Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
10. Dia Selingkuh


__ADS_3


***


Karen buru-buru memotong. "Belum, aku masih ori kok. Dan jangan! Aku nggak mau."


"Secinta-cintanya sama seseorang, jangan sampai kamu lupa daratan ya, Kak!"


"Iya, Ken. Tadi, kalau kamu nggak datang, mungkin aku udah habis. Aku nggak ngira kalau dia bakal kayak gitu."


Tangan Kendrik mengepal, dia merasakan emosi yang kian meluap lagi. "Gggrrrhhhmmm ...."


"Udah, jangan emosi! Yang penting kan aku nggak apa-apa."


"Habis ini kamu nggak ketemu dia lagi, kan?"


"Belum tahu, Ken."


"Belum tahu? Kan udah jelas dia itu laki-laki kayak apa. Kenapa masih belum tahu? Tinggalin, Kak!"


Meski dia menyeramkan dan hampir merenggut hal paling berharga milik Karen, tapi lagi-lagi logika terkalahkan oleh perasaannya. Kebucinan sudah sedikit melanda dirinya.


"Kita lihat nanti. Kamu tahu kan kalau orang bisa berubah. Siapa tahu nanti dia berubah."


Koreng ini bego atau apa sih? Udah jelas kelakuannya begitu, masih dibelain juga. Emang perempuan susah disuruh pakai logika. (Kendrik).


"Kalau udah sifat dan kebiasaan yang mendarah daging, kamu yakin bakal berubah secepat itu?"


Karen tidak menjawab.


"Begini, selama kamu masih kontak dengan Tora, kamu harus tinggal seatap denganku. Ketemu sama dia harus sama aku."


"Tapi, Ken, dia itu calon suamiku. Dia ngelamar aku waktu itu."


"Itu baru lamaran pribadi kan, belum lamaran resmi dengan saksi? Dan lagi, kalau kamu calon istri yang dia cintai, seharusnya dia menghormati kamu dan nggak berusaha ngerusak kamu."


***


Keesokan harinya, di kampus Kendrik


Kendrik mengikuti kuliah seperti biasa. Ketika dia keluar dari ruang kuliah, seseorang sudah menunggu di sana, gadis bernama Monica.


"Yuk, makan di taman kuliner deket rektora!" ajak Monica.


"Oke." Kendrik bersama Monica berjalan kaki menuju tempat yang dimaksud.


Kebetulan gedung kampus Kendrik memang tidak jauh dari rektorat. Selain segala urusan kemahasiswaan bisa dia selesaikan dengan cepat, dia juga menjadikan taman kuliner di depan rektorat tempat makan cadangannya. Paling tidak, seminggu sekali dia pasti makan di tempat tersebut.


"Ken, gimana, kita jadi ngadain long march?" Monica membuka pembicaraan yang memang akan dia bicarakan dengan Kendrik.


Mereka berdua mengikuti unit kegiatan mahasiswa yang sama yaitu karate. Dua karateka itu menjadi pengurus bayangan meski di hierarki organisasi, nama mereka hanya tercantum sebagai anggota.


Kendrik dan Monica sama-sama tulus mengabdi dan rela membantu segala kegiatan karate. Mereka sering dikira berpacaran, padahal kenyataannya tidak. Namun sebenarnya, Monica memang memiliki perasaan terhadap Kendrik.


"Nah masih banyak pertimbangan." Kendrik mengeluarkan buku catatan.


"Mobil evakuasi yang udah kita punya baru 1. Ini udah fix. Keuangan kita lagi kritis sih, kita nggak bisa gerak leluasa."


"Minta dana dari rektorat?"

__ADS_1


"Long march bukan kegiatan sebesar kejurnas. Kayaknya kita musti narik dana dari peserta aja."


"Hufh, mendingan kamu aja yang pegang keuangan, Ken. Kita semua tahu si itu nggak beres."


"Mon, Mon, aku ini siapa? Aku cuma anggota yang sok sibuk, nggak punya posisi apa-apa. Dan kamu kan tahu si itu deket sama sensei Elmo. Kita bantu aja sebisanya tanpa ganggu posisi dia."


Tiba-tiba sekelebat pemandangan tidak mengenakkan tersaji di depan Kendrik. Jauh di seberang sana ada seorang laki-laki sedang makan bersama seorang mahasiswi kampusnya.


Bagi orang lain, kegiatan itu biasa saja. Bagi Kendrik, pemandangan ini menaikkan darahnya. Laki-laki itu adalah Tora. Tempat mereka agak jauh, tapi mata tajam Kendrik sudah dapat meng-capture sosok pria itu.


Dia selingkuh dari kakakku? Tunggu, aku nggak bisa narik kesimpulan sendiri. Bisa saja mereka cuma temen kayak aku dan Monica. (Kendrik).


Dia mengeluarkan ponsel dan memotret apa yang dilihatnya. Untuk mendapatkan gambar jelas laki-laki itu, dia harus melakukan zoom 10x pada kameranya.


Agak blur, tapi aku yakin Koreng ngenalin gambaran ini. (Kendrik).


"Ken, kenapa sih kok difoto-foto?"


