Emak Aku Pengen Kawin

Emak Aku Pengen Kawin
64. Sedikit Goyah


__ADS_3

Kantor Ren's Writer


"Ren, job hari ini udah aku terima via Chatsapp. Kata Citra ada tambahan?"


"Iya Ris, kemarin yang tema room ambiance itu warnanya magenta bukan purple. Itu doang kok. Jadi, ditambah job yang hari ini, kamu motret lagi 1 tema room ambiance yang magenta ya."


"Sebenarnya yang purple itu diedit sedikit RGB-nya udah jadi magenta sih, nggak perlu foto ulang juga."


"Foto ulang aja, lebih mantep foto ulang. Dan lagi, ini website udah gede. 1 spot iklan di situ 10 juta per bulan, jadi mereka nggak main-main buat gambar ilustrasinya."


"Oke deh," jawab Haris. Dia melangkah pergi.


"Tunggu, Ris." Karen menyela langkah Haris. "Kamu salah tentang Daniel, dia emang korban."


Haris tertawa. "Hahaha, Ren ... Ren, udah kemakan omongan Tante rupanya. Kan udah aku bilang, pasti dia nempatin Daniel sebagai korban. Dan pasti Tante juga ngomong kalau Daniel itu nggak dikeluarin, kan? Pikir pakai logika, Ren. Kalau Daniel memang korban, bukannya seharusnya yang mukul dia itu yang dikeluarin? Nyatanya selain Daniel, nggak ada tuh siswa yang keluar."


Masuk akal juga. Tapi Mami punya bukti foto. (Karen).


"Mereka nggak dikeluarin karena Daniel yang minta perkara itu nggak diperpanjang."


"Oh, jadi selain nempatin Daniel sebagai korban, dia juga nempatin Daniel sebagai malaikat tanpa sayap gitu, ya? Pikir aja lagi, Ren."


Inda masuk setelah dari cubicle Citra. Haris pun buru-buru keluar dari sana.


"Hai Bos, ini laporan keuangan bulan lalu."


Karen memperhatikan dengan seksama neraca laporan keuangan itu. "Profitnya turun gara-gara masalah kemarin ya. Oke, makasih Cat Woman."


~


Kendrik


Kendrik telah beberapa waktu berjuang membuat proposal skripsi yang baru. Cepatnya dia dalam mengerjakan proposal skripsi juga karena bantuan dari Daniel yang mengirimkan banyak jurnal dan e-book melalui e-mail dan Chatsapp.


"Gimana proposalnya, Ken?" Mama Puri menanyakan progres karena melihat wajah Kendrik yang kian cerah.


"Dikit lagi, Ma. Nanti aku ke tempat Kak Ren ya, butuh buku sama jurnal Kak Daniel. Kayaknya bakal sering ke sana."


"Iya, terserah kamu. Asal jangan nginep, Mama nggak mau sendiri di rumah."


Mama Puri keluar dari kamar Kendrik, tapi masuk kembali karena teringat sesuatu.


"Ehm, Ken, kamu pernah diceritain Karen tentang kehidupan rumah tangganya, nggak?"


Kendrik terdiam. Tidak mungkin dia membocorkan rahasia kakaknya.


"Kira-kira dia bahagia, nggak? Setelah nikah, dia jadi jarang cerita sama Mama."


"Nggak tahu juga, Ma, tapi kita nggak pernah denger Kak Ren ngeluh atau marah-marah, kan? Kayaknya sih seneng-seneng aja dia," jawab Kendrik sembari menyilangkan jarinya.

__ADS_1


Terakhir kali Karen bercerita tentang Daniel, dia berurai air mata kesedihan. Tapi dia sudah tidak tahu saat ini karena dia sendiri sibuk dengan proposal skripsinya.


~


Sore hari


Kendrik dan Daniel sedang berada di ruang buku. Kendrik masih takjub dengan ruangan itu yang mirip dengan taman bacaan pribadi. Lantainya dilapisi karpet yang bersih sehingga tidak kedinginan jika membaca di bawah.


Semua buku juga sangat bersih. Karena kini ruangan itu bukan ruangan rahasia, pintu ruangan itu lebih sering dibuka dan sirkulasi udara lebih lancar.


"Masih nggak percaya Kak Niel punya ruangan sekeren ini. Si Koreng pasti melongo waktu pertama kali lihat koleksi komik Kak Niel."


"Dia belum lama tahu kok."


"Oh ya? Padahal kan kalian udah 3 bulan menikah. Kok bisa dia nggak tahu?"


"Mamiku yang ngelarang buka ruangan ini buat Karen."


"Kenapa?"


