
Dia mengirim pesan kepada Mama Puri dan Kendrik untuk memberi kabar bahwa dia baik-baik saja. Dia juga mengirim pesan kepada Mami Seli untuk meminta maaf telah menghilang selama 2 hari ini. Dia mengatakan ponselnya sedang error.
Mendapat balasan pesan Chatsapp dari Karen, Mami Seli langsung menghubunginya.
Wah, angkat nggak ya? Jangan-jangan mau marah-marah. (Karen).
Dia pun menerima panggilan seluler dari ibu Daniel.
π"Halo, Nak Karen, kamu nggak apa-apa?"
π"Iya, Tante. Saya nggak apa-apa kok. Handphone saya cuma lagi error aja."
π"Fyuh, Tante kira kamu kenapa-kenapa. Besok ada acara?"
π"Besok setelah kerja, saya nggak ada acara, Tante."
π"Kalau gitu, kamu makan malam sama Daniel ya, di restoran steak Cowpat jam 6."
π"Baik, Tante."
π"Syukurlah kamu bisa, sukses untuk makan malamnya ya."
π"Iya, Tante, terimakasih."
Kenapa setiap pihak mereka yang ngajak ketemu, pasti mami Daniel yang telpon. Apa di hati Daniel sedikit pun nggak ada ketertarikan sama aku? (Karen).
***
Di rumah Daniel
Daniel baru saja pulang dari acara pernikahan Soni dan Inda. Dia membaringkan badan lelahnya di atas tempat tidur. Dia memikirkan perjodohan dirinya dengan Karen.
Aku yakin dia akan mundur seperti wanita-wanita lain sebelumnya. Udah nggak heran lagi jika banyak orang nggak bisa menerima kekuranganku. (Daniel).
Tiba-tiba sebuah pesan Chatsapp dari ibunya masuk.
π±Mami: Besok malam makan malam dengan Karen jam 6 di restoran steak Cowpat.
π±Daniel: Iya, Mi.
Dia belum mundur? Aneh. Padahal dia udah menghilang 2 hari ini. (Daniel).
Pikiran Daniel dipenuhi dengan perasaan insecure karena dia beberapa kali gagal dalam percintaan. Ada juga satu sisi dalam dirinya yang terus ingin menunjukkan kekurangannya di hadapan calon pasangan.
Entah karena dia ingin menyabotase perjodohannya sendiri, atau ingin menguji apakah calon pasangannya dapat menerima dia apa adanya atau tidak.
***
__ADS_1
Kendrik.
Si Koreng kenapa nggak bisa dihubungin sampai 2 hari ya? Sekarang udah bisa sih, tapi kenapa? Apa ada hubungannya dengan Kak Daniel? (Kendrik).
Meski Karen telah memberi kabar kepadanya dan ibunya bahwa dia baik-baik saja, Kendrik tetap merasa kurang puas dengan jawaban Karen. Namun, persoalan itu bukan persoalan menyangkut keselamatan Karen. Dia tidak sampai gusar dan mendatangi kakaknya.
Kendrik pun pergi ke kos Monica.
"Hai, Mon. Makan yuk."
"Ayo."
Mereka pergi ke sebuah warung soto.
"Ken, gimana kakakmu? Kata kamu kemarin, dia udah punya calon suami?"
"Iya, tapi kelihatannya dia nyimpen sesuatu. Kayaknya dia nggak 100% bahagia."
"Terus?"
"Ya, artinya aku masih bakal ngawasin dia."
Monica mendengus.
Jadi buat apa kita jalan terus begini tanpa ada status yang jelas. Kamu udah bikin aku berharap lebih. (Monica).
"Artinya, kamu nggak akan pacaran ya? Bener, Ken?"
"Kenapa musti seekstrim itu? Kamu kan bisa pacaran dulu. Nikahnya masih nanti-nanti, nggak bakal ngeduluin kakakmu."
"Tapi aku belum tenang. Kasian Kak Ren."
Monica sudah memiliki perasaan kepada Kendrik dalam waktu yang lama. Laki-laki itu juga kelihatannya memiliki perasaan yang sama. Itu terbukti dari sikap-sikap Kendrik. Selain karena kegiatan kampus, mereka juga sering pergi bersama untuk sekedar hangout atau makan.
Monica sudah mendengar pernyataan tidak ingin pacaran dari Kendrik beberapa kali. Hari ini adalah yang ke sekian kalinya.
Kalau emang nggak mau pacaran, kenapa hampir tiap hari ngajak aku jalan? Nggak kasihan sama hatiku? (Monica).
