dengan tatapan tajam.
Tapi sebelum aba-aba tanda pertandingan dimulai, dia menyerah begitu saja.....
Jadi aku memenangkan pertandingan.
Sama halnya dengan lawanku yang menyerah di latih tanding dengan kekuatan sihir, lawanku di ujian teknik berpedang juga menyerah begitu saja bahkan sebelum aku menarik pedangku.
Dia tampak trauma setelah melihat pertarunganku melawan Asher saat itu....
Dan sama halnya juga dengan ujian sihir dan teknik berpedang, lawanku di ujian seni bela diri juga menyerah begitu saja.
Seketika semua orang mempunyai ketakutan dan trauma kepadaku....
Beberapa saat kemudian semua ujian telah selesai dengan baik baik, untuk ujian lisannya juga sudah aku selesai dengan mudah seperti tahun-tahun sebelumnya.
Sekarang hanya tinggal menunggu hasil ujian yang akan keluar beberapa hari lagi.
"Ugh ... aku lapar...." gumam Finley dengan perut keroncongan.
"Wajar kau lapar setelah memaksakan diri begitu keras dalam ujian tadi." balasku.
Dia memang memaksakan dirinya terlalu keras untuk menyusulku.
"Lupakan tentang itu, ayo kita sarapan bersama." ajakku.
__ADS_1
Finley seketika terkejut.
"Aku baru ingat kalau aku tidak membuat bekal makan siang tadi pagi! aku benar-benar lupa...." teriak Finley.
Aku menghela nafas, "Tidak biasanya kau ceroboh seperti ini."
"Itu karena aku terlalu gugup dengan ujiannya sehingga lupa untuk membuat bekal makan siang, maafkan aku....."
Finley tampak sedih.
Aku mengelus rambutnya dengan lembut lalu berkata, "Tidak usah bersedih, sebaiknya kita sarapan di kantin saja hari ini." saranku.
Walaupun kami belum pernah makan di kantin sebelumnya, tapi aku tidak ingin membuat Finley menahan rasa laparnya.
Jadi kami sarapan di kantin akademi untuk pertama kalinya.
Ketika sampai disana, aku bisa merasakan perbedaan yang sangat jauh dari makan di taman ataupun di ruang kesehatan.
Meja makan terlihat penuh dengan para siswa yang makan ataupun hanya sekedar mengobrol bersama temannya. Disini sangat ramai, semua suara berkumpul menjadi satu di tempat ini.
Walaupun tidak terbiasa tapi aku tetap memasuki kantin sekolah dengan menggenggam tangan Finley, takut dia terpisah dariku di tempat ramai ini.
Aku duduk di meja paling ujung belakang, disana sedikit sepi dan hanya ada kami berdua.
Aku dan Finley kemudian memesan makanan dan sampai beberapa menit kemudian. Tujuan kami datang ke tempat ini hanya untuk makan jadi kami makan dengan lahap tanpa memperdulikan orang di sekitar kita.
Tapi tentunya ada saja situasi yang menjengkelkan dan menggangu sarapan kita.
* BUGH! *
* BRAK! *
Terdengar suara keributan di depan kami, semua orang berdiri dari tempatnya untuk menonton keributan sehingga kami tidak bisa melihat keributan yang terjadi.
Kami hanya bisa mendengar suara orang orang yang menonton keributan itu.
"Siapa anak itu? beraninya dia membuat masalah di tempat ini?"
"Entahlah aku tidak pernah melihatnya sebelumnya, apakah dia itu siswa baru?"
"Mungkin saja, tapi dia terlalu nekat untuk membuat masalah di tempat ini..."
'Siswa baru?' batinku mendengar pembicaraan siswa lainnya.
Memang benar perkataan orang orang kalau siswa baru itu terlalu nekat membuat keributan di tempat ini. Yah.... karena aku tidak ada hubungannya dengan ini maka akan kuabaikan saja masalah ini dan fokus dengan sarapanku.
Tapi setelah mendengar suara teriakan seseorang yang mungkin saja adalah siswa baru itu, aku sedikit terkejut.
"Kalian dasar bangsawan brengsek, siapapun yang berani menyentuh adikku akan mendapatkan pelajaran yang setimpal! Namaku Leon Nereida dari desa Lumise! ingat itu dasar bangsawan busuk!"
Suara ini ... suara yang sangat aku kenali ... dan dia juga berasal dari desa Lumise!
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
...𝐿𝑖𝑘𝑒, 𝑉𝑜𝑡𝑒, 𝐴𝑛𝑑 𝐶𝑜𝑚𝑚𝑒𝑛𝑡 𝑈𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑀𝑒𝑛𝑑𝑢𝑘𝑢𝑛𝑔 𝐴𝑢𝑡𝒉𝑜𝑟 𝐷𝑎𝑙𝑎𝑚 𝐵𝑒𝑟𝑘𝑎𝑟𝑦𝑎...
__ADS_1
...~Chp 29 : 1358 kata~...