Daniel pun menceritakan kisah beberapa wanita yang pernah dijodohkan dengannya yang berubah pikiran setelah melihat ruangan itu.


"Yah, emang kita punya kultur yang kurang lebih kayak barat yang nganggep penggemar komik itu nerd," kata Kendrik.


"I am a nerd."


"Kok cuma dilihat? Kata Karen, kamu juga suka komik. Ambil aja."


"Aku milih pake mata aja Kak, nanti kalau ada yang aku suka, aku ambil. Kata Kak Ren, Kak Daniel nggak suka berantakan. Aku takut nggak bisa rapiin kayak semula."


Daniel sedikit terkejut. Ternyata Karen juga mempelajari tentangnya. Karena tinggal bersama, secara tidak sadar mereka saling mempelajari satu sama lain.


Ternyata dia nggak se-cuek yang aku pikir. Bagus lah kalau dia nyadar. Mudah-mudahan nggak geser-geser kursi dan meja kayak dulu lagi. (Daniel).


"Tapi kamu kan adik istriku, kamu bebas di sini. Oh iya, jurnal ada di sebelah sana." Daniel menunjuk rak yang memuat jurnal.


"Oke, aku baca komik bentar ya, Kak." Kendrik meraih 1 komik dan membacanya.


~


Karen pun pulang dari kantor.


Jam 5 baru sampai rumah. Bos apa karyawan sih aku ini. (Karen).


Dia melihat motor Kendrik diparkir di depan rumahnya kemudian buru-buru masuk mencari sang adik laki-laki. Dia pun masuk ke ruangan buku. Memang, adik dan suaminya sedang berada di sana.


"Hai, adik kampret," sapa Karen pada Kendrik. "Hai Niel, sorry pulang agak telat, banyak kerjaan."


"Hmm ...." Daniel keluar dari ruangan itu.

__ADS_1


"Kamu lihat, Ken, Daniel itu benci sama aku. Aku juga benci banget sama dia," kata Karen.


"Dasar orang aneh, benci kok senyum-senyum gitu. Kondisiin tuh mulut biar singkron sama kata-kata."


"Ini namanya acting. Aku kan lihai acting."


Kendrik sekali lagi mengungkapkan kekagumannya pada ruangan itu sembari berkeliling melihat-lihat pajangan foto dan piagam di dinding. Dia pun terlupa pada komik yang dibaca.


"Ken, udah aku bilang, Daniel itu nggak suka berantakan. Jangan naruh sembarangan gini."


"Dia bilang boleh kok aku bebas di sini. Katanya aku adik istrinya jadi boleh baca dan ngapa-ngapain sesuka hati."


"Masak dia bilang gitu?"


"Kata 'sesuka hati'nya aku tambahin sendiri sih heheh."


Karen tidak menanggapi candaan Kendrik.


"Koreng, kenapa malah merengut?"


"Aku masih bingung sama kisah Daniel dikeluarin dari sekolah. Maminya bilang dia dipindah. Tapi orang lain bilang dia dikeluarin."


"Mau keluar sendiri atau dikeluarin, emang penting ya? Kan udah lama banget itu."


Karen juga tidak mengerti kenapa itu begitu penting baginya. Bahkan, hal itu sudah menyita banyak waktu dan perhatiannya. Sekarang ini, dia tambah ingin tahu sebanyak-banyaknya tentang Daniel.


Mengetahui banyak hal baru tentang Daniel merupakan sesuatu yang menyenangkan baginya.


"Hahaha." Kendrik tiba-tiba tertawa. "Sini Kak, lihat!" Dia menunjuk foto yang dipajang di dinding.


Di foto yang ditunjuk Kendrik, wajah Daniel lebam. Di sekitarnya banyak bapak dan ibu guru SMA Pioneer yang sebagian besar Karen kenal. Mereka memegang sebuah banner kecil yang bertuliskan 'Daniel's farewell party, terimakasih sudah menyumbangkan banyak piala kepada sekolah ini'.


Acara dalam foto itu nampak privat, hanya di ruang kepala sekolah. Mami Seli dan Papi Danu juga ada di sana.


"Apanya yang lucu, Ken? Kenapa kamu ketawa?"


"Aku ketawa karena kamu bego. Coba perhatiin, mana ada siswa dikeluarin dari sekolah terus dibikinin ginian."


"Lhoh, bisa aja karena dia itu berprestasi tapi kebetulan lakuin kesalahan jadinya mereka terpaksa keluarin dia. Terus para guru merasa kehilangan."


"Pindahnya ke SMA mana? Tahu nggak?"


to be continued...


Jogja, June 22nd 2021


***


find me on Instagram: @titadewahasta

__ADS_1


__ADS_2