Tadinya Monica mengira jika kakak Kendrik menikah, Kendrik akan mau memulai sebuah hubungan yang serius. Tapi ternyata tidak. Dia merasa penantian bertahun-tahun ini sia-sia saja. Tiba-tiba Monica menangis. Dia menangisi perasaannya kepada Kendrik.
"Kenapa, Mon?"
Monica berusaha menghentikan tangisnya. "Nggak apa-apa, aku cuma keinget sama drakor yang aku tonton tadi. Sedih banget."
***
Hari berikutnya
__ADS_1
Malam ini adalah waktunya makan malam Karen dan Daniel. Sebelum berangkat ke tempat yang dijanjikan, Karen melihat dirinya yang telah rapi di depan cermin.
Aku cinta Daniel. Aku cinta Daniel. Daniel ganteng, baik. Aku pasti bisa cinta sama Daniel. Pokoknya malam ini, aku pasti bisa jatuh cinta sama dia. (Karen).
Karen tidak berhenti meyakinkan diri bahwa dia akan bisa mencintai Daniel. Dengan senyum terkembang sempurna, Karen berangkat. Namun, belum sempat dia masuk ke dalam mobil, sebuah mobil memasuki halaman rumah. Daniel menjemput.
Pasti Tante Seli yang nyuruh dia jemput. Eh enggak. Itu inisiatif dia sendiri. Ingat misimu hari ini, Ren, harus bisa cinta sama Daniel. I love you Daniel. (Karen).
Daniel menunggu di depan mobil. Kemudian saat Karen mendekat, dia membukakan pintu untuk calon istrinya itu. Selama perjalanan, mereka diam, berkutat dengan pikiran masing-masing. Karen terus mengatakan dalam pikirannya bahwa dia akan mencintai Daniel.
Sedangkan Daniel, dia masih terus takjub karena Karen masih ingin bertemu dengannya. Sebelumnya tidak pernah se-lama ini. Kira-kira dalam hitungan kencan kedua atau ketiga, kandidat calon istri biasanya sudah membatalkan perjodohan.
Sebetulnya Karen juga sudah hampir menyerah. Namun, masih memberikan kesempatan sekali lagi sebelum mengambil keputusan.
Sesampainya di restoran Cowpat yang menyediakan steak sapi itu, mereka turun dan menempati sebuah meja. Daniel menarikkan kursi untuk Karen. Wanita itu menatap Daniel dengan kagum. Meski dia tidak banyak bicara, sikapnya sangat berbeda kali ini.
Entah dia memang seperti itu atau itu adalah hasil arahan dari Mami Seli. Mereka pun duduk dan memesan steak. Karen tersenyum tulus sedangkan Daniel memberikan wajah datarnya.
Karen sengaja tidak mengeluarkan sepatah kata pun untuk melihat inisiatif Daniel selanjutnya. Dia harus menelan kekecewaan karena hingga steak mereka tersaji, mereka masih tidak berbicara sepatah kata pun.
Daniel mulai menikmati makanan. "Ren," panggil Daniel sembari matanya mengarah ke piring Karen.
Karen pun mulai memakan steak itu. Dia mengiris steak itu sembari dalam hati berbicara meyakinkan diri sendiri.
Aku cinta Daniel, aku cinta Daniel, aku cinta Daniel. (Karen).
Mata Karen tajam menatap Daniel, pikirannya terus berbicara seperti membaca mantra yang tak ada habisnya. Tak terasa goresan pisau di tangannya sudah sampai di dasar piring dan menimbulkan bunyi decitan keras. Itu membuat orang-orang di sekitar memperhatikan Karen.
"Ren? Ren?"
"Hoahhh!" Dia terkejut menyadari semua sudah menengok ke arahnya. Karen tersenyum konyol kepada orang-orang di sekitar meja.
"Lagi sakit?" tanya Daniel.
"Enggak kok. Maaf, aku terlalu bersemangat karena makan di luar sama calon suamiku tercinta!" Karen berkata dengan penuh sarkas.
Daniel tidak begitu menyadari perkataan Karen. Kadang dia mengerti makna-makna kiasan, tapi kadang dia juga sama sekali tidak dapat menangkap maksud tersembunyi dalam perkataan-perkataan sarkas.
Malam itu, Daniel menelan mentah-mentah apa yang dikatakan Karen. Dia mulai percaya bahwa Karen bahagia dengan perjodohan ini. Padahal wanita pemilik usaha penyedia artikel itu menyantap makanan seperti orang kesetanan. Dia kesal sekali menyaksikan Daniel tak banyak berbicara.
Aku cinta Daniel, aku cinta Daniel. Aku benci Daniel, eh, ups. Aaarrrggghhh. (Karen).
To be continued...
Jogja, April 23rd 2021
***
__ADS_1
find me on Instagram: @titadewahasta
find me on YouTube: Tita Dewahasta