"Enggak kok, cuma pengen motret aja. Kamu kenal?"


"Iya, dia sekelas sama aku. Namanya Ratih. Dia lagi sama pacarnya."


"Pacar?"


Eh, sebenernya aku nggak tahu itu pacarnya atau bukan. Aku bilang gitu buat cegah kamu punya perasaan khusus sama Ratih aja. (Monica).


"Ehm, kayaknya iya. Aku sering lihat dia jalan bareng sama cowok itu."


"Belum tentu, Nona. Kita juga sering makan bareng, nyatanya kita bukan pasangan. Kita cuma partner di unit kegiatan."


Dia kini memikirkan bagaimana cara mengetahui hubungan seperti apa mereka itu.


"Kamu, suka sama Ratih?"


Fyuh, leganya. (Monica).


"Kirain kamu sampai ambil gambarnya karena penasaran sama si Ratih."


"Enggak kok, aku belum ada niat pacaran. Selama kakakku belum nikah, aku nggak bakal pacaran dulu."


What? Jadi, apa aku ada harapan? Apa aku harus nunggu? (Monica).


Monica sudah berharap selama ini, padahal perasaan Kendrik saja belum diketahui.


"Ken, ini draft proposal long march-nya." Monica tidak mendapat jawaban. "Ken, halo, kok ngelamun?"


"Eh maaf maaf. Apa ini?"


Giliran Monica yang tidak menjawab. Dia membiarkan Kendrik membaca sendiri judul di halaman depan proposal itu.


"Lagi mikirin Ratih ya? Ngomongnya sih nggak mau pacaran sebelum kakaknya nikah, tapi lihat Ratih, matamu jereng begitu."


Kendrik seolah tidak mendengar ucapan Monica, dia terlalu fokus memikirkan cara mengetahui hubungan Ratih dengan Tora. "Mon, kamu punya nomer Ratih?"


"Enggak!" Monica berbohong, sebenarnya dia punya.


"Di Chatsapp ada grup kelas?"


"Ada."

__ADS_1


Keceplosan, kenapa aku bilang ada? (Monica).


"Nah, ada nomer Ratih kan? Tolong forward ke aku ya! Penting banget nih."


Dengan berat hati, Monica memberikan nomor ponsel Ratih. Kendrik buru-buru menyelesaikan makan dan pergi meninggalkan taman kuliner itu. Dia bergegas menuju kantor Karen.


***


Sesampainya di sana, para pegawai yang sudah mengenal Kendrik mempersilakan dia untuk langsung ke lantai 2 di ruangan Karen.


"Hai, Ken. Ada apa?"


"Pengen ngobrol berdua sama kamu."


Karen memberi kode kepada Inda untuk keluar dari ruangan. Inda yang matanya masih tertuju pada Kendrik segera meninggalkan ruangan itu.


Adik bosku cakep bener, lamar aku dong, Dik Kendrik. (Inda).


"Mau ngomongin apa, Ken?"


"Ehm ...." Kendrik ragu-ragu harus memulai dari mana. "Kamu masih kontak sama Tora?"


"Enggak."


"Berarti udah putus?"


"Belum sih, aku lagi jaga jarak dulu. Nanti kalau aku udah lupa sama peristiwa yang kemarin, aku kontak dia lagi."


Astaga, masih juga mau kontak? (Kendrik).


Kendrik sebenarnya sangat kesal terhadap kakaknya yang belum bisa melepaskan laki-laki tidak bermoral itu. Namun, ia juga tidak dapat mengatur Karen sampai sejauh itu. Bahkan orang tua saja harus bisa memberikan privasi kepada anaknya, apalagi Kendrik hanyalah adik yang menjelma menjadi kepala keluarga.


Bagaimana pun, Karen juga memiliki hak menentukan hidupnya. Kendrik hanya akan membuka kenyataan. "Aku lihat Tora jalan sama mahasiswi di kampusku."


Meski image Tora di mata Karen sudah turun, mendengar apa yang dikatakan Kendrik tetaplah membuatnya sakit.


"Mereka jalan? Kamu yakin?"


Kendrik mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan hasil tangkapan kamera ponsel.


"Apa hubungan mereka? Kamu tahu?"


Kendrik menggeleng.


"Menurut kamu, mereka teman atau lover?"


"Aku nggak bisa pastiin. Jadi gimana, Kak? Masih mau kontak?"


Karen mengangguk. "Ya, Ken, kita belum tahu kan hubungan mereka itu apa. Siapa tahu mereka cuma temen."


Kendrik menggertakkan giginya. "Oke, aku pulang dulu Kak. Sampai ketemu di rumah."


Dia pun berlalu. Setelah Kendrik pergi, Karen membuka aplikasi Faecesbook. Yang dia tuju adalah halaman Faecesbook milik Tora. Dia sudah mengunggah foto saat sidang kuliah beberapa waktu lalu.


Dari tanggalnya, foto-foto itu langsung diunggah sore hari setelah sidang. Dia menandai teman-teman kosnya. Tapi foto bersama Karen tak satu pun diunggah.


To be continued...


Jogja, April 10th 2021

__ADS_1


***



__ADS_2